Cara Membuat Lima dari Dua Tambah Dua

820 462 Adhimas Prasetyo

Winston Smith akhirnya tidak lagi mengelak bahwa dua tambah dua sama dengan lima, tiga, atau berapapun yang dikehendaki oleh Partai. Hanya saja satu hal, ia memahami suatu kebenaran mutlak bahwa ia mencintai Bung Besar.

Begitulah kiranya gagasan yang tergambar dalam Novel 1984 karangan George Orwell. Partai menciptakan kebenaran tentang Bung Besar, begitu juga musuhnya, seorang pengkhianat bernama Emmanuel Goldstein. Kebenaran diciptakan sesuai dengan kepentingan Partai. Partai dapat menghapus ingatan banyak orang dan mengisinya dengan hal yang sama sekali baru.

Winston, seperti juga kebanyakan orang pada umumnya, mulanya memahami dalam dunia ini terdapat sebuah konsep tentang kebenaran objektif yang tidak bisa diganggu gugat. Dua tambah dua sama dengan empat. Namun sebenarnya konsep ini hanya ada di dalam benak, sebuah kesadaran yang diciptakan oleh otak lembek manusia.

Baca juga:
Puisi Tak Bisa Menggorok Leher Anak-Anak
Ketika Seorang Ibu Mengenang Sang Penyair

Saya coba meminjam konsep dari Rene Descartes yang cukup terkenal, cogito ergo sum, di mana ke-ada-an timbul setelah aku berpikir. Pikiran yang akhirnya membuat otak lembek dan berlendir dalam kepala kita menerima sebuah kebenaran akan sesuatu.

Mari coba lagi dengan analogi gua dari Plato. Winston dan kebanyakan orang pada umumnya adalah yang melihat bayangan dari sebuah objek yang disorot cahaya remang-remang dalam gua yang gelap. Banyak orang menganggap bayangan itu adalah kebenaran dari bentuk objek aslinya.

Hal yang ingin disampaikan dari analogi tersebut adalah, sebelum sampai ke dalam kesadaran seseorang, sebuah objek melewati banyak bias hingga akhirnya terbentuk seperti yang ada dalam pikirannya.

Dari dua konsep filsafat yang saya gunakan secara serampangan tersebut, kira-kira begitulah kesadaran banyak orang terbentuk dalam memahami kebenaran. Selanjutnya, mudah saja apabila Anda ingin membentuk konsep dua tambah dua sama dengan lima.

Konsep dua tambah dua sama dengan lima, bukan berarti mengubah simbol semiotik terhadap kata “empat” menjadi “lima”, begitupun sebaliknya. Bukan berarti angka-angka diurutkan menjadi satu, dua, tiga, lima, empat, enam, dan seterusnya. “Empat” dan “lima” tetap pada tempatnya, urutan “empat” tetap ada lebih dulu dari “lima”. Hanya saja, berlaku anggapan umum bahwa lima merupakan jawaban mutlak dari dua ditambah dua. Semudah itu.

Tentu banyak prasyarat penting yang tak bisa Anda abaikan saat hendak membuat konsep dua tambah dua sama dengan lima menjadi kebenaran mutlak. Salah satunya, Anda butuh banyak orang yang juga bersepakat bahwa lima adalah hasil mutlak dari dua tambah dua. Orang-orang tersebut harus konsisten dalam memercayai konsep ini. Secara tulus menerimanya dalam hati dan pikiran, atau sekurang-kurangnya bisa konsisten dalam kepura-puraan terhadap konsep ini.

Setelah itu, jika semua berjalan lancar, perlahan-lahan beberapa orang akan berempati terhadap konsep tersebut. Setelahnya, mungkin satu-dua orang atau bahkan lebih, akan menerima konsep tersebut dengan sepenuh hati.

Tidak hanya tentang omong-kosong pertambahan itu, Anda juga bisa membuat konsep kebenaran baru lainnya.

Misalnya, Anda ingin menyatakan bahwa suatu paham ideologi sangat berbahaya bagi kehidupan masyarakat. Anda bisa menjejalkan konsep itu lewat seni. Misalnya dengan membuat film—yang dianggap menggambarkan kebengisan penganut ideologi tersebut—wajib  ditonton setiap tahun. Selain itu, sisipkan pula konsep tersebut ke dalam dunia pendidikan. Ajarkan siswa-siswa bahwa paham tersebut begitu kejam dan neraka-able. Buatlah wacana seakan-akan paham tersebut sedang bangkit secara diam-diam sehingga mengancam kehidupan bangsa. Rampas hal-hal yang berbau paham tersebut, mulai dari buku-buku sampai atribut tertentu.

Niscaya, banyak orang akan bersepakat dengan Anda. Jika berhasil, Anda tidak perlu lagi bersusah-payah mempertahankan “kebenaran” itu. Orang-orang akan menjaganya dengan senang hati.

Fenomena ini dapat dijelaskan dengan Percobaan Konformitas Asch, yaitu tentang bagaimana pengaruh kekuatan konformitas dalam suatu kelompok terhadap individu. Solomon Asch, seorang psikolog, mencoba “menipu” seseorang dalam eksperimennya. Percobaan ini membuktikan bahwa dalam suatu kelompok, individu akan menerima sebuah konsep kebenaran yang telah disepakati oleh mayoritas dari kelompok tersebut, meskipun konsep itu jelas bertentangan dengan prinsipnya.

Baca juga:
Ahmad Yulden Erwin: Puisi Itu Sains
Surat Kepada Kafka Tamura

Terakhir, jika Anda dapat meyakinkan seseorang bahwa dua tambah dua sama dengan lima, maka ia akan dengan mudah diyakinkan untuk kebenaran lainnya.

Misalnya tentang persoalan yang lebih aktual, ia dapat dengan mudah diyakinkan untuk memilih antara capres yang tidak membaca apa yang ditandatanganinya atau capres yang terlibat kasus pelanggaran HAM. Selama ia meyakini bahwa salah satu dari mereka merupakan sebuah kebenaran, ia dapat mengabaikan hal lain yang bertentangan dengan logika dan nuraninya. Setelahnya, ia harus terus berkumpul dengan Anda, juga orang-orang yang sependapat, untuk menjaga keyakinannya.

Selamat mencoba![]

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo, penulis dan pembaca. Bergiat juga di ASAS dan Vespoets.

All stories by:Adhimas Prasetyo
Leave a Reply

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo, penulis dan pembaca. Bergiat juga di ASAS dan Vespoets.

All stories by:Adhimas Prasetyo
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.