Fb. In. Tw.

Kausalitas dan Absurditas

Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.

 

Cerpen yang akan diulas kali ini berjudul “Akar” karya Syadza Zahratun Nufus (S.Z Nufus). Cerpen “Akar” diawali oleh sesuatu yang realis tapi kemudian bergerak dan berakhir secara absurd. Dalam cerpen “Akar”, Nufus coba menggabungkan dua dunia yang saling bertolak belakang itu untuk menghasilkan semacam efek kejut di akhir cerita.

Cerpen dibuka saat  tokoh utama berada di tukang tambal ban lalu melihat pesan dari anaknya. 

Ayah, jangan lupa beli Gacoan pas pulang ke rumah.
Aku membaca notifikasi pesan itu di layar ponsel tanpa perlu membuka WhatsApp. Rahmi. Anak perempuanku satu-satunya.
…
Ponsel kumasukkan ke saku celana lalu berjongkok di samping motor.
“Berapa semuanya, Pak?” tanyaku
Tukang tambal ban yang sedari tadi berkutat dengan ban motorku mengusap keringat di dahinya.
…
Hari ini memang sedang apes. Ban depan dan belakang bocor bersamaan. Padahal aku sedang mengejar waktu untuk mengantar satu set sound system ke sebuah musala di ujung kota. Ketuanya sudah menelponku sejak pagi. Ia bilang hendak ada urusan beberapa jam, takut tidak bertemu denganku saat mengantarkan set sound system ke musala.

Pembukaan ini sebagai penerang profesi tokoh utama, seorang tukang servis sound. Selain itu, dengan bocornya ban depan dan belakang secara bersamaan, seakan jadi simbol bahwa tokoh utama akan atau sedang sial hari itu. Hal ini, sebagai cara penulis memperkuat alibi keapesan tokoh cerpennya. Cerpen tidak langsung masuk pada konflik utama -kesialan saat si tokoh utama dipukuli warga karena dituduh maling sound musala, tapi merancang semacam pemanasan terlebih dulu dengan cerita bocornya ban depan dan belakang motor agar konsep hari sial terasa lebih kuat.

Betul, tidak ada hubungan secara langsung antara bocornya ban dengan dipukulinya si tokoh utama, tapi bocornya ban jelas jadi penguat kesan bahwa hari itu si tokoh utama memang sedang sial. Kadang-kadang sebuah cerpen memerlukan cara-cara seperti ini. Di mana satu peristiwa dengan peristiwa lain jadi tampak berhubungan.

Ketika memasuki konflik utama, saat si tokoh utama dipukuli warga karena dianggap mencuri sound musala. Ketegangan cerpen meningkat dan bahkan mungkin justru mencapai puncaknya.

…
Salah satu speaker baru saja kuturunkan ketika suara keras tiba-tiba menghantam telingaku.
“Maling ya kamu!”
Sebuah dorongan kuat mengenai bahuku. Tubuhku oleng hingga hampir jatuh menimpa speaker. Aku menoleh spontan. Seorang lelaki berkaus hitam tepat di hadapanku dengan wajah tegang.
“Apa, Pak?” tanyaku bingung.
“Maling pura-pura bego!”
….

Adegan ini jadi pembuka pecahnya konflik utama. Awalnya hanya dorongan dan kata-kata tuduhan, lalu berlanjut dengan penghakiman dan pemukulan.

Satu per satu hasutan itu terus menghantam telingaku. Saat aku mencoba memproses semuanya, sebuah pukulan mendarat ke pipi kananku.
BUKK
Aku kehilangan keseimbangan lalu jatuh menabrak salah satu speaker. Suara dengung memenuhi telingaku. “Pak! Saya bukan maling!”
Pukulan kedua datang lebih keras. Kemudian tendangan. Lalu, pukulan lagi. Aku mencoba melindungi kepala dengan kedua tangan. Tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Di sela-sela rasa sakit yang mulai mengaburkan kesadaran, aku masih mendengar suara-suara itu.

