Fb. In. Tw.
Ulasan Puisi Galeh Pramudianto

Tema dan Intertekstualitas

Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.

 

Tema/ide merupakan pemicu dibuatnya sebuah puisi. Penentuan tema secara spesifik dan direncanakan akan menajamkan arah puisi yang ditulis. Semacam patokan. Seperti pondasi. Agar puisi yang dibangun kokoh dan memiliki bentuk yang jelas. Galeh Pramudianto menjadikan film sebagai sumur ilham untuk puisi-puisi yang ditulisnya. Sebuah acuan. Sebagai sumber ide.

Ada tiga puisi yang mengambil film sebagai hipogram puisi-puisi Galeh Pramudianto.

Puisi pertama berjudul “Aislin Mengunjungi Hutan Pom Poko (1994)”. Puisi ini dipenuhi deskripsi tindakan aku lirik saat berkunjung ke hutan (Pom Poko). Pom Poko sendiri merupakan film animasi Jepang yang berkisah tentang kawanan anjing rakun Jepang (tanuki) yang tinggal di bukit Tama. Dengan unsur komedi yang kuat, film ini coba memperlihatkan perlawanan kawanan anjing rakun yang terusir karena pesatnya pembangunan rumah dan pusat perbelanjaan. Puisi “Aislin Mengunjungi Hutan Pom Poko (1994)” hanya memotret suasana hutan secara liris dan natural, puisi ini tidak menyentuh sama sekali sisi karikatural dari fim Pom Poko (1994).

 

Ia datang melewati gerbang bambu yang separuh patah
menyusuri jalan tanah di mana bayangan tanuki memanjang
lalu menyusut seperti tarikan napas terakhir  

Ia melihat rumah-rumah jamur
yang pintunya terbuat dari daun kamper
bau tanah basah menyelinap ke dadanya
ada tawa dari balik semak
ada tangis menyerupai suara burung hantu

Pada puisi ini, Galeh menyisipkan sedikit simbolisasi perlawanan kawanan anjing rakun terhadap pembangunan yang mengancam tempat tinggal mereka.

 

Di celah pohon cedar
tanuki berlatih menjadi batu
memintal mantra dari lumut
untuk mengusir buldoser mimpi buruk

 

Sebagai sebuah interteks, puisi ini jelas terlampau singkat, tapi sebagai sebuah puisi, puisi “Aislin Mengunjungi Hutan Pom Poko (1994)” cukup berhasil membangun kesan liris dan natural.

Untuk puisi kedua berjudul “Aislin Mengunjungi Okja (2017)”. Jika pada “Aislin Mengunjungi Hutan Pom Poko (1994)” puisinya deskriptif-visual, maka puisi “Aislin Mengunjungi Okja (2017)” lebih verbal dan frontal. Puisi ini interteks dari film berjudul Okja. Film Okja sendiri berkisah tentang persahabatan seorang remaja perempuan bernama Mija dengan binatang hasil rekayasa genetik bernama Okja.

Pada awal puisi, pembaca langsung dihadapkan pada teks yang terbuka.

 

Okja diciptakan dari laboratorium
dijual sebagai omong kosong masa depan pangan
dikurung dalam pabrik besi dan neon

Pada puisi “Aislin Mengunjungi Okja (2017) suara-suara perlawanan terdengar lebih lantang dan blak-blakan.

…

dan masuk melalui celah pagar kawat

“kebebasan telah dipadamkan
oleh mesin yang menyebut dirinya kemajuan”

….

 

Puisi “Aislin Mengunjungi Hutan Pom Poko (1994)” maupun puisi “Aislin Mengunjungi Okja (2017)” sepertinya ditulis atas suara yang sama yaitu keberpihakan pada yang lemah, pada yang ‘tertindas’. Puisi “Aislin Mengunjungi Hutan Pom Poko (1994) lebih “unggul” karena identitas puisinya jelas: liris. Sementara untuk puisi “Aislin Mengunjungi Okja (2017)”, identitasnya terlihat kabur karena bait terakhir pada puisi ini jadi semacam kesimpulan yang justru membunuh ruang interpretasi sebuah puisi.

 

dan langkah mungil bersama Mija

di malam berkabut

menjadi ajakan
membuka sangkar
mematikan conveyor
mengembalikan Bumi
kepada segala yang ada dan tiada.

 

Dan puisi terakhir berjudul “Di Kilometer Terakhir Lost Highway (1997), Putaran Tanpa Akhir”. Puisi ini sama sekali berbeda dengan dua puisi sebelumnya. Puisi “Di Kilometer Terakhir Lost Highway (1997), Putaran Tanpa Akhir” lebih seperti cermin atas filmnya: alurnya berputar, noir, dan terpecah-pecah. Antar bagian seperti terpisah dan menceritakan kepingan peristiwa yang berbeda.

 

Cahaya strobo menelan wajah sembrono
muncul, hilang, muncul lagi
seperti pita magnetik tinggal statistik

asap rokok melingkar di kabin
lampu rem membelah gelap
jalan melipat diri menjadi nadi sepi

Kamera genggam merekam tanpa tangan
menghapus siapa saja yang menonton

 

Puisi “Di Kilometer Terakhir Lost Highway (1997), Putaran Tanpa Akhir” mengambil “bahan” dari film Lost Highway (1997) yang dikenal sebagai film beraliran neo noir, di mana terdapat banyak hal kontras dengan pencahayaan gelap dengan ambivalensi moral yang kentara.

Dari ketiga puisi yang menjadikan film sebagai rujukan, jelas, puisi “Di Kilometer Terakhir Lost Highway (1997), Putaran Tanpa Akhir” jadi puisi yang paling gelap dan paling sulit dikaitkan dengan filmya secara tekstual. Pada puisi “Aislin Mengunjungi Hutan Pom Poko (1994) dan puisi “Aislin Mengunjungi Okja” ada cukup penanda dari film sebagai rujukan, misal penyebutan tanuki, mija, dan okja secara eksplisit pada teks puisi. Sementara pada  puisi “Di Kilometer Terakhir Lost Highway (1997), Putaran Tanpa Akhir” nyaris tak ada penanda semacam itu. Hanya judul yang “memberitahu” pembaca bahwa puisi ini dipengaruhi oleh film berjudul Lost Highway (1997).[]

Redaktur buruan.co. Buku puisi terbarunya berjudul Menghadaplah Kepadaku (2020)

Post a Comment

You don't have permission to register