Di sela waktu menunggu pembeli dagangan batagornya, Asep Ardian menceritakan sesuatu yang pelan-pelan mengubah hidupnya. Novelnya, Oni Jouska, yang masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, tidak lahir dari ruang akademik atau dunia sastra yang mapan, melainkan dari kejenuhan, percakapan, dan kegelisahan yang terus menumpuk.
Pertama-tama, saya mau tanya soal latar belakang Kang Asep Ardian, gimana ceritanya dari jualan batagor bisa sampai menulis novel Oni Jouska?
Saya Asep Ardian, lahir di Bandung di daerah Sukahaji. Dari keluarga ibu atau ayah nggak ada yang sarjana. Aku pun dari SMP itu sampai mau lulus nggak ada kepikiran mau kuliah. Malahan pas udah lulus SMP, Bapak bilang, “Udah jangan sekolah aja.” Tapi aku bilang, “Aku pengen sekolah, Pak, dimana aja yang penting sekolah.”
Dulu Bapak mikirnya, saya tuh udah ditargetin jualan aja. Aku pengennya lulus sekolah, jadi disekolahin di yang paling murah di daerah Majalaya, LPPM RI Majalaya. Sekolah masuk SMK jurusan pemesinan, mesin industri.
Dari SMK sana juga belum kenal bacaan, cuma ada satu temenku namanya Joni, jadi dipanggilnya Oni—dan sekarang itu jadi nama novelku. Dia tuh sering nulis di blog. Aku baca, wah menarik nih tulisan-tulisannya.
Singkat cerita, aku jualan batagor sama Bapak Kadir. Dari Bapak Kadir inilah ada kejenuhan. Merasa nggak berguna hidup itu. Sering ngobrol sama guru ngaji, nanya-nanya soal kejenuhan ini.
“Ya sudah, kamu baca saja, Sep. Orang yang beruntung itu orang yang bisa memanfaatkan waktu.” Nah, dari sanalah mulai baca.
Buku apa yang dulu pertama kali dibaca?
Buku How To Win Friends and Influence People. Bukunya mengajarkan sesuatu dengan tidak mengajarkan, tapi menceritakan sejarah dari tokoh-tokoh yang lalu. Dari sana mulai juga baca buku-buku fiksi. Saya baca buku apa saja karena dulu banyak waktu luang.
Nah, dari banyak baca itu muncul lagi kejenuhan. Ini tuh baca buat apa? Dari sana jugalah muncul pikiran untuk mending nulis aja.
Banyak baca itu muncul kejenuhan. Ini tuh baca buat apa? Dari sana jugalah muncul pikiran untuk mending nulis aja.
— Asep Ardian
Apakah sempat menetap dan berkumpul di Depok?
Enggak, jadi via WhatsApp Group. Dari sanalah saya banyak dapat ilmu-ilmu soal literasi. Banyaklah mindset berubah jadi berani. Termasuk membuka cabang batagor. Alhamdulillah, sekarang batagor ada 4 cabangnya. Dari sana juga kepikiran untuk bikin novel.
Singkat cerita, saya cari-cari komunitas lagi. Dikenalin lah saya sama CSWC. Jadi saya itu memang belajar jadi pemulung, dari komunitas ke komunitas.
Apa yang pertama kali memunculkan ide cerita Oni Jouska? Apakah berangkat dari kegelisahan tertentu tentang manusia atau tentang kondisi lingkungan laut?
Utamanya mau curhat. Jadi ingin melepaskan keresahan, tapi merasa terlalu egois dulu tuh kalau pukulannya terlalu ke diri sendiri. Makanya keresahan itu tuh dituangin jadi remora-remora.
Kalau ide utamanya Oni Jouska itu kan tentang ekologi, itu berangkat dari keresahan di kampung halaman. Nenek itu asli Garut, di daerah pantai. Seiring berjalannya waktu, di sungai-sungai yang sebelumnya kita bisa berenang jadi nggak bisa, karena banyak sampah.
Setelah dipikir-pikir, ternyata jarang banget novel di Indonesia tuh yang ngebahas soal ekologi, soal laut. Dari sanalah saya coba bahas, tapi dari sudut pandang ikan.
