Puisi-Puisi Dali Daulay
di sebuah pulau yang tidak begitu jauh, bahkan kematian tampak jelas dari sini
aku selalu membayangkan bagaimana wujud alam kubur. meski tidak ada gunanya. otak manusia terlalu manusia untuk membayangkan urusan-urusan di atas langit. tapi terkadang, aku tidak bisa membantu diriku sendiri. manusia selalu penasaran terhadap sesuatu yang tidak bisa mereka lihat dan ketahui. tidak ada satu pun manusia hidup yang tahu bagaimana alam kubur itu. dan aku tidak enak membawanya dalam urusan sepele seperti puisi.
aku tidak pernah membayangkan siksaan, tidak pernah membayangkan yang seram-seram, tidak pernah membayangkan alam kubur sebagai sesuatu yang terpisah dari duniaku sekarang. aku hanya membayangkan alam kubur sebagai tempat istirahat paling nyaman, di mana pikiran dan keresahan manusia ketinggalan zaman.
suatu sore, ketika kubawa duka berberat-berat di dada, kupergi ke pantai. sekadar ingin melihat ombak yang menari di laut. melihat cara sinar matahari bercermin di air bening. sesuatu yang bisa mengikis duka perlahan-lahan, begitu pelan. semua orang di pantai tampak rileks. dan aku pun terbawa suasana.
aku membayangkan ketika mati nanti, aku berharap alam kubur seperti ini. matahari sore bersinar pelan, jatuh di air. aku di dermaga, sementara orang-orang dengan tenang menikmati waktu sembari menonton ombak yang pecah di bebatuan lalu kembali ke laut. ada juga ubur-ubur transparan mengambang pelan, kalah cepat dengan ikan-ikan yang selalu berenang bersama, berwarna-warni.
ada perasaan menunggu, tapi tidak bikin gelagapan, menunggu dengan damai dan tenang.
kulihat ada pulau di tengah lautan. tidak begitu jauh, bahkan tampak begitu jelas dari tempat aku berdiri. ada orang-orang juga di sana. wajah-wajah familiar yang telah lama hilang. apakah kamu melihat kami dari sana?
kami di sini menunggu, kamu juga? meski ada jarak di antara kita, tapi di dermaga ini, semuanya tampak seperti saling terhubung.
sudah pergi dan tak bisa kembali
ada sebuah video di youtube yang selalu aku tonton ketika sedang lelah atau larut dalam penyesalan. video sederhana: hanya seorang pria dan temannya. berkendara mengelilingi kota jakarta di malam hari, tahun 1997. jakarta masih tampak sama gelapnya, dan masih tetap macet seperti pikiran penghuni-penghuninya. sepanjang durasi video, aku merasa ikut berjalan bersama mereka, menembus malam. beberapa bangunan masih ada dan kukenali. beberapa bangunan dalam video itu sudah mati. aku merasa berada bersama mereka di dalam mobil itu, meski kutonton video tersebut melalui layar laptop yang diam, di kamarku yang diam, dan di dalam hidupku yang diam.
pria yang merekam itu terlalu asyik bercanda. videonya jadi goyang. mobilnya juga ikut goyang. rasanya aku ingin masuk ke dalam layar, masuk ke dalam waktu ketika aku belum ada. mengambil alih setir dan menyetir mobil itu ke pusat jakarta, ke arah rumahku.
aku ingin melihat saat semuanya masih baik-baik saja: ibu masih punya mimpinya dan senyumnya masih begitu polos dan jujur. mungkin ibu habis pulang dari makan-makan enak, lalu membaca buku fantasi yang ibu suka sekali, atau ingin tidur cepat sebab besok ada janji pacaran. yang pasti sedang tidak khawatir memikirkan masalah yang ibu punya kini atau aku. aku ingin melihat rumah itu di tahun itu. melihat ibu.
tapi aku tahu waktu sudah pergi dan tak bisa kembali. meski kuyakini sepenuh hati, rasanya aku benar-benar duduk bersama pria yang sedang merekam peristiwa itu -dengan temannya, di jakarta tahun 1997—menembus malam, di dalam mobil yang terus menjauh dari rumahku.
sepasang kekasih yang jadi serangga di kehidupan berikutnya
di kehidupan berikutnya, aku ingin jadi belalang sembah—yang tak lama mati setelah kawin. terkadang kepalanya dimakan oleh pasangannya. alangkah mesra. aku hanya ingin menyerahkan sepenuhnya diriku untukmu, di kehidupan-kehidupan berikutnya.
kamu tertawa, lalu bingung sendiri. kamu tidak tahu mau jadi apa di kehidupan berikutnya. kamu selalu ragu ingin hidup kembali. setelah diam sebentar, kamu bilang: jika dunia jadi lebih baik, kamu ingin jadi kecoa yang konon bisa selamat dari apa pun. kamu pikir tidak apa-apa hidup sebagai kecoa, meski tanpa makna. kamu hanya ingin melihat segalanya menua dengan indah tanpa jadi bagian darinya. kamu tahu kecoa tidak pernah dianggap sebagai bagian dari sebuah lukisan harmoni.
tapi kalau dunia semakin njelimet, kamu—seperti sekarang—tidak ingin bertahan terlalu lama. tidak ingin memikirkan usia dan perut yang setiap hari berbunyi lebih keras. jika dunia jadi demikian, kamu ingin terlahir kembali dan terbang sendirian sebagai mayfly.
binatang apa itu? tanyaku. katamu, mayfly adalah binatang dengan durasi hidup paling singkat, kurang dari dua puluh empat jam. kamu memang selalu mampu mencintai makhluk yang aneh-aneh.
kurang cocok, kataku, untuk kamu yang selalu lembur lebih dari dua puluh empat jam. tapi kamu bilang tidak apa-apa: mati cepat, toh tidak ada tanda-tanda dunia jadi lebih baik. lebih baik terbang di antara semua ini, sebagai mayfly yang sedang menikmati dua puluh empat jam terakhir hidupnya.
jemuran di musim hujan
di musim hujan, kami di rumah, jarang meletakkan jemuran di halaman depan. takut basah dan semuanya—sia-sia. tapi kalau tetap begitu, tidak ada baju yang akan kering. dan kami belum mau keluar telanjang. setidaknya tidak sekarang. jadi, meski tampak mendung dan tidak lama akan hujan, nenek tetap menggelar jemuran di halaman depan. jika ada tanda hujan akan turun, dan aroma petrikor—nenek akan memanggilku untuk membantunya, mengangkat jemuran. (dan hal ini pasti terjadi). kami pasti selalu memindahkan jemuran sebab hujan selalu turun belakangan.
masalahnya, aku tidak selalu ada di rumah. dan hujan tidak selalu sabar menunggu. ketika di luar, nenek akan meminta bantuan siapa saja untuk mengangkat jemuran kalau hujan turun. siapa saja bisa mengangkat jemuran itu. tapi tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa menebak kapan hujan turun. dan bahkan kamu sendiri tidak tahu kapan ada di rumah atau tidak untuk mengangkatnya.
sepertinya, siang ini akan hujan, dan kebetulan aku sedang di rumah. sedang tidak ada kerjaan. maka aku dan nenek, mengangkat jemuran. sayup-sayup, kudengar, di pagar, ada yang numpang meneduh. seorang lansia bicara pada cucunya perihal kesedihan.

