Di sela waktu menunggu pembeli dagangan batagornya, Asep Ardian menceritakan sesuatu yang pelan-pelan mengubah hidupnya. Novelnya, Oni Jouska, yang masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, tidak lahir dari ruang akademik atau dunia sastra yang mapan, melainkan dari kejenuhan, percakapan, dan kegelisahan yang terus menumpuk.
Pertama-tama, saya mau tanya soal latar belakang Kang Asep Ardian, gimana ceritanya dari jualan batagor bisa sampai menulis novel Oni Jouska?
Saya Asep Ardian, lahir di Bandung di daerah Sukahaji. Dari keluarga ibu atau ayah nggak ada yang sarjana. Aku pun dari SMP itu sampai mau lulus nggak ada kepikiran mau kuliah. Malahan pas udah lulus SMP, Bapak bilang, “Udah jangan sekolah aja.” Tapi aku bilang, “Aku pengen sekolah, Pak, dimana aja yang penting sekolah.”
Dulu Bapak mikirnya, saya tuh udah ditargetin jualan aja. Aku pengennya lulus sekolah, jadi disekolahin di yang paling murah di daerah Majalaya, LPPM RI Majalaya. Sekolah masuk SMK jurusan pemesinan, mesin industri.
Dari SMK sana juga belum kenal bacaan, cuma ada satu temenku namanya Joni, jadi dipanggilnya Oni—dan sekarang itu jadi nama novelku. Dia tuh sering nulis di blog. Aku baca, wah menarik nih tulisan-tulisannya.
Singkat cerita, aku jualan batagor sama Bapak Kadir. Dari Bapak Kadir inilah ada kejenuhan. Merasa nggak berguna hidup itu. Sering ngobrol sama guru ngaji, nanya-nanya soal kejenuhan ini.
“Ya sudah, kamu baca saja, Sep. Orang yang beruntung itu orang yang bisa memanfaatkan waktu.” Nah, dari sanalah mulai baca.
Buku apa yang dulu pertama kali dibaca?
Buku How To Win Friends and Influence People. Bukunya mengajarkan sesuatu dengan tidak mengajarkan, tapi menceritakan sejarah dari tokoh-tokoh yang lalu. Dari sana mulai juga baca buku-buku fiksi. Saya baca buku apa saja karena dulu banyak waktu luang.
Nah, dari banyak baca itu muncul lagi kejenuhan. Ini tuh baca buat apa? Dari sana jugalah muncul pikiran untuk mending nulis aja.
Banyak baca itu muncul kejenuhan. Ini tuh baca buat apa? Dari sana jugalah muncul pikiran untuk mending nulis aja.
— Asep Ardian
Apakah sempat menetap dan berkumpul di Depok?
Enggak, jadi via WhatsApp Group. Dari sanalah saya banyak dapat ilmu-ilmu soal literasi. Banyaklah mindset berubah jadi berani. Termasuk membuka cabang batagor. Alhamdulillah, sekarang batagor ada 4 cabangnya. Dari sana juga kepikiran untuk bikin novel.
Singkat cerita, saya cari-cari komunitas lagi. Dikenalin lah saya sama CSWC. Jadi saya itu memang belajar jadi pemulung, dari komunitas ke komunitas.
Apa yang pertama kali memunculkan ide cerita Oni Jouska? Apakah berangkat dari kegelisahan tertentu tentang manusia atau tentang kondisi lingkungan laut?
Utamanya mau curhat. Jadi ingin melepaskan keresahan, tapi merasa terlalu egois dulu tuh kalau pukulannya terlalu ke diri sendiri. Makanya keresahan itu tuh dituangin jadi remora-remora.
Kalau ide utamanya Oni Jouska itu kan tentang ekologi, itu berangkat dari keresahan di kampung halaman. Nenek itu asli Garut, di daerah pantai. Seiring berjalannya waktu, di sungai-sungai yang sebelumnya kita bisa berenang jadi nggak bisa, karena banyak sampah.
Setelah dipikir-pikir, ternyata jarang banget novel di Indonesia tuh yang ngebahas soal ekologi, soal laut. Dari sanalah saya coba bahas, tapi dari sudut pandang ikan.
Mengapa memilih ikan remora sebagai tokoh utama? Apakah ada makna simbolik tertentu?
Ya, ini salah satu kritik sosial di lingkungan, bahkan ke diri sendiri juga—kadang kita tuh ga mau bertumbuh. Banyak orang yang lebih memilih menempel pada orang lain, pada gelar, pada kekuasaan.
Makanya, buat mengingatkan diri sendiri, saya buatlah karakter Oni yang dia nggak mau kayak remora lain, lalu memilih untuk lebih baik kabur daripada menempel di ikan pari itu.
Jarang banget novel di Indonesia yang ngebahas soal ekologi, soal laut. Dari sanalah saya coba bahas, tapi dari sudut pandang ikan.
— Asep Ardian, tentang kelahiran Oni Jouska
Oni digambarkan sebagai remora yang cacat dan terasing dari komunitasnya. Apakah kondisi ini dimaksudkan sebagai metafora?
Itu jadi salah satu curhatan ya. Kadang kita itu suka membanding-bandingkan diri sama orang lain. Kenapa orang itu dilahirkan sama orang tua yang kaya sehingga dia bisa kuliah?
Nah, jadi salah satu penyemangat juga gitu karakter Oni. Bahwa apa pun kekurangannya, kita tuh masih bisa memperjuangkan sesuatu; harus menerima takdir lah.
Dalam novel ini ada konflik antara klan Denaya dan klan Dustha. Apakah konflik tersebut sebagai gambaran cara berbeda makhluk merespons ancaman?
Di semesta Oni itu aku nggak ngegambarin ada yang jahat, ada yang baik, gak hitam putih di sini. Si Denaya ingin melindungi lautan dengan caranya. Si Dusta ingin melindungi lautan, tapi dengan caranya juga. Jadi aku ngegambarin di sini hewan-hewan tuh enggak sejahat manusia.
Tokoh Salik tampak seperti figur guru atau mentor. Apakah memang dirancang demikian?
Salah satu alasannya karena saya mendalami sufistik juga, thoriqoh. Lambang dari thoriqoh itu lambang 3 ikan. Namanya Salik ini artinya ikatan antara guru sama murid. Nah, dalam sufisme juga gitu, seorang murid itu harus nurut sama mursyidnya.
Aku mengingatkan juga ke diri sendiri: semandiri-mandirinya kita di dunia, tetap harus ada pembatas atau pembimbing. Meskipun kita mampu untuk berjuang sendirian, tetap harus ada pegangan untuk mengarahkan.
Banyak bagian di novel ini yang terasa seperti perenungan filosofis. Apa rujukan atau buku landasan dalam menulis Oni Jouska?
Buku Fihi ma Fihi. Fihi ma Fihi itu kumpulan ceramah Jalaluddin Rumi dan mungkin jadi yang paling membekas. Kalau ditanya, buku apa pemantiknya, ya, buku itu banyak menyentil.
Semandiri-mandirinya kita di dunia, tetap harus ada pembatas atau pembimbing. Walaupun sudah menjelajah dan merasa hebat, kita harus tetap punya satu pegangan untuk mengarahkan.
— Asep Ardian, tentang sufisme dalam Oni Jouska
Apa pesan yang paling ingin ditekankan melalui perjalanan Oni?
Terus bergerak dan terus belajar. Oni ini tidak merasa pasrah dengan keadaan. Karena mengerikan jadi orang yang merasa cukup dan stagnan. Dan itu jadi salah satu alasan untuk terus membaca dan belajar—aku gak mau ketika tua jadi menyebalkan.
Tapi aku pengen nekenin: terus bergerak dan bertumbuh. Jangan pernah merasa cukup.
Terus bergerak dan terus belajar. Jangan pernah merasa cukup.
— Asep Ardian, pesan dari novel Oni Jouska
Wawancara oleh Carmen Boullosa* bersama Roberto Bolaño (Dipublikasikan pertama kali di Bomb, Brooklyn, Winter 2002)
dialihbahasakan oleh Adam Sudewo
Carmen Boullosa
Di Amerika Latin, terdapat dua tradisi kesusastraan yang oleh kebanyakan pembaca, keduanya dianggap sebagai antitesis, yang berlawanan—atau sejujurnya, justru bermusuhan: yang fantastis—Adolfo Bioy Casares, yang terbaik setelah Cortázar, dan yang realis—Vargas Llosa, Teresa de la Parra. Tradisi kesusastraan tersebut seakan memberitahu kita bahwa bagian selatan Amerika Latin adalah rumah bagi yang fantastis, sedangkan bagian utara adalah pusat realisme. Bagiku, kau menuai nilai dari keduanya: novel dan narasimu adalah sebuah penemuan—yang fantastis—dan sangat tajam, sebuah refleksi kritis dari realitas—yang realis. Dan jika merujuk pada gambaran ini, faktanya kau memang hidup di dua sudut geografis Amerika Latin, Chili dan Meksiko. Kau tumbuh di dua tempat tersebut. Apa kau keberatan dengan gambaran ini, atau justru malah menjadi sesuatu yang menarik bagimu? Sejujurnya, hal tersebut membuatku sumringah ketika memikirkannya, tapi di sisi lain juga membuatku tidak puas: Yang terbaik, para penulis terbaik (termasuk Bioy Casares dan antitesisnya, Vargas Llosa) selalu menggali sesuatu dari dua tradisi tersebut. Namun dari sudut Amerika Utara-Berbahasa-Inggris, ada sebuah tendensi untuk mengelompokkan sastra Amerika Latin menjadi tradisi tunggal.
Roberto Bolaño
Aku pikir, para penulis realis berasal dari selatan (maksudku, dari negara-negara di Kerucut Selatan), dan penulis fantastis berasal dari bagian tengah dan utara Amerika Latin, jika kau memperhatikan kompartementalisasi ini, yang seharusnya tak perlu kau lakukan, dalam keadaan apa pun, dianggap serius. Sastra Amerika Latin abad duapuluh telah mengikuti dorongan peniruan dan penolakan, dan mungkin akan terus berlanjut sampai abad duapuluh satu. Seperti halnya, manusia meniru dan menolak sesuatu yang besar, bukan yang kecil dan nyaris tak terlihat. Kita memiliki sangat sedikit penulis yang mengembangkan tradisi fantastis dalam arti tertentu—atau mungkin tidak ada sama sekali, sebab antara lain, ekonomi yang berkembang tak memungkinkan sebuah sub-genre berkembang. Hal seperti itu hanya memungkinkan bagi karya sastra hebat. ‘Karya yang lebih rendah’, dalam lanskap monoton dan apokaliptik ini, merupakan kemewahan yang tak terjangkau. Tentu saja—bukan berarti kesusastraan kita dipenuhi dengan karya-karya hebat, bahkan sebaliknya.
