Puisi-Puisi Maulida Hilyaturahma
Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
Tukang cukur
Ia ingin memangkas
Sebagian dirinya yang hancur—
Mencabiknya setengah setengah
Saban kali dirinya
Terlelap pada bunga tidur
Yang terselip di saku saku
Budak budak korporat bau kencur
Dini hari jakarta, persis ketika
Purnama menggonggong
Pengamen badut kehilangan sungging
Pada lengannya yang ditambal waktu
Ia menjinjing koin. Getir di dahinya
Datang seorang penyair jadi jadian
Kata orang, ia adalah siluman rembulan
Atau mungkin seorang kawan lama yang terbuang
“Hey anak muda, mari temani aku
Menggantungkan mimpi pada malam
Atau pada sesap miras oplosan
Tertinggal sedap dan sengatnya di ujung fajar urban
Sisanya biarlah derik jangkrik jadi perantara”
Sebelum sempat ia pergi
Kemudian memangkas sebagian dirinya yang hancur
Ia bersabda
“Tidak. Aku ingin pergi ke tukang cukur
Di sana akan kupangkas habis
Kenyataan kenyataan yang mencekik
Sebagai harga yang harus dibayar
Serupa helai nadi yang koyak dan kuyu”
Jagoan neon
Wajah wajah hampa yang sok sok an
Terkelupas dimakan keringat jati diri
Yang menggigil dalam masa pubertas
Dan jerawat batu yang dulu sempat
Kau pecahkan ke novel novel roman picisan
Kini ia telah beranak pinak ren,
Menjadi debu media sosial
Menjadi kutu buku yang sok ambis. Atau
Menempel pada sepatumu yang gayanya skena abis
Ren, mungkin semua remaja sekolahan
Pada overthinking, sibuk memviralkan
Kuah bobamu yang kau lempar
Pada krisis identitas
Aku FOMO ren
Ajak aku healing
Di sela sela kebobrokan cimol goreng
Dia lebih dekat dari urat nadiku
Genggamlah lumpur ini Tuhan
Yang remuk
Yang hancur
Yang hina
Agar kembali kumencair di bawah payung firman-Mu
Menjadi bening dalam cahaya kasih-Mu
Genggamlah kepingan jiwaku Tuhan
Yang tercecer di persimpangan
Kebrutalan iblis dan labirin tipu daya nurani
Menjadi debu yang tak lagi mengenal angin
Duh Gusti!
Kami adalah sekumpulan lalat yang kehilangan sayap
Hilang arah tapi arogan
Mungkinkah Engkau sudi Tuhan
Mengembalikan sayap kami
Menuntun kembali pulang?
Demi jiwaku yang ada di dalam genggaman-Mu
Dan noktah rindu yang menggebu
Dalam sujud di sepertiga waktu
Kurasakan, duhai pemilik cahaya fajar
Mata air cinta yang kau curahkan
Mengaliri dahaga iman yang gersang oleh kefanaan
Tuhan, pantas tak kutemukan Engkau
Pada kedangkalan akalku, karena sejatinya|
Engkau lebih dekat dari urat nadiku
Pujangga dan pena sang tuan
Telah datang malam
Ketika si pujangga datang bertandang
Mengetuk pintu sang empunya
Yang berkerik nyaring
Menyanyikan sebuah kidung lastri
Pintu kayu yang hampir rubuh
Karena hampir dimakan rayap tak berdosa
Terbuka perlahan
Menampilkan sang ihwal
Yang bersemadi dalam peraduannya
Di tangan sang tuan
Tergenggam sesuatu yang pernah teronggok
Menjadi sebuah mantra kutukan
Untuk pujangga tersayang
Dengan takzim, si pujangga bertanya
Bolehkah aku meminjam sajak sajak mu tuan?
Si empunya mengernyit heran,
Tapi tak tandas
Tentu, namun di mana sajak sajakku?
Sebelum ia bersabda,
Bukankah telah kau gores sajak sajakku
Lewat buhul penamu?

