Di sela waktu menunggu pembeli dagangan batagornya, Asep Ardian menceritakan sesuatu yang pelan-pelan mengubah hidupnya. Novelnya, Oni Jouska, yang masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, tidak lahir dari ruang akademik atau dunia sastra yang mapan, melainkan dari kejenuhan, percakapan, dan kegelisahan yang terus menumpuk.
Pertama-tama, saya mau tanya soal latar belakang Kang Asep Ardian, gimana ceritanya dari jualan batagor bisa sampai menulis novel Oni Jouska?
Saya Asep Ardian, lahir di Bandung di daerah Sukahaji. Dari keluarga ibu atau ayah nggak ada yang sarjana. Aku pun dari SMP itu sampai mau lulus nggak ada kepikiran mau kuliah. Malahan pas udah lulus SMP, Bapak bilang, “Udah jangan sekolah aja.” Tapi aku bilang, “Aku pengen sekolah, Pak, dimana aja yang penting sekolah.”
Dulu Bapak mikirnya, saya tuh udah ditargetin jualan aja. Aku pengennya lulus sekolah, jadi disekolahin di yang paling murah di daerah Majalaya, LPPM RI Majalaya. Sekolah masuk SMK jurusan pemesinan, mesin industri.
Dari SMK sana juga belum kenal bacaan, cuma ada satu temenku namanya Joni, jadi dipanggilnya Oni—dan sekarang itu jadi nama novelku. Dia tuh sering nulis di blog. Aku baca, wah menarik nih tulisan-tulisannya.
Singkat cerita, aku jualan batagor sama Bapak Kadir. Dari Bapak Kadir inilah ada kejenuhan. Merasa nggak berguna hidup itu. Sering ngobrol sama guru ngaji, nanya-nanya soal kejenuhan ini.
“Ya sudah, kamu baca saja, Sep. Orang yang beruntung itu orang yang bisa memanfaatkan waktu.” Nah, dari sanalah mulai baca.
Buku apa yang dulu pertama kali dibaca?
Buku How To Win Friends and Influence People. Bukunya mengajarkan sesuatu dengan tidak mengajarkan, tapi menceritakan sejarah dari tokoh-tokoh yang lalu. Dari sana mulai juga baca buku-buku fiksi. Saya baca buku apa saja karena dulu banyak waktu luang.
Nah, dari banyak baca itu muncul lagi kejenuhan. Ini tuh baca buat apa? Dari sana jugalah muncul pikiran untuk mending nulis aja.
Banyak baca itu muncul kejenuhan. Ini tuh baca buat apa? Dari sana jugalah muncul pikiran untuk mending nulis aja.
— Asep Ardian
Apakah sempat menetap dan berkumpul di Depok?
Enggak, jadi via WhatsApp Group. Dari sanalah saya banyak dapat ilmu-ilmu soal literasi. Banyaklah mindset berubah jadi berani. Termasuk membuka cabang batagor. Alhamdulillah, sekarang batagor ada 4 cabangnya. Dari sana juga kepikiran untuk bikin novel.
Singkat cerita, saya cari-cari komunitas lagi. Dikenalin lah saya sama CSWC. Jadi saya itu memang belajar jadi pemulung, dari komunitas ke komunitas.
Apa yang pertama kali memunculkan ide cerita Oni Jouska? Apakah berangkat dari kegelisahan tertentu tentang manusia atau tentang kondisi lingkungan laut?
Utamanya mau curhat. Jadi ingin melepaskan keresahan, tapi merasa terlalu egois dulu tuh kalau pukulannya terlalu ke diri sendiri. Makanya keresahan itu tuh dituangin jadi remora-remora.
Kalau ide utamanya Oni Jouska itu kan tentang ekologi, itu berangkat dari keresahan di kampung halaman. Nenek itu asli Garut, di daerah pantai. Seiring berjalannya waktu, di sungai-sungai yang sebelumnya kita bisa berenang jadi nggak bisa, karena banyak sampah.
Setelah dipikir-pikir, ternyata jarang banget novel di Indonesia tuh yang ngebahas soal ekologi, soal laut. Dari sanalah saya coba bahas, tapi dari sudut pandang ikan.
Mengapa memilih ikan remora sebagai tokoh utama? Apakah ada makna simbolik tertentu?
Ya, ini salah satu kritik sosial di lingkungan, bahkan ke diri sendiri juga—kadang kita tuh ga mau bertumbuh. Banyak orang yang lebih memilih menempel pada orang lain, pada gelar, pada kekuasaan.
Makanya, buat mengingatkan diri sendiri, saya buatlah karakter Oni yang dia nggak mau kayak remora lain, lalu memilih untuk lebih baik kabur daripada menempel di ikan pari itu.
Jarang banget novel di Indonesia yang ngebahas soal ekologi, soal laut. Dari sanalah saya coba bahas, tapi dari sudut pandang ikan.
— Asep Ardian, tentang kelahiran Oni Jouska
Oni digambarkan sebagai remora yang cacat dan terasing dari komunitasnya. Apakah kondisi ini dimaksudkan sebagai metafora?
Itu jadi salah satu curhatan ya. Kadang kita itu suka membanding-bandingkan diri sama orang lain. Kenapa orang itu dilahirkan sama orang tua yang kaya sehingga dia bisa kuliah?
Nah, jadi salah satu penyemangat juga gitu karakter Oni. Bahwa apa pun kekurangannya, kita tuh masih bisa memperjuangkan sesuatu; harus menerima takdir lah.
Dalam novel ini ada konflik antara klan Denaya dan klan Dustha. Apakah konflik tersebut sebagai gambaran cara berbeda makhluk merespons ancaman?
Di semesta Oni itu aku nggak ngegambarin ada yang jahat, ada yang baik, gak hitam putih di sini. Si Denaya ingin melindungi lautan dengan caranya. Si Dusta ingin melindungi lautan, tapi dengan caranya juga. Jadi aku ngegambarin di sini hewan-hewan tuh enggak sejahat manusia.
Tokoh Salik tampak seperti figur guru atau mentor. Apakah memang dirancang demikian?
Salah satu alasannya karena saya mendalami sufistik juga, thoriqoh. Lambang dari thoriqoh itu lambang 3 ikan. Namanya Salik ini artinya ikatan antara guru sama murid. Nah, dalam sufisme juga gitu, seorang murid itu harus nurut sama mursyidnya.
Aku mengingatkan juga ke diri sendiri: semandiri-mandirinya kita di dunia, tetap harus ada pembatas atau pembimbing. Meskipun kita mampu untuk berjuang sendirian, tetap harus ada pegangan untuk mengarahkan.
Banyak bagian di novel ini yang terasa seperti perenungan filosofis. Apa rujukan atau buku landasan dalam menulis Oni Jouska?
Buku Fihi ma Fihi. Fihi ma Fihi itu kumpulan ceramah Jalaluddin Rumi dan mungkin jadi yang paling membekas. Kalau ditanya, buku apa pemantiknya, ya, buku itu banyak menyentil.
Semandiri-mandirinya kita di dunia, tetap harus ada pembatas atau pembimbing. Walaupun sudah menjelajah dan merasa hebat, kita harus tetap punya satu pegangan untuk mengarahkan.
— Asep Ardian, tentang sufisme dalam Oni Jouska
Apa pesan yang paling ingin ditekankan melalui perjalanan Oni?
Terus bergerak dan terus belajar. Oni ini tidak merasa pasrah dengan keadaan. Karena mengerikan jadi orang yang merasa cukup dan stagnan. Dan itu jadi salah satu alasan untuk terus membaca dan belajar—aku gak mau ketika tua jadi menyebalkan.
Tapi aku pengen nekenin: terus bergerak dan bertumbuh. Jangan pernah merasa cukup.