Mengapa memilih ikan remora sebagai tokoh utama? Apakah ada makna simbolik tertentu?
Ya, ini salah satu kritik sosial di lingkungan, bahkan ke diri sendiri juga—kadang kita tuh ga mau bertumbuh. Banyak orang yang lebih memilih menempel pada orang lain, pada gelar, pada kekuasaan.
Makanya, buat mengingatkan diri sendiri, saya buatlah karakter Oni yang dia nggak mau kayak remora lain, lalu memilih untuk lebih baik kabur daripada menempel di ikan pari itu.
Jarang banget novel di Indonesia yang ngebahas soal ekologi, soal laut. Dari sanalah saya coba bahas, tapi dari sudut pandang ikan.
— Asep Ardian, tentang kelahiran Oni Jouska
Oni digambarkan sebagai remora yang cacat dan terasing dari komunitasnya. Apakah kondisi ini dimaksudkan sebagai metafora?
Itu jadi salah satu curhatan ya. Kadang kita itu suka membanding-bandingkan diri sama orang lain. Kenapa orang itu dilahirkan sama orang tua yang kaya sehingga dia bisa kuliah?
Nah, jadi salah satu penyemangat juga gitu karakter Oni. Bahwa apa pun kekurangannya, kita tuh masih bisa memperjuangkan sesuatu; harus menerima takdir lah.
Dalam novel ini ada konflik antara klan Denaya dan klan Dustha. Apakah konflik tersebut sebagai gambaran cara berbeda makhluk merespons ancaman?
Di semesta Oni itu aku nggak ngegambarin ada yang jahat, ada yang baik, gak hitam putih di sini. Si Denaya ingin melindungi lautan dengan caranya. Si Dusta ingin melindungi lautan, tapi dengan caranya juga. Jadi aku ngegambarin di sini hewan-hewan tuh enggak sejahat manusia.
Tokoh Salik tampak seperti figur guru atau mentor. Apakah memang dirancang demikian?
Salah satu alasannya karena saya mendalami sufistik juga, thoriqoh. Lambang dari thoriqoh itu lambang 3 ikan. Namanya Salik ini artinya ikatan antara guru sama murid. Nah, dalam sufisme juga gitu, seorang murid itu harus nurut sama mursyidnya.
Aku mengingatkan juga ke diri sendiri: semandiri-mandirinya kita di dunia, tetap harus ada pembatas atau pembimbing. Meskipun kita mampu untuk berjuang sendirian, tetap harus ada pegangan untuk mengarahkan.
Banyak bagian di novel ini yang terasa seperti perenungan filosofis. Apa rujukan atau buku landasan dalam menulis Oni Jouska?
Buku Fihi ma Fihi. Fihi ma Fihi itu kumpulan ceramah Jalaluddin Rumi dan mungkin jadi yang paling membekas. Kalau ditanya, buku apa pemantiknya, ya, buku itu banyak menyentil.
Semandiri-mandirinya kita di dunia, tetap harus ada pembatas atau pembimbing. Walaupun sudah menjelajah dan merasa hebat, kita harus tetap punya satu pegangan untuk mengarahkan.
— Asep Ardian, tentang sufisme dalam Oni Jouska
Apa pesan yang paling ingin ditekankan melalui perjalanan Oni?
Terus bergerak dan terus belajar. Oni ini tidak merasa pasrah dengan keadaan. Karena mengerikan jadi orang yang merasa cukup dan stagnan. Dan itu jadi salah satu alasan untuk terus membaca dan belajar—aku gak mau ketika tua jadi menyebalkan.
Tapi aku pengen nekenin: terus bergerak dan bertumbuh. Jangan pernah merasa cukup.
Terus bergerak dan terus belajar. Jangan pernah merasa cukup.
