Fb. In. Tw.
Ulasan-Puisi-Vina-Khairunisa

Meminjam Benda untuk Bicara dan Sembunyikan Duka

Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.

 

Benda-benda selalu dimaknai tersendiri dalam puisi. Sapardi sering mengurainya, seperti pisau dan meja makan di restoran. Joko Pinurbo membincangkan sarung dan Khong Guan. Beni Satryo anteng dengan motor tuanya sebagai medium cerita tubuh dan potongan-potongan peristiwa puitisnya.

Keakraban kuat dan pemaknaan mendalam terhadap benda-benda saya rasakan saat membaca puisi-puisi Vina Khairunisa yang dimuat pada Mekar di Buruan edisi 10 September 2026. Karya Vina terasa segar bersanding dengan puisi-puisi penyair yang saya sebutkan di mukadimah.

Vina adalah seorang pelajar. Masih dianggap belia dalam berbagai simpul kehidupan. Namun, kekerdilan itu justru bisa diolah ciamik oleh Vina melalui pemosisian si aku lirik dalam puisinya. Karenanya, pertama, saya kira Vina meminjam benda-benda untuk mengurai dan membidik hal-hal yang lebih besar dari dirinya. Benda sebagai perantara antara si kerdil yang menggugat si besar. Si aku lirik bukan sebagai inferior, Vina mengajak sosok-sosok yang dituju sebagai kritik tajam dalam puisinya untuk berdialog melalui benda-benda yang diracik dalam ragam metafora. Mari kita mulai dari kutipan puisi “Menjahit Keluarga” ini:

Aku pernah menjahit keluarga ini
dengan benang yang kupungut
dari lantai ruang tamu.

Kusambungkan bapak pada ibu,
ibu pada anak,
anak pada meja makan.

Dua bait itu menjadi pembuka yang cerlang. Menggunakan “benang yang dipungut dari ruang tamu”, si aku lirik ingin menjahit kembali keluarganya menjadi lebih rekat dan utuh. Namun, kata “kupungut” sendiri, bagi saya, menggambarkan si aku lirik yang terbatas pada pilihan cara untuk memperbaiki keluarganya tersebut. Ia tak mampu membeli “cara” yang baru untuk memperbaikinya. Dengan keterbatasan tersebut, si anak hanya meminta “meja makan”, sebuah kehangatan sederhana di mana segala percakapan seharusnya terbuka. Makanan yang tak hanya tersaji di atas piring, tetapi juga di dalam batin.

Namun, posisi anak yang kerdil dalam kerumitan konflik keluarga itu sepertinya disadari oleh Vina bukan sebuah kondisi alami. Ia adalah konstruksi dari ayah yang sangat berkuasa, yang digambarkan Vina sebagai “gunting di kepala bapak terlalu tajam”. Relasi itu pun secara tak langsung ia gambarkan sebagai hubungan patriarki di mana “Ibu coba menambalnya dengan air mata,/ tapi lubangnya terlanjur lebih besar”.

Vina menggunakan metafora konseptual yang diperluas dengan mengonstruksi relasi keluarga sebagai objek yang mengalami kerusakan fisik. Metafora “gunting”, “menambal”, dan “lubang” mengalihkan pengalaman kekerasan dan keretakan relasi patriarkal ke dalam citra benda yang rusak dan sulit diperbaiki.

Sebagai seorang lelaki yang hanya mengenal feminisme dari cerita dan jurnal-jurnal yang sulit saya amalkan, awalnya saya mengira bahwa Vina sudah memiliki wacana feminisme sebagai kerangka analitis puitisnya. Namun, saya justru luput bahwa ia adalah penyair perempuan yang mungkin mengalaminya secara menubuh. Pilihan benda yang digunakan pun berkaitan dengan benda kecil yang sering dilekatkan pada perempuan: peranti jahit. Itu pula mungkin yang membuat saya merasakan keunikan puisi-puisi Vina dalam memakai benda-benda untuk menceritakan duka. Karena seluruh penyair yang saya sebutkan di paragraf awal adalah laki-laki. Lihat, betapa patriarkinya ingatan saya—bahkan dalam hal puisi yang lebih terasa keindahan femininnya.

Vina menutup puisi itu dengan ketidakberdayaan yang melawan:

Kini benang itu kusimpan di laci.
Sesekali aku membukanya
untuk memastikan
bahwa yang putus memang benangnya,

bukan kami.

Selain kata benda, dalam puisi itu Vina juga banyak menggunakan kata kerja. Kelompok kata yang disukai Aan Mansyur. Ia menggunakan: menjahit, kupungut, kusambungkan, menambal, kusambung (dua kali), kusimpan, membuka, memastikan. Ia menggunakan objek benda sebagai bagian dari upaya aktif si anak dalam memastikan kehangatan keluarga yang ia idamkan.