Terus bergerak dan terus belajar. Jangan pernah merasa cukup.
— Asep Ardian, pesan dari novel Oni Jouska
“Telah wafat, Johan Kartawijaya, yang dikenal sebagai Surabaya Johnny, seorang penyair cabul, tukang judi, narsis delusional, mantan seorang ayah, dan pengacau—pada usia 73 tahun. Ia dikenang oleh sebagian orang sebagai seorang pemimpi, oleh yang lain sebagai pembohong, dan oleh kebanyakan orang: tidak dikenang sama sekali.”
Itulah kalimat pembuka yang diucapkan oleh Erostian “Mbul” yang memainkan tokoh Surabaya Johnny dalam pertunjukan monolog di Atelir Ceremai, Jakarta Timur, 4 Oktober 2025 yang lalu. Pertunjukan monolog ini merupakan penutup dari rangkaian acara yang bertajuk “Pekan Pembaca Sastra” yang diselenggarakan oleh Atelir Ceremai dengan dukungan penuh Kementerian Kebudayaan melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2025.

Sebagian penonton berpose bersama pemain dan tim produksi pementasan “Surabaya Johnny”: di panggung Atelir Ceremai, Jakarta Timur, 4 Oktober 2025 (Dok. Atelir Ceremai)
Monolog yang disutradarai oleh Irfan Hakim dari Sun Community ini merupakan adaptasi yang digubah oleh Raymond Y. Patty (Jejak Lakon) dari cerpen “Surabaya Johnny: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (Seperti Dipaparkan kepada Pieter Jansma)” karya Sony Karsono. Cerpen ini memadukan ingatan biografis yang acak, catatan etnografis, delusi filosofis, dan satire tentang ketidakberdayaan seorang penyair tua generasi Orde Baru yang terperangkap dalam lorong gelap pseudo-sastra. Dua tahun lalu cerpen ini bersama beberapa cerpen lain karya Sony Karsono dalam kumcer Sentimentalisme Calon Mayat telah meraih banyak penghargaan, yaitu Anugerah Sutasoma, Penghargaan Tempo, dan Penghargaan Sastra Kemdikbudristek. Malam itu, di Atelir Ceremai, tokoh Surabaya Johnny yang legendaris itu dihidupkan untuk menyuarakan dirinya.
Pada hari-hari sebelumnya, telah diselenggarakan beberapa acara lain yang mempertemukan klub-klub buku di Jakarta dan sekitarnya untuk mendiskusikan persoalan literasi dan ekosistem sastra serta pengembangan klub buku itu sendiri. Selain itu, diundang pula tiga klub buku yang secara khusus membahas karya-karya sastra pilihan, yaitu Klub Buku Bengkel Sastra yang membahas novel Kereta Semar Lembu karya Zaky Yamani pada 29 September 2025, Klub Buku Lentera Kata yang membahas kumpulan puisi Muazin Pertama di Luar Angkasa karya Kiki Sulistyo pada 30 September 2025, dan Klub Buku Untitled Press yang membahas kumpulan puisi Cica karya Cyntha Hariadi pada 1 Oktober 2025.

Para pengunjung dan anggota klub buku berpose setelah acara diskusi novel Kereta Semar Lembu di Atelir Ceremai, Jakarta Timur, 29 September 2025. (Dok. Atelir Ceremai)
“Pekan Pembaca Sastra ini merupakan program yang kami buat sebagai perayaan bagi pembaca. Karena itu, para pembicara yang kami undang sebagian besar adalah bookfluencer, pegiat literasi, dan teman-teman dari komunitas baca. Kami ingin memberi ruang kepada pembaca setelah selama ini kami melihat sepertinya pembaca seringkali hanya menjadi objek. Padahal, pembaca adalah elemen utama dalam ekosistem literasi. Bukan hanya dengan membeli karya penulis, tapi dengan menjadi pembaca kritis dan turut aktif dalam komunitas, pembaca menjadi elemen paling penting dalam penguatan ekosistem sastra.” Ucap Aldiansyah Azura selaku ketua pelaksana Pekan Pembaca Sastra 2025.
Sebagaimana disampaikan juga oleh Ahmad Mahendra, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, bahwa program Penguatan Komunitas Sastra ini adalah upaya untuk menjembatani antara karya sastra dengan pembaca. Karena selama ini, diseminasi buku sastra masih belum optimal. Komunitas sastra berperan sebagai ujung tombak yang akan menyebarluaskan karya sastra, dengan cara mendiskusikannya dan mengalihwahanakannya.
Laurent Sindhu, selaku peserta pada diskusi “Peran Klub Buku dalam Pengembangan Ekosistem Literasi” menyampaikan kesan positifnya terhadap acara Pekan Pembaca Sastra 2025.
“Cukup asyik! Aku jadi tahu bagaimana ekosistem sastra berkembang di skena independen serta bagaimana perilaku pembaca dapat dianalisis, seperti fenomena bookshaming dan hal-hal lain yang menunjukkan bahwa membaca bukanlah sesuatu yang memalukan. Dari acara ini, aku mendapatkan banyak insight baru. Harapanku, kegiatan seperti ini bisa lebih sering diadakan, tidak hanya di Atelir Ceremai,” ujar Laurent.
Daniel Francisco, selaku peserta pada diskusi “Sebagai Pembaca, Apa yang Bisa Kita Lakukan?” menambahkan pandangannya mengenai Pekan Pembaca.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Tidak hanya merayakan para penulis, tetapi juga para pembaca yang berperan penting dalam melestarikan karya mereka. Harapanku, semoga acara seperti ini dapat terus diselenggarakan setiap tahun… kalau bisa, bahkan setiap bulan,” ujar Daniel sambil tertawa.

Sesi diskusi “Sebagai Pembaca, Apa yang Bisa Kita Lakukan?” di Ruang Serba Iya, 2 Oktober 2025 (Dok: Atelir Ceremai)
Nabila Putri, selaku pembicara dari LiteraTOUR, turut menyampaikan pandangannya. “Menurutku, dengan adanya penguatan komunitas sastra, teman-teman jadi bisa tahu bahwa ada akses bacaan yang lebih luas, sekaligus merasa memiliki keluarga baru melalui program ini. Aku berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti di komunitas-komunitas kecil, tetapi juga bisa menjangkau daerah-daerah terpencil dan terpelosok,” ujar Nabila.

Sesi diskusi “Peran Komunitas Baca bagi Ekosistem Literasi dan Sastra Indonesia” di Kedai Atelir, 28 September 2025 (Dok: Atelir Ceremai)
Selama 6 hari berlangsungnya Pekan Pembaca Sastra 2025 di Atelir Ceremai, tercatat ada 179 audiens yang turut meramaikan program. Para pengunjung acara Pekan Pembaca Sastra ini juga mendapatkan bingkisan berupa buku-buku karya sastra terpilih yang diberikan oleh Kementerian Kebudayaan sebanyak lebih dari 100 judul buku untuk memfasilitasi perkembangan kegairahan dan apresiasi terhadap sastra Indonesia. Dengan dukungan Program Penguatan Komunitas Sastra dari Kementerian Kebudayaan ini, Atelir Ceremai akan terus berkomitmen bersama komunitas sastra lain untuk mengembangkan penciptaan karya sastra di kalangan anak muda dan menggairahkan apresiasi sastra di kalangan pembaca, Seperti kata WS Rendra: hadir dan mengalir.
