Mengagumi Pak Nur Khalim

820 462 Yopi Setia Umbara

Di zaman kiwari, banyak sebab yang membuat seseorang menjadi pemarah. Tekanan kerja, persoalan sosial, tuntutan ekonomi, plus semrawutnya isu politik menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres), membuat kebanyakan orang di negeri ini rentan terlecut amarah.

Tempo hari misalnya, viral video seorang pemuda marah-marah lalu merusak motornya sendiri lantaran ditilang polisi. Di lini masa media sosial, pertengkaran demi pertengkaran amat mudah ditemui setiap hari, apalagi jika menyangkut isu copras-capres berbau agama.

Baca juga:
Cara Membuat Lima dari Dua Tambah Dua
HAM Bukan Pangkal Permasalahan

Namun, seorang guru bernama Nur Khalim (30) bukan termasuk manusia yang demikian. Ia adalah manusia istimewa. Menjadi manusia seperti Pak Nur Khalim adalah berkah.

Pak Nur Khalim merupakan guru di SMP PGRI Wringinanom, Gresik, Jawa Timur, yang menjadi korban perundungan muridnya sendiri. Ia mendapat reaksi tidak pantas dari muridnya, setelah menegurnya untuk tidak merokok di dalam kelas. Sang murid yang tidak terima ditegur, menarik kerah kemeja, bahkan berani menunjuk-nunjuk wajahnya, seakan menantang berduel.

Meski diperlakukan demikian, Pak Nur Khalim tetap dapat mengendalikan diri. Sikapnya tenang, setenang permukaan danau.

Pak Nur Khalim bukan tak ingin membalas. Ia tak menampik bahwa hatinya sempat geram dengan perlakuan muridnya.

“Sebenarnya saat itu mau pukul saja, baik pikiran, hati, ingin balas. Tapi saya belajar, (kalau) pukul masuk pelanggaran HAM (hak asasi manusia). Makanya, saya coba tahan amarah, bahwa tujuan saya mengajar adalah mewujudkan cita-cita bangsa ingin mewujudkan generasi emas Indonesia untuk bisa bersaing di Asia Tenggara,” ujarnya seperti dilansir Kompas.com.

Bagaimana mungkin saya tak mengagumi ketabahan Pak Nur Khalim yang agung laksana gunung. Kalau saya ada di posisinya, mungkin saya sudah menegur keras atau bahkan menghajar anak tersebut. Atau, seperti yang dilakukan oleh Open Hartig dalam cerpen “Jalan Lain ke Roma” karya Idrus.

Open yang sesabar-sabarnya akhirnya marah juga. Dan Open adalah orang yang selalu menurutkan kata hatinya. Jika hati ini berkata: pegang seorang anak dan pukul dia, ia memegang seorang anak yang terdekat dari dia, lalu dipukulnya. Rasanya pada Open, ia memukul hanya pelan-pelan, tapi dari telinga anak itu keluar darah (Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, hlm. 154).

Beruntung Pak Nur Khalim tidak seperti guru Open. Ia menghadapi kebadungan muridnya dengan ketenangan seorang guru yang patut diteladani. Ia pun punya harapan yang baik bagi rekan-rekan seprofesi.

“Saya berharap kepada semua guru-guru supaya kenakalan anak jangan sampai dibalas dengan kekerasan juga. Jadilah guru yang profesional.”

Dengan honor mengajar hanya 450.000 per bulan, Pak Nur Khalim tetap mampu menunjukkan apa yang seharusnya seorang guru lakukan. Ia pantang membalas keburukan dengan keburukan. Ia paham bahwa keburukan yang dibalas dengan keburukan hasilnya adalah dua keburukan—bukan impas.

Andai muridnya bisa menjadikan pendidikan dan pengampunan Pak Nur Khalim sebagai pelajaran hidup, tentu ia sangat beruntung. Bukan tidak mungkin jika 10 atau 20 tahun mendatang, ia bisa menjadi orang hebat.

Saya sendiri punya pengalaman buruk dengan guru. Kejadiannya saat saya duduk di Kelas Dua SMKN 2 Bandung.

Saya ditampar oleh guru Gambar Teknik karena berbisik-bisik saat sesi menggambar sebuah klem C di ruang gambar. Mengingat kejadian ini, pipi saya terasa panas lagi. Saya tak dendam terhadap guru gambar itu, tapi saya masih sebal dengan kejadian itu sampai sekarang.

Persoalannya, guru gambar itu menampar saya tanpa memberi peringatan terlebih dahulu. Setelah menampar ia baru menegur saya agar tak berisik di ruang gambar. Padahal saya hanya berbisik-bisik, tak sampai mengganggu ketenangan kelas.

Yang lebih menyakitkan, hanya saya yang ditampar saat itu. Sedangkan teman yang ngobrol dengan saya tak menerima tamparan.

Andai saja guru gambar saya saat itu adalah Pak Nur Khalim, mungkin ceritanya akan berbeda. Mungkin saya tak harus bertangkus lumus di bidang sastra seperti hari ini. Mungkin hidup saya lebih damai dengan menjadi pegawai pabrik di Batam atau Cikampek seperti kebanyakan teman saya di SMKN 2 Bandung.

Meski demikian, saya harus tetap berterima kasih kepada guru gambar saya itu. Pak Nana namanya, sudah pensiun. Seharusnya saya tak sebal dan menjadikan tamparannya sebagai pelajaran bagi saya agar fokus ketika mempelajari sesuatu.

Baca juga:
“Bajalah” Berbuah Kerinduan
“Ba Hanger” kepada Faris dan Rajif di Ternate

Barangkali tamparan Pak Nana secara tidak langsung menyadarkan saya, bahwa minat saya bukan di bidang Teknik Mesin Industri. Saya tak menyadarinya sama sekali ketika sekolah. Tujuan saya sekolah ketika itu yang penting masuk sekolah negeri, sedangkan tujuan orang tua saya adalah agar saya bisa langsung bekerja di pabrik setelah lulus.

Sementara itu, kabar terkini mengenai Pak Nur Khalim, ia menolak tawaran hadiah umroh dan talkshow di televisi. Ia pun mulai menolak berbagai wawancara di rumahnya, karena dianggap mengganggu kegiatan les di rumahnya. Ia tak ingin terkenal dan lebih memilih fokus menjadi pengajar.

Pak Nur Khalim sungguh pelita di tengah kegelapan.[]

Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.