Fb. In. Tw.

Tersesat di Kota dengan Dinding Tak Menentu

Kisah bermula dari sepasang remaja kesepian yang saling berbagi perasaan. Mereka kerap berjalan-jalan tanpa tujuan, lalu mengaso pada suatu titik yang tak juga direncanakan. Dalam berbagai kesempatan, baik berbincang langsung maupun dengan berbalas surat, mereka silih berkisah tentang berbagai hal, termasuk hal yang terasa nonsens belaka. Sampailah akhirnya mereka berbagi kisah tentang satu kota dengan dinding tak tentu yang mengelilinginya. Kota itu penuh dengan berbagai hal yang ganjil, sebut saja seperti para penduduk yang tak memiliki bayangan, penjaga gerbang yang rutin mengangon sekumpulan unicorn, jam menara yang tak memiliki jarum, dan sebagainya. Begitulah gambaran awal dari novel The City and Its Uncertain Wall.

The City and Its Uncertain Wall merupakan novel Haruki Murakami yang terbit dalam bahasa Jepang pada tahun 2023, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris pada tahun berikutnya. Sedangkan, novel yang saya baca merupakan terjemahan berbahasa Inggris oleh Philip Gabriel yang diterbitkan oleh Vintage (2025). Murakami menulis keterangan pada bagian Afterword, bahwa kisah ini pada awalnya merupakan novelet karangannya yang terbit pada tahun 1980. Namun Murakami merasa tidak puas akan novelet tersebut, sehingga ia menulis ulang puluhan tahun setelahnya. Akhirnya penulisan novel ini membuat Murakami terbebas dari duri ikan yang tersangkut di tenggorokannya.

In any case, I’ve rewritten (or perhaps completed) The City and Its Uncertain Walls in a fresh form, and honestly, I feel relieved. For so long this work had felt like a small fish bone caught in my throat, something that bothered me.
(halaman 449)

Novel ini dibagi dalam tiga bagian besar cerita. Bisa dibilang, ketiga bagian ini merupakan fase kesadaran protagonis yang terpecah, dalam novel ini protagonis sempat berpisah dengan dirinya yang lain, yang termanifestasi dalam bentuk bayangannya. Pada bagian pertama, Murakami menggunakan teknik bercerita maju-mundur di setiap subbagian, antara kisah tentang protagonis dan kekasihnya, dengan protagonis yang sudah memasuki kota berdinding tak menentu. Hal ini membuat pembaca harus cukup sabar untuk mendapatkan gambaran narasi keseluruhan sebelum akhirnya kisah menjadi padu. Berbeda dengan narasi pada dua bagian berikutnya yang lebih mudah untuk diikuti, sebab beralur maju.

Seiring berkembangnya alur cerita, pembaca tetap disuguhkan berbagai peristiwa yang ajaib ala semesta ciptaan Murakami. Dalam novel The City and Its Uncertain Wall, para pembaca masih bisa mencentang hampir seluruh poin bingo khas Murakami, sebut saja lelaki kesepian, perempuan yang menghilang secara misterius, kucing-kucing, referensi dari The Beatles, lagu-lagu jaz, sumur kering, sesuatu yang berhubungan dengan telinga, dan poin bingo lain.

Berangkat dari Kehilangan

Premis utama yang diangkat dalam novel ini adalah tentang kehilangan. Sang protagonis, yang hingga akhir cerita tak disebutkan namanya, harus menerima kenyataan bahwa kekasih pada masa remajanya menghilang begitu saja. Tanpa persiapan yang layak untuk menghadapi perpisahan, sang protagonis harus melanjutkan hidup dengan lubang menganga di hatinya.

Can you possibly imagine how painful it is to suddenly have the one you love leave for no reason, how much it hurt your heart, how deeply it ripped you apart, how much you bled inside?
What hurt most of all was the feeling that the while world had abandoned you. That you were now a person without a shred of value. A meaningless scarp of paper, or simply invisible. You hold your palm up, gazing at it until you can gradually see through to the other side—it’s No. lie, it’s real.
(halaman 105-106)

Sebelum menghilang, sang kekasih hanya sempat menyampaikan bahwa ia hanyalah bayangan dari tubuh nyatanya. Sementara tubuh nyata sang kekasih berada di kota dengan dinding tak menentu, bekerja sebagai petugas perpustakaan. Hal inilah yang menjadi satu-satunya bekal bagi protagonis untuk bisa menemukan kembali kekasihnya.

Puluhan tahun terlewat, sang protagonis tak juga bisa benar-benar menutup lubang yang dibuat oleh kekasih pada masa remajanya tersebut. Kehilangan yang tanpa aba-aba dan alasan meninggalkan trauma yang sukar dibenahi bagi protagonis. Pada saat yang sama, ia pun tak pernah tahu alamat atau cara untuk bisa sampai ke kota dengan dinding tak menentu itu, kota yang terdengar mustahil.

Namun dengan cara ajaib ketika sang protagonis jatuh dalam suatu lubang, sampailah ia pada kota tersebut. Sesuai dengan gambaran yang pernah disampaikan oleh sang kekasih (atau bayangannya), protagonis berhasil menemukan sang kekasih, meski dengan tubuh remaja seperti saat ia menghilang, seolah waktu tak berlaku di kota itu.

