Lokalitas dan Tata Bahasa
Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
Cerpen “Letang” karya Hadi Rahman mengusung lokalitas sebagai ide ceritanya. Lokalitas dijadikan latar cerita. Memang tidak terlalu dalam mengguar kelokalannnya, tapi cukup memberi nuansa pada cerpen ini. Judul cerpen “Letang” diambil dari nama tokoh utamanya, Letang bekerja sebagai tukang pulut burung di sekitaran hulu sungai Mahakam. Pada cerpen ini ditemukan beberapa kosakata lokal untuk menebalkan unsur lokalitasnya. Misalnya pada kutipan di bawah ini.
Letang dan Liang Lutuk pertama kali datang ke Hulu Sungai saat acara Nutuk Bahapm dimulai, bersama pemuda-pemuda dari kampungnya. Sebagaimana tradisi gotong royong antar kampung, mereka berniat hendak membantu menugal sekaligus menjual burung-burung hasil tangkapan mereka kepada Ah Liem.
Kata yang dicetak tebal merupakan istilah lokal yang dipakai dalam cerpen ini. Selain Nutuk Bahapm, ada juga istilah Pengati, dan Paper. Dan menariknya, tidak ada keterangan dari istilah-istilah lokal itu. Pembaca dibiarkan mencari artinya sendiri.
Unsur lokal yang ditampilkan pada cerpen ini bukan hanya sebatas pada penggunaan kata-kata lokal, tapi lebih dari itu. Penggambaran saat Letang menyiapkan pulut untuk menangkap burung, menambah kesan kelokalan itu.
Keduanya memanjat lewat sulur-sulur kayu yang saling membelit Meranti, perlahan tapi pasti mereka sampai di dahan pertama. Liang Lutuk tak berhenti di dahan itu, ia terus naik karena sejatinya Murai memang menyukai dahan-dahan tertinggi suatu pohon. Letang sendiri duduk di dahan pertama, ia mengikat pinggangnya dengan tali rotan yang terhubung ke salah satu sulur untuk menjaganya agar tidak jatuh. Ia membuka wadah pulut, membiarkan aroma pahitnya mengudara. Lalu membaluri cairan lengket dari getah karet itu ke sebatang kayu seukuran ibu jari. Setelah memastikan kayu itu terbaluri sempurna, Letang mengoper kayu itu kepada Liang Lutuk yang ada tiga dahan di atasnya.
Liang Lutuk membuka ikatan bambu yang ia gendong sejak tadi. Di dalamnya ada seekor burung Murai betina sebagai pancingan. Ia mengikat kaki burung itu dengan tali dari kulit kayu, menaruhnya tidak jauh dari kayu yang dibaluri pulut tadi.
Detail-detail semacam itulah yang menjadikan cerpen ini berhasil menampilkan kelokalannya. Kelokalan tidak hanya diwakili istilah-istilah lokal, tapi juga ditampilkan dalam bentuk yang lebih konkret, seperti saat menceritakan proses memasang pulut pada kutipan di atas.
Cerpen “Letang” sendiri berkisah tentang seorang pemuda yang dikhianati oleh temannya sendiri, Liang Lutuk. Liang Lutuk ingin memisahkan Letang dengan kekasihnya, Nara Danum, karena Liang Lutuk hendak menjodohkan Nara Danum dengan Ihsan Mubil, koleganya yang lain. Saat meng-ati burung di hutan, Letang disesatkan oleh Lias, seekor hantu monyet yang mahir menyesatkan orang bertahun-tahun lamanya.
“Berusahalah lebih keras Ihsan Mubil! Aku yakin perlahan-lahan gadis itu akan luluh padamu, terlebih Letang sudah tak pulang lebih dari tiga bulan,” jawab Liang Lutuk, ayah tiri Nara Danum.
“Berarti perjanjian kita dengan Lias itu berhasil?”
“Tentu saja! Letang pasti sudah mati di dalam rimba, hantu itu pandai menyesatkan orang.”
Motif Liang Lutuk berkhianat karena akan dijanjikan imbalan dua buah kapal oleh Ihsan Mubil.
Cara cerpen ini membuka cerita cukup menarik. Alih-alih bercerita secara kronologis, cerpen ini langsung menghadirkan ketegangan di awal untuk menarik rasa penasaran pembaca.
Kedatangan seorang pria di muka gerbang acara, membuyarkan pesta pernikahan yang khidmat, yang dilangsungkan setelah panen besar seminggu lalu. Kedua pengantin yang sedang melakukan ritual paper berdiri untuk melihat siapa gerangan tamu yang mencuri perhatian sekalian tamu kondangan.
Pria itu berdiri dengan parang masih tersulut di pinggang dan rotan yang digulung sekian depa di bahunya. Kumis dan janggutnya yang ia biarkan memanjang tidak bisa menyembunyikan identitas aslinya, di mata sang pengantin perempuan yang berteriak histeris lalu berlari menghambur kepadanya.
Dengan pembukaan cerpen seperti itu, pembaca disihir untuk terus lanjut membaca, hingga tak terasa cerpen berakhir. Awal sebuah cerpen akan sangat menentukan apakah pembaca akan melanjutkan membaca atau tidak. Pembukaan sebuah cerpen, pada titik tertentu, akan menentukan apakah sebuah cerpen berhasil menarik minat pembaca atau tidak.
Selain lokalitas, yang paling menonjol dari cerpen ini adalah tata bahasa. Ya, betul. Kesalahan tata bahasa. Kesalahan elementer yang seharusnya bisa dihindari oleh seorang penulis.
Pernikahan mereka hendaknya segera dilaksanakan, namun Danum memilih untuk melangsungkannya selepas Nutuk Bahapm. Karenanya pesta panen tahun ini dirayakan dengan meriah atas sumbangan dana Ihsan Mubil. Biduan terkenal di undang, tujuh kerbau dipotong, hampir sekecamatan orang-orang di undang.
Bagi orang lain, penulisan di dipisah atau di disatukan mungkin persoalan sepele, tapi tidak bagi seorang penulis. Hal seperti ini sama pentingnya dengan tema cerpen, tokoh cerpen atau alur cerpen itu sendiri. Penguasan bahasa sesuatu yang mutlak yang harus dikuasai oleh seorang penulis. Dan sayangnya kesalahan penulisan seperti itu cukup banyak ditemukan dalam cerpen ini, yang hampir membuat cerpen “Letang” gagal terpilih. Meskipun sebuah cerpen menyodorkan cerita yang brilian, tapi jika ditulis dengan tata bahasa yang buruk, jujur saja, seharusnya cerpen seperti itu tidak layak hadir di hadapan sidang pembaca.[]