Namun pada akhirnya, ketika segala upaya sang anak telah dilakukan, tetapi kuasa sang bapak tetap meraja, si aku lirik hanya mampu memastikan bahwa yang rusak hanyalah hubungan dalam keluarganya, bukan masing-masing tubuh dan jiwa anggotanya. Meski itu berat, cara menyelamatkan diri sendiri dalam sebuah hubungan yang problematik mungkin jadi cara terakhir yang bisa dilakukan. Manusia harus tetap berjalan meski benang terputus atau tersimpul pada jarum cerita yang berbeda.

Kesadaran sejauh mana agensi anak yang sering dikerdilkan orang dewasa/berkuasa terkait perkara yang besar di sekitarnya juga terlihat dalam puisi “Lantai Tiga Puluh Dua”, sebagaimana tergambar dari larik berikut:

Aku mendongak pada lantai tiga puluh dua

pada langit merah muda 

yang tak pernah menyapa kembali mataku. 

Ia tak bisa menjangkau sosok yang berada jauh di atasnya. Sosok yang sangat dingin dan tak pernah menatap pada si aku lirik.

Namun, siapakah sosok yang Vina maksud dalam puisi ini? Saya sendiri tak bisa memastikannya. Di sinilah letak bagaimana secara bahasa, Vina meminjam benda-benda sebagai cara untuk menyembunyikan makna yang sebenarnya ia maksud. Ini menjadi keunikan kedua bagaimana Vina menguasai peranti bahasa lewat permainan objek benda.

Dalam beberapa puisinya, Vina menggunakan benda-benda itu seperti kardus dengan ragam ukuran. Ia akan tempatkan kardus sesuai ukuran yang tepat secara estetika dan idenya untuk menutupi sesuatu yang sebenarnya ingin disampaikan. Pembaca diajak menengok maksud puisi Vina dari balik kardus-kardus ragam ukuran. Kadang terlihat jelas dari satu sisi, kadang membelok kabur dari sisi lain.

Masih dalam puisi “Lantai Tiga Puluh Dua”, saya sendiri setidaknya punya dua dugaan. Mungkin pembaca memiliki pembacaan yang lain. Pasalnya, Vina sedikit rapat dan kreatif menyembunyikan artinya.

Pada kutipan pertama puisi ini, yang kemudian dilanjutkan dengan dua larik di bait berikutnya: “Tertancap kaca tebal/ diukir setinggi puncak angin,” saya kira bahwa ini memang benar-benar tentang gedung berlantai 32. Tinggi sekali, dan seseorang berdiri di sana. Ia berbicara kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin, seperti yang diperkuat di larik terakhirnya: “Aku dengar/ sesuatu yang diberikan tuhan tak pernah tertukar./ Tapi yang satu mencicipi awan/ yang lain selalu mengunyah sisa hujan.” Dua analisa ini setidaknya merujuk soal kritik sosial dimaksud.

Namun, mengingat betapa pekiknya kritik Vina terhadap posisi Ayah dalam keluarga, saya juga mengira bahwa bisa jadi puisi ini bicara soal Ayah yang berumur 32? Atau mulai berulah saat ia menginjak usia 32? Apalagi soal yang ia tulis soal begini: “Padanya, ia yang di atas sana,/ aku ingin memelukmu sebentar saja/ menitipkan patah-patah kata/ seperti yang kuadukan pada tuhan di amparan.//.” Ia bisa saja melihat ayahnya sebagai gedung, sosok yang kaku, sosok yang dingin, sosok yang nun jauh tak terjangkau di atas sana.

Cara ia menyamarkan makna juga terlihat dalam puisi “Yang Tak Pernah Kau Baca”. Pertanyaan utama ketika membaca puisi ini secara utuh dan berulang-ulang, siapakah sosok yang tak pernah membaca surat dan mendengar suara si aku lirik dalam puisi Vina ini? Jika membaca bait pertama, bisa jadi itu sekadar bisikan dari aku lrik kepada kawannya di balik “pintu yang tak pernah kau buka”. Namun, setelah meminjam “pintu” dan “buku” dalam bait pertamanya, Vina mengguncang pemaknaan itu dengan bait kedua:

Kertas ini sudah menguning
tak dijamah tak pula disentuh.
Kau sibuk menulis sejarahmu
tikusmu pun tak berani menyapa tulisanku.

Seseorang yang sibuk menulis sejarah biasanya dimaknai sebagai sosok tak biasa, dan kalimat itu biasanya diidentifikasikan kepada aktor bangsa-negara. Misalnya, rezim Prabowo yang sibuk menulis sejarah versinya lewat Fadli Zon dan Badan Gizi Nasional. Apalagi, di bawahnya ada “tikus” yang disisipkan. Tikus yang enggan mengendus tulisan seorang anak remaja, yang mungkin ingin membisikkan kata penting dan genting buat negara. Namun sayangnya, negara sebagai kotak surat yang tak lagi merah, tak pernah mendengarnya Meski si aku lirik ini tetap gigih menyebut pernyataan cinta: “Akan tetap kutemani kau/ sampai tulisanku/ benar-benar menghidupimu.

