Fb. In. Tw.

Puisi-puisi Anzar Mustikowati

BERLAYAR

 

Hatiku kapal yang dihempas ombak
dan nestapa, pelabuhan adalah ruang
tuju bagi pengembara yang mengejar
makna dan berharap satu kecupan
buaian mendarat dari kepastian.

Sore itu, di jam ketakutan, aku
termangu atas nasib yang berada
di kepala. Kilat cahayanya memukul
keningku, awan-awan bergumul
memutih menjelma pikiran. Aku
menghitung berapa kali awan itu
berubah dan mengikuti ke mana aku
berlayar.

Dan sering kali malam ke malam
dalam dekapan kekosongan.

Aku di mabuk kata-kata dan
muntahannya menjelma puisi resah. 

Bibirku yang basah melumat harapan
semu. Angan-angan seperti mimpi di
ranjang tak beralas yang berselimut
angin malam tak bertuan. Aku dipagut
sepi dan dingin puisi ini ranum tumbuh
dalam kesunyian.

Catatan harian ini berisi harapan gadis
belia dengan usia tujuh belas tahun
seharusnya. Dan perjalanan ini begitu naif
hingga membuatku lebih tua delapan tahun
dari aslinya. Kupeluk kedua kakiku yang
kurekatkan di dada.

Ruang dalam kapal dan orang-orang
asing yang namanya pun tak kukenal.
Aku merasa penggulir cerita dalam sebuah film.

                        Berada dalam kapal
Terombang-ambing
            Kelaparan dan tak mengenal siapa-siapa.

Bahkan aku tak berani berbicara. Untuk
bertanya pun aku enggan. Mereka sibuk
dengan diri dan pikirannya masing-masing.
Begitu pun pikiranku yang berenang di laut
lepas tanpa pelampung, hampir tenggelam
dan selamat adalah hal-hal yang sulit
untuk diaminkan.

Perbekalan hampir habis dalam perjalanan
menuju pelabuhan terakhir. Terkadang aku
hanya makan larik-larik yang kutulis dalam
catatan harian. Dan laparnya perut membeliku
ingatan kepada ibu, bapak, adik kecilku dan
tentunya Kamil, kekasihku.

“ Jika manusia memiliki jalannya masing-masing,
lalu mengapa jalanku harus seperti ini? Jujur
ini bukan pilihan jalanku. Bukankah setiap
manusia memiliki jatah untuk bebas? Lantas
mengapa jatah kebebasan tak jatuh kepadaku?
Bukankah aku terlalu perawan untuk
bersenggama dengan kejamnya dunia migran?
Ini belum sampai, tapi kengerian telah menusuk
seluruh almanakku”

Ini sudah hari keenam. Lima hari kemarin sama
halnya seperti hari ini, tidak ada yang berbeda.
Hanya malam ini aku melihat bintang-bintang
bertebaran dan cahayanya menerobos masuk
ke tiap celah kapal , tapi rasanya ingin ku
terdampar saja di pulau tanpa nama.
Hanya ada aku, puisi dan kebebasan. 

 

MERAH

Maka telah kujadikan diriku, di peleburan paling runyam, di pertemuan-pertemuan
tak terduga, maka biarkan aku tetap di sini dan reguklah seluruh puisi yang
kemerahan itu


Telah kubebaskan jiwaku dan ajaklah aku terbang pada kedalaman-kedalaman puisi itu.

 

RUMAH WAKTU

 

Bangunan yang hampir rubuh dimakan rayap waktu dan lumut melumat perlahan
dengan malu-malu. Kadang waktu memberi kesan

“semua baik-baik saja jika sudah melewati masanya” tapi terasa malah mengendap
di udara kegamangan. Rumput-rumput yang tumbuh memberi isyarat kenang yang
semakin menderap pada rasa, mereka bergerak dan meneriakkan cerita-cerita silam,
seperti : ibu dan piring kelontang yang menyeru ” hayu marakaaannnn” lalu ditiban
reruntuhan genting yang jatuh mengenai layunya rumput kerinduan.

Anzar Mustikowati adalah seniman yang berkarya lewat puisi dan seni pertunjukan. Seniman berdarah Majalengka ini aktif menjadi performer, penulis, pembicara dan pengajar akting. Ia mendirikan ruang kreatif Mustikata sebuah ruang kreatif multidisiplin yang berbasis puisi. Anzar telah menjuarai berbagai lomba monolog dan pembacaan puisi juga aktif berkolaborasi dengan para seniman lintas disiplin. Bisa dihubungi di instagram @anzarmustikowati dan tiktok: @mustikata_

Post a Comment

You don't have permission to register