Bandung, Agustus 2025 – Setelah sukses dengan penyelenggaraan perdana pada tahun 2024, Terap Festival (Festival Teater Ruang Publik) kembali hadir dengan edisi keduanya. Terap Festival #2 mulai berlangsung pada 23 Agustus 2025 hingga 30 Agustus 2025 di kawasan Dago dan Braga, Bandung. Tahun ini festival mengusung tema “Caang Mumbul Dina Batok (Terang Melambung Dalam Tempurung)”, sebuah metafora yang menyoroti bagaimana cahaya kehidupan warga kota tetap melambung meski sering tertutup oleh tempurung pembangunan, gentrifikasi, dan homogenisasi ruang.
Festival yang dirancang dan diarahkan oleh Sahlan Mujtaba (Direktur Festival), Riyadhus Shalihin (Direktur Artistik), serta kurator Ferial Afiff dan Trianzani Sulshi, menghadirkan rangkaian program berupa inkubasi, pertunjukan, diskusi, dan workshop. Melalui pendekatan artistik yang berakar pada ruang hidup warga, Terap Festival mengajak publik untuk melihat kota sebagai panggung bersama, sekaligus ruang dialog yang inklusif dan berkeadilan.
Direktur Festival, Sahlan Mujtaba, menekankan bahwa keberadaan festival ini berangkat dari keresahan atas ruang kota yang semakin menyisihkan warganya. “Kami ingin festival ini menjadi cara untuk menyalakan kembali cahaya yang sering terhalang oleh tembok pembangunan. Di balik gang-gang sempit, pasar yang riuh, hingga jalanan kota, ada kehidupan warga yang perlu didengar. Itulah yang ingin kami hadirkan melalui festival ini,” ujarnya.
Kurator Ferial Afiff dan Trianzani Sulshi dalam Catatan Kuratorial menuliskan refleksi mendalam tentang lanskap Dago dan Coblong yang terus berubah. “Pertunjukan di ruang publik bukanlah panggung mewah, melainkan cara bertanya dan mengingat. Tubuh menjadi pengingat; ruang menjadi peristiwa. Dengan tema Caang Mumbul Dina Batok, kami ingin menegaskan bahwa cahaya itu ada, dan ia selalu mencari jalan untuk menyinari kota,” tutur mereka.
Sementara itu, Riyadhus Shalihin, selaku Direktur Artistik, melihat festival sebagai ruang eksperimentasi artistik yang tak terpisahkan dari etika kolaborasi. “Melalui inkubasi, kami menekankan bahwa teater bukan hanya ekspresi individual, melainkan kerja sosial yang berakar pada solidaritas. Setiap pertunjukan adalah dialog dengan ruang dan relasi sosial di sekitarnya. Inilah cara kami mengembalikan teater sebagai praktik bersama warga, bukan sekadar tontonan,” jelasnya.
Terap Festival tahun ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, sebuah program strategis nasional yang bertujuan menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan. Melalui skema MTN Presentasi, para talenta diberi ruang untuk menampilkan karya, memperoleh eksposur, serta mendapatkan apresiasi dari publik dan pelaku industri. Dukungan ini bukan hanya sebatas fasilitasi, melainkan juga komitmen Kementerian Kebudayaan untuk membuka ruang lebih luas bagi seniman dalam berkarya di tengah ruang publik.
Empat karya yang terlibat dalam MTN Presentasi di Terap Festival, antara lain: “Resep Umur Panjang” di jalan Braga oleh Ganda Swarna, “Simposium Mother Gang Tubagus Ismail Dalam” oleh Panca Lintang, “Pensi: Hari Terakhir di Sekolah” di SMAN 1 Bandung oleh Mikail Arya bersama Kolektif Bawah Meja, dan “Ngagogo Lembah Indah” di Babakan Siliwangi oleh Ida Bagus Uttarayana bersama Teater Samana. Keempat karya tersebut sama-sama berangkat dari ruang hidup warga sebagai titik pijak.
Kolaborasi antara Terap Festival dan MTN Seni Budaya menegaskan bahwa festival bukan sekadar ajang pertunjukan, melainkan juga ruang pengembangan talenta dan eksperimentasi artistik yang lahir dari etika kebersamaan dan praktik kolektif dalam upaya memperkuat ekosistem seni budaya yang inklusif dan berkelanjutan.
Program Festival
Terap Festival #2 menyajikan beragam pertunjukan site-specific yang tersebar di ruang publik kawasan Dago dan Braga. Tahun ini, enam seniman, baik individu maupun kolektif, hadir melalui jalur open call, undangan, karya berkelanjutan, hingga main performance internasional.
Dari hasil open call, Panca Lintang Dyah Paramitha akan berkolaborasi dengan warga dan komunitas ibu-ibu di Sekeloa melalui pertunjukan intim di rumah warga. Sementara Kolektif Bawah Meja akan bekerja sama dengan ekskul Cakra, Secret, dan Teater AH Smansa Dago di SMA Negeri 1 (Smansa), menghadirkan teater sebagai alat pembongkar relasi antara tubuh muda, disiplin sekolah, dan arsitektur institusi pendidikan.

Presentasi gagasan seniman dalam sesi inkubasi di ruang galeri, sebagai bagian dari proses merangkai ide pertunjukan site-specific di kota Bandung. (Foto: Adi Pirmansyah)
Dari jajaran undangan, Teater Samana akan menghidupkan ruang hijau Babakan Siliwangi—menandai tubuh sebagai bagian dari ekologi yang terancam gentrifikasi—sedangkan seniman Taiwan Chao Man Chun akan menyusuri ruang-ruang pasar Simpang Dago, menegaskan pasar sebagai infrastruktur tubuh kolektif yang menolak untuk direduksi sekadar komoditas. Dalam kategori karya berkelanjutan, Ganda Swarna kembali menghadirkan eksplorasi Gerilya Bunyi—yang pada edisi pertama berpijak sebagai interupsi akustik—kini diproyeksikan ulang di Jalan Braga melalui karya Resep Umur Panjang; menghadirkan instalasi warung di tengah Braga yang membawa rekaman suara ibu-ibu kampung memasak—termasuk kisah Mak Ira yang berusia seratus tahun—sebagai arsip hidup tentang perawatan, kebersamaan, dan kepedulian warga, sekaligus undangan bagi audiens untuk merasakan makanan bukan sekadar menu wisata, melainkan pengetahuan kolektif tentang bagaimana umur panjang dirawat bersama.
Sebagai sajian utama, festival menghadirkan Port-B, kelompok teater internasional yang disutradarai Akira Takayama (Jepang), dengan dua karya—Travel Agency dan Board Game. Bertempat di sebuah kafe di kawasan Braga, karya ini membuka dialog lintas budaya tentang kota, mobilitas, dan ruang bersama; menguji bagaimana konsumsi ruang kafe sebagai arsitektur kapital dapat dibalik menjadi ruang percakapan politik.
Selain pertunjukan, Terap Festival #2 juga menyelenggarakan dua diskusi publik yang berfokus pada relasi teater, ruang kota, hak mobilitas, dan hak atas kota. Diskusi pertama bertema Inkubasi dan Riset—sebuah upaya mengembalikan dan menjahit gagasan dari pengalaman yang terurai dalam proses artistik seniman. Digelar pada 23 Agustus 2025 di Gedung Indonesia Menggugat, forum ini menghadirkan topik “Tubuh, Mobilitas, dan Performatifitas Ruang Kota”—menyoal bagaimana tubuh warga bernegosiasi dengan infrastruktur, serta bagaimana seni pertunjukan dapat menjadi alat untuk menantang logika tata ruang yang menyingkirkan.
Diskusi kedua bertema “Merebut Ruang: Teater, Partisipasi, dan Hak Atas Kota Dalam Perspektif Perempuan” akan berlangsung pada 25 Agustus 2025, juga di Gedung Indonesia Menggugat. Sesi ini membuka pembicaraan tentang bagaimana pengalaman perempuan dalam ruang publik kerap dipinggirkan, dan bagaimana teater dapat menjadi praktik partisipatif untuk merebut akses, menuntut kesetaraan, dan merayakan kota sebagai milik bersama.