Pertanyaannya, apakah cara menyembunyikan makna sebenarnya itu berhasil dan harus dilakukan dalam puisi? Jika memang itu bentuk kesengajaan dalam eksplorasi bahasa, itu bisa jadi dilakukan. Pembaca yang membaca puisi Vina secara berulang misalnya, bisa jadi akan selalu menemukan makna baru. Namun, bagi saya pribadi, prinsipnya adalah bangunan puisi yang utuh haruslah berada dalam medan makna yang saling terkait dan terikat. Vina, cukup berhasil. Misalnya, menggunakan gedung tinggi dan kotak surat kokoh dari awal hingga akhir puisinya secara terkait dan lincah. Hanya saja, kadang untuk menyembunyikan sesuatu, metafora yang digunakan pada akhirnya kadang terasa canggung dan tanggung.

Celakanya, lagi-lagi, bisa jadi asumsi penyamaran makna itu hanya pembacaan saya yang harus mengulas puisi Vina. Padahal mungkin Vina tak memiliki maksud ke arah sana. Walakin, sayalah yang terlalu rumit dalam berpikir. Tetapi jika itu benar, tak ada indikasi apapun dari Vina ke arah sana, itu menjadi peringatan kecil bahwa puisi yang dibangunnya tak bulat secara keseluruhan puisi. Berhasil dalam eksplorasi perumpamaan benda, tak berhasil dalam memberikan kesan spesifik pada saya sebagai pembaca. Itu berbeda ketika intensinya memang jelas seperti soal masalah keluarga dalam “Menjahit Keluarga”. Adapun anasir yang melebar dari saya, hanya soal penekanan pemaknaan, seperti pada agensi anak dan patriarki.

Hal lain yang perlu diperhatikan ialah, puisi Vina kadang terasa memaksakan masuknya benda-benda itu ke dalam puisinya. Salah satu yang kurang saya sukai adalah puisi “Belajar di Pasar”. Idenya cukup baik, soal ilmu yang tak hanya didapatkan di bangku sekolah. Namun, ide itu juga sudah sedikit membosankan. Apalagi kondisi pendidikan kita yang begitu-begitu saja, dibatasi kurikulum dan meja sekolah. Ide yang umum itu dikemas juga dalam bahasa yang cukup klise, seperti: “ilmu yang tumpah/ ruah di antara gerobak dan teriakan”; atau “lebih dari rumus-rumus/ yang pernah kutulis di kelas”. Puisi itu berhasil diselamatkan dengan beberapa larik terakhirnya:

Seseorang menyebut pasar
sebuah kepelikan:
tempat makan disimpan
untuk diberi pada yang lapar.
Mungkin sekolah juga begitu,
tapi aku tidak selalu tahu
siapa yang lapar
siapa yang akan kenyang.

Pemaksaan itu juga terasa pada puisi lainnya. Dalam puisi “Menjahit Keluarga” misalnya, Vina tiba-tiba menyebut ada “jarum di tanganku ahirnya patah dua”, padahal sebelumnya ia hanya memungut benang. Juga ada gambaran yang terasa ambyar, bagaimana “air mata” bisa menambal lubang yang besar? Kehati-hatian dalam menyusun umpama harus lebih disadari. Seperti larik yang sulit saya pahami: “Aku mendongak/ pada lantai licin yang kelabu/ dipeluk aku dengan rintik-rintik dari langitnya.” Beberapa kali saya baca, mungkin juga karena ngantuk dan lelah revisian, saya tetap tak mengerti.

Terakhir, Vina memiliki posisi khusus dari dua puisi Mekar sebelumnya. Adinda mengajak kita memaknai peristiwa lebih gesit dan mendalam, Fatima mengajarkan bagaimana kata-kata sederhana tetap bisa mengikat pesan dengan memikat. Di sini, puisi Vina membawa kita lebih jauh pada gambaran kapasitas pelajar kita dalam menulis puisi. Sebuah potret bagaimana penyair remaja bisa mencoba bermain-main dengan metafora secara bernas dan lincah (hanya) lewat benda-benda di sekitar mereka. Bagaimana puisi dapat menyembunyikan dan menunjukkan pesan dan makna. Bagaimana seorang remaja menyadari posisinya yang sering dikerdilkan dalam berbagai urusan hidup, dan bagaimana pula ia terus mencoba aktif melawannya lewat kata kerja, lewat peminjaman makna benda-benda.

 

Sedang belajar dan meneliti komunikasi perubahan sosial di University of Queensland, Australia. Turut mengelola Buruan.co di sela-sela waktu senggang, khususnya rubrik Mekar.

Post a Comment

You don't have permission to register