Puisi-Puisi Listio Wulan
Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
Sebuah Usaha Mencari Anak Kambing Saya
Seminggu sejak pergi menggembala,
waktu berderit seperti gergaji tua, mengikis tiang kandang.
Bau rumput membusuk di sela-sela yang tidak punya nama.
Anak kambing saya kabur, berlari hingga kakinya hafal jalan
yang tidak pernah saya tunjukkan.
Mana di mana anak kambing saya?
Anak kambing saya di pohon waru, mengunyah daun orang lain,
lalu mengikuti serigala yang fasih berkhotbah
tentang padang rumput milik bersama.
Ia tumbuh tanduk antena, menangkap frekuensi
yang tidak pernah saya ajarkan.
Mana di mana anak kambing saya?
Orang-orang sibuk menunjuk arah ke negeri-negeri
yang alamatnya berpindah-pindah,
seperti surat yang tidak pernah sampai kepada siapa pun.
Sementara saya berdiri di halaman:
bunyi seng, suara perut sendiri,
angin yang lewat tanpa meninggalkan bekas.
Mana di mana jantung hati saya?
Jantung hati saya di bukit Golgota,
tempat orang-orang bersih datang
mengaku dosa orang lain.
Atau tersangkut di warung kopi,
tempat seseorang menghitung 1.098 tubuh ternak
menjelang hari raya, dan tertawa
seperti orang yang tidak tahu
bahwa ia sedang dihitung juga.
Mana di mana jantung hati saya?
Jantung hati saya ialah anak kambing yang saya rawat,
yang selalu bermimpi menjadi macan.
Ia sering tidur di samping kaki saya,
sambil mendengar dongeng:
hantu kuyang, hantu hutan, roh sembilan delapan,
nama-nama yang saya bisikkan agar ia tidak lupa dari mana asalnya.
Ia pandai berdansa di atas dua kaki belakangnya,
memakan rumput tetangga, lalu berbalik tanpa menoleh.
Orang-orang bilang melihatnya berjalan ke mana-mana,
membawa bayangannya sendiri seperti karung berisi bulan.
Anak kambing itu terus berlari bersama serigala,
hingga saya tidak bisa lagi membedakan
mana kambing, mana bayangannya.
Dan saya berdiri di sini,
masih memegang tali
yang sudah lama tidak ada ujungnya.
2026
Babi yang Membawa Bara di Punggungnya
Akar-akar dipindahkan
seperti jasad yang dihilangkan,
pisau yang sama,
tangan yang berganti sarung.
Kulit-kulit dirobek di meja
setelah batas-batas bergeser.
Pada petang penuh jelaga,
api dinyalakan dekat hutan yang dibuka.
Asap belerang menyendat.
Debu runtuhan tinggal di dada.
Mereka menyebutnya pesta.
Dari bawah tiang salib yang ditinggalkannya,
seekor babi menyeruduk.
Lumpur dan bara melekat di punggungnya.
Moncongnya mengendus rangkong
yang jatuh sebelum sempat terbang,
dan bau darah yang meresap jauh ke dalam humus.
Krommiona.
Nama itu bertahan lebih lama
daripada para pemburu yang dahulu
membawa tombak dan parang.
Kini dieja
oleh mulut batu-batu tambang.
Tombak kami lapuk.
Hutan tak lagi mengenali bekas tapak kami di tanahnya.
membawa amis, membawa gaung.
Tak ada altar. Tak ada dupa.
Hanya suara mesin yang alpa mengenal malam,
hingga gelap terdengar seperti kandang terbakar.
Dan pesta itu,
belum pernah benar-benar dimulai.
2026
Seperti Katak Dalam Tempurung
Kau pernah sekali keluar.
Waktu hujan turun terlalu lama
dan halaman penuh pantulan.
Tubuhmu basah.
Lalu kau kira air selalu seluas itu.
Kompas yang kautahu arahnya dibeli ayahmu
dari sisa pensiun terakhir.
Jarumnya gemetar setiap menunjuk utara,
dan utara tak pernah sama.
Suatu sore ia menunjuk cakrawala.
Kau bilang, itu cuma pagar belakang tetangga
yang terlalu tinggi.
