KEDALAMAN PUISI LEWAT BAHASA SEHARI-HARI: TAWARAN FATIMA UNTUK PENYAIR REMAJA
Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
“Dan sejak saat itu, aku belajar bahwa cinta itu bukan hanya soal peluk dan drama besar. Kadang, cinta muncul dalam tulisan yang alay, yang dibaca ulang dengan cengengesan, tapi ditulis dengan sungguh-sungguh.”
Membaca dua kalimat di atas, kita tak bisa menerka apakah kutipan puisi atau sempalan prosa. Saya sengaja menghancurkan enjabemen yang dirakit Fatima Al Husna dalam puisinya “Puisi Cinta Ayah kepada Ibu”. Tujuannya untuk menunjukkan, bahwa puisi yang manis dan kokoh bisa terbangun dari susunan kalimat keseharian yang sederhana. Apalagi, puisi itu ditulis oleh seorang perempuan remaja.
Membaca empat sajak Fatima yang dimuat di Mekar Buruan bersama MTN, saya banyak berkaca pada bagaimana remaja dapat memulai mencintai dunia penulisan puisi dengan lebih dekat dan jujur.
Saya ingin menengok kembali sebuah kutipan puisi yang saya bacakan pertama kali di saat duduk di bangku kelas tiga SD:
“Tahukah engkau, orang yang mendustakan agama? Ia seperti semut hitam di batu hitam di malam gelap. Tiada bercahaya, jauh dari berkah langit”
Meski sama ditulis dalam enjabemen prosa, tetapi pemilihan kata dan perumpamaannya sedikit rumit. Seorang anak SD, harus melihat bagaimana puisi dibangun di luar bahasa kesehariannya. Tak ayal, saya menganggap menulis puisi sebagai kerja yang rumit, dan baru mulai berani mencoba menulis di kelas bangku SMA. Apalagi, pelatihan kepenulisan yang didapatkan banyak melompat pada asahan soal metafora, rima, gaya bahasa, dan tetek-bengek lainnya dalam tubuh puisi.
Namun Fatima seperti menuntut cara baru bagaimana seharusnya guru-guru atau orang dewasa bisa mengenalkan puisi dengan rute yang berbeda. Dimulai dari bahasa sehari-hari yang lebih dekat dengan anak-anak dan remaja.
Peranti Bahasa Puisi Fatima
Bahasa sederhana Fatima dibangun dengan beberapa lapis cara unik yang membuat bangunan puisinya kokoh dan khas. Pertama, menurut saya yang paling menonjol adalah pengaktifan agensi pribadinya melalui penilaian dia terhadap dunia atau penerimaan dia terhadap dunia di sekitarnya. Ia memiliki posisi.
Beberapa potongan mendaku yang aktif dalam puisinya antara lain: “aku selalu bingung”, “teman-teman bilang aku sok kuat”, “aku gak jomblo, aku nabung niat”, “awalnya aku baca sambil ketawa”, “jadi hari ini aku tambahkan satu bentuk cinta ke dalam daftarku”, hingga “mungkin aku belum pernah benar-benar jatuh cinta”.
Sekilas memang tampak sederhana. Tapi bagi saya, justru itu yang perlu dikedepankan bagi seorang anak. Setelah berjam-jam pikirannya dikonstruksi kurikulum sekolah dan ocehan guru, puisi seharusnya dapat membebaskan sang anak. Puisi melatih anak membuat pernyataan, mengambil posisi, menolak atau menerima, hingga menganggap sesuatu itu penting atau tidak. Dengan itu, ia akan menemukan salah satu fungsi penting bahasa lewat puisi: sebagai bagian dari eksistensi dan negosiasi di ruang sosial.
Ketika saya mencoba belajar menulis dulu, ketakutan lebih banyak menyelimuti. Takut soal bahasa yang klise, metafora yang lemah, logika bahasa yang rapuh, dan lain sebagainya. Tetapi saya tak terlalu mengerti bagaimana si aku kecil saat itu bisa menaruh dirinya di dalam kerumitan sosial lewat bahasa. Tidak seperti si aku-nya Fatima yang lincah dan menarik untuk dilihat amatan dan pernyataannya.
