“Bajalah” Berbuah Kerinduan

820 510 Yopi Setia Umbara

Sekira pukul 13.30 WIT (Sabtu, 21/1/2017), saya, Faris Bobero, dan Rajif Duchlun, bajalah (jalan-jalan) menuju benteng terdekat dari Cafe Djarod. Fort Oranje yang dibangun pada 1607 oleh Cornelis Matclief de Jonge (kebangsaan Belanda) adalah benteng yang kami tuju.

Sampai di tujuan, kami masuk melalui bagian belakang Fort Oranye. Atau, dari arah Jalan Merdeka, Ternate. Kesan pertama ketika memasuki areal Fort Oranje adalah tampak bagian dalam benteng ini sedang ditata ulang.

Bangunan-bangunan rumah tinggal, yang sebagian besar bercat hijau, di dalam areal Fort Oranje seperti baru saja dirubuhkan. Sebuah eskavator masih berjaga di sana. Beberapa orang terlihat memunguti material yang masih berguna dari bangunan yang sudah rata dengan tanah itu.

Masuk lebih ke dalam, ada Museum Rempah-Rempah. Namun, museum tersebut sedang tutup. Jadi kami tak dapat melihat ada koleksi apa saja di dalam museum tersebut. Padahal kalau dapat masuk tentu akan menjadi pengalaman menarik.

Bukankah pulau ini memang terkenal akan komoditi rempah-rempahnya, terutama cengkih dan pala. Tepat di tengah komplek Fort Oranje terdapat tugu rempah-rempah berbentuk ornamen cengkih.

Kemudian kami naik ke atas Fort Oranje. Dari atas benteng terlihat pemandangan Kota Ternate dan Gunung Gamalama dengan jelas. Bagian depan Fort Oranje yang menghadap ke Jalan Hasan Boesoeri sudah tertata rapi. Kata Faris dan Rajif, kadang ada acara musik di depan benteng yang ditata menjadi taman publik itu.

Selama di dalam Fort Oranje, Rajif ternyata banyak memotret. Hasil bidikannya sangat bagus. Padahal Rajif hanya menggunakan ponsel miliknya untuk memotret.

di-fort-oranje

Merasa cukup melihat-lihat dan menghayati masa lalu dan masa kini di Fort Oranje. Faris dan Rajif mengajak saya bajalah ke benteng lain di dekat Pelabuhan Bastiong. Saya pun sangat tertarik mengunjunginya. Kebetulan masih ada cukup waktu sebelum mengejar jadwal penerbangan ke Jakarta (transit di Makassar) dengan Sriwijaya Air pada pukul 16.15 WIT.

Benteng berikutnya yang kami tuju adalah Benteng Kalamata. Bajalah lah kami ke sana. Tiba di Benteng Kalamata, banyak anak-anak kecil yang sedang berenang di sisinya. Bahkan, mereka dengan lincah berkali-kali terjun dari tepi benteng ke laut yang memantulkan warna biru langit. Mereka bermain penuh kegembiraan, seperti tak peduli dengan apa pun yang terjadi di ini negeri.

Benteng Kalamata yang dibangun pertama kali oleh Fransisco Serao (kebangsaan Portugis) pada 1540 ini, menyerupai bentuk burung bidadari jika dilihat dari udara, kata Faris. Dari benteng ini kita dapat melihat Pulau Tidore dan Maitara.

Ketika berteduh dari terik sinar matahari di bawah tembok benteng, kami bertanya-tanya. Di waktu luang, apa yang para penjaga benteng ini lakukan? Jangan-jangan ada yang menulis puisi untuk kekasihnya, persis sambil berteduh di dekat tembok seperti kami.

Menjelang 14.30 waktu setempat, kami meninggalkan Benteng Kalamata menuju bandara. Sebenarnya ada satu benteng lagi yang membuat saya penasaran, yaitu Benteng Kastela. Namun, karena waktu tak cukup, terpaksa saya mengurungkan keinginan mengunjunginya. Semoga sebentar nanti dapat kesempatan kembali ke negeri yang indah di Timur Indonesia itu.

Saya diantar Faris dan Rajif hingga bandara. Pada sekira 15.30 WIT, terdengar panggilan terakhir dari petugas bandara bagi penumpang pesawat yang akan menuju Makassar. Panggilan itu pula yang memisahkan saya dengan Faris, Rajif, dan Kota Ternate.

Saya berjalan menuju pintu masuk Bandara Sultan Babullah, membawa kenangan indah mengenai Weda dan Ternate. Saya juga membawa pulang kerinduan kepada kawan-kawan yang telah menjadi hanger saya. Semoga dalam waktu dekat kita dapat jumpa kembali. Bravo![]

Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara
Leave a Reply

Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.