Puisi-Puisi Kristal Firdaus
Monster (2023)
“If only some people can have it, that’s not happiness.
That’s just nonsense. Happiness is something anyone can have.”
Fushimi (Monster, dir. Hirokazu Kore-Eda)
kerangkeng warnawarni
dunia begitu biru hampir hijau
akukau tak berani
ibu berpesan
bapa bersumpah
ibu meyakini ada apaapa ibu curiga ibu Curiga
bapa menarikmu ke jalan yang benar
akukau tak pernah sakit
siapa monsternya? siapa Monsternya?
aku meragukan tiap keraguan
tetapi tubuh mengenal pasangnya mengenal semua muaranya
kebohongan terus hidup dalam episode ini
maka kita berlari mengejar ketiadaan
semua muasal keadaan
agar kita bisa membayangkan terus dihidupkan
mengapa kebahagiaan mesti akukau curi
mesti sembunyi & dibayangkan berulangulang
hingga mati berlari? sampai gosong kulit
murung krayon surat terbawa angin
meniti deritanya tak terbaca
terlalu lambat disadari
liar & bercahaya
(2026)
Hujan Bulan Bangga
Ada, selalu Ada kami di dunia yang ingin kami mati
kami seseorang
seorang anak seorang mahasiswa seorang pekerja seorang pecandu seorang pembaca seorang pekerja seks seorang pendiam seorang badut seorang yang tak menikah
seorang yang beriman seorang yang meninggalkan tuhantuhan
seorang yang meninggalkan rumah
seorang Ibu di masa depan seorang Putra juga Bapak
seorang yang taat seorang yang takut sebongkah Gelap semesta Cahaya
seorang bunglon seorang bintang seorang guru seorang penulis seorang pemarah
seorang yang hatinya terbelah seorang yang patah & berjalan
seorang pengembara seorang soliter seorang kolektif
seorang yang dianggap mengadangada
kami Longsor kami Gempa kami Banjir kami Tsunami kami Que Sera Sera
kami selalu Ada
tak menunggu musim hujan tak perlu keraguan & rahasia
tak perlu menabung ketabahan tak perlu bermimpi kebijakan tak perlu menjadi paling arif
deras kami selalu ingin kau hapus
impian yang pupus
kami Pohon berbunga merawat lidah & darah
dedaun yang hafal mati mengapa kami Ada
palung kami kalungkan di dada
terbitlah bunga Pelangi
yang tak meminta kau sangkal lagi
basahmu tiada terasah
kami akan menenggelamkanmu
dan tak perlu menunggu hujan bulan Juni
(2026)
patahan hari
Suffering is love untrained – Dina Oktaviani
ketika hari ini datang
kau telah menangisi segala di antara
harihari kabur yang abu tanpa api
benarbenar tak perlu api untuk habis
kau menangis di antara percakapan paling menyenangkan
kau menangis di antara lagulagu untuk menangisi kesedihanmu yang lain
kau menangis di toilet kedaikedai kopi tanpa meminta kejelasan dari sesiapa
kau menangis
kau menang
kau mengais menang
kau mengiris inang
betapa bodohnya hati
selalu sedia menjadi bintang terakhir
yang tak menerangi apaapa
selain Gelapnya sendiri
memperjelas betapa kau dengan sukarela selalu kalah selalu menyapu abuabu itu untuk
kau tatap & menyaksikan kecilmu semakin kecil semakin menghapus jalan pulangnya sendiri kemudian siksaan seperti apalagi yang dapat melatih dirimu untuk mekar bersama rentan kasih–Tuhan ajarkan kami berhati.
(2026)