Sebelum fase pertunjukan, festival diawali dengan program inkubasi seniman. Di sini, para peserta tidak hanya mempelajari teknik artistik, tetapi juga riset bersama warga. Trianzani Sulshi, dalam salah satu sesi, menegaskan bahwa kota harus dilihat bukan sekadar latar, melainkan panggung hidup itu sendiri. Ia menulis: “Kota bukan hanya latar, melainkan pertunjukan hidup yang terus berlangsung. Tubuh warga adalah aktor, dan interaksi sehari-hari mereka adalah naskah yang selalu diperbarui.”
Kolaborasi Warga dan Kota
Berakar di Bandung, festival ini menyoroti Dago dan Braga sebagai ruang yang sarat memori, tetapi juga arena pertarungan modernisasi. Braga—dengan jejak kolonial dan sejarah panjangnya—bertemu dengan Dago—dengan lanskap sosial yang berlapis antara nostalgia, kos-kosan, pasar, hingga hutan kota. Keduanya menghadirkan medan di mana arsitektur tidak netral, melainkan penuh tegangan antara kapital, negara, dan warga.
Terap Festival menolak sekadar menjadi tontonan; ia memanggil warga untuk terlibat aktif sebagai kolaborator dan audiens partisipatif. Semangat ini menegaskan: ruang publik bukan sekadar infrastruktur kota, melainkan arena perjumpaan, ingatan, dan perjuangan kolektif.
Terap Festival #2 terselenggara berkat dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation, Japan Foundation Jakarta, serta Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya Kementerian Kebudayaan—namun lebih dari itu, festival ini berdiri karena warga, komunitas lokal, dan institusi pendidikan di Bandung yang menjadi bagian integral dari penciptaan. Dengan demikian, festival ini bukan hanya soal seni, melainkan upaya membayangkan ulang kota sebagai komune yang hidup.
TERAP FESTIVAL merupakan sebuah kegiatan dari Jalan Teater Indonesia yang prosesnya telah bergulir sedari bulan April 2024, berisi pengurasian awal, inkubasi, dan lokakarya. Sementara, kegiatan utama TERAP FESTIVAL akan dilaksanakan pada tanggal 3—10 Agustus 2024. TERAP merupakan singkatan dari Teater Ruang Publik yang mencoba untuk mendekati dan mementaskan ingatan, harapan, dan kesadaran publik atas ruang hidup mereka yang kesemuanya dibalut dalam bentuk ekspresi teater inklusif. Pada edisi perdana ini, TERAP FESTIVAL akan digelar di sekitaran Braga, Kota Bandung.
TERAP FESTIVAL mengusung gagasan dasar akan teater yang merujuk pada theatron yang dapat diartikan sebagai arsitektur sosial, sebuah situs masyarakat untuk berkumpul dan menonton, selagi bertukar pandang pemikiran. Dari pemahaman tersebut, sudah seharusnya teater secara langsung melibatkan masyarakat, seniman, dan pihak-pihak lain yang berkaitan. Dengan begitu, terciptalah teater sebagai praktik yang melintas atau menyimpangkan berbagai disiplin yang merombak batas antara pertunjukan dengan ritual hidup sehari-hari, aktor dengan penonton, juga ruang publik dengan ruang privat.
Sahlan Mujtaba, Inisiator sekaligus direktur TERAP FESTIVAL, menjelaskan bahwa festival teater di ruang publik memungkinkan aksesibilitas budaya yang lebih luas, menciptakan ruang inklusi di mana seni pertunjukan dapat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang ekonomi atau sosial.
Pada tahun ini, TERAP FESTIVAL mengangkat tema BRAGA BEREBUT KENANGAN (Braga Beken): Meruang-waktukan Ingatan Tandingan Warga. Brigitta Isabella dan Riyadhus Shalihin, selaku kurator, menjelaskan bahwa tema ini berdasar keresahan atas penentuan simbol yang tertuang pada landmark atau marka tanah yang ada di sebuah kota. “Relasi yang terjadi pada penentuan sebuah landmark yang hegemonik ini cenderung top-down, dengan minimnya keterlibatan publik.” sambung kedua kurator. Keterlibatan publik ini menjadi poin utama yang ditekankan dalam TERAP FESTIVAL.
Selaras dengan rujukan teater sebagai arsitektur sosial serta keresahan akan penentuan simbol kota tersebut, TERAP FESTIVAL mencoba untuk menghadirkan kesempatan bagi publik untuk memaknai simbol kota dengan lebih kritis serta bottom-up. Kedua kurator menambahkan bahwa simbol kota haruslah ditentukan secara demokratis yang mempertimbangkan akan keterlibatan orang sekitar serta konteks ruang.
TERAP FESTiVAL membuka ruang hadirnya narasi tandingan dari simbol kota hegemonik yang ditentukan oleh pemerintah. Narasi simbol kota yang hadir dalam festival ini diharapkan dapat lebih parsitipatif dan inklusif.
Titik-Titik Kota
Konsep kuratorial TERAP FESTiVAL berangkat dari persilangan antara landmark Simpang Lima Asia Afrika dengan Simpang Empat Braga; dan Titik Nol keramat (Sumur Bandung) dengan Titik Nol teknokrat (Tugu Kota oleh Daendels).
Peristiwa teater ruang publik akan bergerak mondar-mandir dari Simpang Lima Asia Afrika yang menandai Bandung sebagai ibu kota perlawanan antikolonial global hingga Simpang Empat Braga yang menandai obsesi pemerintah hari ini untuk mempercantik wajah kota. Lalu di antara Titik Nol Sumur Bandung yang menandai air sebagai simbol keberkahan dan Titik Nol kilometer tugu kota yang menandai aspal sebagai “kutukan”. Perjalanannya akan menelusuri bukan hanya lapis “luar” Braga, tapi juga lapis “dalam” warga di balik kawasan tersebut.
Dalam mewujudkan teater yang meruang “di” dan “dengan” ruang publik ini, TERAP FESTIVAL mengundang para pegiat teater baik individu maupun kelompok dari seluruh Indonesia untuk mengeksplorasi hubungan antara teater, ruang, dan publik sebagai strategi estetika warga dalam menyatakan hak kepemilikan bersama atas kota di simpang dan titik landmark yang disebut sebelumnya.
Seniman TERAP FESTIVAL terdiri dari individu atau kolektif/kelompok yang terbuka pada segala disiplin praktik dan lintas usia. TERAP FESTIVAL mengedepankan peserta yang ingin bereksperimen dengan teater sebagai titik kumpul silang gagasan: bersiasat dan bersolidaritas bersama warga di tengah perubahan wajah kota yang semakin timpang, memiliki antusiasme untuk melakukan riset, dan berkolaborasi dengan warga dalam proses penciptaan karya. Sehingga, hadirlah teater dengan desain logistik yang menjadikan infrastruktur ruang publik dan daya gerak warga sebagai material dan metode utamanya.
Demi menghadirkan konsep yang utuh, TERAP FESTIVAL juga menyediakan ruang bagi para seniman untuk menguatkan gagasan dan konsep dalam program inkubasi dan lokakarya. Salah satu materi lokakarya mengangkat tema Site-Spesifik Theatre yang diampu oleh Akira Takayama, sutradara dari Jepang, dosen pascasarjana dari Tokyo University of the Arts. Selain itu, kelangsungan TERAP FESTIVAL ini didukung oleh pendanaan dari Dana Indonesiana kategori Pendayagunaan Ruang Publik 2023 dan Small Grant Japan Foundation Jakarta.
Informasi lebih lengkap dapat dibaca di www.TERAPFESTIVAL.com.