Pada mulanya, penulis mengimpikan dirinya memenuhi harapan macam ini, tapi kemudian realitas yang sama, yang telah mendorong tekad mereka— pada akhirnya menjegal karya final mereka. Aku pikir, hanya ada dua negara dengan tradisi sastra otentik yang kadang berhasil lolos dari nasib buruk tersebut— Argentina dan Meksiko. Terkait tulisan-tulisanku, aku tak tahu apakah mereka masuk ke dalam yang fantastis atau yang realis. Mereka adalah yang realis, pikirku. Namun, aku ingin menjadi penulis fantastis seperti Philip K. Dick, meskipun pada akhirnya, ketika aku semakin tua, Dick nampak semakin realis bagiku. Sejujurnya, dan kupikir kau akan sependapat denganku, pertanyaannya adalah bukan soal perbedaan fantastis atau realis melainkan cara keduanya dalam menggunakan bahasa dan membangun stuktur, juga cara bagaimana mereka melihat sesuatu. Aku tak tahu bahwa kau sangat menyukai Teresa de Parra. Banyak orang membicarakannya ketika aku di Venezuela. Dan tentu saja, aku belum pernah membaca karya-karyanya.
Carmen Boullosa
Teresa de la Parra adalah salah satu perempuan penulis terbaik, atau bahkan penulis terbaik, dan kau akan menyepakati itu ketika membacanya. Jawabanmu sepenuhnya mendukung gagasan bahwa terdapat arus listrik yang mengalir secara serampangan di kesusastraan Amerika Latin. Aku tak akan mengatakan arus itu cukup lemah, sebab secara tiba-tiba ia memercikkan api yang menyala dari satu ujung benua ke ujung lainnya, meski pun hanya sesekali. Tapi, kita tak sepenuhnya percaya pada kanon sastra. Semuanya jelas abriter, tentu saja. Ketika aku berpikir tentang bagian selatan (Kerucut Selatan dan Argentina), aku berpikir tentang Cortázar, cerita-cerita (igauan) Silvina Ocampo, Bioy Casares, dan Borges (ketika kau dihadapkan dengan para penulis ini, yang terbaik dan yang terburuk tidak begitu berarti: Tidak ada nomor satu, sebab mereka adalah penulis yang sama pentingnya), dan aku memikirkan novel pendek nan buram karya María Luisa Bombal, House of Mist (yang lebih dikenal justru karena ia membunuh mantan kekasihnya). Aku akan menempatkan Vargas Llosa dan yang terbaik de la Parra untuk bagian Utara.
Tapi kemudian segalanya menjadi rumit, sebab ketika kau merapat lebih jauh ke Utara, kau akan menemukan Juan Ruflo, dan Elena Garo dengan A Solid Home (1958) dan Recollections of Things to Come (1963). Semuanya jelas abriter: Tak ada realisme tanpa fantasi, dan sebaliknya. Dalam cerpen dan novelmu, juga puisimu, pembaca dapat mendeteksi adanya upaya ‘balas dendam’ (serta kehormatan yang mesti dibayar tuntas) yang merupakan bagian penting dalam struktur bangunan naratifmu. Aku tak bermaksud mengatakan bahwa karyamu ditulis dalam kode tertentu, tapi kunci narrative chemistry mungkin terletak pada bagaimana caramu memadukan kebencian dan cinta dalam peristiwa yang kau ceritakan. Sesungguhnya, bagaimana cara kerja seorang Roberto Bolaño dalam hal tersebut?
Roberto Bolaño
Aku tak percaya dengan adanya upaya balas dendam dalam tulisanku dibanding dalam halaman-halaman buku penulis lain. Aku akan menanggung resiko yang berlebihan (yang mungkin telah kulakukan dalam beberapa waktu), bahwa ketika aku menulis satu-satunya hal yang menarik bagiku adalah tulisan itu sendiri; yaitu bentuk, ritme, dan juga plot. Aku menertawakan beberapa sikap yang melekat pada diri sebagian orang, pada segala aktivitas dan hal-hal penting dalam arti tertentu. Hanya karena kau dihadapkan dengan omong kosong macam itu, oleh egoisme yang mendarah daging, kau tak punya pilihan lain selain menertawakannya. Semua kesusastraan, dalam arti tertentu, bersifat politis.
Maksudku, pertama, ia merupakan relfeksi dari politik. Kedua, ia juga bagian dari agenda politis. Pada poin pertama, ia menyinggung realitas—pada mimpi indah maupun buruk realitas itu sendiri—yang mana dalam dua kasus tersebut tak hanya berakhir dengan kematian dan penghancuran kesusastraan, melainkan juga kematian dan penghancuran waktu. Dan yang terakhir mengacu pada serpihan-serpihan yang bertahan, yang tetap gigih, untuk tetap menggunakan akal sehat. Meskipun, tentu saja kita tahu bahwa dalam skala manusia, kegigihan adalah ilusi dan akal sehat hanyalah pagar rapuh yang membatasi kita agar tidak terpelosok dalam jurang.
Tapi hiraukan yang baru saja kukatakan. Aku kira, alasan seseorang menulis adalah karena sensitivitas, itu saja. Dan mengapa kau menulis? Kau tak perlu menjawabnya—Aku yakin jawabanmu lebih tepat dan meyakinkan daripada jawaban yang kuucapkan.
Carmen Boullosa
Baiklah, aku tak akan menjawabnya, dan itu bukan karena jawabanku lebih meyakinkan. Tapi akan kukatakan, jika ada alasan mengapa aku tidak menulis, itu terjadi di luar sensitivitas. Bagiku, menulis berarti membenamkan diri dalam medan perang, mengiris perut, bersaing dengan sisa-sisa mayat, kemudian menjaga medan perang agar tetap utuh, tetap hidup. Dan bagiku, apa yang kau sebut upaya ‘balas dendam’ tampaknya jauh lebih ganas dalam tulisanmu dibanding banyak penulis Amerika Latin lainnya.
Di mata pembaca, seringaimu lebih dari sakadar isyarat; jauh lebih mengikis—semacam kerja penghancuran secara perlahan. Di buku-buku yang kau tulis, esensi bekerja dengan cara klasik: sebuah dongeng, sebuah fiksi yang menyeret pembaca masuk ke dalam cerita dan di saat bersamaan membuat mereka menjadi kaki-tangan dalam membongkar peristiwa di latar yang kau ceritakan dengan penuh keteguhan sebagai novelis.
Tapi mari biarkan hal itu sejenak. Tak ada seorang pun yang telah membaca karyamu meragukan tekadmu dalam menulis. Ini menjadi hal pertama yang mampu menarik pembaca. Siapa pun yang ingin menemukan sesuatu selain tulisan dalam sebuah buku—semisal, rasa memiliki, atau keinginan menjadi bagian dari sebuah klub atau komunitas tertentu—tidak akan menemukan kepuasan macam itu dalam novel dan cerita yang kau tulis. Dan ketika aku membaca karya-karyamu, aku tak melihat adanya masa lalu, kau menceritakan kembali periode saat ini di seluruh pojok dunia. Hanya sedikit penulis yang berhasil melibatkan pembaca sebaik yang kau lakukan bersamaan dengan pandangan konkret yang tak berdaya, sebuah kalimat statis di tangan pengarang realis. Jika kau termasuk dalam tradisi seperti itu, lantas tradisi sastra macam apa kau menyebutnya? Di mana letak pohon tradisi sastramu, dan ke arah mana ranting-rantingnya akan tumbuh?
Roberto Bolaño
Sebenarnya, aku tidak terlalu percaya pada dunia tulis-menulis. Dimulai dari diriku sendiri. Menjadi seorang penulis adalah hal yang menyenangkan—tidak, ‘menyenangkan’ bukan kata yang tepat—menulis adalah aktivitas yang menghimpun momen-momen menyenangkan, tapi aku tahu hal-hal lain yang bahkan lebih menyenangkan, sebagaimana sastra selalu menghiburku. Merampok bank, misalnya. Atau mensutradarai film. Atau menjadi seorang gigolo. Atau menjadi anak kecil lagi dan bermain sepakbola di tim yang apokalips. Sayangnya, kelak anak kecil tumbuh dewasa, perampok bank terbunuh, sutradara jatuh miskin, gigolo sakit-sakitan dan sebab itu tak ada pilihan buatku selain untuk menulis.
Bagiku, kata writing adalah kebalikan dari kata waiting. Alih-alih menunggu, aku memilih untuk menulis. Yah, mungkin aku salah—mungkin saja writing adalah bentuk lain dari waiting, keduanya seakan berupaya untuk menunda sesuatu. Aku ingin berpikir sebaliknya, tapi seperti yang kukatakan, aku mungkin salah. Terkait pikiranku tentang kanon sastra, entahlah, itu terlihat seperti pikiran orang lain, aku hampir saja malu untuk memberitahumu tentang ini, dan semuanya sangatlah jelas: Francisco de Aldana, Jorge Manrique, Cervantes, para penulis sejarah Hindia, Sor Juana Inés de la Cruz, Fray Servando Teresa de Mier, Pedro Henríquez Ureña, Rubén Darío, Alfonso Reyes, Borges hanya beberapa nama penulis yang menulis dalam bahasa Spanyol.
Tentu saja, aku ingin menentukan sejarah dan tradisi kesusastraan yang sangat singkat, yang hanya terdiri dari dua atau tiga penulis (dan mungkin hanya dari sebuah buku). Tradisi kesusastraan yang memikat rentan terhadap amnesia, namun di sisi lain aku terlalu sederhana mengenai karyaku dan juga pada hal lainnya. Aku telah membaca banyak buku (dan banyak pula buku yang membuatku bahagia) untuk menikmati pikiran konyol macam itu.
