Puisi-Puisi Adinda Latifatur Rokhima
Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya
Perjamuan Duka
Asap soto menawarkan hangat
pada entah siapa
yang sedang memeluk dingin
kelindan hangat dan dingin
seperti derita dan bahagia
Di dapur, begitu banyak pertanyaan kehidupan
mengalahkan pertanyaan siapa yang bersedih
Sendok dan piring bertengkar
tentang duka kehilangan
tetapi menjamu tamu adalah kemestian
Sementara mataku bengkak serupa nasi tanak
merekah, basah
sayu, seperti ayam tak berbumbu
sebab aku kehilanganmu
Aroma bawang goreng mengingatkanku padamu
tetapi perlahan kabur oleh oceh peziarah
pembawa sekaligus penanya cara mati bahagia
menjelma pendoa atau mungkin pendusta
yang datang ke rumah kita
Mereka datang dari jauh ke rumah kita
mewejang agar kita mesti bahagia
karena satu sukma kembali pada-Nya
Untaian ayat-ayat menguar di udara
serupa kaldu penuh bumbu-bumbu
Doa-doa telah kurapikan
beberapa kutali dalam kantong sampah
menyisakan bau tanah
Perjamuan duka telah usai
seluruhnya selesai
hanya tersisa keheningan
Sukoharjo, 2026.
Secangkir Getir di Lidah Ibu
Secangkir ramuan mendiami lidah Ibu
pahit yang membeku
doa yang terpasung
Ibu rela mengecap sambiloto
merupa cinta tak terkira
demi putih susu dalam detakmu
demi reda tangis malammu
demi langkah gagahmu
demi napas hidup damaimu
Brotowali meramu doa dalam nyenyat
meracik kegetiran
sebab dalam kehidupan
kasih tak harus berupa manis
terkadang terasa getir dan kelu
Sesekali alu bergema di lumpang
menggerus empon-empon dan harapan
Di dalam tungku
nyala api melahap lara dan duka
hanya ketulusan tersisa
Di dalam kuali
Ibu merebus lempuyang dan temulawak
membuat meniran serta alunan
merayu serai menabur harum
membasuh letih yang kian tenggelam
sebab menjadi dewasa begitu seram
Bidara laut mengusir resah dalam perut
pun adas melarut, sisa sakit kian takut
Temu ireng menghempas lara
tanpa pedang dan tumpah darah
sebab doa Ibu menjaga jiwa
dari sesiapa pengancamnya
Kini, lengkuas bergeming dalam dasar kuali
pun babakan pule, melarut dengan doro putih
tak lagi perih dan cerita sedih
Sejumput asin memungut kesabaran
tak lagi butuh gula dan kesedihan
sebab kebahagiaan telah lengkap
di lidah Ibu, serupa wahyu
Kini tiada lagi sepi
Ibu menyesap pahit dalam diri kami
menanggalkan kesedihan
menyisakan kebahagiaan
Sukoharjo, 2026.
Antrean Batara Kala
Batara Kala melihatku penuh tanya
perempuan ini begitu sering mengantre
Kemarin
Ayah pulang, dadanya sunyi
pangkatnya dikirim lewat pos
peti matinya diantar gerobak sayur
Tetangga melayat menyumbang iba
ayahnya naik pangkat lagi, sekarang anumerta
Aku diam, karena yang naik hanya namanya di koran
yang bahkan salah tulis, dari awal sampai akhir
tubuhnya tetap membusuk di tanah, dengan mimpi-mimpi
dimakan cacing
Pagi Tadi
Suamiku pulang, dadanya juga sunyi
tapi pangkatnya tidak ada yang mengantar
peti matinya bahkan belum siap
hanya seragam tanpa lengan dan perut
Surat kematiannya dikirim telegram
hanya tiga baris
kubaca berulang-ulang, hingga huruf-hurufnya lari ketakutan
Aku tak menangis
karena air mata tak bisa menjahit lengan yang hilang
Malam Ini
Anakku tak pulang
tak ada telegram, tak ada peti mati
tak ada bendera kuning, pohon-pohon sudah hangus
tak ada tempat menggantungkan duka
Batara Kala tak lagi bertanya
ia menggeser antreanku ke urutan terakhir
lalu membiarkanku duduk di sini selamanya
dengan tiga piring yang tak pernah kuisi lagi
Sukoharjo, 2026
Anasir Kata dan Bahasa
barangkali dari tinta dan kata, ia menjadi nabi dan dipercaya
Bait-bait tak kunjung dimengerti
saat kunci iman patah oleh amarah
pintu kesunyian dibuka dan diingkari
Sejak itu, kukenali ia sebagai penjaga marwah dan resah
Ia mencari diri, tapi tak menemui terang
ia hanya memiliki kata yang dikenalkan Adam
untuk menyimpan ingatan agar tak dicuri sejarah
Di matanya, tetes keingkaran mulai menggenang
pelan-pelan naik, seperti air bah dalam riwayat Nuh
menenggelamkan raga, rasa, jiwa, dan cinta
tapi ia tak membuat perahu kayu
ia hanya memahat nurani pada hati yang mati
Seperti Yusuf yang mengeja mimpi-mimpi raja
ia melihat kebahagiaan habis dimakan sunyi dan sepi
serupa kejayaan yang lahir, lantas mati
Ke mana seharusnya kita akan mencari diri
apakah cukup di hadapan kata dan bahasa semata
sebab perpustakaan telah benar-benar terbakar oleh lupa?
bukankah kata dan bahasa telah mati di hadapan manusia sejak lama?
Sukoharjo, 2026