Seseorang dituduh maling lalu dipukuli beramai-ramai, mungkin seperti sesuatu yang “lumrah” dijumpai di negeri ini. Serupa dengan orang yang tidak tahu apa-apa lalu tiba-tiba ditangkap, dituduh ini itu kemudian dipenjara bertahun-tahun. Peristiwa realis yang kadang muncul dalam tajuk berita sehari-hari. Nah, menyadari hal itu saya kira, penulis tidak ingin cerpennya berhenti hanya di sini, pada konflik yang mungkin klise. Sehingga cerpen terus bergerak dan digerakkan oleh sesuatu yang absurd. Akar.

Ya, akar.

Secara radikal, tokoh utama kemudian mampu melihat sesuatu yang tidak mampu dilihat orang lain. Tokoh utama mampu melihat akar yang menjulur dari kaki semua orang. Ada yang akarnya tipis, ada yang akarnya tebal hingga terlihat hitam. Namun sebelum itu, didahului hal aneh lain: tokoh utama bisa sembuh secara luar bisa cepat.

…
Menurut dokter, tubuhku memiliki kemampuan penyembuhan yang tidak biasa. Dengan cedera yang kualami, kebanyakan pasien membutuhkan waktu enam bulan hingga satu tahun untuk pulih secara fisik. Bahkan, beberapa di antaranya harus menjalani terapi bertahun-tahun hanya untuk kembali hidup normal.
Namun, tubuhku seperti menolak mengikuti perhitungan mereka. Memar di wajahku menghilang lebih cepat dari perkiraan. Luka-luka di tubuhku menutup tanpa banyak masalah. Rasa pusing yang intens juga sudah tidak pernah muncul kembali. Bahkan, yang paling aneh, aku bisa membantu Rahmi mengerjakan semua PR-nya. Termasuk PR Matematika. Dan jawabannya pun benar.
….

Keanehan itu jadi awal mula kenapa kemudian tokoh utama bisa melihat semua orang seperti berakar. Warga yang memukulinya juga kini memiliki akar, termasuk pak Suraji, orang yang menolongnya saat dipukuli beramai-ramai.

Cerpen pun diakhiri dengan peristiwa surealis, di musala tempat di mana tokoh utama dipukuli, tepat di depan matanya, orang-orang yang memukulinya tempo hari, berubah jadi pohon-pohon.

Angin malam berembus pelan. Daun-daun mulai bermunculan di mana-mana. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, halaman musala berubah menjadi kebun kecil. Mahoni. Mangga. Jati. Bahkan, Trembesi. Masing-masing tumbuh tegak di tempat warga-warga itu sebelumnya berada. Sunyi. Tak ada lagi suara jeritan. Hanya suara daun yang bergesekan.

Aku meninggalkan Pak Suraji yang kebingungan. Tetapi, sesuatu menarik perhatianku. Di bawah cahaya lampu halaman, akar tipis muncul dari telapak kakiku. Cukup lama aku memperhatikan serabut-serabut akar yang tipis ini.

“Mungkin, suatu hari aku akan menjadi pohon juga.”

Cerpen “Akar” selesai namun menyisakan banyak pertanyaan. Tokoh utama yang tiba-tiba bisa melihat akar pada orang-orang, setelah peristiwa pemukulan itu, mencipta ruang menganga tentang hubungan sebab akibat sebuah cerita. Cerita melompat terlalu jauh sehingga cerita sulit diikuti secara nalar. Selain itu, kalaupun tumbuhnya akar jadi sesuatu yang simbolik atas perangai seseorang, mengapa harus diakhiri dengan menjadi sebuah pohon yang notabene sama-sama berakar. Tak ada bedanya orang berperangai buruk atau baik jika akhirnya jadi pohon juga.

Lemahnya kausalitas ini, saya kira, membuat peristiwa saat warga yang perlahan berubah menjadi pohon, tidak terlihat sebagai konflik utama. Ganjil dan tiba-tiba, tanpa pendahuluan terlebih dulu. Padahal cerpen “Akar” coba mengkritik realitas dengan absurditas. Sesuatu yang efektif jika saja berhasil dieksekusi dengan baik. []

Redaktur buruan.co. Buku puisi terbarunya berjudul Menghadaplah Kepadaku (2020)

Post a Comment

You don't have permission to register