Kedua, Fatima secara aktif selalu memasukkan hasil pengamatan terhadap ruang di sekitarnya ke dalam rumah puisi yang dibangunnya. Pemilihan untuk mengungkap ruang dan benda yang melekat di dalamnya memudahkan pembaca untuk melacak dan membayangkan suasana puitis secara visual. Contohnya, Fatima gemar memasukkan tempat-tempat yang diingatnya sebagai ruang terjadinya peristiwa puitis: “di pojokan kelas atau waktu istirahat di koperasi”, “membaca puisi sapardi dari buku kumpulan sajak di rak ayah”, “aku nemu map plastik bening isinya puisi-puisi cinta”, “aku duduk di pojokan ruang tamu”, “kami pulang jalan kaki, melewati jalur sepeda”, “kami tidur bertiga di kamar dengan kelambu warna gading”. Tanpa perlu repot-repot, rujukan-rujukan dalam puisinya itu membuat saya membayangkan kehangatan yang dialami si penulis saat itu. Terkadang, ruang itu menjadi sebuah pernyataan yang kuat bagi ide puisi yang ditawarkannya, seperti larik di bawah ini:
aku dan adikku diantar Ibu
bukan ke hotel, bukan menuju villa,
tapi tiba di rumah Jiddah di Matraman.
Tanpa membahas metafora soal perbedaan kelas ekonomi keluarga, hanya dengan menarik “hotel” dan “villa” ke dalam puisinya, ia bisa memberikan sedikit guncangan kepada pembacanya terhadap kontradiksi peristiwa sosial. Saat keluarga masa kini sering pelesir, Ibunya mengantar ke rumah Jiddah di Matraman.
Di sisi lain, Fatima pun tak kaku jika rujukan ruang dan benda yang ia ingin sampaikan belum ada dalam konvensi bahasa yang baku. Kebakuan yang terkadang mengurung puisi, terutama ketika pelajar dituntut gurunya tiba-tiba menjadi Chairil. Fatima menulis: “Ibu berbahasa pakai emoji 🙄, makan mi ayam bertiga sambil nonton sinetron”, atau dalam larik:
bahwa cinta harus visual dan viral,
harus ada bunga, ada pelesiran,
disimpan dalam galeri
dengan caption puitis buatan sendiri—
mendadak malu.
Sungguh kuat dan manis. Ia bisa melesapkan emoji, atau bahasa Inggris “caption” yang dalam percakapan sosial era digital sudah lazim digunakan. Tak cuma itu, ia berani mengonstruksi “galeri” sebagai ruang yang baru, selain ruang fisik seperti koperasi dan rak ayah yang ia tuliskan sebelumnya.Mendobrak keterbatasan ini menjadi kelihaian yang patut diapresiasi. Dua gaya ungkap itu bisa terus diasah kelincahan dan kematangannya.
Namun, secara jujur, konteks sosiologi bahasa juga patut dipertimbangkan dalam mengapresiasi karya Fatima ini. Fatima yang tumbuh di pusat kota Jakarta, menggunakan bahasa Indonesia dalam kesehariannya. Bahasa Indonesia-nya menjadi cair dan lentur. Menjadi luwes dalam menyerap, lebih kaya dalam daya ungkap, dan bisa jadi lebih lesap sebagai cara pandang terhadap dunia.
