Fb. In. Tw.
Cover Resensi Perubahan Estetika Puisi Made Adnyana Ole

Membaca Perubahan Estetika Puisi Made Adnyana Ole

Saya menuntaskan buku kumpulan puisi Memilih Pohon Sebelum Pinangan (2025) karya Made Adnyana Ole dalam sekali duduk. Saat tuntas membaca puisi terakhir dalam buku tersebut, terasa ada yang berbeda dari puisi-puisi Ole sebelumnya, khususnya yang terhimpun dalam buku kumpulan puisi Dongeng dari Utara (2014). Oleh karena itulah, saya tertarik membahasnya meski mungkin hanya menyentuh permukaannya saja—tak sampai pada apa yang disebut sebagai “kritik sastra”.

Dalam lanskap sastra Indonesia kontemporer, karya-karya puisi Ole menurut saya layak ditelisik lebih jauh sebagai contoh nyata dari kesadaran estetika yang merangkul realitas alam, sosial, dan batin manusia. Bagi saya, Ole bukan sekadar penulis yang pandai menata kata. Ia sastrawan yang terus berdialog dengan tanah kelahirannya di Bali, suara-suara yang bergaung di kehidupan sehari-hari, serta kerentanan lingkungan yang menjadi pemandangan sekaligus luka kolektif.

Dua buku puisi yang menjadi fokus esai ini—Memilih Pohon Sebelum Pinangan dan Dongeng dari Utara—menawarkan medan pembacaan yang menarik ketika dihadapkan pada simultanitas tema, gaya, serta intensitas kritik sosial-alam yang diusungnya. Kedua buku tersebut punya “tarik ulur” tematik yang berbeda sekaligus saling melengkapi: satu bergerak dari refleksi simbolis terhadap relasi manusia-alam (Memilih Pohon Sebelum Pinangan), satunya mengejawantahkan suara lantang kritik ekologis dan ingatan sosial (Dongeng dari Utara). Ole, sebagai penyair yang telah malang-melintang di dunia penulisan sejak masa mudanya dan dikenal tajam dalam kritik sosial, membawa kita ke ruang puisi yang bukan sekadar estetis tetapi juga etis dan politis. Perjalanan estetika dan makna ini patut disimak secara mendalam.

Memilih Pohon Sebelum Pinangan merupakan kumpulan puisi yang diterbitkan pada akhir 2025 dan terdiri atas 46 puisi yang ditulis oleh Ole dari 2015 sampai 2025. Secara umum, buku ini memusatkan perhatian pada pohon sebagai figur sentral dan metafora utama: pohon bukan sekadar entitas natural, tetapi sebuah simbol yang sarat dengan konotasi ritual, pilihan hidup, budaya, dan hubungan manusia dengan alam dalam kehidupan sehari-hari. Pohon—yang muncul sebagai motif dalam buku kumpulan puisi ini—menjadi pusat metafora yang jauh lebih kompleks.

Pohon tidak lagi hanya simbol alam atau kehidupan rumah tangga, melainkan juga simbol perjalanan eksistensial manusia: pikiran, tubuh, dan jiwa sebagaimana tertuang dalam puisi Seorang Anak Menggambar Tiga Wujud Pohon (hal.13).

 

“Tapi, setinggi apakah pikiran
Di kepalamu, Ayah?” tanya si anak.
 

Kau lewat pada batas, tak akan sampai pada akhir
Pohon tinggi mudah dihitung
Kedalaman akar susah diduga

 

Dalam tradisi masyarakat Hindu Bali—yang menjadi latar budaya karya Ole—pohon dihadirkan penuh pertimbangan makna, diperlakukan dalam hari-hari baik tertentu, dan tak sembarang ditebang atau dipindahkan; ia punya ritual yang harus dihormati. Puisi-puisi di dalam buku ini tampaknya berbicara melalui laku sehari-hari itu, mengangkat pohon sebagai titik temu antara hidup manusia dengan nalar ekologis dan simbolis yang meneguhkan keberlanjutan.

Saat saya baca lebih dalam, puisi-puisi dalam buku Memilih Pohon Sebelum Pinangan terasa lebih bersifat internal, reflektif, dan kontemplatif. Bahasa puisi Ole di sini bukan semata memainkan gambar visual yang meditatif, melainkan merekam detik-detik pengalaman hidup yang bersinggungan langsung dengan alam. Tentang bagaimana orang memilih hari baik untuk menanam, bagaimana mereka mengerti jenis pohon tertentu, bahkan bagaimana pilihan-pilihan kecil ini pada akhirnya membentuk ritme moral terhadap alam itu sendiri.

