IMANEN: BENDA-BENDA YANG INGIN LEPAS DARI MANUSIA, NAMUN TERUS KEMBALI KEPADANYA
Pada Rabu, 10 Juni 2026, di Gedung De Majestic, saya menonton pertunjukan teater objek Imanen produksi RATS Lab (Robotic, Arts, Technology, Science Performative). Pertunjukan ini disutradarai oleh Deden J. Bulqini, ditulis oleh Faisal Syahreza, dan dimainkan oleh Vicky Mono, Wail Irsyad, The Babam, Jauharudin Fuad, serta Deden J. Bulqini.
Sejak memasuki ruang pertunjukan, penonton langsung dihadapkan pada sebuah lanskap yang menyerupai dunia kerja sehari-hari. Di bagian bawah panggung terdapat meja besar yang dipenuhi berbagai objek: piring, sendok, garpu, teko, gelas, lampu belajar, kabel HDMI, televisi, hingga jepit rambut. Di sisi lain tampak meja kerja dengan laptop, koran, dan audio mixer.
Sementara bagian atas panggung tampak mesin jahit, pakaian yang tergantung, meja memasak, treadmill, printer, serta berbagai peralatan lain yang akrab dengan kehidupan modern. Ruang pertunjukan ini tidak dibangun sebagai representasi rumah, kantor, atau pabrik secara utuh, melainkan semacam ekosistem benda-benda yang selama ini menopang aktivitas manusia.
Premis yang ditawarkan Imanen jarang dijumpai dalam pertunjukan teater, setidaknya di Bandung. Pertunjukan ini mengajak penonton membayangkan bahwa benda-benda tersebut bukan sekadar alat yang digunakan manusia, melainkan entitas yang memiliki kehidupan dan cara pandangnya sendiri.
Ketika seorang lelaki berjas (Wail Irsyad) selesai makan malam dan meninggalkan meja, benda-benda di atasnya mulai bergerak dan berbicara satu sama lain. Piring, sendok, dan garpu bergerak. Kabel HDMI bangun dari tidur, televisi berdebat dengan meja, mesin tik tua mempertahankan keberadaannya, printer terus ingin mencetak, sementara objek-objek lain saling bertukar pandangan mengenai fungsi, sejarah, dan posisi mereka di tengah zaman yang terus bergerak.
Paradoks Imanen: Membicarakan Benda, Menemukan Manusia
Pada tataran konsep, Imanen menghadirkan gagasan yang unik. Pertunjukan ini berusaha menggeser cara pandang yang selama ini menempatkan manusia sebagai pusat dunia. Benda tidak lagi diperlakukan sebagai properti pasif yang keberadaannya sepenuhnya bergantung pada manusia. Sebaliknya, benda-benda tersebut dibayangkan sebagai entitas yang memiliki pengalaman, ingatan, bahkan cara tersendiri dalam merespons dunia di sekelilingnya.
Pembacaan semacam ini mengingatkan pada berbagai pemikiran kontemporer yang berusaha mendesentralisasi manusia dan memberi perhatian lebih besar pada dunia material. Dalam kerangka tersebut, Imanen dapat dibaca sebagai upaya membayangkan bagaimana dunia terlihat jika manusia bukan lagi satu-satunya pusat makna.
Namun semakin lama pertunjukan berlangsung, saya justru merasa bahwa Imanen tidak semata-mata berbicara tentang benda. Di balik percakapan antarobjek, saya menemukan refleksi mengenai kehidupan manusia modern.
Mesin tik yang mulai gagap dan kesulitan mengikuti perkembangan zaman terdengar seperti pekerja yang keahliannya perlahan kehilangan tempat. Printer yang terus ingin mencetak dan merasa dirinya masih dibutuhkan mengingatkan pada manusia yang dipaksa terus produktif. Televisi yang merasa dirinya paling penting karena menjadi sumber informasi, menghadirkan gambaran tentang otoritas pengetahuan yang selalu ingin diakui.