Dan ia tidak membantah,
sebab pagar memang ada.
Besi yang karat, pecahan kaca yang disusun lancip,
lumut yang tumbuh di atas luka.
Kau tetap di pinggir,
di tepi sungai yang lupa apa yang pernah dibawanya.
Orang-orang berangkat darinya
membawa gandum, garam, doa,
lalu kembali dengan tangan sama kosongnya.
Kau sudah berhenti menghitung.
Lapis demi lapis besi dan kaca
menancap dengan sendirinya.
Kadang kenangan terdengar
seperti sesuatu jatuh ke air.
Plung.
Lalu sunyi.
Tubuhmu dingin.
Dan Heqet belum selesai bekerja.
2026
Sapi Jantan atau Betina
Sepi yang gemuk duduk di antara kita.
Matanya terbuka. Hatinya terpejam lama.
Ada yang berlubang di diri kita
sejak Musa naik ke gunung dan tidak kembali
dalam hitungan yang kita duga.
Maka kita tuang perhiasan ke dalam api:
gelang, anting, kenangan, iman.
Dari lebur itu lahir sesuatu yang berkilau.
Mula-mula diam.
Lalu mendesis,
seperti sesuatu yang mengenali kita.
Tak seorang pun sepakat menyebutnya apa.
Api telah menyala.
Dan kita tidak menangis untuk memadamkannya.
Kita menangis agar bisa lebih dekat.
Pertanyaan bergerak di antara kita:
jantan atau betina?
dari Tuhan, atau cukup atas nama-Nya?
sungguhan,
atau hanya cukup mirip untuk diteruskan?
Sementara itu, yang kita pertanyakan
terus bertambah gemuk.
Diberi tempat duduk.
Diberi alasan.
Dan nama baru setiap kali nama lama mulai retak.
Pisau sudah kita asah sejak kemarin.
Tetapi yang gemuk itu belum juga kita sembelih.
Terlalu jinak.
Terlalu akrab.
Dan mirip dengan cara kita bercermin.
Kita yang berkali-kali menandatangani
apa yang tidak pernah kita baca.
Leher-leher lain disembelih atas nama kita.
Dagingnya terbakar tujuh matahari.
Abunya diterbangkan angin.
Dan kita pulang dengan tangan bersih.
Perhiasan itu tak lagi ingat
bahwa ia pernah lebur.
Ia berjalan di antara kita
seperti sesuatu yang sah.
Seperti sesuatu yang selalu ada.
Dan kelak kita bela
sampai Musa kembali ke sisi kita.
Dan sepi-sepi baru terus lahir
dari pertanyaan yang salah.
2026
Mencintai Kucing Biru Minggu Pagi
Aku berlari bersamamu
di bawah sinar matahari yang belum terlalu tinggi,
melewati halaman belakang rumah,
tempat sesuatu diam-diam sedang tumbuh ke arah yang salah.
Aku ingin banyak hal, kau tahu.
Hal-hal kecil yang diam-diam rakus:
pintu rahasia, baling-baling bambu,
atau usia yang bisa diperlambat beberapa menit saja.
Setiap Minggu pagi suaramu merembes dari ruang tamu.
Kadang seperti sendok yang beradu keras dengan gelas susu.
Kadang seperti seseorang yang terlalu lama tinggal di masa depan,
dengan membawa kembang gula.
Di balik kantongmu yang tak berdasar,
ada sore-sore yang belum sempat kupilih.
Aku pernah berdiri di depan pintumu lama sekali,
hanya ingin melihat seberapa jauh usia sudah berjalan.
Hari-hari jatuh tanpa bunyi.
Jam dinding kehilangan angka.
Wajah ibu perlahan tak semuda kemarin.
Mungkin itu sebabnya kau tak punya kuping, kawan,
agar tak perlu mendengar nama-nama
yang dipanggil dari luar layar
dan tidak menjawab.
Ada yang memilih tidak ikut tumbuh,
terus berdiri di belakang kita
seperti bayangan yang betah.
Aku akan menyiapkan dorayaki
dan duduk lebih lama dari biasanya,
sebelum layar itu mati,
dan perpisahan kecil mulai terasa abadi.
2026