Carmen Boullosa
Bukankah terdengar ceroboh ketika kau menyebut beberapa penulis pendahulumu yang hanya menulis dalam bahasa Spanyol? Apakah kau termasuk dalam tradisi sastra Hispanic, dalam arus yang terpisah dari bahasa lain? Jika sebagian besar sastra Amerika Latin (terutama prosa) terlibat dialog dengan tradisi kesusastraan lainnya, maka hal itu benar adanya menurut apa yang sudah kau lakukan.
Roberto Bolaño
Aku menyebut penulis yang menulis dalam bahasa Spanyol untuk membatasi kanon. Tak perlu dikatakan, aku bukanlah monster nasionalis yang hanya membaca apa yang telah dihasilkan negaranya. Aku tertarik dengan kesusastraan Perancis dan Pascal—yang dapat meramalkan kematiannya, dan dalam perjuangannya melawan kesepian, bagiku tampak lebih mengagumkan saat ini dibanding sebelumnya. Atau kenaifan utopis Fourier. Dan semua prosa, yang ditulis anonim, dan ditulis beberapa penulis tradisi lama yang sopan (sebagian merupakan Mannerist dan sebagian lagi ahli anatomi) yang entah bagaimana menuju gua tak berujung Marquis de Sade.
Aku juga tertarik dengan kesusastraan Amerika tahun 1880-an, terutama Mark Twain dan Melville, juga puisi-puisi Emily Dickinson dan Whitman. Sebagai seorang remaja, aku pernah melewati fase di mana aku hanya membaca Poe. Pada dasarnya, aku sangat tertarik pada kesusastraan Barat, dan aku cukup akrab dengan karya-karya mereka.
Carmen Boullosa
Kau pernah melewati fase hanya dengan membaca Poe? Aku pikir Poe menulari generasi kita layaknya virus—dia adalah idola kita semua, dan aku dapat melihat dengan mudah bahwa kau juga tertular virus itu. Namun, aku membayangkanmu sebagai seorang penyair, dan aku ingin beralih pada narasi yang kau tuliskan.
Apakah sebelum menulis cerita kau memilih plot, atau apakah plot yang kemudian mengikuti ceritamu? Bagaimana caramu memilih plot—atau bagaimana cara plot memilihmu? Dan jika keduanya kurang tepat, lalu apa yang sebenarnya terjadi? Seseorang yang mengajari Pinochet marxisme, krtikus sastra Chili (Sebastián Urrutia Lacroix, seorang pendeta dan anggota Opus Dei), atau tabib yang mempraktikkan mesmerisme, atau penyair muda yang dikenal sebagai Savage Detectives—semua karaktermu memiliki keterkaitan dengan sejarah. Mengapa demikian?
Roberto Bolaño
Ya, plot adalah hal yang aneh. Setidaknya aku percaya, meskipun terdapat beberapa pengecualian, bahwa pada saat tertentu sebuah cerita akan memilih penulisnya dan ia tak akan membiarkan penulis berada dalam perasaan damai. Untungnya, hal itu tidak menjadi begitu penting mengingat bentuk dan struktur selalu menjadi milik penulis sendiri, dan—sebab, tanpa bentuk dan struktur, tak akan pernah ada buku, atau setidaknya dalam beberapa kasus itulah yang terjadi.
Sekarang, katakanlah cerita dan plot muncul secara kebetulan, bahwa mereka berada di ranah kemungkinan, yaitu sesuatu yang goyah, ketidakberaturan, atau ke ranah yang bergerak mendekati kekacauan (bahkan hampir apokaliptik). Bentuk, di sisi lain, adalah pilihan yang dibuat melalui kecerdasan, kelicikan, dan keheningan, semua itu digunakan Ulysses dalam pertempurannya melawan kematian. Bentuk mencari kecerdasan; sedangkan cerita mencari jurang. Atau seperti metafora di pedesaan Chili (yang buruk, seperti yang akan kau dengar): Bukan berarti aku tak menyukai tebing jurang, tapi aku lebih suka melihatnya dari jembatan.
Carmen Boullosa
Perempuan penulis terus-menerus terganggu dengan pertanyaan ini, tapi aku tak bisa menahan diri untuk tidak menanyakannya padamu—jika hanya karena terus-menerus dipertanyakan, aku menganggapnya sebagai semacam ritual yang tak terhindarkan sekaligus tak menyenangkan: Berapa banyak muatan materi otobiografi dalam karya-karya yang kau tulis? Sejauh mana potret diri itu dituliskan?
Roberto Bolaño
Potret diri? Tak begitu banyak. Potret diri membutuhkan egoisme tertentu, ketersediaan untuk melihat diri sendiri secara berulang, sebuah ketertarikan yang nyata pada dirimu saat ini dan dirimu di masa lalu. Kesusastraan penuh dengan otobiografi, sebagian ditulis sangat baik, tapi potret diri cenderung kebalikannya, termasuk potret diri dalam puisi, yang pada mulanya tampak menjadi genre yang cocok untuk potret diri ketimbang prosa.
Apakah karya-karyaku termasuk otobiografi? Dalam arti tertentu, bagaimana tidak? Setiap karya, termasuk epik, dalam beberapa hal memuat otobiografi. Dalam Iliad kita akan mempertimbangkan dua aliansi dari sebuah kota, tetapi di sisi lain kita juga mempertimbangkan nasib Achilles, Priam, dan Hector. Dan tokoh-tokoh ini, suara-suara individu ini, mencerminkan suara kesendirian dari pengarangnya.
Carmen Boullosa
Ketika menjadi penyair muda dan tinggal di kota yang sama (Kota Meksiko tahun tujuh puluhan), kau adalah pemimpin dari sekelompok penyair muda yang menyebut diri mereka sebagai Infrarealis, dan mereka telah menjadi mitos dalam The Savage Detectives. Ceritakan sedikit tentang arti puisi bagi kaum Infrarealis, tentang Kota Meksiko sebagai kota Infrarealis.
Roberto Bolano
Infrarealis adalah sejenis Dada a la Meksiko. Di sana terdapat banyak orang, bukan hanya penyair, tapi juga pelukis, terutama pengangguran dan parasit, yang menggap diri mereka Infrarealis. Faktanya, Infrarealis hanya memiliki dua anggota, aku dan Mario Santiago. Kami berdua pergi ke Eropa pada tahun 1977. Suatu malam, di Rosellón, Perancis, di stasiun kereta api Port-Vendres (dekat Perpignan), setelah berpetualang dan mengalami beberapa kesialan, kami memutuskan bahwa pergerakan Infrarealis telah berakhir.
Carmen Boullosa
Mungkin, bagimu Infrarealis telah berakhir, tapi bagi kita, ingatan itu akan tetap hidup. Kalian berdua adalah teror bagi dunia kesusastraan. Saat itu, aku adalah bagian dari kerumunan yang serius—duniaku begitu terputus-putus dan tak berbentuk sehingga aku membutuhkan sesuatu yang aman untuk digenggam. Aku menyukai sifat seremonial pembacaan puisi, peristiwa-peristiwa absurd penuh ritual yang semuanya hampir aku ikuti, dan kau datang sebagai pengganggu pertemuan-pertemuan itu.
Sebelum pembacaan puisi pertamaku di toko buku Ghandi tahun 1974, aku berdoa pada Tuhan—bukan berarti aku benar-benar percaya pada Tuhan, tetapi aku membutuhkan sesuatu untuk digenggam, dan kemudian memohon: Tolong, jangan biarkan Infrarealis datang. Aku tak memiliki keberanian membacakan puisiku di tempat umum, tetapi kecemasan yang muncul dari rasa maluku tak sebanding dengan kepanikan yang kurasakan saat berpikir aku pasti akan dicemooh: Saat membaca puisi itu, Infrarealis mungkin akan berteriak padaku dan menyebutku sebagai idiot. Dan kau berada di sana seolah untuk meyakinkan dunia kesusastraan bahwa kita tak boleh terlalu serius atas sesuatu yang tak begitu serius—dan dengan puisi (bertentangan dengan pepatah Chili yang kau katakan), yang tepat adalah segera melemparkan dirimu sendiri ke jurang.
Tapi biarkan percakapan kita kembali pada Bolaño dan karya-karyanya. Kau memfokuskan diri pada narasi cerita—aku tak bisa membayangkan ada seseorang yang menyebut novelmu sebagai novel liris—namun faktanya, kau juga penyair, seorang penyair aktif. Lalu bagaimana caramu menyesuaikan keduanya?
Roberto Bolaño
Nicanor Parra mengatakan bahwa novel terbaik ditulis dalam metrum. Dan Harold Bloom mengatakan bahwa puisi terbaik abad duapuluh ditulis dalam bentuk prosa. Aku sepakat dengan keduanya. Tapi di sisi lain, sulit untuk mengatakan bahwa diriku adalah seorang penyair aktif. Dalam pemahamanku, seorang penyair aktif adalah seseorang yang terus-menerus menulis puisi. Aku mengirim puisi terbaru yang kutulis padamu dan khawatir itu menjadi puisi yang buruk, meskipun tentu saja dengan sedikit pertimbangan dan kebaikan, kau mengatakan hal lain. Entahlah. Ada sesuatu tentang puisi. Apa pun masalahnya, yang berarti dari puisi adalah ketika kita tetap membacanya. Bukankah membaca puisi lebih berarti daripada menuliskannya? Karena faktanya, membaca selalu lebih berarti daripada menulis.
*Carmen Boullosa, penyair asal Mexico.
Sejak 2006, pemerintah Indonesia lewat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi rutin menawarkan Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (Developing Countries Partnership / KNB). Seperti namanya, sasaran beasiswa ini adalah para pelajar internasional dari negara-negara berkembang yang mau mengejar gelar Magister (juga Sarjana) di Indonesia. Saat ini, ada 53 program yang ditawarkan beasiswa ini, mulai dari Administrasi Publik hingga Teknik Informatika di 19 kampus terbaik di Indonesia.