Protagonis telah bertemu dengan ‘tubuh nyata’ sang kekasih yang tentu saja tak mengenalnya, sebab sebelumnya protagonis hanya bertemu dengan ‘bayangan’ kekasihnya. Bukan hanya itu, protagonis pun akhirnya bekerja dengan tubuh sang kekasih di perpustakaan kota itu. Namun perlahan protagonis mulai merasakan keraguan, apakah pertemuan tersebut merupakan hal yang benar-benar ia inginkan, apakah lubang di hatinya benar-benar bisa terpenuhi.

Kota Misterius dan Bayangan sebagai Kesadaran yang Lain

Saya coba menerjemahkan ‘uncertain’ dengan padanan ‘tak menentu’, karena diceritakan bahwa dinding di kota tersebut tak memiliki bentuk yang pasti. Berulang kali protagonis mencoba untuk membuat peta kota tersebut, dinding yang mengelilinginya seolah menggeliat. Salah satu tokoh dengan kebingungannya akan kota tersebut menyatakan sebuah teori, bahwa kota tersebut berada di alam bawah sadar protagonis yang begitu dalam.

“I think the wall surrounding the town is the consciousness that creates you as a person. Wich is why the wall can freely change shape apart from any personal intentions. A person’s consciousness is the same as a glacier, with only a fraction of its showing above the water. Most of it is hidden, unseen, sunk in a dark place.”
(halaman 378)

Kendati salah satu tokoh memberikan teori bahwa kota tersebut berada di alam bawah sadar, bukan berarti kota itu hanya mimpi belaka. Sebaliknya, kota tersebut perlu dibayangkan sebagai tempat yang nyata. Namun ia berada secara misterius dan hanya bisa didatangi dengan cara yang misterius pula.

“So what you’re saying,” I said, “is that the walled-in town was nothing more than something I say in a dream?”
“No, that’s not it. What I’m getting at is in the realm of metaphor. The town behind a wall most definitely does exist. What I want to say is that there isn’t a set route to get there. The path to get there differs form person to person. So if you decided to go ahead, you wouldn’t be able to take him by the hand and lead him there. He has to discover, throguh his own power, his own personal route.”
(halaman 342)

Seperti yang sempat saya singgung sebelumnya, novel ini mengisahkan tentang tokoh-tokoh yang berpisah dengan bayangannya. Seseorang yang masuk ke kota itu harus memenggal bayangannya sendiri. Pada akhir bagian pertama, protagonis dan bayangannya yang kadung berada pada kota tersebut mencoba untuk melarikan diri dari kota dengan dinding tak menentu itu. Namun ketika telah mencapai jalan untuk keluar, tubuh protagonis berubah pikiran untuk tetap tinggal di kota tersebut, sehingga membiarkan bayangannya untuk kabur sendiri.

Pada awal bagian kedua, diceritakanlah protagonis yang telah kembali ke dunia nyata, bukan lagi di kota itu. Namun ia merasa tak ada yang berubah dari dirinya. Ia sendiri tak tahu apakah ia adalah tubuh nyata atau sekadar bayangannya. Ingatannya menjadi makin kacau. Namun pada akhirnya, seorang tokoh menjelaskan bahwa bayangan merupakan diri yang lain, suatu kesadaran lain dari entitas yang satu.

“The real self and his shadow are essentially two sides of the same coin,” Mr. Koyasu said in a quiet voice. “Depending on the cicumstances, they can change roles. That’s how people can overcome troubles and survive. And tracing something and pretending to be something are very impotant sometimes. It’s nothing to be concerned about. Because the person here right now is indeed you.”
(halaman 262)

Tersesat di Ambang Semesta Murakami

Meski masih dengan gaya ala Murakami, tetapi alur novel ini terasa bergerak lebih lamban dari karangan Murakami lain. Protagonis menjalani hari demi hari yang mundane tanpa benar-benar tahu apa yang sebenarnya ia tuju, sebelum akhirnya protagonis secara pasif menunggu keajaiban demi keajaiban datang kepadanya. Pada beberapa bagian, jalinan peristiwa seakan terasa semena-mena (deus ex machina).  Oleh karenanya, mungkin novel ini bukanlah pilihan utama bagi pembaca yang kurang familier dengan karya Murakami.

Novel The City and Its Uncertain Wall banyak menyuguhkan berbagai peristiwa ganjil dan tak benar-benar terjelaskan. Sama seperti pembaca, beberapa tokoh dalam novel ini pun tak pernah yakin akan berbagai peristiwa yang menimpanya. Beberapa tokoh memang coba menjelaskan peristiwa, tetapi hal tersebut disadari sebagai hipotesis belaka. Oleh karenanya, pembaca tak perlu mencoba untuk menerjemahkan setiap peristiwa, melainkan menerima peristiwa tersebut sebagaimana adanya. Dengan kata lain membiarkan diri untuk tersesat di tengah belantara peristiwa ganjil yang saling bertumpuk.

Bagi saya, ketersesatan inilah yang menjadi ciri khas karangan Murakami. Murakami kerap tak memberikan sebuah alur yang padu, melainkan dengan kemungkinan bercabang. Oleh karenanya, pembaca diberikan ruang untuk memilih kenyataannya sendiri dalam ambang semesta Murakami, seperti yang disebutkan oleh protagonis dalam novel ini:

However—there isn’t just one reality. Reality is something you have to choose by yourself, out of several possible alternatives.
(halaman 423)

2026

Adhimas Prasetyo, penulis dan pembaca. Buku puisi pertamanya berjudul Sepersekian Jaz dan Kota yang Murung (2020).

Post a Comment

You don't have permission to register