Fb. In. Tw.
Maria Utami

Puisi-Puisi Maria Utami

KTP Kopi Gayo

 

KTP-ku dicetak di dataran tinggi.

Ditanam tangan Tuan,

dibesarkan peluh petani.

 

​Di dalam tubuhku yang cair,

tanah basah, rempah, dan cokelat

duduk melingkar.

Mereka berunding di lidahmu,

mencari mufakat.

 

​Rahasiaku ada pada air.

Ritual giling basah

menempa tubuhku jadi tebal.

Suaraku serak,

menyerupai kabut

yang turun perlahan.

 

​Jangan tergesa.

Aku bukan sekadar singgah.

Aku riwayat Gayo

yang datang untuk rapat

dengan sunyimu.

 

Sudut Jogja, 2026

 

 

Paspor Tua dari Mandailing

 

Pasporku dicap Tuan Meneer.

Dikirim paksa ke Eropa

di lambung kapal niaga.

 

​Tak ada asam di tubuhku.

Hanya sisa Bukit Barisan;

tanah basah, cokelat, tembakau.

Mereka berdebat sebentar di cangkirmu,

lalu sepakat untuk diam.

 

​Aku menolak tren rasa buah.

Lebih suka mengendap,

menemanimu menelan debu

dari buku sejarah yang terbuka.

 

​Jangan buru-buru menenggak.

Di setiap sesap yang pekat ini,

ada arsip tanam paksa

yang menyusup diam-diam

ke dalam darahmu.

 

Sudut Jogja, 2026

 

 

Kopi Kelahiran Subak

 

Akta kelahiranku diteken dewa.

Di lereng gunung yang menahan letus,

airku ditakar aturan lama.

Subak mengajariku berbagi

sejak masih putik.

 

​Tetanggaku pohon jeruk.

Kami membagi hujan.

Maka jangan kaget,

jika di ujung lidahmu

ada jejak tawa mereka yang tertinggal.

 

​Tubuhku ringan.

Aku tidak suka merenung lama

seperti saudaraku dari seberang.

Aku pagi di dalam cangkirmu.

 

​Sebaris kalender merah

yang bisa kau seduh

kapan saja.

 

Sudut Jogja, 2026

 

 

Gadis Manis dari Tanah Flores

 

Aku lahir di bawah daun peneduh.

Matahari tak diizinkan

membakar kulitku langsung.

 

​Di cangkirmu,

kacang dan cokelat memimpin doa,

lalu bunga-bunga menyusul kemudian.

Suaraku pelan.

Tidak berteriak dengan asam.

 

​Tubuhku kental,

memeluk lidahmu perlahan.

Meninggalkan jejak

yang menolak pergi.

 

​Namaku Bajawa.

Dongeng dari timur

yang membuktikan bahwa kekuatan

tak melulu butuh suara yang keras.

 

Sudut Jogja, 2026

Emas Hitam dari Lembah Baliem

 

Aku dipeluk kabut abadi.

Tanpa sentuhan kimia,

hanya humus perawan

yang merawat akar.

 

​Jalanku menuju mejamu

harus membelah awan.

Menumpang burung besi

dari ujung timur nan sunyi.

 

​Aku tak membawa asam yang tajam

atau pahit yang kasar.

Hanya bunga liar tebing

dan samar manis

yang tuntas tanpa perdebatan.

 

​Namaku Wamena.

Cara paling diam menyentuh awan,

tanpa perlu memanjat tebing yang terjal.

 

Sudut Jogja, 2026

Media untuk Berbagi Kajian dan Apresiasi.

Post a Comment

You don't have permission to register