Gelas, teko, jepit rambut, dan lampu belajar justru memperlihatkan betapa manusiawinya dunia yang dibangun Imanen. Mereka berbicara tentang luka, harapan, dan relasi antarsesama. Tema-tema yang lebih dekat dengan pengalaman manusia daripada pengalaman benda. Karena itu, objek-objek tersebut terasa kurang sebagai benda yang memiliki kesadarannya sendiri, dan lebih sebagai metafora bagi pengalaman batin manusia.
Di titik inilah Imanen bergerak dari teater objek menuju alegori sosial. Benda-benda yang muncul di atas panggung tidak lagi hanya berbicara tentang dirinya sendiri, melainkan tentang manusia yang menciptakan dan menggunakannya. Ketakutan mereka bukan ketakutan benda. Keinginan mereka bukan keinginan benda. Yang terdengar justru pengalaman manusia: takut tergantikan, takut menjadi usang, ingin tetap berguna, ingin tetap diakui.
Di sinilah muncul paradoks utama Imanen. Pertunjukan ini berusaha menggeser manusia dari pusat perhatian dan menghadirkan benda sebagai entitas yang memiliki eksistensinya sendiri. Namun hampir seluruh objek justru berbicara menggunakan bahasa, emosi, dan cara pandang manusia. Gelas, teko, televisi, mesin tik, maupun printer tidak menghadirkan pengalaman khas benda, melainkan memantulkan kecemasan, harapan, ketakutan, dan keinginan untuk tetap relevan.
Akibatnya, alih-alih memperlihatkan bagaimana benda mengalami dunia, Imanen lebih banyak memperlihatkan bagaimana manusia membayangkan benda mengalami dunia. Karena itu, pertunjukan ini terasa lebih dekat sebagai alegori tentang manusia modern daripada eksplorasi tentang dunia benda itu sendiri.

Foto: Musa Saiq
Bagaimana Benda Berbicara Tanpa Menjadi Manusia
Dalam beberapa bagian, Imanen tampak terlalu ingin menjelaskan gagasannya sendiri. Alih-alih membiarkan penonton menemukan makna melalui relasi antarobjek, bunyi, dan visual multimedia. Pertunjukan kerap menyatakan tesisnya secara langsung melalui narasi.
Pernyataan seperti “ada jiwa di balik ketakbernyawaan mereka”, “tidak bergerak bukan berarti tanpa makna”, atau “objek tidak lagi membutuhkan subjek untuk menjadi ada” membuat gagasan filosofis pertunjukan hadir sebagai penjelasan, bukan sebagai pengalaman. Akibatnya, sejumlah bagian terasa lebih dekat dengan pembacaan esai konseptual daripada eksplorasi teater objek.
Padahal momen-momen yang paling kuat justru muncul ketika pertunjukan berhenti menjelaskan. Ketika objek-objek mulai bergerak tanpa perlu menerangkan maksudnya. Ketika piring, sendok, dan garpu saling beradu menghasilkan ritme bunyi tertentu. Ketika kabel HDMI muncul dari kolong meja seperti makhluk yang baru terbangun dari tidurnya. Ketika ketukan mesin tik, deru printer, dengung elektronik, suara gesekan, dan berbagai bunyi mekanis memenuhi ruang pertunjukan. Ketika pisau membelah daging atau layar televisi memancar dalam kesunyian.
Pada momen-momen tersebut, gagasan tentang “kehidupan benda” terasa lebih hidup daripada saat dijelaskan melalui kata-kata. Penonton tidak diajak memahami konsep, melainkan mengalaminya secara langsung melalui tubuh, bunyi, visual, dan imajinasi. Justru ketika benda berhenti berbicara seperti manusia, mereka tampak paling dekat dengan dirinya sendiri.
Di sinilah saya melihat kemungkinan eksplorasi yang lebih jauh bagi Imanen. Jika pertunjukan ini ingin sungguh-sungguh menghadirkan dunia dari sudut pandang benda, mungkin pertanyaannya bukan lagi “apa yang akan dikatakan benda jika bisa berbicara seperti manusia?” melainkan “bagaimana benda berbicara sebagai benda?”