Beasiswa KNB lahir dari kesadaran perlunya menyediakan beasiswa bagi pelajar dari negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB)—hal yang tercetus pasca Konferensi Kepala Negara GNB ke-10 tahun 1992. Setahun berikutnya, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka program Magister untuk pelajar dari negara anggota GNB. Namun seiring perkembangan waktu, kata GNB tak relevan lagi sebab beasiswa yang sama juga diberikan kepada pelajar dari negara-negara berkembang non-anggota GNB. Sejak itulah muncul beasiswa KNB.
Penerima beasiswa KNB, tak sedikit merupakan mahasiswa pascasarjana dari Benua Afrika, akan mengikuti program KNB selama tiga tahun: satu tahun pertama dihabiskan untuk mempelajari bahasa Indonesia atau mengikuti program BIPA; dua tahun berikutnya barulah melanjutkan pendidikan magister.
Kali ini, saya berkesempatan mewawancarai tiga mahasiswa dari tiga negara berbeda, yakni Taiwo (Nigeria), Baltazar (Burundi), dan Lansana (Sierra Leone). Jika Taiwo sudah menyelesaikan perkuliahannya, Lansana masih mengikuti perkuliahan, Baltazar justru baru akan mengikuti perkuliahan.
Kami berbincang tentang pendidikan dan rasisme di Indonesia. Berikut petikannya.
Apakah kamu sudah mengetahui Indonesia sebelum mengikuti program KNB?
Taiwo: Sebelumnya, saya tidak tahu Indonesia. Saya bahkan tidak tahu letak Indonesia karena di negara saya, Nigeria, negara paling terkenal untuk melanjutkan kuliah di luar negeri adalah Inggris. Jadi, saya sama sekali tidak tahu ada negara bernama Indonesia. Dan setelah tahu Indonesia, saya merasa takut karena banyak orang putih dan saya hitam sendiri.
Baltazar: Ya, saya sudah tahu Indonesia sebelum saya mengikuti program KNB karena teman saya memberikan rekomendasi agar saya mengikuti program ini. Jadi, saya tahu Indonesia dari teman saya. Dia lebih dulu mengikuti program KNB di Indonesia.
Lansana: Saya tidak begitu tahu Indonesia, tapi setelah saya ikut seleksi program KNB saya mencari tahu banyak hal tentang Indonesia.
Menurutmu, bagaimana pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan pendidikan di negaramu?
Taiwo: Pendidikan di Indonesia bagus, tapi kadang-kadang saya bingung karena pakai bahasa Indonesia. Bagusnya karena ketika saya belajar di kelas, banyak kesempatan untuk berpraktik. Salah satu contohnya yaitu kadang-kadang saya diberi tugas membuat video tentang beberapa teknik konseling yang saya pelajari di kelas (saya belajar di Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia).
Di negara saya semuanya menggunakan bahasa Inggris, tapi menulis artikel dan mempublikasikan artikel di seminar bukan salah satu syarat kelulusan. Kami juga tidak melaksanakan dua tahapan sidang saat kelulusan, jadi hanya satu kali saja.
Baltazar: Pendidikan di Indonesia lebih bagus dibandingkan dengan negara saya karena di sini banyak fasilitas yang bagus untuk belajar, dosen-dosen yang bagus dalam mengajar, dan gedung-gedung perkuliahan di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) juga sangat bagus dibandingkan gedung perkuliahan di negara saya.
Tapi, saya belum tahu bagaimana proses perkuliahan karena saya baru akan memulai perkuliahan pada bulan September. Jadi, saya baru punya pengalaman selama belajar BIPA sepuluh bulan belakangan.
Lansana: Sistem pendidikan di Indonesia sudah maju dan bagus. Pendidikannya hampir sama dengan di negara saya, tapi ada perbedaan dalam materi penyajian presentasi dan fasilitas internet di UNPAR lebih bagus dibandingkan dengan negara saya.
Apakah Indonesia termasuk salah satu negara yang rasis?
Taiwo: Ketika datang ke Indonesia, beberapa teman saya takut karena melihat bagaimana orang Papua diperlakukan di sini seperti orang jahat.
Baltazar: Menurut saya tidak, karena saya belum pernah punya pengalaman rasis di negara ini. Namun, tetap saja saya merasa berbeda karena di sini banyak orang yang berkulit putih, lain dengan saya. Beberapa teman saya bilang, kulit saya seperti orang Papua tapi saya belum pernah bertemu dengan mereka sehingga saya belum merasa mirip dengan mereka.
Lansana: Ada beberapa orang yang bertindak rasis terutama terhadap orang berkulit hitam dari Afrika.
Apakah Anda pernah mengalami perlakuan rasis di Indonesia?
Taiwo: Ya, pernah. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidup saya yang terjadi pada tahun 2017-2018. Kadang-kadang, ketika saya pergi beberapa orang menertawakan saya di belakang, dan saya bisa melihat mereka menertawakan saya. Mereka seperti mengejek saya tapi saya tidak tahu kenapa alasannya. Saya tidak peduli. Saya hanya pergi saja ke tempat yang ingin saya datangi and I tell myself I’m beautiful the way I am.
Saya selalu takut ketika pergi ke luar dan kadang-kadang saya menangis. Saya takut ketika pergi ke mall, tapi sekarang saya baik-baik saja. Tindakan rasis itu sangat buruk. Sekarang saya sudah merasa tidak terganggu lagi karena sudah menjadi hal yang biasa. Saya selalu pergi bersama dengan teman, tidak berani pergi sendiri. Dan ketika pergi bersama dengan teman, saya tidak peduli lagi dengan hal itu.
Kasus ini pun tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga di beberapa negara. Teman saya bercerita jika dia sangat kesusahan menjalin hubungan dengan orang kulit putih.
Baltazar: Ketika saya ke bank atau ke mall, saya tidak pernah mendapatkan perlakuan rasis. Namun, ketika ada anak-anak kecil mereka selalu menertawakan saya, dan saya tidak peduli. Mungkin karena mereka masih kecil jadi mereka belum mengerti perbedaan saya dengan mereka.
Lansana: Awal semester 2019, perkuliahan saya diadakan di kampus Jalan Merdeka dan kosan saya di Ciumbuleuit. Saya merasa jarak sedikit jauh karena harus naik kendaraan umum. Lalu saya mencari kosan baru dan menemukan yang cocok. Waktu itu akhir bulan, saya memindahkan barang-barang saya dari kosan lama ke kosan baru.
Dua hari kemudian, pemilik kosan baru mengabari teman saya bahwa kosannya tidak jadi disewakan kepada saya dan saya harus mengambil kembali barang-barang. Saya menanyakan alasannya apa, pemiliknya bilang ia tidak menyewakan kamar untuk orang asing. Tapi saat teman saya tanya, apakah dia bisa sewa kosan, pemiliknya menjawab bisa. Padahal teman saya berasal dari Timor Leste.
Keesokan harinya si pemilik mengatakan bahwa dia tidak akan pernah menyewakan kosannya buat orang kulit hitam yang berasal dari Afrika. Ketika kami akan mengambil barang, ada orang Indonesia yang mengeluarkan barang-barang kami ke luar kosan. Saya sangat kesal pada saat itu.
Apa tanggapanmu tentang orang-orang yang bertindak rasis?
Taiwo: Saya rasa (rasisme muncul) karena mereka belum mengerti bagaimana cara memperlakukan orang yang berbeda dengan dirinya. Saya pikir, jika ada kepekaan terhadap isu rasisme mereka akan berubah. Ketika ada orang yang berbuat rasis tapi tidak ada yang menegur, yang lain akan ikut menertawakan juga. Jadi, jika ada teman lain yang menegur pasti keadaannya akan berubah.
Lansana: Saat itu, saya bertanya kepada pemilik kos, bagaimana perasaannya jika anaknya di luar negeri diperlakukan seperti ini? Saya juga bilang karena bapak tak punya kesempatan pergi ke luar negeri akhirnya bapak bertindak rasis seperti ini. Itu adalah bagian paling sulit jika kita diperlakukan seperti itu di negara lain.
Orang-orang seperti itu tidak tahu arti sebenarnya dari kehidupan dan ciptaan sementara kita semua sederajat di sisi Allah, kita memiliki sel darah merah yang sama, juga sama-masa memiliki masa depan. Tapi, saya juga tidak bisa menyalahkan mereka. Cara mereka tumbuh dewasa dan apa yang telah diajarkan kepada mereka mungkin berbeda.
Terakhir, apa pesanmu untuk orang-orang yang masih berperilaku rasis?
Taiwo: Pahamilah bahwa kita semua berbeda warna kulit, bentuk rambut, bentuk tubuh, dan lain-lain. Akan tetapi, kita ini manusia. Jadi, pedulilah satu sama lain.
Lansana: Saya memberikan perhatian bahwa faktanya jika warna kulit kita berbeda dengan orang banyak, belum tentu pemikiran dia berbeda dengan kita. Bisa jadi beberapa dari mereka ada mempunyai pemikiran yang sama. Agar dunia menjadi tempat yang lebih baik, tindakan rasis harus dihentikan. Kita harus melihat diri kita sebagai satu orang, tidak peduli berasal dari benua atau negara mana.
Menara Eifel, Paris, dan Museum Louvre tampaknya merupakan tiga kata atau destinasi wisata yang dijamin bakal terdengar saat kita bicara tentang Prancis. Namun, saat pembicaraan menukik pada hubungan Prancis-Indonesia, kita mesti menambahkan satu kata atau destinasi lagi: La Rochelle.
La Rochelle adalah kota wisata yang terletak di Teluk Biscay, ujung Barat Prancis, yang berbatasan langsung dengan Samudera Atlantik. Selain punya “Vieux Port” (“Pelabuhan Tua”) yang indah, kota yang kaya akan warisan arsitektur ini juga punya Francofolies, festival musik besar di Prancis yang rutin digelar saban pertengahan bulan Juli. Lepas dari itu, di kota ini juga ada sebuah universitas negeri yang mengajarkan bahasa Indonesia.
Program pembelajaran bahasa Indonesia di Universitas La Rochelle berlangsung sejak 1996. Di sana, Program Bahasa Indonesia masuk ke dalam Faculté des Lettres, Langues, Arts et Sciences Humaine (Fakultas Sastra, Bahasa, Seni dan Ilmu Humaniora) jurusan Langues Étrangères Appliquées (Bahasa Asing Terapan). Di Jurusan Bahasa Asing Terapan ini, mahasiswa bisa memilih satu dari tiga program, yakni program Bahasa Cina-Bahasa Inggris, program Bahasa Korea-Bahasa Inggris atau program Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris.
