Irama Puisi
Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
Pada puisi, saya selalu menyukai irama dan bunyi yang ditimbulkannya. Meskipun musikalitasnya dibangun secara tidak sengaja atau disusun secara asimetris, irama yang dihasilkan sebuah puisi biasanya akan terdengar nyaring dan merdu sekaligus, apalagi jika puisi yang ditulis benar-benar berhasil menyuarakan suara penulisnya, atau setidak-tidaknya begitu anggapan pembacanya.
Irama pada puisi, saya pikir, bukan melulu soal vokal yang sama di akhir larik (asonansi), atau aliterasi yang berderet-deret. Tapi juga soal imaji akan musikalitas yang ditimbulkan oleh sebuah puisi. Bayangan atas sebuah musikalitas tertentu yang dimunculkan oleh sebuah puisi pada akhirnya akan memunculkan irama khas yang yang hanya dimiliki puisi itu.
Dan puisi-puisi Listio Wulan, saya kira, memiliki irama khas itu.
Puisi-puisi Listio Wulan dibangun oleh ketidakteraturan bunyi. Tidak ada bunyi yang disengaja yang disimpan di akhir larik, misalnya. Namun yang menarik, irama itu justru muncul diam-diam dalam bunyi-bunyian yang chaos, asing, yang mampu membuat bulu kuduk merinding. Seperti pada puisi berjudul “Babi yang Membawa Bara di Punggungnya”
Akar-akar dipindahkan,
seperti jasad yang dihilangkan, pisau yang sama, tangan yang berganti sarung.
Kulit-kulit dirobek di meja setelah batas-batas bergeser.
Pada petang penuh jelaga,
api dinyalakan di dekat hutan yang telah dibuka.
Asap belerang menyendat.
Debu runtuhan tinggal di dada.
Mereka menyebutnya pesta.
Dari bawah tiang salib yang ditinggalkannya,
seekor babi menyeruduk.
Lumpur dan bara melekat di punggungnya.
Moncongnya mengendus rangkong yang jatuh sebelum sempat terbang,
dan bau darah yang meresap jauh ke dalam humus.
Membaca bait pertama puisi ini, pembaca disuguhkan ketidakteraturan bunyi yang begitu kentara. Kata-kata semacam jasad, pisau, jelaga, kulit-kulit dirobek, bau darah, jadi instrumen yang membuat irama kekacauan dari ketidakteraturan terasa nyata. Pembaca, saya pikir, tidak lagi diajak untuk mencari tahu puisi “Babi yang Membawa Bara di Punggungnya” ini bercerita tentang apa, tapi lebih jauh dari itu, pembaca disuguhi nikmatnya membaca kekacauan yang ditimbulkan oleh beragam kata. Pada titik tertentu, membaca puisi tidak lagi mesti tahu puisi itu memiliki latar cerita seperti apa, tapi cukup menikmati sajian bunyi yang ditawarkan pilihan katanya.
Irama semacam ini juga bisa pembaca temukan pada puisi berjudul “Sebuah Usaha Mencari Anak Kambing Saya” dalam versi yang lebih lembut.
Orang-orang sibuk menunjuk arah ke negeri-negeri yang alamatnya berpindah-pindah,
seperti surat yang tidak pernah sampai kepada siapa pun.
Sementara saya berdiri di halaman:
bunyi seng, suara perut sendiri,
angin yang lewat tanpa meninggalkan bekas.
Jika mencermati bait di atas, pembaca akan sulit menerka ke mana puisi ini ditujukan. Bangunan puisinya terlalu rumpang sehingga sulit dikenali mana ruang tamu mana dapur, meski di situ letak menariknya. Pembaca tidak dibetot hanya untuk menikmati satu sisi pemaknaan saja, pembaca disuguhi beragam alternatif pemaknaan yang memang sesuai dengan pengalaman pembacanya. Yang paling sederhana, misalnya, setelah membaca puisi ini pembaca hanya akan terngiang-ngiang dengan nada nyanyian lagu rakyat dari Nusa Tenggara Timur yang berjudul “Anak Kambing Saya”, tidak lebih dari itu.
Sementara puisi yang paling ‘mudah’ dinikmati irama dan ditebak ke mana arahnya mungkin puisi berjudul “Mencintai Kucing Biru Minggu Pagi”. Pagi pembaca yang masa kecilnya dihabiskan dengan menonton film Doraemon di hari minggu pagi, mungkin akan langsung terhubung dengan puisi ini. Meskipun hubungan itu tetap dalam bentuk patahan-patahan kenangan yang sulit digenapkan.
…
Aku ingin banyak hal, kau tahu.
Hal-hal kecil yang diam-diam rakus:
pintu rahasia, baling-baling bambu,
atau usia yang bisa diperlambat beberapa menit saja.
Setiap Minggu pagi suaramu merembes dari ruang tamu.
Kadang seperti sendok yang beradu keras dengan gelas susu.
Kadang seperti seseorang yang terlalu lama tinggal di masa depan,
dengan membawa kembang gula.
Di balik kantongmu yang tak berdasar,
ada sore-sore yang belum sempat kupilih.
….
Pada puisi “Mencintai Kucing Biru Minggu Pagi” secara gamblang pembaca mengenali hal-hal khusus yang mengarah pada tokoh Doraemon; baling-baling bambu, dorayaki, pintu rahasia, kantong yang tak berdasar (kantong ajaib) dan lain sebagainya. Dengan begitu, pembaca setidak-tidaknya mampu meraba ke mana puisi ini ditujukan. Walaupun jika ditelisik lebih dalam, puisi “Mencintai Kucing Biru Minggu Pagi” tidak hanya sekadar berbicara soal kucing biru, tapi lebih dari itu.
Selain ketidakteraturan, hal mencolok yang layak diperhatikan dari puisi-puisi Listio Wulan adalah hampir keseluruhan judul puisinya melibatkan bermacam binatang. Entah itu kambing, babi, sapi, katak, maupun kucing. Meskipun pada puisi berjudul “Sapi Jantan atau Betina” kata sapi hanya ditemukan pada judulnya saja, sementara pada tubuh puisi Listio memilih menggunakan kata ‘sepi’.
Mungkin Listio Wulan penyayang binatang sehingga terobsesi untuk menampilkan nama-nama binatang dalam puisi yang ditulisnya. Atau mungkin bagi Listio Wulan, binatang-binatang itu jadi metafora yang paling pas untuk menggambarkan apa yang hendak ia ceritakan.[]