Sebab benda tidak harus berbicara melalui kata-kata. Kabel HDMI dapat “berbicara” melalui kondisi kusut, tertekuk, tersambung, atau terputus. Lampu belajar dapat “berbicara” melalui nyala yang stabil, berkedip, meredup, lalu mati. Mesin tik tua dapat “berbicara” melalui ritme ketukan yang semakin lambat, macet, dan terputus-putus. Dalam situasi seperti itu, makna tidak lahir dari dialog, tetapi dari materialitas benda itu sendiri: bunyinya, geraknya, kerusakannya, ketahanannya, serta relasinya dengan benda lain.
Kemungkinan serupa sebenarnya telah muncul sesekali dalam pertunjukan. Sayangnya, ia sering kembali ditarik ke wilayah bahasa manusia. Mesin tik misalnya, memilih mengucapkan kata-kata seperti “setara”, “pal-su”, atau “hirau” daripada membiarkan tubuh dan bunyi mekanisnya berbicara. Padahal justru melalui ketukan yang tersendat, bunyi yang tidak lagi sempurna, atau jeda-jeda yang muncul akibat kerusakan, penonton mungkin dapat merasakan pengalaman “menua” tanpa perlu dijelaskan melalui kata.
Hal yang sama berlaku pada objek-objek lain. Gelas, teko, jepit rambut, lampu belajar, televisi mini, maupun benda-benda lain dalam Imanen sebenarnya dapat dieksplorasi bukan sebagai karakter yang memiliki emosi manusia, melainkan sebagai benda yang mengalami dunia melalui sifat materialnya masing-masing.
Gelas misalnya, ia tidak harus berbicara tentang kesedihan atau luka. Gelas dapat berbicara melalui isi dan kekosongannya, melalui retakan yang perlahan muncul di tubuhnya, melalui posisinya: berdiri, tergeletak, atau terbalik, melalui bunyi yang berbeda ketika diketuk, diisi, atau dibiarkan kosong. Sebuah gelas yang terus diisi lalu dikosongkan berulang kali mungkin dapat menghadirkan pengalaman tentang keberulangan, penggunaan, dan keausan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Teko juga menyimpan kemungkinan yang serupa. Ia dapat berbicara melalui panas yang ditahannya, melalui uap yang perlahan keluar dari tubuhnya, melalui suara mendidih yang semakin keras, atau melalui tindakan menuang yang terus mengurangi isi di dalamnya. Dunia teko bukanlah dunia cinta, iri, atau ambisi, melainkan dunia tekanan, suhu, dan perpindahan.
Jepit rambut menawarkan kemungkinan yang berbeda lagi. Sebagai benda yang diciptakan untuk mengikat dan menahan, ia dapat dieksplorasi melalui tegangan, cengkeraman, kelonggaran, atau pelepasan. Sebuah jepit rambut yang terus membuka dan menutup dirinya mungkin lebih menarik daripada jepit rambut yang berbicara tentang perasaan ditinggalkan. Di sana muncul persoalan tentang mengikat dan melepaskan, menahan dan membiarkan pergi, yang lahir dari fungsi bendanya sendiri.
Lampu belajar dapat berbicara melalui terang dan gelap. Bergerak ke kiri dan ke kanan, menengadah atau menunduk. Ia tidak perlu mengatakan bahwa dirinya ingin menerangi dunia. Cukup dengan menyala, meredup, berkedip, lalu mati, lampu sudah menghadirkan pengalaman yang khas sebagai lampu. Hubungannya dengan objek lain juga dapat menciptakan makna baru: ketika seluruh ruang gelap dan hanya lampu yang menyala, atau ketika lampu terus menyala sementara benda-benda lain perlahan menghilang dari pandangan.
Bahkan televisi mini dapat dieksplorasi melalui sifat materialnya sebagai layar dan pemancar gambar. Bukan melalui klaim bahwa dirinya paling penting, melainkan melalui kemampuannya memantulkan, mengulang, mengganggu, atau memecah perhatian. Gangguan sinyal, gambar yang runyam, layar yang berkedip, atau suara yang terputus-putus mungkin justru lebih dekat dengan pengalaman televisi sebagai benda daripada dialog yang menjelaskan kedudukannya.