Marie Buton, mahasiswa Universitas La Rochelle yang baru menyelesaikan program darmasiswa di Universitas Katolik Parahyangan dan pernah mengikuti program pertukaran pelajar di Uiversitas Gadjah Mada selama lima bulan, berbincang dengan Buruan tentang pengalamannya mempelajari bahasa Indonesia.
Apa yang membuat Marie tertarik belajar bahasa Indonesia?
Sejak SMA, saya ingin mempelajari bahasa-bahasa yang terdapat di Asia, tetapi saya bingung akan memilih bahasa apa. Namun, saya mempunyai keinginan untuk belajar satu bahasa yang memang jarang ditemukan di Prancis—tidak seperti bahasa Jepang, bahasa Korea, dan bahasa Cina.
Nah, saya banyak bicara dengan guru saya waktu itu dan juga melihat-lihat universitas yang ada di sekitar tempat asal saya karena jika ingin belajar bahasa yang dianggap “langkah” (maksudnya langka—red) di Prancis harus ke Paris; tapi orang tua saya tidak mampu membiayai jadi akhirnya saya menemukan Universitas La Rochelle dan bahasa Indonesia.
Saya bertemu dengan beberapa dosen di sana dan juga beberapa mahasiswi dan saya sangat suka suasananya. Selain itu, saya suka bahasa Indonesia karena bahasanya langsung bisa dibaca karena memakai huruf latin, makanya tanpa pikir-pikir lebih jauh saya memilih bahasa Indonesia.
Apa yang unik dari bahasa Indonesia?
Menurut saya, keunikan bahasa Indonesia yaitu digunakan sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia. Maksudnya, Indonesia merupakan negara yang sangat luas dan setiap daerah memiliki bahasanya sendiri. Terkadang juga dalam satu daerah ada banyak bahasa yang berbeda-beda lagi, tetapi bahasa Indonesia menyatukan orang-orang Indonesia.
Makanya kalau kami membaca dalam bahasa Indonesia kami juga harus mengerti konteksnya dan siapa yang menulisnya karena sering kali bahasa Indonesia yang digunakan itu dicampur dengan istilah-istilah spesifik. Jadi, memang dengan semua pengaruh ini, yaitu pengaruh dari dalam negeri maupun dari luar negeri, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sangat kaya. Dan saya bangga bisa berbahasa Indonesia untuk berbicara dengan banyak orang yang berbeda.
Apakah ada persamaan atau perbedaan bahasa Indonesia dengan bahasa Prancis?
Kalau perbedaan ada banyak, yaitu dari segi tata bahasa, cara pengucapannya beda sekali, tapi saya tahu ada beberapa kata serapan bahasa Prancis dalam bahasa Indonesia seperti butik (boutique), trotoar ( trottoir), piknik (pique-nique), rezim (régime), ala (à la), kudeta (coup d’état) dll. Untuk persamaannya yaitu sama-sama menggunakan huruf latin.
Apakah ada kesulitan antara perbedaan bahasa gaul dengan bahasa formal? Atau dengan penggunaan imbuhan dalam bahasa Indonesia?
Perbedaan antara bahasa gaul dan bahasa formal itu sulit untuk saya. Ketika saya datang ke Indonesia untuk pertama kali, awalnya saya sedikit bingung karena yang dipelajari di La Rochelle hanya bahasa yang formal. Kalau untuk penggunaan imbuhan, saya kadang-kadang masih bingung dengan akhiran -kan dan –i, tapi sekarang saya langsung saja menghafal kata-nya.
Lalu, menurut saya bahasa akademis juga sangat susah, tapi kalau saya melihat orang di sekitar saya, orang Indonesia pun bingung dengan bahasa akademis.
Selain tertarik dengan bahasanya, budaya apa yang membuat Marie menyukai Indonesia?
Yang menarik dari budaya Indonesia yaitu tidak hanya ada satu budaya saja tapi banyak budaya yang berbeda-beda dan itulah kekayaan milik Indonesia yang paling berharga, menurut saya.
Indonesia memiliki banyak tarian, musik, seni, sastra maupun sudut pandang yang bermacam-macam. Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa walaupun kita punya budaya ataupun agama yang berbeda kita masih bisa menyatu. Bhinneka Tunggal Ika. Maka dari itu, tidak mungkin hidup kita akan cukup untuk mengetahui semua tentang Indonesia. Lalu, saya juga suka sastra Indonesia dan saya tertarik dengan sejarah Indonesia. Alam di Indonesia juga sangat indah.
Omong-omong soal karya sastra Indonesia, buku apa yang pernah Marie baca?
Banyak. Saya sudah membaca Laut Bercerita dan Pulang karya Leila S. Chudori, serta Saman karya Ayu Utami. Saya juga sedang membaca Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan.
Sebelum itu, saya juga pernah membaca beberapa novel Pramoedya dalam bahasa Perancis, yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Gadis Pantai, dan Korupsi.
Saya membaca karya-karya Pram karena di Prancis susah menemukan terjemahan novel Indonesia, jadi saya mulai dengan Bumi Manusia dan saya langsung menyelami ceritanya.
Apakah Pram merupakan penulis Indonesia favorit Marie?
Sebenarnya saya tidak punya novelis favorit, tapi betul saya suka Pram karena memang karya dan gayanya bagus. Pram mencampurkan fiksi dan realitas historis.
Sayembara Novel DKJ 2019 diumumkan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, pada Rabu malam (04/12/19). Manuskrip berjudul Aib dan Nasib dinyatakan dewan juri yang terdiri atas Linda Christanty, Nukila Amal, dan Zen Hae, sebagai juara pertama, menyisihkan 216 naskah yang masuk seleksi panitia.
Saat membacakan pertanggungjawaban juri, Zen Hae menyebut manuskrip Aib dan Nasib merupakan “Naskah yang punya gairah eksperimen: mawas bentuk, dengan fragmen-fragmen yang ketat, berlapis-lapis dan susul menyusul. Fragmen-fragmen eposidik yang ringkas satu-dua halaman itu tampak disiplin dan konsisten. Penyusunan fragmen yang ketat membuat novel ini terasa padat, dengan akhir menggantung yang penuh kejutan hampir di tiap fragmen. Tokoh utama cukup banyak, namun karakterisasi setiap tokohnya bulat dan distingtif, saling menimpakan sebab dan akibat yang kait mengait dalam aib dan nasib mereka.”
Minanto, penulis Aib dan Nasib, boleh dibilang merupakan nama baru dalam perbicangan sastra Indonesia. Meski demikian, sosok asal Indramayu ini sudah punya pengalaman menulis dan menerbitkan novel sebelum memenangi Sayembara Novel DKJ.
Berikut petikan wawancara singkat dengan Minanto, sesaat setelah acara pengumuman sayembara tuntas digelar.
Selamat Atas Kemenangan Naskah novel Aib dan Nasib pada Sayembara Novel DKJ 2019. Novel ini bercerita soal apa?
Novel ini bercerita tentang kehidupan orang-orang Tegalurung, sebuah desa di pesisir pantai utara Jawa Barat. Dalam novel ini saya ingin menempatkan orang-orang marginal seperti orang-orang yang tidak dianggap sama keluarganya, tidak dianggap oleh masyarakat, terus seorang gadis yang hamil di luar nikah, dan tentang banyak lagi. Kehidupan orang-orang itu saling bertemu ketika ada pemilihan bupati dan anggota legislatif, di mana ada salah satu warga desa Tegalurung mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.
Ide menulis novel ini datang dari mana?
Saya mengambil jarak paling dekat dengan hidup saya. Artinya, tokoh-tokoh yang saya ciptakan di dalam novel itu diambil dari karakter orang-orang yang saya kenal, dari orang-orang di dekat saya. Saya meramunya dengan elemen-elemen fiksi yang ada. Sebagai contoh, ketika saya bercerita tentang seorang gadis yang hamil di luar nikah, di mana realitas itu ada dan dekat, saya mengolahnya seolah-olah dia adalah korban dari struktur hirarki laki-laki dan perempuan (patriarki), sekaligus korban dari pandangan masyarakat yang miring terhadapnya.
Berapa lama nulis novel ini?
Bisa dibilang sebentar, yang lama itu adalah bagaimana meramu cerita yang sudah ada, yang saya pikirkan dari awal sampai akhir, kemudian saya ramu ulang menjadi satu bentuk yang ringkas dan padat tanpa membeberkan banyak hal. Karena novel saya ini memiliki banyak sekali karakter, saya harus berpikir bagaimana setiap karakter mendapatkan porsi dan narasi yang adil. Saya tidak bisa menonjolkan hanya salah satu karakter.
Bagaimana proses kreatif dan pengalaman kamu menulis?
Saya mulai serius menulis pada tahun 2015, bersamaan dengan pengerjaan skripsi saya. Di tahun itu pula saya menulis novel pertama dan dua tahun kemudian diterbitkan secara independen. Setahun setelahnya, saya menerbitkan novel kedua secara independen lagi. Novel ketiga kemudian lahir, dan novel yang mendapat penghargaan sayembara ini novel adalah novel keempat.
Tiga novel sebelumnya diterbitkan oleh penerbit mana dan apa saja judulnya?
Novel pertama saya berjudul Semang, diterbitkan tahun 2017 oleh penerbit Diandra Creative. Novel kedua saya lumayan panjang judulnya, yaitu Dulatip Ingin Membenturkan Kepalanya Ke Tembok Setiap Kali Ia Diberitahui Kabar Tentang Orang Tua, diterbitkan tahun 2018 oleh Indie Book Corner (IBC). Novel ketiga masih saya simpan di laptop, belum saya apa-apakan. Dan novel yang keempat ini saya kirimkan ke sini (Sayembara Novel DKJ) karena saya merasa novel ini adalah perwujudan kesabaran saya dalam menulis, dimana sebelum-sebelumnya saya merasa tergesa-gesa mengerjakan suatu karya.
Dalam menulis apakah ikut komunitas?
Tidak. Saya sendiri. Baca sendiri. Nulis sendiri. Suatu proses yang sepi sebetulnya, tapi selain sepi juga memberi ruang bagi saya buat leluasa berpikir.