Di titik ini, pembacaan puisi menjadi meditasi atas tanggung jawab manusia terhadap kehidupan bersama—pohon, tanah, dan ritus hidup. Ini memperlihatkan kecenderungan estetika Ole yang tidak hanya pragmatis berkaitan dengan fungsi sosial, tetapi juga filosofis, mengajak pembaca berpikir tentang etika berkehidupan sebagaimana terbaca dalam puisi Tiga Penyebab Kebahagiaan: “Tuhan Maha Pengasih// Kita berdoa diberi kasih// Manusia penuh kasih// Kita saling berbagi-bagi kasih// Pohon melimpahkan kasih// Kita tak ditagih terima kasih” (hal.6).

Selain filosofis, beberapa puisi dalam Memilih Pohon Sebelum Pinangan juga terkesan sangat personal. Salah satunya ialah “Berkebun dalam Rumah” (hal.9)—puisi yang sangat saya sukai. Puisi ini bagi saya semacam buku harian perkawinan yang ditulis dengan metafora pertanian.


Aku tanam pohon api dalam dingin
Kau petik kemudian rasa asin
Dari butir buah yang terbit
begitu saja di tepi kening 

“Aku panen!” katamu 

Aku pun mengecup keningmu
Mencecap asin

                  yang sebentar lagi hilang
                  menjauh
                  dari masa tua

 

Di sini, relasi “aku” dan “kau” diolah melalui rangkaian tanam–petik, tanam–kecap, tanam–pagut. Yang ditanam bukan hanya pohon, tetapi juga elemen-elemen yang tampaknya mustahil: pohon api, pohon air, pohon udara. Ini bukan kebun biasa. Ole seolah sedang mencipta tempat di mana unsur-unsur dasar dunia dipertukarkan, dicampur, dan diubah menjadi rasa—asin, sepat, asam, hambar, pedas, pahit.

Berkebun dalam Rumah bekerja dengan pola repetisi yang nyaris ritualistik. Setiap bagian dimulai dengan “Aku tanam…” atau “Kau tanam…”, lalu diikuti dengan proses mencicipi, kemudian diakhiri dengan respons fisik yang intim: mengecup kening, memagut lidah, mengisap jari, menghirup napas, membasuh mata, mengusap urat nadi. Tubuh menjadi medan tafsir. Cinta tidak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai rangkaian rasa yang kadang asin, kadang sepat, kadang pahit—dan justru karena itulah ia nyata.

Yang sangat menarik adalah bagaimana Ole menutup setiap rasa dengan semacam kebijaksanaan yang tidak menggurui: “betapa lumrah segala yang lebih// betapa mewah segala yang kurang.” Bait-bait ini bisa dibaca sebagai ringkasan etika hidup berumah tangga: bahwa kekurangan, jika dibagi, bisa terasa lebih mewah daripada kelimpahan yang dinikmati sendirian. Di sini, “berkebun” bukan lagi soal menanam tanaman, melainkan menanam kesabaran, merawat luka, dan memanen pengertian.

Secara stilistik, puisi ini lebih tubuh-sentris dibanding puisi sebelumnya, Peristiwa Biasa Pada Hari-Hari Bahagia (hal.7), misalnya. Jika “Peristiwa Biasa pada Hari-Hari Bahagia” bergerak dari kosmos ke keluarga, maka “Berkebun dalam Rumah” bergerak dari dapur ke jantung, dari lidah ke ingatan, dari rasa ke makna. Dunia dihadirkan bukan sebagai struktur besar, tetapi sebagai serangkaian sensasi yang harus diterima satu per satu, seperti usia yang datang tanpa bisa ditawar. Dan hal-hal semacam ini, maaf jika saya salah, tampaknya tak muncul dalam buku puisi Ole sebelumnya, Dongeng dari Utara.

Ya, berbeda dari Memilih Pohon Sebelum Pinangan, Dongeng dari Utara bernada lebih lantang menyuarakan kritik ekologis, perubahan sosial yang menghimpit kenangan masa kecil, serta benturan antara tradisi dan modernitas. Puisi-puisi dalam buku ini tampil dengan suara yang beragam tetapi satu nada: merekam realitas yang penuh konflik dan kontradiksi hidup manusia dengan alamnya.

Terlihat jelas kecenderungan tematis ini dalam puisi seperti “Dongeng dari Utara,” (hal.34) yang memetakan perubahan lanskap fisik dan batin di wilayah utara Bali. Bahasa yang digunakan di sini sarat dengan imagery yang kontras: dari kebun kaktus dan hutan bersuara liar hingga laut yang “menganga seperti kuali”. Kontradiksi kuat yang menggambarkan kerusakan lingkungan sekaligus simbolik tentang kehilangan keseimbangan ekologis dan kenangan yang perlahan terkikis oleh industri pariwisata dan pembangunan tak terkendali. Pola isotopi dalam puisi ini—ketakutan, suara-suara alam, kenangan indah, dan akhirnya kerusakan—menggambarkan pergeseran makna yang tajam dari kehidupan yang dulu damai menjadi dunia yang runtuh dan menyakitkan.

