Puisi-Puisi Fatima Al Husna
Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
PACARAN MAH NANTI AJA DEH
Aku selalu bingung
waktu teman bilang
“Cinta itu penting banget di SMA!”
Seru, katanya.
Bikin semangat sekolah, katanya.
Kataku sih…kok malah bikin capek?!
Tiap kali aku bilang
suka sama seseorang
di pojokan kelas atau
waktu istirahat di koperasi
selalu ada suara Ayah di kepala:
“Boleh suka, tapi jangan
sampai bloon.”
Juga petuah Ibu:
“Nanti aja pacarannya, kalau
sudah jadi guru PNS.”
Dan aku percaya mereka.
Karena Ibu juga baru kenal
Ayah pas udah lulus sarjana,
dan sekarang tiap malam
mereka masih rebutan remote TV
tapi tetap masak mi instan
berdua kalau hujan deras.
Teman-teman bilang aku sok kuat,
sok mandiri, sok sibuk belajar.
Padahal aku juga pengen, kok,
dapat chat
“udah makan belum?”
jam 7 pagi.
Tapi ya gimana
aku udah janji:
kalau cinta itu serius,
maka harus datang
bareng niat,
bukan cuma
“kapan jalan, nih?”
Jadi hari ini aku jawab aja
ke temanku dengan segala katanya-katanya itu:
Aku gak jomblo,
aku nabung niat.
Buat nanti—
buat seseorang yang ngetik
biodata aku di buku nikah,
bukan di kolom chat
atau bio medsos.
2025
PUISI CINTA AYAH KEPADA IBU
“Romantis” bukan bahasa cintanya.
Ibu berbahasa pakai emoji 🙄,
makan mi ayam bertiga
sambil nonton sinetron;
serta lelucon receh yang diulang
sampai basi.
Tapi tadi siang, pas lagi nyari flashdisk
di laci bawah lemari ayah,
aku nemu map plastik bening
isinya puisi-puisi cinta
yang ditulis pakai pulpen biru.
Untuk Ibu.
Waktu mereka masih pacaran,
dari tanggal yang ditulis:
tahun 2005.
Awalnya aku baca sambil ketawa.
Baris pertama:
“Mata kamu seperti langit
sebelum hujan: basah
dan menenangkan.”
Astaga, Ayah… serius?
Lalu baris lain:
“Rambutmu wangi seperti
pagi di Salemba.”
Salemba? Wangi?
Aku bacakan ke adikku sambil ngakak.
Dia ikut nyengir sampai geli.
Kami kira itu hanya nostalgia norak.
Tapi makin lama, makin terasa hangat.
Di antara baris-baris konyol,
ada kalimat yang diam-diam menempel di hati:
“Kalau besok kita miskin, aku
tetap mau menua bersamamu.”
Aku berhenti ketawa.
Karena aku tahu, itu bukan gombal.
Itu ayahku yang sekarang
rela naik motor tuanya
jemput Ibu dari pasar,
meski hujan,
meski lututnya sudah sering nyeri.
Aku tutup map itu pelan-pelan.
Lalu menyelipkannya kembali,
di antara baju-baju batik dan dasi PGRI.
Dan sejak saat itu,
aku belajar bahwa cinta itu bukan
hanya soal peluk dan drama besar.
Kadang, cinta muncul
dalam tulisan yang alay,
yang dibaca ulang dengan cengengesan,
tapi ditulis dengan sungguh-sungguh.
Jadi hari ini aku tambahkan
satu bentuk cinta ke dalam daftarku:
puisi lusuh yang ditulis ayah,
dan masih disimpan Ibu
selama dua dekade.
2025
DENGAN SEDERHANA
Tadi sore, adikku yang masih kelas tiga SD
membaca puisi Sapardi
dari buku kumpulan sajak
di rak ayah.
Suaranya masih cadel,
tapi ia bersikeras membacanya
dengan intonasi seperti pembaca berita.
“Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana,” katanya,
lalu diam sejenak,
mungkin karena tak tahu arti “sederhana”
atau karena heran mengapa
orang ingin mencintai
tapi tanpa ribut-ribut.