Setelah berpindah-pindah tempat merayakan keberagaman bacaan sejak 2019, patjarmerah, Festival Kecil Literasi dan Pasar Buku Keliling Nusantara kini hadir di Jakarta dan membuka ruang lebih luas bagi kelompok pembaca anak-anak, belia dan keluarga.
‘patjarmerah kecil’ menjadi nama khusus festival yang digelar untuk mewadahi segmen pembaca tersebut. Pada 29 Juni-7 Juli 2024, festival yang kerap dijuluki sirkus keliling ini bakal menggelar patjarmerah kecil untuk pertama kalinya di Jakarta, tepatnya di Pos Bloc.
Penggagas patjarmerah, Windy Ariestanty mengungkap urgensi regenerasi di balik patjarmerah kecil yang digelarnya secara gotong royong bersama banyak pihak. Menurutnya, pergantian peran dalam dunia literasi, salah satunya dalam bidang perbukuan, harus terus diupayakan jika ingin ekosistemnya hidup secara berkelanjutan. Setiap zaman memiliki tantangannya dan perlu estafet.
“Kami sadar betul bukan hanya regenerasi penulis yang perlu diupayakan terus menerus dan beramai-ramai, tapi juga regenerasi pembaca. Dan itu semua dimulai sejak dini serta dari ruang keluarga,” kata Windy.
Selain menghadirkan ribuan buku dari penerbit Indonesia di pasar buku, patjarmerah kecil juga mengadakan beragam kegiatan yang diharapkan bisa menjadi pilihan alternatif kegiatan libur sekolah bagi kawan kecil, belia dan keluarga. Beberapa di antaranya adalah lokakarya mendongeng inklusif bersama Kak Agus dan Ayo Dongeng Indonesia, menulis cerita bersama Reda Gaudiamo, terapi seni bersama RupaSwaraJiwa, berpuisi bersama Theoresia Rumthe, permainan bahasa, hingga mengenalkan rempah kepada anak dan remaja.
Selain itu juga banyak obrolan bertema pengasuhan dan relasi, kesehatan mental untuk umum dan orang tua, obrolan persiapan menjadi dewasa hingga sesi tukar rekomendasi bacaan antar orang tua. Najelaa Shihab, Anggia Kharisma, Gina S. Noer, Ivan Lanin, Alexander Thian, Ivan Lanin, Papermoon Puppet Theatre pun akan turut hadir di patjarmerah kecil mengisi sesi-sesi tersebut.Ada juga stand up komedi untuk keluarga bersama Sakdiyah Ma’ruf dan pertunjukan teater boneka bersama Panggung Gulali.
“Di patjarmerah kecil, TaCita, satu komunitas pemerhati cerita anak, akan merilis Penghargaan Sastra Anak 2024 juga,” kata Lia Kusumawardani yang menjadi salah satu penggerak patjarmerah kecil Jakarta.
“Sayap” menjadi tema festival patjarmerah kecil 2024. Tema ini dipilih sebagai tema pembuka yang menandai #patjarkecil siap terbang bersama kawan-kawan kecil untuk menjelajahi tanah-tanah baru, awan-awan impian, dan luasnya samudra imajinasi. Sayap-sayap juga jadi lambang rasa ingin tahu yang melambung, keberanian mencoba, dan kegigihan untuk meraih cita-cita yang digantung setinggi langit. “Kami ingin jadi salah satu bulu di sayap-sayap kawan-kawan kecil, menemani terbang lebih tinggi, serta bersama-sama mengupayakan akses literasi yang setara dan merata,” kata Windy.
Salam Literasi, patjarmerah kecil.
Makassar International Writers Festival (MIWF) kembali digelar tanggal 8-11 Juni 2023 di Fort Rotterdam, dan beberapa lokasi lainnya di Makassar, dengan pilihan tema: ‘Faith’.
‘Faith’ hadir sebagai pintu yang dipercaya dapat membuka ruang percakapan tentang agama, kepercayaan, nilai, dan tujuan hidup manusia. Tema tersebut tak sebatas membicarakan peran agama dan kepercayaan yang dipegang manusia ketika menghadapi masa sulit–seperti ketika seluruh dunia dihantam oleh pandemi. ‘Faith’ menawarkan perspektif untuk membangun harapan, daya tahan, dan menciptakan keseimbangan untuk menemukan makna, secara individu maupun kolektif.
Lily Yulianti Farid, selaku direktur dan pendiri MIWF, telah mewariskan ‘Faith’ sebagai nilai yang selama ini ia yakini untuk dunia literasi, dan kerja-kerja kecil yang ia lakukan untuk memberikan nilai besar bagi siapa pun yang mengerjakan literasi sebagai panggilan. Ia juga meninggalkan warisan ‘Faith’ sebagai metode kerja dengan semangat kekeluargaan dan kesadaran untuk terus melakukan kontribusi terhadap perjalanan MIWF di tahun mendatang.
Sejalan dengan itu, lebih dari 60 penulis akan hadir di MIWF tahun ini untuk memperbincangkan ragam gagasan dan wacana terkini seputar masa depan kerja-kerja perbukuan, di antaranya: arus deras artificial intelligence (AI), dan urgensi agen buku sastra. Selanjutnya, ruang untuk kembali memperbincangkan perjalanan reformasi–yang tahun ini menginjak 25 tahun–pun akan dihadirkan di MIWF. Kita akan membaca ulang reformasi dengan mendekatinya melalui ‘dream, discovery, dan identity’.
Project Placemaking: Kota 15 Menit
Selain itu, MIWF 2023 mengusung sistem ‘project placemaking: kota 15 menit’, di mana ruang-ruang diselenggarakan di beberapa titik lokasi yang masing-masing dapat ditempuh 15 menit berjalan kaki. Ruang yang mengadopsi konsep “Kota 15 Menit” – yang seluruh kebutuhan literasi baca tulis warga dapat dijangkau dengan berjalan kaki: toko buku, perpustakaan komunitas, dan ruang diskusi.
MIWF 2023 hendak mengajak masyarakat menciptakan ruang festival bersama-sama. Meski ruang yang diciptakan ini bukan permanen dan hanya dinikmati bersama selama 4 hari, tapi pengalaman ini akan menjadi penting buat kita semua untuk merasakan bagaimana sebenarnya makna ruang tinggal dan beraktivitas yang nyaman dan berpihak pada lingkungan dan rakyat kebanyakan. Selain ruang-ruang diskusi, MIWF 2023 juga akan mengadakan beberapa peluncuran buku para penulis Indonesia, pameran seni rupa, dan pemutaran film. Ada pula sejumlah workshop intensif yang tak kalah menariknya untuk diikuti bersama penulis secara intens.
MIWF merupakan festival penulis yang diselenggarakan oleh Rumata’ Artspace sejak 2011. MIWF meraih penghargaan International Excellence Award sebagai festival
sastra terbaik 2020 dari London Book Fair. MIWF adalah festival penulis internasional pertama dan satu-satunya di Indonesia Timur, yang dikerjakan secara independen, menjunjung HAM, bersifat anti-korupsi, inklusif, dijalankan sebagai kegiatan nir-sampah (Zero Waste) sejak 2019 dan mendeklarasikan diri sebagai festival yang menentang all-male panel sejak Maret 2020.
Salah satu orientasi MIWF ialah membuka akses dan memberi ruang bagi penulis-penulis muda Indonesia Timur untuk berjejaring dengan para penulis lainnya, pembaca, dan penerbit, melalui program Emerging Writers. Dan, tahun ini terpilihlah lima nama sebagai Emerging Writers MIWF 2023: Alliurridha dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Ajeng Mawaddah dari Gorontalo, Mawan Belgia dari Sulawesi Barat, Nurul Fajri dan Nur Inayah Syar dari Sulawesi Selatan.