Siapa penulis atau karya yang menginspirasi?
Yang membikin saya terpicu mulai menulis adalah James Baldwin. Dia adalah penulis Amerika, kulit hitam, yang bicara soal ketidakadilan ras, gender, homo seksualitas, dan sebagainya. Karena membaca karya-karyanya, yang sekaligus menjadi bahan buat skripsi, saya terinspirasi buat menuliskan cerita melalui versi saya sendiri.
Pernah kuliah di mana dan bekerja di mana?
Kuliah di Unpad (Universitas Padjadjaran, red.) Jurusan Sastra Inggris lulus tahun 2015. Saya sekarang ngajar.
Terima kasih. Selamat sekali lagi.
Sama-sama.
Awal Mei lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyebut 486 hoaks beredar sepanjang April 2019. Dari jumlah tersebut, 209 di antaranya adalah hoaks politik.
“Hoaks dibutuhkan untuk memenuhi premis kebenaran,” kata Toba Beta penulis Master of Stupidity.
Pernyataan Toba seolah mengafirmasi fenomena pascakebenaran atau post-truth, yakni sebuah fenomena di mana kebenaran dan kebohongan, fakta dan fiksi, menjadi bias batas-batasnya. Post-truth memungkinkan orang-orang bisa dan bakal menomorduakan kebenaran sepanjang apa-apa yang mereka yakini terkonfirmasi—bahkan jika rujukannya adalah berita palsu sekalipun.
Mengingat silih lempar berita palsu menjadi tontonan yang terus disajikan ke hadapan publik—Anda bisa melihat hal demikian bertebaran di media sosial dan menjadi percakapan di grup Whatsapp—seperti halnya wawancara kami yang pertama, kami pun tertarik untuk mengetahui pandangan sastrawan mengenai fenomena tersebut.
Tentu, sebagaimana pernah kami katakan sebelumnya, upaya mengajak sastrawan membicarakan fenomena-fenomena yang aktual tidak dimaksudkan untuk mencari jawaban atas persoalan-persoalan yang ada. Mendengar suara mereka, artinya kami ingin tahu bagaimana sikap dan pandangan para sastrawan tersebut terhadap kenyataan di hadapannya, juga kaitannya dengan proses kreatif mereka sebagai penulis. Syukur-syukur, percakapan semacam ini bisa memberikan pencerahan kepada pembaca.
Heru Joni Putra, penyair, alumni pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), sekaligus Kurator Galeri Kertas Studio Hanafi yang juga Tokoh Seni Pilihan Tempo 2017, kami ajak berbincang mengisi rubrik Wawancara kali ini.
Bagaimana Bung melihat fenomena hoaks dan post-truth hari ini?
Saya melihat bahwa hoaks tumbuh subur di bawah “rezim moral”. Di saat moral menjadi standar kebenaran, hoaks sering kali diproduksi sebagai instrumen untuk menjaga standar itu. Adalah sebuah perkara serius bila sesuatu disebut benar hanya bila disampaikan dengan cara sopan dan penuh kutipan ayat atau disampaikan oleh orang yang identitasnya berkaitan dengan kesopanan, kebaikan, religi, dll.
Dalam kondisi seperti itu, politik memperparah keadaan. Seseorang yang menyampaikan kebenaran sering kali dengan mudah dimentahkan dengan cara menampilkan potongan kehidupannya (apalagi potongan tanpa konteks) yang bisa dianggap “cacat moral”—sekecil apa pun itu. Sering kali kontestasi politik yang terjadi tampak sebagai “perang moral”, perang siapa yang paling bermoral, siapa yang paling mudah didemoralisasi, dst. Padahal moralitas tidak senantiasa lebur dengan “kebenaran”, tapi kita terlanjur mengidentifikasi tonggak kebenaran lewat standar moral tertentu yang jelas-jelas sudah tumpul.
Langkah apa yang kiranya memungkinkan dilakukan untuk meminimalisasi hal demikian?
Sebenarnya saya juga mencari tahu soal langkah-langkah meminimalisasi hoaks seperti itu. Saya bertanya juga pada banyak orang atau membaca tulisan terkait. Begitu beragam solusinya dengan jangka waktu dan capaian yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan perlunya menguatkan kultur berpikir ilmiah. Ada yang mengatakan perlunya memproduksi berbagai narasi agar masyarakat sadar bahaya hoaks. Ada yang mengutarakan solusinya dengan mengontrol media sosial, serta ada pula yang mencoba melihat hubungan yang saling membuahi antara karakteristik tertentu dari kultur lokal dan watak hoaks, dan seterusnya.
Berbagai solusi itu ada yang dimunculkan dalam rangka mencari proyek, ada pula dengan cara berpikir institusional, serta ada juga yang bekerja diam-diam secara personal untuk meminimalisasi hoaks di media sosial, dan sebagainya. Begitu beragam. Saya menyimak saja dulu, ya.
Apakah Bung percaya mereka yang melek sastra bisa selamat dari hoaks apa pun?
Saya tidak percaya. Ini contoh yang saya temui: Dosen-dosen dari Fakultas Ilmu Budaya—yang tak asing dengan sastra—di sebuah kampus di menara gading ikut menyebar hoaks, dan tak jarang merasa heroik dengan aksinya itu. Bahkan mereka ikut mengajarkan analisis wacana kritis, politik bahasa, kajian budaya, dll yang sering dianggap akan bisa kritis melihat narasi yang mengandung hoaks, tapi kenyataannya justru mereka jadi seperti relawan hoaks.
Ini contoh lebih parah: Seorang profesor asal Sumatera Barat menjadi pengajar di sebuah universitas terkenal di Eropa. Ia fasih bicara sastra dan budaya sebagaimana latar akademiknya. Tapi, ia sangat rasis dan setiap hari menyebar hoaks di media sosialnya. Saya bertanya pada banyak koleganya dan mereka mengatakan bahwa profesor itu sudah berkali-kali diperingatkan, tapi ia tidak peduli. Bahkan, di sebuah grup WA yang berisikan “tokoh Sumatra Barat”, ia menyebarkan hoaks bahwa saya adalah PKI. Saya mendapat salinan grup WA itu dan sudah terkonfirmasi.
Itu membuat saya bertanya: mengapa banyak dosen yang mampu bersikap kritis di dalam kajiannya tetapi malah jadi tumpul menghadapi realitas di luar kajiannya? Saya berusaha mencari jawabannya dan sampai sekarang saya belum menemukan jawaban yang memuaskan.
Akhir-akhir ini Bung acap kali bicara soal mental-korban maupun strategi playing victim, apa dan bagaimana maksudnya?
Kita masih punya banyak tugas terkait membela korban dalam banyak hal. Baik itu korban politik, ekonomi, negara, dan sebagainya. Problem minoritas adalah salah satunya. Tapi, di tengah kondisi itu, ada pihak-pihak yang sengaja memposisikan diri sebagai korban, playing victim, untuk mengundang perhatian orang ramai kepadanya atau untuk menutupi kesalahannya sendiri. (Ingat, saya tidak bermaksud merendahkan orang-orang yang benar-benar menjadi korban dan perlu dibela.)
“Posisi korban”—dalam konteks yang saya maksudkan—adalah posisi yang dipolitisasi sebagai cara untuk mengakumulasi modal simbolik, tak jarang untuk kepentingan personal. Menurut saya, “posisi korban” terlalu dangkal bila ditujukan untuk itu. Saya kira hal ini adalah sebuah persoalan serius.
Kini, di zaman yang terlalu mensakralkan “kebebasan individu” atau yang memaknai “kebebasan individu” dengan cara yang terlanjur relatif dan sewenang-wenang, siapa pun bisa memposisikan diri atau mencari-cari problem tertentu agar terposisikan sebagai korban. Itu membuat playing victim semakin mudah dilakukan, apalagi bila aksi playing victim itu tak hanya memberikan akses kepada modal simbolik, tetapi juga modal ekonomi, misalnya.
“Menjadi korban” tampak seperti lapangan pekerjaan saja, bahkan menjadi isu marketing, branding, pembentukan opini publik, dan lain-lain. Hal ini tentu masih bisa diperdebatkan lebih lanjut.
Bahwa peserta Pemilu dan pendukungnya tampak memposisikan diri sebagai korban, ya. Adakah hal demikian juga tercermin dalam laku pegiat sastra?
Ya. Dalam politik dan sastra, setidaknya sejauh yang saya amati, hal tersebut tampak mengemuka. Pernyataan “kriminalisasi agama” dalam kontestasi politik kita akhir-akhir ini—pada taraf tertentu—bagi saya adalah salah satu contoh terbaik bagaimana playing victim itu dilakukan.
Kalau dalam gelanggang sastra, playing victim seperti itu baru menunjukkan gejalanya. Saat ini, dibanding dekade sebelumnya, sastrawan Indonesia mendapatkan kesempatan lebih luas untuk Go Internasional. Ada yang jalurnya karena kualitas karya itu sendiri (seperti karya Mahfud Ikhwan misalnya) dan ada pula yang jalurnya playing victim.
Maksud saya, jalur playing victim adalah sebuah situasi di mana suara pengarang lebih bising daripada suara karyanya sendiri, pengarangnya terlanjur heroik memposisikan diri sebagai korban—dalam pengertian tertentu—di Indonesia, sehingga dengan satu dan lain cara, dunia Internasional tak hanya tampak menunjukkan menjulurkan tangan kepadanya, tetapi juga menjadikannya sebagai “situs politik” dari pihak-pihak yang berkepentingan.
Beberapa puisi Bung dalam kumpulan Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa (2017) terasa jenaka sekaligus kritis. Adakah Bung merasa percakapan kita di media sosial akhir-akhir ini jauh lebih jenaka sekaligus lebih kritis ketimbang karya Bung dan karya sastra lainnya yang punya nuansa serupa?
Kalau memang beberapa puisi saya dianggap jenaka dan kritis, tentu saja banyak yang lebih jenaka dan kritis daripada itu. Sangat tidak mungkin kalau puisi saya disebut paling jenaka atau kritis. Puisi punya keterbatasan sendiri untuk menjadi “kritis”. Tak jarang saya merasa meme (dalam bentuk terbaiknya) lebih mudah dan efektif menjadi piranti sarkasme ataupun satire daripada puisi seperti yang saya tulis.