Aku duduk di pojokan
ruang tamu, pura-pura main ponsel,
tapi kalimat itu—
itu yang sederhana tapi mengalir
seperti air wudhu di subuh pertama—
masuk ke dada tanpa permisi.
Dan aku,
yang selama ini berpikir
bahwa cinta harus visual dan viral,
harus ada bunga, ada pelesiran,
disimpan dalam galeri
dengan caption puitis buatan sendiri—
mendadak malu.
Karena baris itu
yang lahir jauh sebelum aku lahir,
yang dibacakan oleh anak kecil sambil
sesekali menggaruk lututnya,
bisa membuatku diam,
lebih lama dari biasanya.
Puisi itu tidak pakai emoji.
Tidak menyebut nama.
Tidak ada kata “sayang” atau
“rindu” atau “cewek satu-satunya.”
Tapi rasanya utuh, seperti mangga
yang jatuh tepat di tangan.
Adikku lanjut membaca:
“Dengan isyarat yang tak
sempat disampaikan awan kepada hujan…”
dan di situ aku benar-benar tunduk,
bukan pada cinta,
tapi pada cara kata-kata bisa
mewakili hal yang bahkan belum
pernah benar-benar kurasakan.
Mungkin aku belum pernah
benar-benar jatuh cinta,
baru sering jatuh
ke ekspektasi.
Tapi Sapardi, dan adikku
yang belum ganti
seragam putihnya,
mengingatkanku
bahwa cinta bukan
perkara besar—
kadang hanya satu baris
yang dibisikkan pelan
oleh seseorang yang
bahkan belum
bisa mengeja “cinta”
dengan benar.
2025
MUNGKIN LIBURAN TERBAIKKU
CUMA SAMPAI MATRAMAN
Bulan Juni
beberapa hari setelah
pengumuman kelulusan SMP
aku dan adikku diantar Ibu
bukan ke hotel, bukan menuju villa,
tapi tiba di rumah Jiddah di Matraman.
Rumah tua dengan
kipas angin gantung
dan lantai tegel yang dinginnya
selalu bikin ngantuk habis zuhur.
Kami bawa baju dua setel
dan satu kantong kresek
berisi cemilan.
Ibu bilang, liburan itu
bukan soal jauh—yang penting
niatnya santai…
Apa yang lebih menyenangkan
daripada sarapan
lontong sayur depan gang?
Duduk di bangku plastik warna pudar
sambil dengerin Jiddah
ceritain zaman Orde Baru.
Apa yang lebih mewah
daripada jalan kaki sore
ke Gramedia Matraman?
Tangan lengket habis makan es krim,
lalu dikasih bebas milih dua buku.
Di rak fiksi remaja toko buku itu,
aku baca blurbs sambil deg-degan
karena ada satu judul
yang katanya bisa bikin
nangis 3 bab pertama.
Kami pulang jalan kaki,
melewati jalur sepeda,
trotoar penuh daun kering,
dan sempat foto berdua
di depan mural bertuliskan
“Jakarta Ramah Bacaan.”
Malamnya, Jiddah
masak ayam kecap
dan kami makan lesehan,
pakai piring seng, sambil
denger azan dari musala seberang
—aku rasa, itu suara paling damai di kota ini.
Kami tidur bertiga
di kamar dengan
kelambu warna gading.
TV dinyalain tapi nggak ditonton
karena kami malah cerita
sampai ketiduran.
Tidak ada unggahan story
tidak ada hashtag #healing
atau #familytime/
Tapi ada kelegaan
yang mengendap
seperti teh tubruk
di gelas kaca.
Dan meski aku nggak
ke luar kota,
nggak naik pesawat,
aku tahu, tubuhku pulang
dalam keadaan utuh
hatiku juga penuh.
2025


Rara
GILAKKK TEMEN GUE NIH ANJIRRR! KEREN BANGET PUISI-PUISINYA!! I LOVE IT SO MUCH ><