EKSPLORASI, NARASI PUISI, DAN AKROBAT BAHASA
Saya mengenali puisi-puisi Maulida Hilyaturahma tahun 2025. Saat rubrik Mekar baru diluncurkan dan masih jadi ruang sepi, puisi Maulida menyegarkan dahaga kami akan puisi-puisi remaja yang berkesan. Ia salah satu penyair muda yang dapat “mekar” suatu saat nanti—setidaknya dalam bayangan kami.
Upayanya untuk mekar sebagai penyair perempuan kini terasa dalam eksplorasinya terhadap bentuk puisi yang ia tulis. Setahunan lalu, puisi-puisinya lebih lugas dalam pernyataan-pernyataan yang metaforis. Contohnya dapat kita lihat dalam kutipan puisi Pohon Kertas:
jadilah seperti kertas
yang pasrah
dicoret coret ia
oleh catatan utang negara
atau tangan mungil adik kita
Setahun lebih berselang, di #MTNPresentasi ini, Maulida tampil dengan gaya yang sedikit berbeda. Ia senang mengotak-atik puisi naratif sebagai siasat kekaryaannya. Keempat puisi yang terpilih, tiga di antaranya sangat tampak bahwa penulis adalah penutur tentang sesuatu yang ia amati, bayangkan, atau mungkin khayalkan.
Menceritakan seseorang (yang tak lain) badut, dan penyair jadi-jadian dalam puisi “Tukang Cukur”, kemudian menarasikan tingkah remaja dalam “Jagoan Neon”. Sementara pada puisi “Pujangga dan Pena Sang Tuan” Maulida mencoba menceritakan ikhtiar pujangga di malam hari untuk menemukan ilham puisi.
Secara umum, Maulida bisa menawarkan apa itu puisi yang bercerita, bukan cerita dalam bentuk lazim prosa. Ia tetap memenggal peristiwa, memadatkan deskripsi, dan menawarkan pemaknaan baru yang perlu digali mendalam oleh seorang penyair. Kekuatan itu misalnya sedikit terlihat dalam bait dalam puisi “Tukang Cukur” berikut:
Dini hari jakarta, persis ketika
Purnama menggonggong
Pengamen badut kehilangan sungging
Pada lengannya yang ditambal waktu
Ia menjinjing koin. Getir di dahinya
Di ketiga puisi, Maulida juga asyik memainkan potongan-potongan percakapan yang simbolis. Bisa lesap dalam puisi, dan menjadi hentakan tersendiri setelah narasi padat yang diutarakan. Ungkapan-ungkapan retoris hadir dalam puisi “Tukang Cukur”, seperti: “Tidak. Aku ingin pergi ke tukang cukur/ Di sana akan kupangkas habis/ Kenyataan kenyataan yang mencekik”//.
Ungkapan yang retoris juga muncul dalam sajaknya “Pujangga dan Pena Sang Tuan”. Namun, bobot kegelapannya lebih terasa di sini. Kita tak bisa menebak siapa pujangga, siapa tuan. Apakah pujangga hamba, apakah tuan itu Tuhan? Atau sebaliknya? Contohnya, ia menulis:
Sebelum ia bersabda,
Bukankah telah kau gores sajak sajakku
Lewat buhul penamu?
Sementara itu, ujaran dalam percakapan dengan bahasa yang lebih ringan terasa dalam puisi “Jagoan Neon”, seperti: Ren, mungkin semua remaja sekolahan/ Pada overthinking, sibuk memviralkan/ Kuah bobamu yang kau lempar/ Pada krisis identitas//. Namun tak sampai di situ, percakapan itu digeser ke ujung yang absurd, kembali menegaskan posisi percakapannya dalam puisi: Aku FOMO ren/ Ajak aku healing/ Di sela sela kebobrokan cimol goreng//.
Percakapan itu sangat saya hargai, dan terasa seru. Saya ingat pada puisi-puisi balada yang dulu seringkali muncul di lomba-lomba membaca puisi remaja hingga dewasa. Ambillah contoh percakapan-percakapan yang terbangun dalam berbagai suasana dalam puisi “Jante Arkidam” karya Ajip Rosidi: “Aku, akulah Jante Arkidam/ Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya batang pisang,/ Tajam tanganku lelancip gobang/ Telah kulipat ruji besi//”.