— Asep Ardian, pesan dari novel Oni Jouska
Kapan terakhir kali kamu bermain dengan teman seusiamu, Cah? Aku hanya selalu melihatmu menarik-narik jarik yang diikatkan di pilar kayu rumah, agar tangan yang diikat itu tidak lepas dari pengawasan. Di rumah paling sederhana di pinggir jalan. Halamannya luas, hingga sering kita gunakan bermain bersama. Walau setumpuk rongsok menggunung di sebelah pohon mangga.
Bajumu lusuh, baunya apak, tetapi pelukanmu hangat. Makanya aku suka tidur di pelukanmu setiap malam, berbagi tikar. Cah, masih ingatkah terakhir kali kamu makan mi instan? Kapan, ya? Sudah cukup lama. Satu mi instan yang dimasak dengan satu panci air. Agar kamu bisa memakannya seharian. Aku melihatmu tersenyum menikmati, sebagai makanan paling enak dalam hidupmu. Itu yang kamu ucapkan padaku, lalu kamu bertanya-tanya, kapan bisa memakan mi instan lagi.
Cah, yang serupa peliharaan itu sering menggigitmu. Tanganmu penuh bekas gigitannya, sering ia melolong, menendang tubuh kecilmu hingga tersungkur. Namun, lebam-lebam itu tidak sebanding dengan lebam di hatimu. Setelah kamu kenyangkan ia, aku selalu mengikutimu ke belakang. Terkadang aku merasa kamu sering melupakan keberadaanku, dari banyaknya pikiran yang satu persatu harus kamu urai. Tidak apa-apa, Cah, aku bisa mengenyangkan perutku sendiri. Kuikuti kamu saat mencuci piring, menanti sisa-sisa yang dapat kupungut.
“Jaga peliharaanmu, Cahaya. Nanti lepas.” Begitu kata anak seusiamu yang takut terkena gigit peliharaan kamu Cah.
Kupikir aku, ternyata wanita yang diikat kain jarik itu. Kejam Cah, mulut dunia yang menganga itu. Tidak pernah aku lihat kamu merepotkan orang lain, tetapi sering kulihat orang lain merepotkanmu. Tidak jauh dari tempatmu duduk memilah rongsok, kutemani dengan perut kosong sambil mendengar celoteh dari yang dianggap peliharaanmu. Ia memang serupa peliharaan, yang diikat agar tidak lari, yang diberi makan dengan tanganmu, yang sering menggigit penuh tenaga.
Berapa usiamu, Cah? Delapan atau sembilan? Tidak ada bedanya. Kamu tetap bocah yang harus dewasa. Memelihara ibumu, tanpa dipelihara. Setiap hari memang seperti itu yang kusaksikan.
“Lapar, Meng?” tanyamu penuh perhatian, seraya mengelus kepalaku yang membuat lupa tentang keroncongan di perut.
Cah, di matamu aku mencari-cari bendungan air yang biasanya dimiliki bocah seusiamu. Aku mencari rengekan yang biasanya dikuasai anak seusiamu. Tidak ada, kosong. Ke mana kamu sumbangkan semua air matamu, Cah? Ke mana keahlian bermanjamu, Cah? Tidak pernah terlihat lagi. Aku sempat berpikir jiwamu tertukar dengan wanita yang tengah berceloteh di sana.
Setiap hari aku hanya bisa duduk di dekat kakimu, mencari ketenangan. Mendengar berbagai botol plastik berbenturan, mencipta bunyi khas, dan tanganmu lincah memilah sampah-sampah.
Cah, ibumu yang diikat kain jarik itu sebenarnya hanya kelebihan imajinasi. Tidak sepertimu dan yang lain, imajinasimu terbatas oleh logika. Sedang ibumu, dia bebas dalam fantasinya. Ia hanya terasing dari kenyataan, terjebak dalam labirin yang dibangunnya sendiri. Ia hanya tengah mencoba memahami kehidupan dengan cara berbeda.
Sesekali kamu membiarkannya lepas, lalu ia berjalan bebas dengan mengoceh atas imajinasinya. Ia dilempar batu dan kata-kata kasar. Pernahkah kamu melihatnya membalas? Tidak, Cah. Sebab ia waras dalam kebebasan itu. Ia tersenyum dan melanjutkan jalan cerita di kepalanya. Namun, ia dikalahkan oleh orang-orang yang terganggu atas keberadaannya. Sebab itu ia menjadi peliharaan di rumah.