Performer Sebagai Pengungkap Dunia Benda
Pembahasan mengenai bahasa benda juga tidak dapat dilepaskan dari posisi performer dalam teater objek. Performer tidak harus menjadi pusat perhatian atau sekadar pemberi suara bagi benda. Ia dapat berfungsi sebagai animator yang menghidupkan kemungkinan-kemungkinan yang sudah dimiliki benda. Misalnya, sebuah gelas tidak perlu diberi dialog atau ekspresi sedih. Performer cukup menggeser gelas perlahan ke tepi meja hingga nyaris jatuh, lalu menahannya. Ketegangan muncul dari posisi gelas itu sendiri. Lampu belajar tidak perlu berbicara tentang harapan. Performer dapat mengarahkan cahaya lampu ke berbagai objek, membiarkan sebagian terlihat dan sebagian lain tenggelam dalam gelap.
Performer juga dapat berfungsi sebagai pengarah perhatian. Tugasnya bukan menjelaskan makna benda, melainkan menciptakan kondisi agar penonton mulai memperhatikan hal-hal yang biasanya terabaikan. Misalnya dengan memperlambat tempo sebuah tindakan yang sehari-hari berlangsung sangat cepat, mengisolasi satu objek di tengah kerumunan objek lain, mengulang sebuah gerakan berkali-kali, atau membiarkan satu benda tetap diam ketika seluruh benda lain bergerak. Atau sebuah mesin tik yang sesekali mengeluarkan bunyi di tengah kesunyian dapat mengubah cara penonton memandang benda-benda tersebut. Dalam situasi seperti ini, makna tidak lahir dari cerita yang dijelaskan kepada penonton, melainkan dari perhatian yang perlahan dibangun terhadap keberadaan benda itu sendiri.
Bahkan performer dapat diposisikan sebagai mitra benda, bukan pengendalinya. Ia bekerja dengan karakter material objek yang dihadapinya. Gelas yang rapuh menuntut perlakuan berbeda dari gelas yang tebal. Teko berisi air bergerak berbeda dari teko kosong. Kabel HDMI yang lentur menghadirkan kemungkinan gerak yang berbeda dari mesin tik yang kaku dan berat. Performer tidak memaksa benda menjadi apa yang ia inginkan, melainkan merespons sifat-sifat yang telah dimiliki benda tersebut. Dalam situasi seperti ini, tugas performer bukan menciptakan karakter, melainkan membuka ruang agar benda dapat memperlihatkan keberadaannya sendiri.
Dengan cara demikian, performer menjadi fasilitator materialitas. Ia tidak menerjemahkan benda ke dalam psikologi manusia, melainkan membantu penonton melihat bagaimana benda hadir dan bekerja di dunia menurut sifat-sifatnya sendiri. Kemungkinan-kemungkinan tersebut menunjukkan bahwa benda sesungguhnya memiliki “bahasa” sendiri. Bahasa itu tidak lahir dari kata-kata, melainkan dari bunyi, gerak, berat, tekstur, suhu, kerusakan, fungsi, dan relasinya dengan benda lain.
Jika jalur ini dieksplorasi lebih jauh, Imanen mungkin tidak hanya mengajak penonton membayangkan benda sebagai manusia, tetapi juga membayangkan bagaimana dunia dialami dari perspektif yang benar-benar berbeda dari manusia. Kemungkinan inilah yang menurut saya belum sepenuhnya digali oleh pertunjukan.

Foto: Musa Saiq
Bunyi yang Menghidupkan, Benda yang Membentuk
Gagasan tentang “bahasa benda” menurut saya paling terasa hadir melalui tata bunyi yang digarap The Babam. Bunyi tidak hanya berfungsi sebagai ilustrasi suasana, tetapi menjadi medium yang menghidupkan objek-objek di atas panggung. Ketika suara mesin, dengung elektronik, atau bunyi-bunyi mekanis mulai mendominasi ruang, benda-benda terasa lebih hidup dibanding ketika mereka berbicara menggunakan bahasa manusia. Bunyi memungkinkan objek hadir sebagai objek, bukan sekadar manusia yang mengenakan kostum benda.
