Fb. In. Tw.
Puisi R Khoirotun

Puisi-puisi R. Khoirotun

Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.

 

Khotbah dari Wadah Asinan Buah

 

Matahari di luar jendela adalah kuning telur yang gagal matang
Menjadi fiktif di atas petunjuk kosmetik anti penuaan
yang kutempel pada kaca.
Aku memilih bermetamorfosis menjadi Betta splendens saja,
sewarna memar di tulang keringku sendiri,
keunguan yang tragis, tapi berkilau jika kau sulut lampu teplok.

Mari kita sepakati sebuah rumah
silinder mika bekas asinan pasar malam,
dengan diameter tak lebih lebar dari ego seorang menteri.
Di sini, air adalah teh celup yang diperas tiga kali,
beraroma lumut mati dan sisa karbol yang gagal menguap.
Tapi, oh, alangkah merdekanya menjadi makhluk
tanpa tuntutan hidrasi yang estetik.

Blubuk.
Satu gelembung udara keluar dari mulut berbentuk huruf ‘O’ permanen.

Membawa pergi jatuh tempo tagihan listrik.

Blubuk.
Satu gelembung lagi, melarutkan tanya bibi sebelah rumah

tentang hilal pernikahan yang tak kunjung tampak
di rahim seorang perempuan yang dianggap kedaluwarsa
seperti susu kotak kembung di rak paling belakang supermarket.

Di dalam toples ini, kesendirian bukan kegagalan logistik.
Aku tak perlu dibatasi sekat kalender tahun 2021
untuk menari penuh kebencian yang murni dengan cupang jantan.
Kami tidak butuh makan malam romantis untuk saling mengoyak sirip.
Kami hanya butuh tidak saling membunuh.

Siripku robek oleh kastil plastik murahan,
melambai seperti gaun malam yang dipaksakan ke pasar loak.
Kaca cembung ini membuat mataku menonjol seperti dua butir boba
yang gagal disedot dari dasar gelas plastik.
Aku terlihat bodoh. Sangat absurd.
Tapi kata ‘sendirian’ hanya diciptakan oleh manusia
yang ketakutan mendengar detak jantungnya sendiri di dalam kamar.

Jedug.
Kepalaku membentur dinding kaca,

mundur dua senti, maju lagi.

Jedug.
Ini bukan depresi klinis, ini perayaan atas batas.

Aku tahu persis di mana duniaku berakhir, 
di mana kerikil warna-warni palsu
mulai meracuniku pelan-pelan dengan catnya yang mengelupas.

Bandingkan dengan duniamu yang tak bersekat tapi penuh jebakan.
Kau ingin naik jabatan? Jedug, dinding nepotisme.
Kau ingin hidup tenang tanpa menikah? Jedug, dinding norma purba.
Kau ingin membeli rumah? Jedug, gajimu merayap seperti siput encok
sementara harga tanah melesat secepat kilat.

Lalu tangan raksasa yang tidak higienis itu 
akan turun dari langit-langit,
menjatuhkan tiga butir pelet beraroma tepung busuk.
Satu mendarat di atas kepalaku,
menjadi topi baret yang sangat tidak modis.

Jika besok aku mati telungkup di samping pelet yang berjamur kapas,
manusia bau itu akan datang dengan sendok bebek.
Satu tarikan tuas kloset, dan wushhh…
aku pergi menuju pesta persaudaraan yang kotor di muara.

Tanpa upacara, tanpa tangis kerabat yang menghitung warisan,
tanpa nisan dengan nama yang salah ketik.

Biarkan aku di sini sedikit lebih lama,
menabrak kaca dengan ritme yang jujur dan transparan.
Aku tidak butuh dunia yang besar,
jika untuk tinggal di dalamnya, aku harus menjadi sesuatu
yang bukan aku.