“Aku adalah ratu di kerajaan Andromeda.” Begitu katanya, saat tidak ada yang mau mendengar kisahnya, aku sering berada di belakangnya.
Mungkin ibumu benar. Dulu dia adalah ratu, sebelum kemiskinan merambah negerinya. Sebelum takhtanya digulingkan oleh tradisi. Sebelum mahkotanya digantikan centong nasi, atau mungkin ia adalah bidadari dari langit, yang tinggal bersama saudari-saudari cantiknya di kayangan. Di sebuah kerajaan langit, hingga ayahmu mencuri selendangnya dan menjadikannya manusia biasa.
Barangkali ibumu memang benar. Bukankah kamu akan menjadi putri raja yang yang dikawal oleh banyak penjaga kerajaan? Bermain bebas dan memiliki banyak pelayan kerajaan. Tumbuh sebagai putri yang berharga, jauh dari kata-kata kasar dan makian. Kamu akan bebas makan mi instan setiap hari seperti maumu.
Namun, sebenarnya kamu memang seorang putri, walau hanya tinggal di gubuk tumpukan batu bata beralas tanah, pakaian yang terkadang robek sebagian. Seperti namamu, kamu memang pelita di keluarga, Cah. Semua hanya tentang waktu, bukan? Pada akhirnya semua akan memakai pakaian yang sama. Nanti, saat kamu menjadi bidadari surga.
Ah, aku lupa, Cah. Kamu hanyalah bocah. Sedang aku hanya kucing liar yang menyukaimu tanpa alasan. Masih ada sisa jiwa bocahmu yang girang melihat boneka tak berlengan, kamu temukan di tumpukan sampah yang ayahmu bawa pulang. Aku sering memergokimu memainkannya. Tidak lupa, kamu jadikan aku salah satu pemeran. Aku tidak suka itu, tetapi aku masih diam di kakimu yang kutemukan masih sehangat sebelumnya. Cah, bukan aku tidak bisa pergi darimu, lalu mencari kehangatan lain yang mampu mengenyangkan perutku yang lapar. Namun, aku takut lupa jalan pulang. Sesekali aku bisa lari mencari yang gurih di lain tempat. Namun, tidak ada tempat pulangku selain kamu, Cah. Aku hanya ingat tempatmu berada untuk pulang. Barangkali seperti itulah ibumu, Cah. Ia lupa caranya pulang ke rumah, sehingga hanya kerajaannya yang dapat diingatnya. Sejauh itu pula ia telah pergi, Cah.
Saya menuntaskan buku kumpulan puisi Memilih Pohon Sebelum Pinangan (2025) karya Made Adnyana Ole dalam sekali duduk. Saat tuntas membaca puisi terakhir dalam buku tersebut, terasa ada yang berbeda dari puisi-puisi Ole sebelumnya, khususnya yang terhimpun dalam buku kumpulan puisi Dongeng dari Utara (2014). Oleh karena itulah, saya tertarik membahasnya meski mungkin hanya menyentuh permukaannya saja—tak sampai pada apa yang disebut sebagai “kritik sastra”.
Dalam lanskap sastra Indonesia kontemporer, karya-karya puisi Ole menurut saya layak ditelisik lebih jauh sebagai contoh nyata dari kesadaran estetika yang merangkul realitas alam, sosial, dan batin manusia. Bagi saya, Ole bukan sekadar penulis yang pandai menata kata. Ia sastrawan yang terus berdialog dengan tanah kelahirannya di Bali, suara-suara yang bergaung di kehidupan sehari-hari, serta kerentanan lingkungan yang menjadi pemandangan sekaligus luka kolektif.