Dalam konteks itu, persebaran meme tentu lebih cepat daripada buku puisi; puisi sepertinya tak akan bisa menandingi persebaran meme yang seperti itu, kecuali penyairnya mau mencengeng-cengengkan diri di dalam puisinya sendiri. Sudah banyak contohnya, bukan?
Adakah Bung, sebagaimana John F Kennedy, menyimpan harapan kepada puisi untuk bisa memperbaiki situasi politik kita saat ini—bahkan untuk ukuran di media sosial sekalipun.
Saya kira kutipan terkenal JFK itu hanyalah perumpaan belaka, bukan spekulasi yang terukur. Saya tidak percaya puisi bisa memperbaiki situasi politik saat ini, apalagi bila puisi seperti yang ditulis oleh—anggap saja namanya Fadli Zon. Dirinya sendiri saja tak mungkin bisa memperbaiki negeri ini, apalagi puisinya.
Mengingat dalam sebuah artikel di Tempo Bung menyebut ingin menyampaikan pikiran Bung melalui medium sastra, apakah Bung menganggap semua yang dipertontonkan kontestan Pemilu dan pendukungnya kepada publik sebagai suatu hal yang inspiratif bagi proses kepenyairan Bung?
Buku Badrul Mustafa secara khusus saya tulis tahun 2013-2016. Salah satu kondisi yang memantik saya untuk menulis buku itu adalah munculnya “nabi-nabi baru” di zaman kontemporer ini, baik nabi-nabi dalam bidang agama, politik, ataupun kebudayaan; orang yang disakral-sakralkan, seakan tak mungkin salah, merasa sebagai sumber kebenaran, dan seterusnya. Heroisme para nabi kontemporer itu membuat saya lelah. Dan itu yang membuat saya melakukan karikaturisasi atas berbagai sosok “nabi-nabi baru” itu dalam bentuk tokoh Badrul Mustafa sebanyak 40 karakter.
Meskipun buku itu ditulis jauh sebelum Pilpres, tapi kondisi-kondisi yang memantik saya untuk menulis buku itu—terutama dalam ranah politik dan agama—terus berlanjut dan semakin parah rasanya. Namun, saya tak ingin menulis Badrul Mustafa lagi. Rasanya sudah cukup dengan apa yang ada.
***
Sebagai penutup, berikut kami lampirkan satu puisi karya Heru Joni Putra.
JENGGOT HAJI AGUS SALIM
Haji Agus Salim berdiri
Di depan Pintu Surga;
Jenggotnya menjuntai-juntai ke bumi.
Badrul Mustafa melompat-lompat,
Berusaha menggapai jenggot Haji Agus Salim,
“Tak ada Tangga ke Surga,
Jenggot Haji Agus Salim pun jadi,”
Katanya.
Tangan Badrul Mustafa meraih
Ujung jenggot Haji Agus Salim.
Ia bersorak kegirangan,
Diajaknya karib kerabatnya
Memanjat jenggot itu.
“Berakit-rakit ke hulu,
Berenang-renang ke tepian,
Masuk Surga dahulu,
Ke Mekah kemudian,”
Katanya.
Badrul Mustafa
Dan karib kerabat
Ditambah lagi sanak saudaranya,
Berjamaah memanjat jenggot Haji Agus Salim.
Mereka bergelantungan,
Berayun-ayun ke sana ke mari,
Tak henti bersorak,
Dari suatu zaman ke zaman lain.
Paling tidak sejak Pemilihan Umum 2014 lalu, jagad media sosial tak ubahnya pasar kaget: ribut-ribut dan menyesakkan. Orang-orang terbaik negeri ini, atau orang-orang yang merasa dirinya lebih baik ketimbang yang lain, berkoar-koar laiknya tukang obat menawarkan solusi paling mujarab bagi penyakit-penyakit akut Indonesia: korupsi, kemiskinan, ketersediaan lapangan pekerjaan, kesehatan, dan lain sebagainya.
Publik tak tahu benar apakah sejak kemenangan Joko Widodo-Jusuf Kalla 5 tahun silam berbagai persoalan di atas sudah teratasi atau belum, kian runyam atau sebaliknya. Yang jelas, sebagai komoditas, tiap kali Tahun Politik datang, lingkaran-persoalan demikian kembali digulir dan didengungkan oleh banyak pihak, terutama oleh pendukung Joko Widodo-Maruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno.
Pendeknya, di mana ada Pemilu, di situ pula berbagai persoalan diteriakkan kembali oleh masing-masing kubu. Dan, pasar kaget pun kembali bermunculan di mana-mana. Orang-orang—terutama politikus, pengamat, juru kampanye, hingga opinion leaders di media sosial—seperti halnya tukang obat, kembali berkoar mempromosikan jagoan masing-masing sebagai pilihan terbaik bagi bangsa ini.
Beragam macam penjelasan dan aneka bentuk dukungan pun mereka tunjukkan dengan cara-cara meyakinkan. Sebagian menghibur, tapi tak sedikit yang berujung menjengkelkan, bahkan menjijikan. (Mengenai hal terakhir yang disebut barusan, Anda bisa melihatnya dalam konteks politisasi agama atau juga respon para pendukung terhadap Debat Pilpres yang ditayangkan televisi).
Dalam kondisi semacam itu, di tengah kebisingan slogan-slogan kampanye, kami terpancing untuk mengetahui bagaimana para penulis sastra—kelompok super-minoritas dalam peta wacana politik Indonesia—memandang berbagai akrobat di atas panggung Tahun Politik terhubung dengan proses kreatif maupun karya-karya mereka.
Upaya tersebut tentu saja tak dimaksudkan sebagai jawaban atas persoalan-persoalan yang ada. Selain ingin mendengar suara mereka, pendapat para sastrawan ini kami anggap perlu, paling tidak, untuk membawa kita sejenak menepi dari berbagai keributan yang ditimbulkan media sosial maupun kanal-kanal berita arus utama. Syukurlah bila dampaknya kemudian bisa memberikan pencerahan kepada pembaca.
Faisal Kamandobat, penyair dan esais sekaligus peneliti di Abdurrahman Wahid Centre of Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI), Jakarta, dipilih untuk kami ajak berbincang seputar kondisi sastra dan Tahun Politik di Indonesia.
Tahun ini adalah Tahun Politik. Pemilu akan kembali digelar April mendatang. Bagaimana Anda melihat hal tersebut dalam kaitannya dengan proses kreatif, atau boleh juga dengan tanggung jawab—jika tanggung jawab memang dianggap perlu dimiliki—Anda sebagai seorang penulis?
Pemilu bagi saya mungkin semacam drama tragedi terkait kematian Sokrates. Semacam ritual politik kuno yang dilakukan dengan penuh kemeriahan demi meredam perasaan cemas yang besar, ketika kemurnian jiwa sebagian masyarakat diubah menjadi sofis. Itulah tendensi moral dari realisme politik dalam sistem demokrasi yang dianut seluruh dunia hari ini: sebuah sistem kekuasaan global di mana para pemimpinnya dipilih lewat lotre dengan taruhan yang mahal, tapi hadiahnya sering kali jelek. Buktinya, para pemimpin yang dihasilkan Pemilu banyak yang tidak bermutu, mulai kepala daerah hingga kepala negara paling maju di dunia seperti Amerika.
Jadi, Pemilu menjadi medium untuk bertanya lebih jauh soal konsep dan kinerja negara bangsa yang tampak berat berpacu dengan percepatan sejarah; soal demokrasi yang terlalu jauh dijadikan dalih melakukan peperangan mulai dari Vietnam sampai Suriah, sehingga kebanyakan dari kita ragu pada sistem politik saat ini; soal demokrasi yang disalah-gunakan untuk membatasi peran negara demi membuka pasar bebas yang membuat ratusan juta populasi bergantung pada segelintir korporasi agar dunia lebih mudah dikontrol, diarahkan, dan dimanfaatkan.
Artinya, lewat Pemilu publik menjadi tahu bahwa masalah politik yang terjadi tidak hanya teknis tapi juga filosofis dan konseptual, yakni tentang desain negara-bangsa yang semestinya lebih relevan, dinamis, dan efisien sesuai tuntutan zaman yang berubah sangat cepat.
Sekarang, negara tengah berevolusi menjadi sekadar aplikasi digital dengan layanan keuangan, pajak, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Adapun secara teritorial, disadari atau tidak, peran negara kian diambil alih perusahaan-perusahaan besar. Jika terjadi unifikasi birokrasi dan militer secara global, praktis, negara-bangsa yang kita kenal ini cuma eksis secara teoritis.
Sejak Pemilu 2014 muncul fenomena politisasi agama dan gerakan populisme dalam politik kita. Bagaimana Anda menanggapinya?
Politisasi kebudayaaan seperti agama dan etnis menguat setelah Perang Dingin berakhir. Konflik bergeser dari antarkelompok ideologi ke antarkelompok budaya, mulai antaretnis dan agama hingga skala peradaban dengan memainkan jaringan global. Fundamentalisme agama yang terjadi dua dasawarsa terakhir adalah buktinya. Bedanya, di masa Perang Dingin konflik berlangsung antara dua kelompok dengan pandangan politik, ekonomi, dan budaya yang berbeda, sehingga identifikasi masalah dan pembatasannya lebih sederhana. Sekarang, semua negara dan kelompok telah menjadi kapitalis sekaligus demokratis, dan banyak pihak bisa menggunakan budaya dan agama sebagai kartu politik untuk memperebutkan pengaruh dan sumberdaya.
Jadi, kita telah memasuki era realisme-pragmatis dalam semua hal sehingga terjadi perumitan di semua dimensi dan level, mulai dari politik, ekonomi, sosial, kultural, hingga spiritual. Faktor teknologi informasi juga memudahkan kerja politik macam ini. Untuk menggerakkan massa, sekarang tidak perlu pengorganisasian lapangan yang rapi dan solid seperti dalam gerakan sosial. Cukup dengan memainkan sentimen budaya dan agama di media sosial, masyarakat akan bergerak dengan sendirinya, dan itulah yang disebut sebagai fenomena populisme.