Info lengkap tentang MIWF dapat mengunjungi www.makassarwriters.com dan dapatkan update program MIWF melalui Instagram dan Twitter @makassarwriters
Narahubung:
Ilda Karwayu (+62 822-3548-3610)
Kelompok Hobi Berteater menggelar pentas “Di Persimpangan Waktu” di Museum Geologi Jumat, (10/02/2022). Pentas ini merupakan rangkaian Program Teater Museum Main-Mind inisiasi Jalan Teater Indonesia, peraih Dana Indonesiana Kemendikbud RI.
Para pengunjung yang diperuntukkan untuk siswa sebagai penonton lapis pertama, dibawa pada situasi pasca bencana gempa dan bertemu dengan dua orang anggota Lembaga Tanggap Bencana untuk membantu evakuasi pasca bencana di dalam Museum Geologi.
Di dalam museum yang gelap, mereka bertemu manusia purba yang tersesat di masa kini karena peristiwa “Persimpangan Waktu”. Dibantu seorang ilmuwan museum, mereka pun memulai petualangan menemukan batu-batu sandi untuk mengembalikan manusia purba tersebut ke zamannya.
Pertunjukan berlangsung di dalam Museum Geologi. Para pengunjung diajak berkeliling mencari batu-batu sandi dan melewati beberapa rintangan Dari mulai membantu seorang peneliti Patahan Lembang, terkecoh ke dunia lain, sampai berhadapan dengan Kolektor Museum yang licik. Di setiap babak peristiwanya, pengunjung mesti memecahkan teka-teki dan permainan. Dari mulai permainan pasak bumi yang memusingkan, sampai adu kecerdasan dengan seorang kolektor yang hampir saja menjadikan manusia purba tersebut sebagai salah satu koleksinya.
Si Kolektor adalah antagonis dalam pertunjukan ini, dia menipu para pengunjung yang sedang mencari batu sandi di tempat koleksinya. Kolektor itu mulanya membantu, mengatakan batu tersebut berada di rumah koleksinya. Para pengunjung pun mencari, tapi tak menemukan batu tersebut. Semua pengunjung kecewa.
Ilmuwan Pun memberi kabar, Si kolektor menipu dan telah menyekap manusia purba. Untuk membebaskannya, Si Kolektor menantang pengunjung untuk adu kecerdasan. Ia banyak bertanya tentang apa saja koleksinya, pengunjung pun tertantang mengikuti adu kecerdasan itu. Dari banyak pertanyaan, ada pengunjung yang gagal menjawab, tapi banyak juga pengunjung yang berhasil menjawab.
“Sedikit orang yang datang ke sini, melihat hal-hal detail seperti kalian, banyak dari mereka cuma foto-foto saja. Saya senang. Saya bebaskan manusia purba ini, dan sebagai permintaan maaf saya berikan juga batu sandu ini. Semoga membantu kalian.”
Si Kolektor menyerahkan batu sandi terakhir yang diperlukan pengunjung untuk misi penyelamatan ini.
Di babak akhir, pengunjung diminta untuk menyusun teka teki agar gerbang masa lalu terbuka. Sebuah permainan menyusun gambar dari petunjuk teks puitik. Banyak percobaan bentuk terjadi, diskusi tim dan satu kesepakatan bentuk akhirnya membuka gerbang waktu untuk memulangkan manusia purba ke zamannya.
Pertunjukan ini berlangsung selama satu jam, diikuti oleh maksimal 30 orang penonton lapis pertama yang secara langsung terlibat di dalam pertunjukan. Beberapa penunotn lain mengikuti dengan antusias sebagai observer penonton lapis kedua. Di akhir sesi, pengunjung diminta berkomentar tentang pengalaman mereka selama mengalami teater museumntersebut.
Dalam pertunjukan ini, pengunjung bukan hanya ditempatkan sebagai pelihat dan penikmat. Tetapi juga jadi bagian dari berlangsungnya peristiwa dan partisipasi pengunjung menjadi kunci pertunjukan berlanjut ke babak-babak peristiwa selanjutnya. Permainan-permainan yang dilakukan pun beragam proses kognitif. Bukan sekadar mengingat materi museum, tapi juga menganalisa, mengkritisi, sampai merasakan atau terlibat langsung dalam peristiwa sejarah dan pengetahuan museum.
Pengetahuan dan pengalaman yang ditawarkan Hobi Berteater Indonesia dalam pertunjukan ini adalah terkait mitigasi bencana gempa, edukasi patahan lembang, manusia purba, dalam balutan pengalaman memecahkan persoalan dalam tim, observasi koleksi museum, memecahkan teka-teki dan kecakapan negosiasi.
Main-Mind di Museum: Pertunjukan Inklusif Berbasis Teater Museum
Jalan Teater akan menggelar Main-Mind di Museum: sebuah pertunjukan inklusif berbasis teater museum. Tiga museum yang dipilih sebagai ruang sekaligus panggung pertunjukan berlokasi di Kota Bandung, yakni Museum Sri Baduga, Museum Geologi, dan Museum Konferensi Asia-Afrika.
Sahlan Mujtaba, pendiri Jalan Teater sekaligus produser dan sutradara Main-Mind di Museum menjelaskan bahwa garapannya kali ini bertolak dari kecenderungan umum museum-museum di Indonesia.
“Keberadaan museum masih sebatas tempat penyimpanan artefak atau pajangan benda-benda koleksi. Dalam urusan penyampaian informasi, museum masih jarang diinovasi dengan cara- cara kreatif. Padahal, museum mempunyai potensi ragam daya ungkap terkait multifungsinya sebagai ruang audio-visual juga interpretasinya terhadap masa lampau,” ungkap Sahlan, Jumat (30/12/2022).
Hal itu kentara pada pola komunikasi penyelenggara museum tiap kali menjelaskan koleksi museum kepada pengunjung. Jika bukan lewat caption atau takarir(tekstual), informasi disampaikan secara oral oleh pemandu dengan cara-cara yang tidak banyak berubah dari waktu ke waktu. Pemandu sekadar memberi penjelasan dan pengunjung sekadar menyimaknya. “Komunikasi semacam itu jarang menyentuh (apalagi mengaktivasi) perasaan dan tindakan pengunjung,” sambung Sahlan.
Lewat Main-Mind di Museum, Jalan Teater berupaya mendobrak kejumudan itu. Dimaksudkan untuk mengeksplorasi ragam metode komunikasi interaktif dan pembelajaran kreatif di museum, garapan ini juga diharapkan dapat mengeksplorasi praktik-praktik pembelajaran di museum yang berpusat pada pengunjung.
Konkretnya, pertunjukan yang berlangsung tidak hanya untuk ditonton, tetapi juga menunjukkan bahwa pedagogi alternatif museum sedang dipraktikan. Sejarah dan pengetahuan bukan hanya diketahui, tapi lebih jauh dari itu dialami dan direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Februari mendatang, kelompok Jalan Teater akan menggelar Main-Mind di Museum: sebuah pertunjukan inklusif berbasis teater museum. Tiga museum yang dipilih sebagai ruang sekaligus panggung pertunjukan berlokasi di Kota Bandung, yakni Museum Sri Baduga, Museum Geologi, dan Museum Konferensi Asia-Afrika. Sahlan Mujtaba, pendiri Jalan Teater sekaligus produser dan sutradara Main-Mind di Museum menjelaskan bahwa garapannya kali ini bertolak dari kecenderungan umum
museum-museum di Indonesia.
“Keberadaan museum masih sebatas tempat penyimpanan artefak atau pajangan bendabenda koleksi. Dalam urusan penyampaian informasi, museum masih jarang diinovasi dengan cara- cara kreatif. Padahal, museum mempunyai potensi ragam daya ungkap terkait multifungsinya sebagai ruang audio-visual juga interpretasinya terhadap masa lampau,” ungkap Sahlan, Jumat (30/12/2022).