Dua buku puisi yang menjadi fokus esai ini—Memilih Pohon Sebelum Pinangan dan Dongeng dari Utara—menawarkan medan pembacaan yang menarik ketika dihadapkan pada simultanitas tema, gaya, serta intensitas kritik sosial-alam yang diusungnya. Kedua buku tersebut punya “tarik ulur” tematik yang berbeda sekaligus saling melengkapi: satu bergerak dari refleksi simbolis terhadap relasi manusia-alam (Memilih Pohon Sebelum Pinangan), satunya mengejawantahkan suara lantang kritik ekologis dan ingatan sosial (Dongeng dari Utara). Ole, sebagai penyair yang telah malang-melintang di dunia penulisan sejak masa mudanya dan dikenal tajam dalam kritik sosial, membawa kita ke ruang puisi yang bukan sekadar estetis tetapi juga etis dan politis. Perjalanan estetika dan makna ini patut disimak secara mendalam.
Memilih Pohon Sebelum Pinangan merupakan kumpulan puisi yang diterbitkan pada akhir 2025 dan terdiri atas 46 puisi yang ditulis oleh Ole dari 2015 sampai 2025. Secara umum, buku ini memusatkan perhatian pada pohon sebagai figur sentral dan metafora utama: pohon bukan sekadar entitas natural, tetapi sebuah simbol yang sarat dengan konotasi ritual, pilihan hidup, budaya, dan hubungan manusia dengan alam dalam kehidupan sehari-hari. Pohon—yang muncul sebagai motif dalam buku kumpulan puisi ini—menjadi pusat metafora yang jauh lebih kompleks.
Pohon tidak lagi hanya simbol alam atau kehidupan rumah tangga, melainkan juga simbol perjalanan eksistensial manusia: pikiran, tubuh, dan jiwa sebagaimana tertuang dalam puisi Seorang Anak Menggambar Tiga Wujud Pohon (hal.13).
“Tapi, setinggi apakah pikiran
Di kepalamu, Ayah?” tanya si anak.
Kau lewat pada batas, tak akan sampai pada akhir
Pohon tinggi mudah dihitung
Kedalaman akar susah diduga
Dalam tradisi masyarakat Hindu Bali—yang menjadi latar budaya karya Ole—pohon dihadirkan penuh pertimbangan makna, diperlakukan dalam hari-hari baik tertentu, dan tak sembarang ditebang atau dipindahkan; ia punya ritual yang harus dihormati. Puisi-puisi di dalam buku ini tampaknya berbicara melalui laku sehari-hari itu, mengangkat pohon sebagai titik temu antara hidup manusia dengan nalar ekologis dan simbolis yang meneguhkan keberlanjutan.
Saat saya baca lebih dalam, puisi-puisi dalam buku Memilih Pohon Sebelum Pinangan terasa lebih bersifat internal, reflektif, dan kontemplatif. Bahasa puisi Ole di sini bukan semata memainkan gambar visual yang meditatif, melainkan merekam detik-detik pengalaman hidup yang bersinggungan langsung dengan alam. Tentang bagaimana orang memilih hari baik untuk menanam, bagaimana mereka mengerti jenis pohon tertentu, bahkan bagaimana pilihan-pilihan kecil ini pada akhirnya membentuk ritme moral terhadap alam itu sendiri.
Di titik ini, pembacaan puisi menjadi meditasi atas tanggung jawab manusia terhadap kehidupan bersama—pohon, tanah, dan ritus hidup. Ini memperlihatkan kecenderungan estetika Ole yang tidak hanya pragmatis berkaitan dengan fungsi sosial, tetapi juga filosofis, mengajak pembaca berpikir tentang etika berkehidupan sebagaimana terbaca dalam puisi Tiga Penyebab Kebahagiaan: “Tuhan Maha Pengasih// Kita berdoa diberi kasih// Manusia penuh kasih// Kita saling berbagi-bagi kasih// Pohon melimpahkan kasih// Kita tak ditagih terima kasih” (hal.6).
Selain filosofis, beberapa puisi dalam Memilih Pohon Sebelum Pinangan juga terkesan sangat personal. Salah satunya ialah “Berkebun dalam Rumah” (hal.9)—puisi yang sangat saya sukai. Puisi ini bagi saya semacam buku harian perkawinan yang ditulis dengan metafora pertanian.
