Fb. In. Tw.
Cover untuk Puisi-Puisi Adinda L. Rokhima di Buruan.co

Puisi-Puisi Adinda Latifatur Rokhima

Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya

 

 

Perjamuan Duka

 

Asap soto menawarkan hangat
pada entah siapa
yang sedang memeluk dingin
    kelindan hangat dan dingin
    seperti derita dan bahagia

Di dapur, begitu banyak pertanyaan kehidupan
mengalahkan pertanyaan siapa yang bersedih

Sendok dan piring bertengkar
tentang duka kehilangan
    tetapi menjamu tamu adalah kemestian

Sementara mataku bengkak serupa nasi tanak
merekah, basah
sayu, seperti ayam tak berbumbu
    sebab aku kehilanganmu

Aroma bawang goreng mengingatkanku padamu
tetapi perlahan kabur oleh oceh peziarah
    pembawa sekaligus penanya cara mati bahagia
    menjelma pendoa atau mungkin pendusta
    yang datang ke rumah kita

Mereka datang dari jauh ke rumah kita
mewejang agar kita mesti bahagia
    karena satu sukma kembali pada-Nya

Untaian ayat-ayat menguar di udara
serupa kaldu penuh bumbu-bumbu

Doa-doa telah kurapikan
beberapa kutali dalam kantong sampah
menyisakan bau tanah

Perjamuan duka telah usai
seluruhnya selesai
hanya tersisa keheningan

Sukoharjo, 2026.

 

 

Secangkir Getir di Lidah Ibu

 

Secangkir ramuan mendiami lidah Ibu
pahit yang membeku
doa yang terpasung

Ibu rela mengecap sambiloto
    merupa cinta tak terkira

demi putih susu dalam detakmu
demi reda tangis malammu
demi langkah gagahmu
demi napas hidup damaimu

Brotowali meramu doa dalam nyenyat
meracik kegetiran
    sebab dalam kehidupan
    kasih tak harus berupa manis
    terkadang terasa getir dan kelu

Sesekali alu bergema di lumpang
menggerus empon-empon dan harapan

Di dalam tungku
nyala api melahap lara dan duka
    hanya ketulusan tersisa

Di dalam kuali
Ibu merebus lempuyang dan temulawak
membuat meniran serta alunan
merayu serai menabur harum
membasuh letih yang kian tenggelam
    sebab menjadi dewasa begitu seram

Bidara laut mengusir resah dalam perut
pun adas melarut, sisa sakit kian takut

Temu ireng menghempas lara
tanpa pedang dan tumpah darah
    sebab doa Ibu menjaga jiwa
    dari sesiapa pengancamnya

Kini, lengkuas bergeming dalam dasar kuali
pun babakan pule, melarut dengan doro putih
tak lagi perih dan cerita sedih

Sejumput asin memungut kesabaran
tak lagi butuh gula dan kesedihan
    sebab kebahagiaan telah lengkap
    di lidah Ibu, serupa wahyu

Kini tiada lagi sepi
Ibu menyesap pahit dalam diri kami
menanggalkan kesedihan
menyisakan kebahagiaan

Sukoharjo, 2026.

 

 

Antrean Batara Kala

 

Batara Kala melihatku penuh tanya
    perempuan ini begitu sering mengantre


Kemarin

Ayah pulang, dadanya sunyi
pangkatnya dikirim lewat pos
peti matinya diantar gerobak sayur

Tetangga melayat menyumbang iba
ayahnya naik pangkat lagi, sekarang anumerta
Aku diam, karena yang naik hanya namanya di koran
yang bahkan salah tulis, dari awal sampai akhir
tubuhnya tetap membusuk di tanah, dengan mimpi-mimpi
dimakan cacing


Pagi Tadi

Suamiku pulang, dadanya juga sunyi
tapi pangkatnya tidak ada yang mengantar
peti matinya bahkan belum siap
hanya seragam tanpa lengan dan perut

Surat kematiannya dikirim telegram
hanya tiga baris
kubaca berulang-ulang, hingga huruf-hurufnya lari ketakutan

Aku tak menangis
karena air mata tak bisa menjahit lengan yang hilang


Malam Ini

Anakku tak pulang
tak ada telegram, tak ada peti mati
tak ada bendera kuning, pohon-pohon sudah hangus
tak ada tempat menggantungkan duka

Batara Kala tak lagi bertanya
ia menggeser antreanku ke urutan terakhir
lalu membiarkanku duduk di sini selamanya
dengan tiga piring yang tak pernah kuisi lagi

Sukoharjo, 2026

 

Anasir Kata dan Bahasa

 

barangkali dari tinta dan kata, ia menjadi nabi dan dipercaya

Bait-bait tak kunjung dimengerti
saat kunci iman patah oleh amarah
pintu kesunyian dibuka dan diingkari

Sejak itu, kukenali ia sebagai penjaga marwah dan resah
Ia mencari diri, tapi tak menemui terang
        ia hanya memiliki kata yang dikenalkan Adam
        untuk menyimpan ingatan agar tak dicuri sejarah

Di matanya, tetes keingkaran mulai menggenang
        pelan-pelan naik, seperti air bah dalam riwayat Nuh
        menenggelamkan raga, rasa, jiwa, dan cinta
tapi ia tak membuat perahu kayu
ia hanya memahat nurani pada hati yang mati

Seperti Yusuf yang mengeja mimpi-mimpi raja
ia melihat kebahagiaan habis dimakan sunyi dan sepi
serupa kejayaan yang lahir, lantas mati

Ke mana seharusnya kita akan mencari diri
apakah cukup di hadapan kata dan bahasa semata
sebab perpustakaan telah benar-benar terbakar oleh lupa?

bukankah kata dan bahasa telah mati di hadapan manusia sejak lama?

Sukoharjo, 2026

Adinda Latifatur Rokhima lahir di Pati, 12 November 2008. Siswa kelas 12 SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo. Menggemari puisi. Instagram: @latifa_khm

Post a Comment

You don't have permission to register