Tokoh lelaki yang diperankan Vicky Mono juga menarik untuk dicermati. Aktivitas yang ia lakukan antara lain menjahit, mencetak dokumen, berlari di atas treadmill, bermain catur, hingga memasak. Berbagai aktivitas tersebut menempatkannya sebagai figur yang terus berinteraksi dengan benda-benda di sekitarnya. Melalui dirinya, pertunjukan memperlihatkan bahwa kehidupan manusia sehari-hari selalu berlangsung melalui perantaraan objek, teknologi, dan berbagai peralatan yang menopangnya.
Kehadiran tokoh ini sekaligus membuka kemungkinan eksplorasi lain. Alih-alih hanya memperlihatkan manusia yang menggunakan benda, pertunjukan dapat melangkah lebih jauh dengan mengeksplorasi bagaimana benda-benda tersebut ikut membentuk kehidupan manusia.
Mesin jahit, misalnya, menuntut tubuh bergerak mengikuti irama tertentu: kaki menginjak pedal, tangan menuntun kain, mata mengikuti jalur jahitan. Printer tidak hanya menghasilkan dokumen, tetapi juga menciptakan kebiasaan menunggu, memeriksa hasil cetakan, dan mengatur alur kerja. Treadmill membuat tubuh berlari di tempat dengan kecepatan yang ditentukan mesin, berbeda dengan berlari di jalan yang ritmenya ditentukan oleh lingkungan.
Papan catur memaksa pemain berhenti sejenak, mempertimbangkan langkah, dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum terjadi. Bahkan peralatan memasak mengarahkan cara seseorang memotong, mengolah, dan menyajikan makanan. Dalam contoh-contoh tersebut, benda tidak hanya menjadi alat yang digunakan manusia, tetapi juga ikut mengatur gerak tubuh, kebiasaan, ritme kerja, dan cara manusia berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Dengan demikian, hubungan manusia dan benda tidak hanya dipahami sebagai hubungan antara pengguna dan alat, tetapi sebagai relasi timbal balik yang saling membentuk.
Dalam konteks itulah tokoh ini menjadi menarik. Ketika ia berbicara tentang kerusakan yang tidak selalu terlihat dari luar, pertunjukan mengingatkan bahwa yang rusak tidak hanya benda atau mesin. Bisa jadi yang mulai pudar adalah perhatian, ingatan, atau hubungan manusia dengan benda-benda yang menemaninya sehari-hari. Ia tidak hanya memperbaiki benda, tetapi juga mengingatkan bahwa setiap benda menyimpan jejak kehidupan manusia yang pernah menggunakannya. Dari sudut pandang ini, benda tidak lagi hadir sekadar sebagai alat atau properti panggung, melainkan sebagai bagian dari jaringan pengalaman yang membentuk kehidupan manusia sehari-hari.

Foto: Musa Saiq
Ketika Benda Memantulkan Wajah Manusia
Pada akhirnya, Imanen tidak membuat saya percaya bahwa benda-benda memiliki jiwa seperti manusia. Namun pertunjukan ini membuat saya melihat bahwa benda-benda di sekitar kita menyimpan banyak cerita tentang kehidupan manusia. Melalui meja, kabel, mesin tik, printer, televisi, dan berbagai objek lainnya, kita dapat melihat jejak kerja, perubahan teknologi, kebiasaan hidup, serta kecemasan manusia untuk terus bertahan dan tetap berguna ketika dunia terus berubah.
Pertanyaan yang tersisa setelah pertunjukan usai bukanlah apakah benda memiliki jiwa. Yang justru muncul adalah mengapa manusia terus-menerus menanamkan pengalaman, kecemasan, dan harapannya ke dalam benda-benda yang ia ciptakan. Mungkin benda-benda itu tidak sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Mungkin selama ini mereka hanya memantulkan kembali wajah manusia yang melihatnya.
Mungkin itulah ironi Imanen. Ketika berusaha berbicara tentang benda, pertunjukan ini justru berhasil memperlihatkan wajah manusia dengan sangat jelas.