Hal itu kentara pada pola komunikasi penyelenggara museum tiap kali menjelaskan koleksi museum kepada pengunjung. Jika bukan lewat caption atau takarir(tekstual), informasi disampaikan secara oral oleh pemandu dengan cara-cara yang tidak banyak berubah dari waktu ke waktu. Pemandu sekadar memberi penjelasan dan pengunjung sekadar menyimaknya. “Komunikasi semacam itu jarang menyentuh (apalagi mengaktivasi) perasaan dan tindakan pengunjung,” sambung Sahlan.
Lewat Main-Mind di Museum, Jalan Teater berupaya mendobrak kejumudan itu. Dimaksudkan untuk mengeksplorasi ragam metode komunikasi interaktif dan pembelajaran kreatif di museum, garapan ini juga diharapkan dapat mengeksplorasi praktik-praktik pembelajaran di museum yang berpusat pada pengunjung. Konkretnya, pertunjukan yang berlangsung tidak hanya untuk ditonton, tetapi juga menunjukkan bahwa pedagogi alternatif museum sedang dipraktikan.
Sebagai sarana pedagogi alternatif, Main-Mind di Museum mengusung empat konsep pertunjukan. Pertama, interpretasi orang pertama, di mana fasilitator memerankan tokoh tertentu, misalnya tokoh sejarah, dan berinteraksi dengan pengunjung museum melalui perannya.
Kedua, pertunjukan teater. Tim Main-Mind di Museum membuat pertunjukan dengan latar waktu tertentu, misalnya kehidupan di Indonesia pada tahun 1950-an (untuk konteks Museum Konferensi Asia-Afrika) dengan tujuan agar fasilitator dapat membantu pengunjung memahami peristiwa sekaligus masalah-masalah yang berlangsung pada periode tersebut juga memaknai relevansinya dengan situasi saat ini.
Ketiga, pemeragaan kembali peristiwa sejarah. Bentuk ini dapat menjadi rekreasi teatrikal dari suatu peristiwa bersejarah, dan prosesnya melibatkan sejumlah pengunjung. Keempat, permainan peran. Bentuk ini dikenal sebagai “interpretasi orang kedua”, fasilitator dan penonton bekerja sama memainkan perannya.
Sahlan menekankan, aspek peran adalah elemen penting dalam pertunjukan Main-Mind di Museum. Di sini, kerja pemeranan lebih tentang ‘memainkan’ daripada ‘menjadi’, dan mengandalkan improvisasi ketimbang hapalan teks tertulis.
Teknisnya, fasilitator dan pengunjung memilih suatu peran dan memainkannya dalam situasi imajinatif. Dalam pertunjukan ini, pemeran (fasilitator dan pengunjung) lebih dari sekadar aktor: mereka adalah sarana untuk mengeksplorasi masalah, menceritakan kisah, mengembangkan tema, dan sebagainya. Fasilitator dan pengunjung mengoptimalkan perannya lewat kegiatan aktif seperti bercerita, menulis, bergerak, merespon suara, dan improvisasi.
“Dalam sebuah pertunjukan berbasis naskah lakon, seorang aktor terikat oleh teks. Namun dalam pertunjukan ini, fasilitator dan pengunjung dapat mencoba semua jenis peran dan situasi secara bebas untuk menjelajahi cerita atau peristiwa apa yang ingin dideskripsikan dan aspek mana yang paling menarik dari cerita atau peristiwa itu,” jelas Sahlan.
Proses garapan Main-Mind di Museum berlangsung sejak akhir November lalu, seminggu sekali, melibatkan sejumlah komunitas dan elemen masyarakat—yang disebut kolabolator—terutama penyandang disabilitas, pelajar, guru, praktisi pendidikan, akademisi, sejarawan, seniman, serta penyelenggara dan pengelola museum.
Pelibatan semua komponen itu dimaksudkan untuk mencapai tujuan lain diselenggarakannya Main-Mind di Museum: menjadikan museum sebagai ruang inklusif dan demokratis dalam kaitannya sebagai wahana pendidikan dan rekreasi.
Pentas Main Mind di Museum akan dilangsungkan saban hari Sabtu pada tiga pekan pertama bulan Februari 2023. Rinciannya: Museum Sri Baduga (1-2/2/2023), Museum Geologi (10-11/2/2023), dan Museum Konferensi Asia Afrika (15/2/2023).
“Ketiga museum itu dipilih berdasarkan konteks tema museum yang beragam, sehingga memungkinkan
pendekatan dan eksplorasi artistik yang berbeda,” pungkas Sahlan. Seluruh pertunjukan ini gratis dan terbuka untuk umum. Informasi lengkap mengenai Main-Mind di Museum bisa didapat via akun Instagram @main_mind.id.
Narahubung:
Sahlan Mujtaba (085752999788)
Saat ini, pembangunan berfokus pada wilayah perdesaan. Setelah pandemik COVID-19, desa kembali bergeliat dan sebagian bertransformasi menjadi desa wisata. Hal ini diharapkan dapat menjadi alternatif pendorong roda penggerak ekonomi di wilayah perdesaan, termasuk perdesaan di Kabupaten Bogor.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pakuan (Unpak) merespons kondisi pendemik COVID-19 dengan membangun ekosistem wisata di Desa Ciasamara, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Program pengabdian ini ini merupakan program hibah internal Universitas Pakuan yang dimulai sepanjang tahun 2022.
Menciptakan Ciasmara.com
Dengan berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris yang tengah mengikuti PPK Ormawa Kemendikbud, tim Unpak yang terdiri atas dosen FISIB dan Sekolah Vokasi berupaya menguatkan organisasi pariwisata dan membangun ekosistem wisata di Desa Ciasmara. Terdapat empat point penting luaran program yang dikerjakan, yaitu pengembangan UMKM, pengembangan situs web, dan virtual tourism.

“Saat ini kami telah menghasilkan website, katalog dan video profile wisata desa, kemudian peningkatan alat penunjang sektor pariwisata dan berdiri nya gallery wisata desa, serta publikasi media sosial,” ujar Silvi, mahasiswa Prodi Sastra Inggris FISIB saat diwawancarai pada Sabtu (5/11/2022).
Selain memberikan pelatihan dan diskusi kelompok terpumpun, tim Unpak membangun sejumlah infrastruktur pariwisata, misalnya situs web Ciasmara.com.
“Di era perkembangan TIK ini, website menjadi hal yang penting bagi ekosistem pariwisata. Ini (website) merupakan langkah besar bagi pariwisata di Desa Ciasmara. Website ini akan menjadi jembatan yang menghubungkan calon konsumen dan pengelola pariwisata Ciasmara,” tutur Langgeng Prima Anggradinata, dosen Unpak.
Melalui website www.ciasmara.com, pengunjung mendapatkan informasi pariwisata, produk ekonomi kreatif, dan paket wisata. Untuk paket wisata, Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Ciasmara, sebagai wadah pengelola wisata, mematok tarif Rp35.000 sampai Rp180.000 per orang.
Berinovasi di Desa
Langgeng juga menuturkan, perguruan tinggi harus berkarya secara nyata, khususnya di perdesaan. Perdesaan membutuhkan gagasan yang inovatif dari mahasiswa. Silvia juga menyadari, membangun perdesaan merupakan hal yang penting dilakukan mahasiswa saat ini.