Namun, sayang sekali, keseruan puisi naratif Maulida banyak terpenggal oleh eksplorasi puisinya yang lain: bermain dengan kata-kata yang terlalu akrobatik. Mungkin itu salah satu upayanya agar cerita yang ia ungkap masih terasa seperti puisi. Tetapi di sisi lain, hal itu justru membuatnya terasa tak utuh sebagai puisi yang bercerita, atau cerita puitis.
Misalnya dalam dua bait kutipan puisi berikut:
Pintu kayu yang hampir rubuh
Karena hampir dimakan rayap tak berdosa
Terbuka perlahan
Menampilkan sang ihwal
Yang bersemadi dalam peraduannya
Di tangan sang tuan
Tergenggam sesuatu yang pernah teronggok
Menjadi sebuah mantra kutukan
Untuk pujangga tersayang
Kata-kata bercetak tebal, sangat mengganggu kelancaran pembaca dalam mencerna cerita. Ia justru mengaburkan susunan bayangan adegan yang seharusnya dapat terbangun dalam imajinasi pembaca. Apa yang tak pernah teronggok itu? Apa pula sang ihwal? Semuanya mengaburkan.
Sementara itu, dalam puisi Tukang Cukur. Akrobat kata itu juga diperparah dengan upayanya membuat suatu makna dalam tuturannya lebih tak kasatmata. Atau setidaknya, karena ketidakmampuan membangun keutuhan cerita dalam satu puisi. Membuka puisi dengan “Ia ingin memangkas/ Sebagian dirinya yang hancur—/”, membuat saya bertanya-tanya, siapakah sosok Ia? Di bait kedua, deskripsinya justru lebih cair dan jelas: ada seorang pengamen badut di malam hari di Jakarta. Sebagai redaktur, saya sempat ingin menukar bait pembuka dengan bait kedua, atau menghapus bait pertama. Namun, setelah ditimbang, saya ragu, siapa tahu sosok Ia itu adalah sosok yang berbeda dengan pengamen badut.
Sebenarnya tak perlu ada keraguan bahwa puisi juga bisa berturur secara jernih dan tetap indah. Saya teringat puisi-puisi penyair Lekra, yang deskriptif-naratif, tetapi tetap terasa memberikan kesan yang mendalam. Contohnya puisi “Cerita Malam” karya S. Rukiah yang diterbitkan Balai Pustaka (1952) sebagai berikut:
Kembali berdesing angin selatan di pohon-pohon
bulan merayap perlahan tenggelam
dan perlahan aku berdiri di atas jembatan tua
kutengok bayang-bayang di air
sudah hilang tiada lagi
Terasa terang, terbayang, tetapi tetap meninggalkan kesan mendalam. Apalagi pembaca dipandu untuk membayangkan deskripsi dan penggalan cerita di dalamnya dengan judul yang tepat dan sederhana: Cerita Malam. Begitu pun judul Ajip Rosidi: Jante Arkidam. Sementara itu, kadang Maulida memilih judul yang tak nyambung dengan isi. Tukang Cukur, tetapi isinya pengamen badut dan penyair jadi-jadian. Jagoan neon tetapi tak ada pembahasan soal itu.
Di antara beberapa titik kelemahan dari pandangan saya terhadap puisi Maulida kali ini, upayanya untuk terus menulis dan mengeksplorasi bentuk patut dihargai. Sebab gairah penemuan itu pulalah yang sangat penting bagi seorang penyair. Seperti kata pemenang Nobel Sastra 2026, Anne Carson, hidup itu memang membosankan, dan kita harus melawan kebosanan itu dengan terus melakukan terobosan. Mungkin, Maulida bisa menyerap spirit itu. Tak seperti saya yang mudah menyerah—apalagi soal menulis puisi yang banyak komentatornya (seperti saya yang kudu mengulas tulisanmu ini).

