Fb. In. Tw.
Gambar merupakan cover dari ulasan puisi Ricky Ulu. Gambar berisi penyair Ricky Ulu sedang membacakan puisi menggunakan kaos hitam dan topi hita.

Atambua Rumah Kreatif Puisi-Puisi Ricky Ulu

Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya

 

“Kenapa kita tak pernah menulis Atambua sebagai puisi padahal metafora yang hijau dan memanjang di dua jalur nenuk sudah disiapkan ketika kita pulang nanti atau ketika kelak kita harus pergi?”

Atambua, kota nun jauh di timur Indonesia, jadi tema puisi-puisi Ricky Ulu yang diterbitkan Buruan.co yang berkolaborasi dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya melalui skema MTN Presentasi. Lima puisi Ricky Ulu dipilih untuk mengawali program MTN Presentasi: Buruan.co 2026

Ada tiga puisi yang mencantumkan Atambua dalam judul puisi Ricky Ulu. Saya yakin, Atambua dipilih Ricky karena memiliki ikatan kuat terhadap kota ini. Atambua dalam puisi-puisi Ricky bukan hanya sampiran. Atambua sebagai sebuah kota, jadi tema sekaligus jadi urat besar kemana puisinya menuju. Ricky coba menguar Atambua, untuk dipersoalkan, untuk diselami sejauh mana kehidupan yang ada di kota perbatasan ini.

Puisi pertama berjudul “Atambua” mencoba memotret peristiwa kematian secara ringkas lewat fragmen pendek pada awal puisi ini. 

Ada metafora yang berwarna
dengan menyimpan pot bunga
di pinggir jalan sebagai tanda
         kematian
sementara singgah di situ
memakai senyum orang
yang kita kenal

Puisi ini memang tidak secara gamblang dan detail dalam memotret prosesi kematian yang terjadi di Atambua, bagaimana masyarakat sebuah kota merespon sebuah kematian, misalnya. Namun, dari serpihan-serpihan informasi yang serba sedikit itu, saya jadi menduga dan membayangkan bagaimana prosesi kematian yang biasa dilakukan di Atambua. Bagaimana kebiasaan masyarakatnya ketika kematian datang menghampiri sanak saudaranya. Bagaimana cara orang-orang berduka dan melampiaskan kedukaannya. Proses membayangkan dan menerka-nerka ini, bagi saya, jadi salah satu kenikmatan dalam membaca sebuah puisi.

Apa yang dihadirkan puisi “Atambua” mampu menarik saya pada peristiwa serupa yang pernah saya alami juga. Kenangan kembali terbuka. Pengalaman bertemu dengan peristiwa pada puisi “Atambua” ini, menghidupkan kembali bagaimana rupa suasana kematian semacam itu. Puisi semacam ini bukanlah tipe puisi yang ‘berpesan’ secara langsung, puisi “Atambua” ini adalah tipe puisi yang mampu menjadi cermin bagi peristiwa yang pernah dialami pembacanya.

Untuk puisi kedua yang berjudul “Kenapa Kita tak Pernah Menulis Atambua sebagai Puisi”, Ricky coba bergulat lebih jauh dengan perasaannya, dengan perspektifnya ihwal Atambua. Puisi ini, jadi puisi yang paling merepresentasikan cara pandang Ricky terhadap kota Atambua. Kota yang menurut si aku lirik, menjadi kota yang kerap berpesta dansa di jumat malam. 

Kenapa kita tak pernah menulis Atambua sebagai puisi padahal kita saling memeluk, berbagi harum keringat di awal lagu dansa ketika kota ini berpesta setiap jumat malam? 

Kota yang menurut si aku lirik kota religi karena kota yang berani macet saat mengarak patung Bunda Maria.

Kenapa Atambua tak pernah jadi puisi padahal kita berani menahan laju oto-motor hanya karena mengarak patung seorang perempuan?

Puisi “Kenapa Kita tak Pernah Menulis Atambua sebagai Puisi” memperlihatkan bahwa si penyair memiliki impresi spesial terhadap kota Atambua ini. Entah itu mengenai sosial masyarakatnya, tentang hiruk pikuk kotanya, atau tentang hari-harinya di kota itu saat ditemani minuman habuck wisky sebagai teman yang (pandai) menyimpan rahasia. Puisi “Kenapa Kita tak Pernah Menulis Atambua sebagai Puisi” jadi puisi liris yang jujur dalam memandang kota Atambua. Puisi liris yang memesona saya sebagai pembaca.

Puisi “Kenapa Kita tak Pernah Menulis Atambua sebagai Puisi” jadi puisi yang paling mewakili Ricky Ulu dalam memandang Atambua sebagai kota sekaligus Atambua sebagai rumah kreatif bagi puisi-puisi yang dilahirkannya.        

Sementara puisi ketiga yang berjudul “Laki-laki yang Jatuh Cinta di Atambua” jadi puisi yang mencantumkan kata Atambua tapi yang paling tidak Atambua. Pada puisi ini Atambua sebagai sebuah diksi bisa diganti oleh kota manapun. Secara peristiwa, tidak ada penanda khusus pada puisi ini yang mengikat dan terikat pada Atambua sebagai sebuah kota. Puisi ini merupakan puisi ‘cinta’. 

Dan pelukan beraroma hujan
Padahal kau harus memakai
Jaket yang tebal seolah maaf
selalu memanjang dan bisa
Menghangatkan cekdam kecil
Di sudut matamu

Apakah memakai kata Atambua tanpa membahas kota Atambua sesuatu yang salah? Tentu tidak. Ricky hanya meminjam nama kota sebagai latar puisinya, yang sayangnya tidak memiliki kekhususan secara peristiwa yang berkaitan dengan kota Atambua itu sendiri. Atambua hanya jadi latar peristiwa pada puisi ini, tidak lebih dari itu.

Wajah sebuah kota bisa dikenali dari puisi yang berbicara tentangnya. Meski hanya sebagian atau mungkin hanya proyeksi dari orang-orang yang pernah tinggal atau mengunjunginya. Ricky Ulu sepertinya bagian dari orang-orang itu. Dan puisi-puisinya secara langsung berbicara tentang sebuah kota yang samar-samar dapat dikenali rupanya. Atambua mungkin kota yang asing di telinga, tapi setelah membaca puisi-puisi Ricky Ulu, kita mulai bisa meraba bagaimana bentuk wajahnya.*

Redaktur buruan.co. Buku puisi terbarunya berjudul Menghadaplah Kepadaku (2020)

Post a Comment

You don't have permission to register