Cah dan Peliharaan dari Kerajaan
Kapan terakhir kali kamu bermain dengan teman seusiamu, Cah? Aku hanya selalu melihatmu menarik-narik jarik yang diikatkan di pilar kayu rumah, agar tangan yang diikat itu tidak lepas dari pengawasan. Di rumah paling sederhana di pinggir jalan. Halamannya luas, hingga sering kita gunakan bermain bersama. Walau setumpuk rongsok menggunung di sebelah pohon mangga.
Bajumu lusuh, baunya apak, tetapi pelukanmu hangat. Makanya aku suka tidur di pelukanmu setiap malam, berbagi tikar. Cah, masih ingatkah terakhir kali kamu makan mi instan? Kapan, ya? Sudah cukup lama. Satu mi instan yang dimasak dengan satu panci air. Agar kamu bisa memakannya seharian. Aku melihatmu tersenyum menikmati, sebagai makanan paling enak dalam hidupmu. Itu yang kamu ucapkan padaku, lalu kamu bertanya-tanya, kapan bisa memakan mi instan lagi.
Cah, yang serupa peliharaan itu sering menggigitmu. Tanganmu penuh bekas gigitannya, sering ia melolong, menendang tubuh kecilmu hingga tersungkur. Namun, lebam-lebam itu tidak sebanding dengan lebam di hatimu. Setelah kamu kenyangkan ia, aku selalu mengikutimu ke belakang. Terkadang aku merasa kamu sering melupakan keberadaanku, dari banyaknya pikiran yang satu persatu harus kamu urai. Tidak apa-apa, Cah, aku bisa mengenyangkan perutku sendiri. Kuikuti kamu saat mencuci piring, menanti sisa-sisa yang dapat kupungut.
“Jaga peliharaanmu, Cahaya. Nanti lepas.” Begitu kata anak seusiamu yang takut terkena gigit peliharaan kamu Cah.
Kupikir aku, ternyata wanita yang diikat kain jarik itu. Kejam Cah, mulut dunia yang menganga itu. Tidak pernah aku lihat kamu merepotkan orang lain, tetapi sering kulihat orang lain merepotkanmu. Tidak jauh dari tempatmu duduk memilah rongsok, kutemani dengan perut kosong sambil mendengar celoteh dari yang dianggap peliharaanmu. Ia memang serupa peliharaan, yang diikat agar tidak lari, yang diberi makan dengan tanganmu, yang sering menggigit penuh tenaga.
Berapa usiamu, Cah? Delapan atau sembilan? Tidak ada bedanya. Kamu tetap bocah yang harus dewasa. Memelihara ibumu, tanpa dipelihara. Setiap hari memang seperti itu yang kusaksikan.
“Lapar, Meng?” tanyamu penuh perhatian, seraya mengelus kepalaku yang membuat lupa tentang keroncongan di perut.
Cah, di matamu aku mencari-cari bendungan air yang biasanya dimiliki bocah seusiamu. Aku mencari rengekan yang biasanya dikuasai anak seusiamu. Tidak ada, kosong. Ke mana kamu sumbangkan semua air matamu, Cah? Ke mana keahlian bermanjamu, Cah? Tidak pernah terlihat lagi. Aku sempat berpikir jiwamu tertukar dengan wanita yang tengah berceloteh di sana.
Setiap hari aku hanya bisa duduk di dekat kakimu, mencari ketenangan. Mendengar berbagai botol plastik berbenturan, mencipta bunyi khas, dan tanganmu lincah memilah sampah-sampah.
Cah, ibumu yang diikat kain jarik itu sebenarnya hanya kelebihan imajinasi. Tidak sepertimu dan yang lain, imajinasimu terbatas oleh logika. Sedang ibumu, dia bebas dalam fantasinya. Ia hanya terasing dari kenyataan, terjebak dalam labirin yang dibangunnya sendiri. Ia hanya tengah mencoba memahami kehidupan dengan cara berbeda.
Sesekali kamu membiarkannya lepas, lalu ia berjalan bebas dengan mengoceh atas imajinasinya. Ia dilempar batu dan kata-kata kasar. Pernahkah kamu melihatnya membalas? Tidak, Cah. Sebab ia waras dalam kebebasan itu. Ia tersenyum dan melanjutkan jalan cerita di kepalanya. Namun, ia dikalahkan oleh orang-orang yang terganggu atas keberadaannya. Sebab itu ia menjadi peliharaan di rumah.
“Aku adalah ratu di kerajaan Andromeda.” Begitu katanya, saat tidak ada yang mau mendengar kisahnya, aku sering berada di belakangnya.
Mungkin ibumu benar. Dulu dia adalah ratu, sebelum kemiskinan merambah negerinya. Sebelum takhtanya digulingkan oleh tradisi. Sebelum mahkotanya digantikan centong nasi, atau mungkin ia adalah bidadari dari langit, yang tinggal bersama saudari-saudari cantiknya di kayangan. Di sebuah kerajaan langit, hingga ayahmu mencuri selendangnya dan menjadikannya manusia biasa.
Barangkali ibumu memang benar. Bukankah kamu akan menjadi putri raja yang yang dikawal oleh banyak penjaga kerajaan? Bermain bebas dan memiliki banyak pelayan kerajaan. Tumbuh sebagai putri yang berharga, jauh dari kata-kata kasar dan makian. Kamu akan bebas makan mi instan setiap hari seperti maumu.
Namun, sebenarnya kamu memang seorang putri, walau hanya tinggal di gubuk tumpukan batu bata beralas tanah, pakaian yang terkadang robek sebagian. Seperti namamu, kamu memang pelita di keluarga, Cah. Semua hanya tentang waktu, bukan? Pada akhirnya semua akan memakai pakaian yang sama. Nanti, saat kamu menjadi bidadari surga.
Ah, aku lupa, Cah. Kamu hanyalah bocah. Sedang aku hanya kucing liar yang menyukaimu tanpa alasan. Masih ada sisa jiwa bocahmu yang girang melihat boneka tak berlengan, kamu temukan di tumpukan sampah yang ayahmu bawa pulang. Aku sering memergokimu memainkannya. Tidak lupa, kamu jadikan aku salah satu pemeran. Aku tidak suka itu, tetapi aku masih diam di kakimu yang kutemukan masih sehangat sebelumnya. Cah, bukan aku tidak bisa pergi darimu, lalu mencari kehangatan lain yang mampu mengenyangkan perutku yang lapar. Namun, aku takut lupa jalan pulang. Sesekali aku bisa lari mencari yang gurih di lain tempat. Namun, tidak ada tempat pulangku selain kamu, Cah. Aku hanya ingat tempatmu berada untuk pulang. Barangkali seperti itulah ibumu, Cah. Ia lupa caranya pulang ke rumah, sehingga hanya kerajaannya yang dapat diingatnya. Sejauh itu pula ia telah pergi, Cah.