Aku tanam pohon api dalam dingin
Kau petik kemudian rasa asin
Dari butir buah yang terbit
begitu saja di tepi kening
“Aku panen!” katamu
Aku pun mengecup keningmu
Mencecap asin
yang sebentar lagi hilang
menjauh
dari masa tua
Di sini, relasi “aku” dan “kau” diolah melalui rangkaian tanam–petik, tanam–kecap, tanam–pagut. Yang ditanam bukan hanya pohon, tetapi juga elemen-elemen yang tampaknya mustahil: pohon api, pohon air, pohon udara. Ini bukan kebun biasa. Ole seolah sedang mencipta tempat di mana unsur-unsur dasar dunia dipertukarkan, dicampur, dan diubah menjadi rasa—asin, sepat, asam, hambar, pedas, pahit.
Berkebun dalam Rumah bekerja dengan pola repetisi yang nyaris ritualistik. Setiap bagian dimulai dengan “Aku tanam…” atau “Kau tanam…”, lalu diikuti dengan proses mencicipi, kemudian diakhiri dengan respons fisik yang intim: mengecup kening, memagut lidah, mengisap jari, menghirup napas, membasuh mata, mengusap urat nadi. Tubuh menjadi medan tafsir. Cinta tidak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai rangkaian rasa yang kadang asin, kadang sepat, kadang pahit—dan justru karena itulah ia nyata.
Yang sangat menarik adalah bagaimana Ole menutup setiap rasa dengan semacam kebijaksanaan yang tidak menggurui: “betapa lumrah segala yang lebih// betapa mewah segala yang kurang.” Bait-bait ini bisa dibaca sebagai ringkasan etika hidup berumah tangga: bahwa kekurangan, jika dibagi, bisa terasa lebih mewah daripada kelimpahan yang dinikmati sendirian. Di sini, “berkebun” bukan lagi soal menanam tanaman, melainkan menanam kesabaran, merawat luka, dan memanen pengertian.
Secara stilistik, puisi ini lebih tubuh-sentris dibanding puisi sebelumnya, Peristiwa Biasa Pada Hari-Hari Bahagia (hal.7), misalnya. Jika “Peristiwa Biasa pada Hari-Hari Bahagia” bergerak dari kosmos ke keluarga, maka “Berkebun dalam Rumah” bergerak dari dapur ke jantung, dari lidah ke ingatan, dari rasa ke makna. Dunia dihadirkan bukan sebagai struktur besar, tetapi sebagai serangkaian sensasi yang harus diterima satu per satu, seperti usia yang datang tanpa bisa ditawar. Dan hal-hal semacam ini, maaf jika saya salah, tampaknya tak muncul dalam buku puisi Ole sebelumnya, Dongeng dari Utara.
Ya, berbeda dari Memilih Pohon Sebelum Pinangan, Dongeng dari Utara bernada lebih lantang menyuarakan kritik ekologis, perubahan sosial yang menghimpit kenangan masa kecil, serta benturan antara tradisi dan modernitas. Puisi-puisi dalam buku ini tampil dengan suara yang beragam tetapi satu nada: merekam realitas yang penuh konflik dan kontradiksi hidup manusia dengan alamnya.
Terlihat jelas kecenderungan tematis ini dalam puisi seperti “Dongeng dari Utara,” (hal.34) yang memetakan perubahan lanskap fisik dan batin di wilayah utara Bali. Bahasa yang digunakan di sini sarat dengan imagery yang kontras: dari kebun kaktus dan hutan bersuara liar hingga laut yang “menganga seperti kuali”. Kontradiksi kuat yang menggambarkan kerusakan lingkungan sekaligus simbolik tentang kehilangan keseimbangan ekologis dan kenangan yang perlahan terkikis oleh industri pariwisata dan pembangunan tak terkendali. Pola isotopi dalam puisi ini—ketakutan, suara-suara alam, kenangan indah, dan akhirnya kerusakan—menggambarkan pergeseran makna yang tajam dari kehidupan yang dulu damai menjadi dunia yang runtuh dan menyakitkan.