Jika anak-anak atau remaja di daerah lain ingin mencoba menulis puisi dengan bahasa khas Fatima ini, mungkin pada akhirnya mereka juga akan merasakan tuntutan yang sama antara menulis dengan bahasa Indonesia keseharian dan bahasa Indonesia a la puisi yang dirujuk buku-buku pelajaran dan diajarkan guru-guru bahasa. Mengawinkan bahasa daerah yang mungkin mereka gunakan sehari-hari dalam puisi berbahasa Indonesia juga akan menjadi kerumitan sendiri. Meski, beberapa bahasa daerah melayu juga mungkin bisa lebih menyesuaikan. Atau, keberanian yang patut dicari dari remaja dari Timur Indonesia
Lingkar sastra yang mempertemukan remaja dan sastrawan dewasa mungkin bisa menjadi ruang pertama untuk dialektika ini. Bagaimana kekakuan dan keluwesan bahasa Indonesia bisa memberikan pemantik yang baik agar remaja mencintai dunia penulisan puisi.
Peristiwa dan Momen Puitis
Pada pembahasan puisi Mekar di Buruan karya Adinda Rokhima sebelumnya, saya lebih banyak membahas soal ide dalam puisi. Itu tak lepas dari posisi saya pribadi yang menikmati puisi dari ide yang ditawarkannya. Tentu ide itu tak bisa ditangkap dalam bentuk tulisan lain seperti esai ilmiah, berita, atau prosa.
Namun, ketika seseorang menulis puisi dalam bahasa lebih luwes seperti Fatima, orang-orang akan dengan segera menuduh bahwa puisi itu memiliki kedangkalan. Tidak adakah penghayatan yang dalam seperti penyair yang menggali periginya sendiri? Dalam konteks empat puisi Fatima, saya kira tidak. Ia tetap memiliki momen puitisnya sendiri yang menarik untuk dihayati.
Daya penghayatan puitis yang digunakan Fatima didominasi oleh peristiwa-peristiwa yang dinarasikan. Dalam puisinya, “Pacaran mah Nanti Aja deh”, Fatima berangkat dari kegelisahannya soal pertanyaan teman-temannya terhadap dia yang masih jomblo. Di “Puisi Cinta Ayah kepada Ibu”, momennya ketika ia menemukan puisi lama Ayahnya kepada Ibunya yang ia baca secara khusyuk. Peristiwa liburan ke rumah sodara dengan beragam aktivitas yang hangat di dalamnya juga dapat diungkap dengan manis oleh Fatima dalam sajaknya “Mungkin Liburan Terbaikku Cuma Sampai Matraman”. Begitupun tentang adiknya yang membaca puisi Sapardi dengan cadel, ia tangkap lewat puisi “Dengan Sederhana”.
Pertanyaan berikutnya, dari uraian umum peristiwa di masing-masing puisi Fatima, lalu di mana daya dan kekuatan puisinya? Sependek amatan saya, Fatima mencoba menghadirkan bentuk momen puitisnya menghadirkan peristiwa kecil yang jika dideskripsikan saja terasa kehangatannya, lalu ia renungkan itu dengan kegelisahannya sendiri dan dunia di sekitarnya. Ini seperti potongan scene dari film yang selalu kita ingat, tetapi dibubuhi komentar dari teman dekat kita yang disampaikan sambil meminum teh panas.
Mari kita lihat tiga bait yang ditulis Fatima dalam sajak “Mungkin Liburan Terbaikku Cuma Sampai Matraman”:
Kami tidur bertiga
di kamar dengan
kelambu warna gading.
TV dinyalain tapi nggak ditonton
karena kami malah cerita
sampai ketiduran.
Di bait pertama di atas, Fatima mendeskripsikan kesederhanaan dengan sangat intim, terutama lewat deskripsi “kelambu warna gading”. Larik soal TV yang tidak menyala dan mereka malah asyik bercerita seolah menegaskan bahwa kehangatan itu tak lebih menarik dari bising hiburan atau berita politik di televisi. Di bait berikutnya, ia mulai keluar dari ruangan itu dengan refleksi pada momen liburan yang ia amati di media sosial:
Tidak ada unggahan story
tidak ada hashtag #healing
atau #familytime/
Ia lanjutkan perenungan itu dengan bait berikutnya. yang mengawinkan suasana di dalam kamar berkelambu gading, perenungan dengan dunia luar, hingga metafora yang lekat di ingatannya untuk memperkuat pernyataan:
Tapi ada kelegaan
yang mengendap
seperti teh tubruk
di gelas kaca.