Blubuk.
Jedug.
Blubuk… blubuk…
Aku suka menjadi ikan cupang

 

 

Menu Makan Malam

 

Di atas menara, seseorang sedang bingung
mengunyah angka-angka yang terus berbiak.
Ia memesan pulau kecil untuk melarikan diri
dari kecemasan sepele,
harga avtur yang bergeser sekian persen,
atau warna kulit jok jet pribadi yang kurang presisi.

Sementara di bawah jembatan, sepasang mata
menghitung butir beras seperti menakar usia.
Aroma mi instan menjelma wewangian pesta,
diperebutkan riuh lambung yang berdendang panjang.

“Dunia ini luas dan penuh peluang,” ujar koran pagi
yang membungkus kaki si ringkih yang menggigil.
Di sana, sejarah ditulis oleh mereka yang kenyang,
sementara yang lapar sibuk mengunyah udara,
belajar mahir menunda sambil mencekik lambung.

 

Manekin di Etalase Usia

 

Di lemari kaca, ia dipajang dengan label yang buram.
Orang-orang lewat, mengetuk dengan jari telunjuk,
memeriksa tanggal produksi di keningnya,
lalu berbisik, “Ah, hampir lewat tenggat.”

Mereka bicara tentang rahim seolah itu pabrik yang mogok,
tentang kulit wajah seolah susu yang mengental di pojok kulkas.
Di meja makan keluarga, ia adalah hidangan yang mulai mendingin,
dilihat dengan iba, ditolak dengan sopan oleh percakapan yang buru-buru beralih.

“Pilihlah yang ada,” ujar sebuah suara dari masa lalu,
seakan cinta adalah barang obral di pasar malam sebelum subuh,
seakan menjadi utuh harus digenapi sepasang lengan asing,
meski harus memotong kompas dan mematahkan leher sendiri.

Ia konon adalah buah yang jatuh terlalu jauh dari pohon,
membusuk perlahan dalam kesunyian yang dikarang orang lain.
Mereka lupa, di dalam kepalanya ada perpustakaan yang menyala,
dan di dadanya, ia adalah pemilik tunggal
atas detak jantungnya sendiri,
bukan barang dagangan yang cemas
menunggu ketukan palu pembeli.

 

Revisi Cetak Biru di Atas Meja Bedah

 

Ia datang membawa wajah yang dianggapnya
sebagai kelalaian takdir.
Di bawah lampu operasi yang benderang dan dingin,
seorang lelaki jeli mengukur hidungnya dengan jangka besi,
menandai batas-batas mana yang harus runtuh,
mana yang harus ditegakkan demi sebuah definisi.

Maka ritus penciptaan ulang itu dimulai,
pisau bedah mengikis sisa-sisa masa lalu pada rahang,
lemak pipi disedot keluar seperti membuang sial,
dan kulit ditarik sekencang tali busur panah.
Mereka sedang menenun sebutir porselen di atas daging yang pasrah.

Aduhai, demi halaman-halaman majalah yang angkuh,
ia menukar sepasang pipi yang merona alami
dengan sepotong kesempurnaan yang beku.
Kini ia menjelma patung estetik di etalase kota,
cantik, mutlak, dan tak lagi bisa mengenali rasa sakit.

Di depan cermin, ia menatap wajah barunya dengan takzim.
Kulitnya sewangi melati, halus tanpa pori-pori.
Namun, ketika sebuah lelucon melintas di kepalanya,
ia mendapati bibirnya telah kehilangan cara untuk tertawa,
sebab kebahagiaan kini harus berkompromi
dengan jahitan yang belum kering.

R. Khoirotun adalah pengajar taman kanak-kanak sekaligus sarjana Arsitektur yang menganggap menulis adalah caranya bernapas. Buku-buku yang ia terbitkan antara lain Wandering Star (2021), Jar of Memories (2022), Surat-surat yang Pergi (2022), Selaras (2023), dan Cerita dari Mata Malam (2025). Karya-karyanya yang lain bisa dibaca melalui akun Instagram @r.khoirotun dan akun X @heretheunsaid.

Post a Comment

You don't have permission to register