Secara estetika, Dongeng dari Utara memakai diksi yang kokoh-kuat, imaji yang dalam, serta ritme yang menekankan intensitas pengalaman. Ketika puisi Ole menggambarkan “orang-orang Atas” yang memburu titik lampu di kegelapan, ia bukan sekadar menulis tentang spatial geography, tetapi juga tentang keterasingan sosial, dominasi, serta konflik internal masyarakat yang diwakili oleh istilah-istilah yang tajam. Puisi ini memercikkan tafsir bahwa modernitas di satu sisi mungkin menyajikan kemajuan, tetapi di sisi lain mengikis fondasi budaya dan kelestarian alam yang telah lama dipelihara. Ole, dalam bahasa yang konseptual namun emosional, memaknai lahan, hutan, telaga, dan perairan bukan sekadar ruang, melainkan entitas yang menampung nilai budaya, kenangan, dan kehancuran.

Dalam perbandingan antara kedua buku, yang menarik adalah bagaimana Ole memindahkan pusat estetika dari Dongeng dari Utara yang lebih lantang dan dramatik ke Memilih Pohon Sebelum Pinangan yang lebih hening serta reflektif. Dongeng dari Utara berdiri sebagai puisi kritis, puisi perubahan, puisi yang memamerkan resistensi terhadap kerusakan lingkungan—menjadi suara sosial yang kadang nyaring dan tak jarang dianggap “ancaman”. Sementara itu, Memilih Pohon Sebelum Pinangan memilih pendekatan yang lebih dialogis dengan pembaca; ia mengajak pembaca untuk masuk ke dalam proses berpikir, bukan sekadar menjadi saksi atau pengamat dari luar. Dalam buku terbaru ini, yang dominan adalah refleksi nilai-nilai tradisi dan kehati-hatian terhadap tindakan manusia terhadap alam dan dirinya sendiri.

Saya kira, gaya penulisan kedua buku ini juga memperlihatkan perkembangan estetika Ole sebagai penyair. Dalam Dongeng dari Utara kita mendapati penyair muda sampai dewasa yang merangkum pengalaman hidup dalam metafora besar, dengan tempo naratif yang cenderung episodik dan penuh konflik—puisi sebagai bentangan naratif yang intens. Sedangkan dalam Memilih Pohon Sebelum Pinangan, bahasa puisi semakin ekonomis namun sarat makna; pilihan diksi lebih bersifat meditasi, memberi ruang bagi pembaca untuk menghuni makna di setiap sajak, bukan sekadar menyaksikannya. Ini menunjukkan kematangan naratif dan estetika yang tak hanya kaya tetapi juga matang secara emosional.

Dari perspektif ekokritik, kedua buku ini punya nilai strategis dalam tradisi sastra Indonesia kontemporer karena keduanya menjadikan alam bukan sekadar latar, tetapi aktor penuh makna dalam struktur puisi. Dongeng dari Utara menyuarakan alam menjadi korban yang merana sekaligus saksi tragedi; sedangkan dalam Memilih Pohon Sebelum Pinangan, alam—dalam bentuk pohon—menjadi entitas moral yang menuntut refleksi etis dan tanggung jawab. Saya kira, perbedaan tersebut tidak hanya sekadar gaya, tetapi menandai pergeseran paradigma estetika Ole dari suara yang menyeru luar menjadi suara yang merenung dalam.

Pada akhirnya, kedua buku ini memperlihatkan bahwa karya-karya Made Adnyana Ole bukan sekadar himpunan puisi belaka, tetapi medan estetika etis yang menempatkan pembaca dalam posisi untuk melihat, merasakan, dan berpikir ulang tentang relasi mereka dengan dunia di sekitar—baik yang masih utuh maupun yang tengah runtuh.

Ole mengingatkan kita bahwa puisi adalah medan perenungan dan sekaligus arena perjuangan intelektual untuk memahami realitas yang kerap tak terkatakan dengan bahasa prosa biasa. Puisi-puisi Ole seperti berdiri sebagai keterlibatan penuh dengan realitas ekologis, sosial, dan spiritual. Di situlah letak kekuatan estetika yang dapat dibaca dengan telinga batin dan pikiran yang lentur.

Jaswanto, jurnalis warga, editor tatkala.co, tinggal di Surabaya Barat.

You don't have permission to register