Fb. In. Tw.

Metafora dan Cara Pandang

Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.

 

Membaca puisi-puisi R. Khoirotun, saya seperti memasuki belantara pengandaian, penuh umpama atas kejadian atau reaksi dari melihat sesuatu. Ini jelas respon alami seorang penyair dalam memandang realitas di sekelilingnya. Dan cara pandang R. Khoirotun dalam memandang realitas tercermin pada puisi yang ditulisnya.

Puisi pertama berjudul “Khotbah dari Wadah Asinan Buah”. Saat membaca judulnya, saya menduga kalau puisi ini akan berbicara tentang buah-buahan. Ternyata keliru. Judul puisi ini berhasil mengecoh.

Matahari di luar jendela adalah kuning telur yang gagal matang
Menjadi fiktif di atas petunjuk kosmetik anti penuaan
yang kutempel pada kaca.
Aku memilih bermetamorfosis menjadi Betta splendens saja,
sewarna memar di tulang keringku sendiri,
keunguan yang tragis, tapi berkilau jika kau sulut lampu teplok.

 

Puisi “Khotbah dari Wadah Asinan Buah” ternyata menyoal aku lirik yang berandai jadi betta splendens alias ikan cupang. Ikan yang tinggal di sebuah wadah berbentuk slinder mika bekas asinan pasar malam. Pengandaian menjadi ikan cupang dipilih karena yang dilihat langsung oleh penyair mungkin ikan cupang.

Setelah bait pertama, sudut pandang aku lirik (manusia) beralih menjadi sudut pandang seekor ikan dalam melihat dunia di luar dirinya. Perubahan ini memudahkan penyair dalam menyempalkan kritik sosial secara halus dan mulus karena meminjam sudut pandang seekor ikan cupang.

 

Jedug.
Kepalaku membentur dinding kaca,
mundur dua senti, maju lagi.

Bandingkan dengan duniamu yang tak bersekat tapi penuh jebakan.
Kau ingin naik jabatan? Jedug, dinding nepotisme.
Kau ingin hidup tenang tanpa menikah? Jedug, dinding norma purba.
Kau ingin membeli rumah? Jedug, gajimu merayap seperti siput encok
sementara harga tanah melesat secepat kilat.

 

Yang paling kentara dari puisi “Khotbah dari Wadah Asinan Buah” adalah cara penyair memadukan realitas yang dialami aku lirik (seekor ikan), dengan realitas aku lirik (seorang manusia) sehingga melahirkan puisi yang mengalir dan enak dibaca.

Berbeda dengan puisi kedua yang berjudul “Menu Makan Malam”.

Puisi “Menu Makan Malam” masih terlihat ‘telanjang’ dan cenderung klise dalam  memotret fenomena sosial.

Ia memesan pulau kecil untuk melarikan diri
dari kecemasan sepele,
harga avtur yang bergeser sekian persen,
atau warna kulit jok jet pribadi yang kurang presisi. 

Sementara di bawah jembatan, sepasang mata
menghitung butir beras seperti menakar usia.
Aroma mi instan menjelma wewangian pesta,
diperebutkan riuh lambung yang berdendang panjang.

 

Puisi “Menu Makan Malam” mempertentangkan antara si kaya dan si miskin secara langsung. Antara Ia (yang) memesan pulau kecil untuk melarikan diri dengan sepasang mata (yang masih) menghitung butir beras seperti menakar usia. Tak ada peran metafora untuk mempercantik puisi ini seperti pada puisi sebelumnya. Tak ada eksplorasi lebih mengapa si kaya begitu dan si miskin begini. Akibatnya, puisi “Menu Makan Malam” tampak seperti coretan ‘biasa’ dalam memotret realitas.

“Menu Makan Malam” jelas butuh banyak sentuhan penyair agar keinginan menyampaikan gagasan tidak meniadakannya sebagai puisi.

Sementara untuk puisi ketiga yang berjudul “Manekin di Etalase Usia”, apa yang ingin disampaikan tidak lagi membebani yang berakibat pada ‘keringnya’ puisi. Malah sebaliknya, keluwesan dalam memainkan metafora membuat apa yang hendak disampaikan hadir manis dan campernik.

 

Mereka bicara tentang rahim seolah itu pabrik yang mogok,
tentang kulit wajah seolah susu yang mengental di pojok kulkas.
Di meja makan keluarga, ia adalah hidangan yang mulai mendingin,
dilihat dengan iba, ditolak dengan sopan oleh percakapan yang buru-buru beralih.

            …

Pada bait di atas, perumpamaan ia adalah hidangan yang mulai mendingin, jadi aforisme yang sangat mewakili perempuan yang dianggap telat menikah. Atau pada bait lain, kasus semacam ini diumpamakan sebagai buah yang jatuh terlalu jauh dari pohon, membusuk perlahan dalam kesunyian yang dikarang orang lain. Begitu imajinatif.

Satu-satunya yang disayangkan pada puisi ini mungkin hanya pemilihan judul. Alih-alih menarik, judul semacam ini malah menghasilkan imaji yang bertumpuk yang sedikit ruwet untuk dipahami.

Terakhir, puisi berjudul “Revisi Cetak Biru di Atas Meja Bedah” jadi puisi penutup yang memperlihatkan cara pandang penyair dalam melihat fenomena sosial. Puisi ini jadi sindiran halus bagi orang-orang yang berani mengoperasi wajahnya demi sesuatu yang aku lirik sebut sebagai halaman-halaman majalah yang angkuh. Dan dengan nada satir, puisi “Revisi Cetak Biru di Atas Meja Bedah” ditutup oleh pernyataan ironi yang benar-benar menghujam tajam.

Di depan cermin, ia menatap wajah barunya dengan takzim.
Kulitnya sewangi melati, halus tanpa pori-pori.
Namun, ketika sebuah lelucon melintas di kepalanya,
ia mendapati bibirnya telah kehilangan cara untuk tertawa,
sebab kebahagiaan kini harus berkompromi
dengan jahitan yang belum kering.

Terakhir, dari puisi-puisi R.Khoirotun kita belajar bahwa dengan mencipta metafora yang tepat -dengan komposisi yang seimbang, seorang penyair sangat mungkin menyampaikan gagasannya tentang dunia tanpa harus mengorbankan puisinya.

Redaktur buruan.co. Buku puisi terbarunya berjudul Menghadaplah Kepadaku (2020)

Post a Comment

You don't have permission to register