“Peran generasi muda dalam pembangunan desa sangatlah penting, peran ini dapat dilakukan melalui organisasi kemahasiswaan. Tujuannya adalah agar pembangunan desa dapat berkelanjutan. Dan memang sudah seharusnya desa-desa di Indonesia berupaya melibatkan pemuda terutama mahasiswa dalam kegiatan pembangunan dan pengembangan desa, entah melalui organisasi ataupun program universitas dan pemerintah. Organisasi sebagai tempat berhimpunnya mahasiswa juga menjadi sarana untuk membangun sebuah desa agar lebih maju lewat inovasi dan terobosan para pemudanya,” kata Silvia.
Silvia juga mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya diri sendiri. Mahasiswa semester 5 Prodi Sastra Inggris FISIB Unpak ini merasa senang bisa berkontribusi di Desa Ciasmara. Pandemi COVID-19 tidak mengendurkan semangat Silvia dan kawan-kawan.
Patjamerah, festival literasi dan pasar buku keliling, akan menyambangi Kota Kembang pada 3-11 Desember mendatang. Berkolaborasi dengan “mitra lokal” Bandung Readers Festival (BRF) dan sejumlah komunitas, kegiatan #patjarmerahXBRF akan diselenggarakan di Gedung PPAG Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Jalan Ciumbuleuit No 94, Bandung.
Dalam keterangan di Instagram, pihak patjarmerah menjelaskan bahwa alasannya berkolaborasi dengan BRF dilandasi keyakinan bahwa pembaca merupakan salah satu pilar penting dalam dunia perbukuan, setara dengan penulis/kreator, penerbit, dan distributor.
“Para pembaca tak sekadar mengulas buku. Mereka juga membuat klub baca yang menggerakkan orang-orang untuk kian menyukai membaca dan membuat festival yang merayakan kecintaan akan bacaan dengan gempita. Bandung Readers Festival, salah satunya.”
Galuh Pangestri, penggagas BRF, menyambut baik kolaborasi antarfestival ini. Menurutnya, bagi BRF kolaborasi dengan patjarmerah adalah sebentuk apresiasi.
“Patjarmerah merupakan gerakan literasi yang berhasil merumuskan dan menjalani tujuannya memperluas dan mendekatkan akses literasi ke masyarakat. Apa yang dilakukan patjarmerah selaras dengan inisiatif BRF yang menitikberatkan kepeduliannya kepada pembaca. Kolaborasi #patjarmerahXBRF seiring dan sejalan untuk mewujudkan misi keduanya dalam menghadirkan festival yang inklusif ke tengah masyarakat.”
Galuh menambahkan, sejak patjarmerah hadir pada awal 2019, BRF telah menaruh perhatian pada gerakan ini, terutama metode berkeliling yang sangat menarik dan berhasil membangun jejaring antartitik. Selain itu, keluwesan dan kelincahan Patjarmerah adalah sesuatu yang perlu menjadi pembelajaran bagi BRF yang terhitung masih sangat muda dan baru.
Salah satu keluwesan patjarmerah Bandung tampak pada digunakannya Gedung PPAG Unpar sebagai tempat kegiatan. Sebelum di Bandung, kegiatan patjarmerah identik dengan memanfaatkan tempat-tempat yang terbengkalai, seperti eks bioskop di kota Malang atau bekas pabrik bir di Surabaya.
Untuk diketahui, gedung Pusat Pembelajaran Arntz-Geise (PPAG), diresmikan pada 17 Januari 2022 lalu, dibangun dengan visi menuturkan semangat bertumbuh, berkembang, dan keterbukaan. Semangat itu dirawat dan berakar kepada sikap hormat terhadap martabat manusia serta berazaskan kebersamaan yang non-diskriminatif. Nilai-nilai itulah yang menjadi benang merah dan diparafrasakan dalam kolaborasi Unpar dengan patjarmerah.
“Ini menjadi kali pertama patjarmerah berumah di kampus, tempat perangai kritis dan kreatif ditumbuhkan, kesetaraan menjadi azas, dan sikap saling belajar dijadikan kebiasaan.”
Dukungan Kreasi Jabar & IA Unpar
Kehadiran #patjarmerahXBRF mendapat sambutan dan dukungan dari sejumlah pihak di Kota Bandung. Dwinita Larasati, Dewan Pengarah Kreasi Jabar, menjelaskan posisi Bandung sebagai anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN) melalui formula potensi terbesarnya: People, Place, Ideas.
Aspek People, ungkap Tita, sapaan akrab Dwinita, tampak pada generasi muda yang menentukan dinamika kota, terutama dari puluhan perguruan tinggi yang belasan di antaranya menyediakan program-program studi seni, kriya, desain, arsitektur, dan kreativtas.
Sedangkan aspek Place terpenuhi lewat ruang-ruang kota yang membuka akses bagi warganya untuk berekspresi, berjejaring dan berkolaborasi.
Adapun aspek Ideas tampak pada gagasan yg kerap diterapkan sebagai purwarupa solusi bagi beragam isu perkotaan.
“Karakter ini jelas tidak lepas dari peran budaya literasi, kegemaran mengeksplorasi sekaligus menciptakan karya literatur dalam berbagai bentuk, bahkan mengujikannya dalam berbagai event, workshop, hingga urban games,” sambung Tita.
Sebab itu, Tita percaya bahwa diselenggarakannya #patjarmerahXBRF di Bandung merupakan hal yang dinanti, “karena akan memperluas wawasan, serta mempererat persahabatan warga, komunitas dan para pelaku dalam ekosistem kota kreatif.”
Dukungan lainnya datang dari Integrated Arts (IA) Fakultas Filsafat Unpar, tuan rumah.
Elaine VB Kustedja dan Tri Joko Her Riadi, keduanya pengajar di IA Unpar, mengatakan bahwa gelaran #patjarmerahXBRF sejalan dengan kegiatan MBKM Seni “ARTSPERIMENT: Dengung” yang juga tengah diselenggarakan di Unpar berbarengan dengan #patjarmerahXBRF.
“MKBM Seni ‘ARTSPERIMENT: Dengung’ diniatkan sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi potensi tanpa terkurung oleh pengelompokan bidang ilmu. Yang justru harus banyak dilahirkan adalah interaksi, integrasi, dan kolaborasi. Di Integrated Arts Fakultas Filsafat Unpar, kami mengupayakannya dengan tetap menghidupi inklusivitas dan humanitas. Irisan nilai-nilai seperti inilah yang juga kami temukan dalam kerja-kerja patjarmerah di jagat literasi.”
Selama 10 hari, PatjarMerahXBRF akan diisi puluhan kegiatan, mulai dari lokakarya, diskusi, pemutaran film, taaruf buku, dan lain-lain. Beberapa pengisi acara pada kegiatan sarat kolaborasi ini antara lain Ahda Imran, Alexander Thian, Aliyuna Pratisti, Arbain Rambey, Atep Kurnia, Beni Satryo, Budi Warsito, Darpan, Dicky Senda, Dhianita Kusuma Pertiwi, Feby Indirani, Hawe Setiawan, Irfan Hidayatullah, Ivan Lanin, Gandhi Eka (Supergunz), Jim Supangkat, , Kamal Ocon, Maradilla Syachridar, Marrysa Tunjung Sari, Ni Made Purnama, Papermoon Puppet Theatre, Puty Puar, Reda Gaudiamo, Sundea Salamatahari, Syahid Muhammad, Topik Mulyana, Yusi Avianto Pareanom, Zaky Yamani, Zulfa Nasrulloh, dan lain-lain.
Sedangkan beberapa komunitas yang dipastikan turut meramaikan kegiatan ini antara lain ASAS UPI, Asia Africa Reading Club (AARC), Braga Heritage, Cerita Bandung, CSWC, Forum Lingkar Pena, Klub Literasi Aminul Ummah, Manjing-manjang, Pasar Biru, dan lain-lain.
Info lengkap mengenai #patjarmerahXBRF dapat dilihat di akun Instagram @patjarmerah_id dan @bdgreadresfest.