Jadi, jika ada yang mengatakan bahwa bahasa yang sederhana dan dianggap keseharian itu tak menawarkan kedalaman, saya kira perlu diperiksa bangunan argumennya atas tuduhan puisi yang mana dan bagaimana. Kita bisa tengok juga dalam puisi yang lain, “Puisi Cinta Ayah kepada Ibu” yang saya sangat sukai.
Di antara baris-baris konyol,
ada kalimat yang diam-diam menempel di hati:
“Kalau besok kita miskin, aku
tetap mau menua bersamamu.”
Aku berhenti ketawa.
Karena aku tahu, itu bukan gombal.
Itu ayahku yang sekarang
rela naik motor tuanya
jemput Ibu dari pasar,
meski hujan,
meski lututnya sudah sering nyeri.
Aku tutup map itu pelan-pelan.
Lalu menyelipkannya kembali,
di antara baju-baju batik dan dasi PGRI.
Bait pertama di kutipan di atas, sekali lagi, dimulai dengan penggambaran awal momen puitis yang ia amati. Cukup deskriptif seperti sebelumnya, tetapi menjadi puitis karena ada kutipan puisi Ayahnya yang singkat dan ngena. Tetapi peristiwa yang deskriptif itu, ia tarik lagi ke dalam momen renungan. Bahwa “karena aku tahu, itu bukan gomba. Itu ayahku yang sekarang”, yang kemudian ia seret sosok ayah melalui momen puitis lain yang ia amati dan terus terkenang: saat ayahnya rela naik motor tua menjemput Ibunya di pasar saat hujan dan lututnya nyeri.
Berbeda dengan sajak sebelumnya yang kita bahas, ia tak buru-buru menarik momen puitis dan renungannya itu ke peristiwa sosial secara langsung, seperti kritik terhadap tagar liburan itu. Tetapi, ia menggunakan simbol terdekat untuk melambangkan kemiskinan dan masalah tenaga kerja guru di negara kita: “baju-baju batik dan dasi PGRI”. Hanya lewat penanda batik dan PGRI, ia kembali mengajak pembaca untuk melihat bahwa ayahnya memang miskin tetapi masih sangat mencintai Ibunya. Nilai cinta yang dia rakit dari kehangatan keluarga yang mungkin sulit ditemukan lagi di rumit dunia (rumah tangga) sekarang.
Gaya-gaya narasi peristiwa dan disusul dengan renungan atau sikap pribadi Fatima sebagai penulis dan mengaitkannya dengan peristiwa sosial yang lebih luas secara langsung atau tak langsung, juga ditemukan dalam puisi dan bagian puisi lainnya.
Namun, sebagai pembaca, memang terkadang risiko dari menulis puisi naratif adalah terjebak pada penjelasan peristiwa yang bisa saja dianggap pembaca tidak terlalu mendukung bangunan puisi yang telah jeli ia rangkai. Hal itu misalkan saya temukan dalam bait penutup puisi liburan tadi:
Dan meski aku nggak
ke luar kota,
nggak naik pesawat,
aku tahu, tubuhku pulang
dalam keadaan utuh
hatiku juga penuh.
Deskripsi terhadap sikap dan pernyataan ini terasa menjadi penutup yang kurang pas bagi saya pribadi. Terlalu terang, dan pengejaran rima yang akhirnya terasa klise dan berbeda dengan gaya ungkap di bagian lainnya. Begitu pun di beberapa deskripsi peristiwa yang sebenarnya tak memberi kejutan terlalu besar bagi pembaca.
Namun di luar kritik itu, sekali lagi, Fatima berhasil menawarkan hal lain sebagai seorang remaja yang menulis puisi. Bagaimana ia bisa menulis dengan bahasa yang akrab dengan kesehariannya, tetapi tetap bisa memperlihatkan makna kehadirannya di dunia lewat puisinya yang tercipta.