Secara estetika, Dongeng dari Utara memakai diksi yang kokoh-kuat, imaji yang dalam, serta ritme yang menekankan intensitas pengalaman. Ketika puisi Ole menggambarkan “orang-orang Atas” yang memburu titik lampu di kegelapan, ia bukan sekadar menulis tentang spatial geography, tetapi juga tentang keterasingan sosial, dominasi, serta konflik internal masyarakat yang diwakili oleh istilah-istilah yang tajam. Puisi ini memercikkan tafsir bahwa modernitas di satu sisi mungkin menyajikan kemajuan, tetapi di sisi lain mengikis fondasi budaya dan kelestarian alam yang telah lama dipelihara. Ole, dalam bahasa yang konseptual namun emosional, memaknai lahan, hutan, telaga, dan perairan bukan sekadar ruang, melainkan entitas yang menampung nilai budaya, kenangan, dan kehancuran.
Dalam perbandingan antara kedua buku, yang menarik adalah bagaimana Ole memindahkan pusat estetika dari Dongeng dari Utara yang lebih lantang dan dramatik ke Memilih Pohon Sebelum Pinangan yang lebih hening serta reflektif. Dongeng dari Utara berdiri sebagai puisi kritis, puisi perubahan, puisi yang memamerkan resistensi terhadap kerusakan lingkungan—menjadi suara sosial yang kadang nyaring dan tak jarang dianggap “ancaman”. Sementara itu, Memilih Pohon Sebelum Pinangan memilih pendekatan yang lebih dialogis dengan pembaca; ia mengajak pembaca untuk masuk ke dalam proses berpikir, bukan sekadar menjadi saksi atau pengamat dari luar. Dalam buku terbaru ini, yang dominan adalah refleksi nilai-nilai tradisi dan kehati-hatian terhadap tindakan manusia terhadap alam dan dirinya sendiri.
Saya kira, gaya penulisan kedua buku ini juga memperlihatkan perkembangan estetika Ole sebagai penyair. Dalam Dongeng dari Utara kita mendapati penyair muda sampai dewasa yang merangkum pengalaman hidup dalam metafora besar, dengan tempo naratif yang cenderung episodik dan penuh konflik—puisi sebagai bentangan naratif yang intens. Sedangkan dalam Memilih Pohon Sebelum Pinangan, bahasa puisi semakin ekonomis namun sarat makna; pilihan diksi lebih bersifat meditasi, memberi ruang bagi pembaca untuk menghuni makna di setiap sajak, bukan sekadar menyaksikannya. Ini menunjukkan kematangan naratif dan estetika yang tak hanya kaya tetapi juga matang secara emosional.
Dari perspektif ekokritik, kedua buku ini punya nilai strategis dalam tradisi sastra Indonesia kontemporer karena keduanya menjadikan alam bukan sekadar latar, tetapi aktor penuh makna dalam struktur puisi. Dongeng dari Utara menyuarakan alam menjadi korban yang merana sekaligus saksi tragedi; sedangkan dalam Memilih Pohon Sebelum Pinangan, alam—dalam bentuk pohon—menjadi entitas moral yang menuntut refleksi etis dan tanggung jawab. Saya kira, perbedaan tersebut tidak hanya sekadar gaya, tetapi menandai pergeseran paradigma estetika Ole dari suara yang menyeru luar menjadi suara yang merenung dalam.
Pada akhirnya, kedua buku ini memperlihatkan bahwa karya-karya Made Adnyana Ole bukan sekadar himpunan puisi belaka, tetapi medan estetika etis yang menempatkan pembaca dalam posisi untuk melihat, merasakan, dan berpikir ulang tentang relasi mereka dengan dunia di sekitar—baik yang masih utuh maupun yang tengah runtuh.
Ole mengingatkan kita bahwa puisi adalah medan perenungan dan sekaligus arena perjuangan intelektual untuk memahami realitas yang kerap tak terkatakan dengan bahasa prosa biasa. Puisi-puisi Ole seperti berdiri sebagai keterlibatan penuh dengan realitas ekologis, sosial, dan spiritual. Di situlah letak kekuatan estetika yang dapat dibaca dengan telinga batin dan pikiran yang lentur.