Sejumlah karya besar, karya-karya peraih Nobel misalnya, kerap mengandung muatan politis. Sejauh mana dinamika politik praktis negeri ini berpengaruh terhadap karya-karya Anda selama ini?
Saya menangkap keterlibatan para sastrawan besar dalam politik sebagai komitmen moral dan idelogis. Baik yang kiri seperti Neruda, Sartre, Gorky, dan Pramoedya; maupun yang kanan seperti Paz, Camus dan Marquez. Pula yang nasionalis seperti Qabbani, Amir Hamzah, dan Mahfoudz; maupun yang spiritualis seperti Tagore, Tolstoy dan Hesse. Meski beberapa dari mereka terlibat secara praktis bekerja di pemerintahan (Neruda, Qabbani, dan Paz adalah duta besar negara masing-masing) suara moral dan ideologi mereka lebih kuat terdengar ketimbang minat mereka terhadap jabatan dan kekuasaan.
Meneladani mereka, politik pun mempengaruhi tulisan-tulisan saya, terutama beberapa tahun terakhir, misalnya tentang perlunya basis sejarah dan budaya baru untuk membentuk lanskap kemanusiaan era ini dan masa depan.
Sebelum Orde Baru tumbang, sejumlah penulis menjadikan, katakanlah, otoritarianisme sebagai bahan bakar karya-karya mereka. Rendra, lewat “Potret Pembangunan dalam Puisi”, atau Wiji Thukul, lewat sajak-sajak protesnya, boleh dibilang berhasil mengusik kenyamanan penguasa dan demikian menempatkan sastra sebagai suatu hal berbahaya di benak mereka.
Menurut Anda, tanpa maksud meromantisasi masa-masa itu, apakah dampak yang sama mungkin berulang di masa sekarang atau di masa-masa berikutnya?
Karya sastra yang hidup semata karena melawan, tanpa adanya renungan terkait persoalan yang lebih besar di balik relasi pertentangan, tak akan punya dampak mendalam dan jangka panjang.
Jadi, melawan otoritarianisme semata tidak cukup—hal tersebut perlu dilengkapi dengan observasi secara struktural terhadap kondisi itu. Demikianlah yang dilakukan Orwell, Yevtushenko, Mandelstam, dan Pramoedya (terutama Rumah Kaca), serta sajak-sajak politik Rendra. Rendra pernah bilang, menulis sajak politik telah menantang secara sungguh-sungguh pekerjaannya sebagai penyair karena membuat dia belajar tata negara dan ilmu politik lebih dalam. Adapun sajak-sajak cinta dianggapnya sebagai semacam latihan dan kesenangan belaka. Dan seperti Rendra, Wiji Thukul juga melakukan usaha yang sama.
Di masa depan, tantangan yang sama masih tetap berlaku. Kita memasuki masa otoritarianisme halus di mana segala aspek kehidupan—pikiran, urusan makan dan minum, bahkan perasaan sekalipun—dikontrol lewat imperium virtual. Belum lagi problem susulan yang akan segera muncul, seperti rekayasa genetika, ancaman perang nuklir baru, dan robotisasi di banyak sektor, terutama militer. Semua itu akan berdampak serius terhadap kemanusiaan dan peradaban di masa depan.
Kita bisa melakukan diagnosis dan prognosis terkait masalah-masalah di atas sebagai basis imajinasi tulisan-tulisan kita ke depan.
Bagaimana pandangan ideal Anda soal hubungan penulis, karya, dan masyarakat?
Sejak tinggal di desa, saya sadar bahwa seorang penulis bukan sosok yang dikenal apalagi dianggap penting oleh masyarakat. Media mungkin membesarkan nama para penulis, tetapi secara sosial mereka tidak terlalu dikenal dan punya cukup kekuatan. Ini menunjukkan bahwa karya sastra modern kita belum sungguh-sungguh menjadi milik masyarakat. Itu wajar karena pendidikan kita juga tidak menjadikan sastra sebagai prioritas dan karya para sastrawan, terutama akhir-akhir ini, juga tidak banyak membahas kehidupan masyarakatnya. Karya-karya mereka lebih banyak membahas masalah-masalah personal penulisnya.
Saya berharap masalah sosial sastrawan ini hanya terjadi pada saya. Tapi jika ternyata dialami juga oleh banyak penulis lain, saya kira sastra perlu terlibat lebih jauh dalam masalah-masalah masyarakat, memasuki dan mengolah sejarah mereka, serta menawarkan kekayaan serta kedalaman imajinasi dari kehidupan yang mereka alami. Tanpa itu, sastra modern kita tak akan punya basis sosial, ia hanya semacam gagasan imajiner yang berjalan tanpa kaki di atas sejarah yang melahirkannya. Seperti hantu ide-ide yang tidak menggetarkan, apalagi menakutkan.
Karya bagus macam apa yang Anda harapkan muncul dari penulis-penulis kekinian?
Saya kagum dengan para penulis masa kini yang menulis dengan mudah dan begitu produktif. Tapi, begitu saya baca, tidak banyak yang memuaskan pikiran dan batin saya. Entah karena selera saya yang ketinggalan zaman atau memang ada masalah lebih luas di dunia kepenulisan kita. Kebanyakan penulis bergaul di lingkungan yang sama, membaca buku-buku yang sama, membicarakan isu-isu yang sama, dan bekerja pada bidang yang kurang lebih sama, akhirnya karya-karya mereka tidak jauh berbeda.
Tapi, akar persoalannya mungkin lebih dalam dari itu. Pendidikan kita, terutama sejak Orde Baru, tidak melatih peserta didik untuk berpikir analitis dan kritis serta jauh dari realitas sekitarnya. Akhirnya, karya yang muncul pun lebih banyak berupa perasaan daripada pikiran, dan kalau pun ada gagasan, sifatnya lebih normatif.
Jadi, untuk melahirkan karya yang tidak hanya produktif tapi juga bermutu, kuat dan bertenaga, para penulis kekinian tidak hanya menghadapi masalah kultural, melainkan juga struktural. Tapi saya berharap semoga anggapan ini keliru. Mungkin banyak karya-karya kekinian yang bagus tapi belum saya baca atau karena segala keterbatasan, saya belum sempat melihatnya.
Lepas dari kualitas karya, tak dinafikan bahwa ada penulis-penulis yang memanfaatkan kehadiran media sosial untuk mem-branding diri mereka sebagai penulis sekaligus selebritas. Apa pendapat Anda mengenai hal tersebut?
Media sosial membentuk kultur yang berpusat pada diri. Dalam budaya semacam itu segala sesuatu dilakukan demi memberi nilai lebih pada diri. Dalam kadar cukup besar, sastra kita juga terseret arus itu. Sebagus-bagus karya sastra, jika tidak memberi nilai lebih pada diri dianggap tidak menguntungkan. Sebaliknya, beberapa bait sajak suasana (tepatnya quote/kutipan) yang mendapat atensi besar dari publik akan dianggap amat berharga. Itu nikmat dan manusiawi. Tapi mungkin perlu adanya promosi sastra yang lebih ditekankan pada karya daripada penulisnya, dan dibuat strategi publikasi untuk membantu para pembaca mengenal dan memahami ragam, genre, dan kualitas karya sastra secara bertahap. Tanpa itu, kita akan melahirkan banyak sastrawan besar tapi dengan karya-karya kecil belaka.
Dan layaknya cerita para selebritas, mereka akan menghuni sejarah hanya sebatas kedipan mata.
Beberapa waktu lalu, aparat kepolisian dan TNI menyita buku-buku yang dianggap berbahaya: buku-buku yang menurut mereka mengandung unsur PKI. Bagaimana Anda melihat fenomena demikian?
Cuma Tuhan yang berhak mengontrol pikiran manusia, selebihnya kita merdeka dalam berpikir. Jadi, pemberantasan buku—apa pun alasannya—adalah tindakan kekerasan terhadap pikiran dan upaya mencampuri kewenangan Tuhan. Bahkan jika alasannya adalah keamanan, itu hanya dibuat-buat.
Zaman sudah berubah, komunisme internasional seperti di masa Orde Lama sudah mati, demikian pula era fobia komunis seperti Orde Baru juga telah lewat. Bahkan kaum kiri masa kini kebanyakan justru bekerja di lembaga-lembaga yang didanai oleh Barat yang liberal, seperti terjadi di banyak LSM. Cuma, isu komunis mungkin masih menakutkan bagi kelompok religius konservatif sehingga beberapa pihak masih suka memainkannya ketika ingin menggunakan massa mereka.
Dalam pandangan Anda, sejauh mana ketakutan terhadap buku-buku tertentu akan terus bermunculan di negeri ini?
Ketakutan terhadap pemikiran tertentu akan tumbuh dalam masyarakat yang cenderung konservatif dan rendah indeks literasinya, di samping pragmatisme politik dari pihak penguasa.
Di Abad Pertengahan Eropa, ketika hanya segelintir elite yang bisa membaca buku, pihak gereja takut dengan segala filsafat sampai membakar orang yang berseberangan dengan doktrin mereka. Di masa penjajahan, Belanda mengontrol buku-buku Islam karena takut pengikut Diponegoro yang telah membuat bangkrut VOC lewat Perang Jawa akan bangkit. Orde Baru melarang buku-buku kiri karena takut kaum komunis menyerang balik penguasa.
Jadi kita perlu meningkatkan literasi kita, bukan hanya soal seberapa banyak buku yang dibaca tapi terutama mutu buku-bukunya. Pikiran yang kritis, terbuka, dan pemahaman yang semakin komprehensif membuat kita semakin dewasa, rasional, dan tidak takut pada bermacam gagasan. Tapi yang paling perlu ditingkatkan literasinya justru adalah para penguasa, karena merekalah pihak yang paling sering ketakutan pada entitas abstrak bernama gagasan—hal paling mengerikan sejauh tidak melayani kepentingan mereka.
***
Sebagai penutup, berikut kami lampirkan satu puisi karya Faisal Kamandobat:
Puisi yang Kucinta Telah Pergi
Puisi yang kucinta telah pergi.
Aku hidup tanpa puisi yang kucinta.
Tidak melarat, tidak sekarat,
tapi hidup tanpanya adalah kutukan:
lambang-lambang hanya memancarkan
makna yang sama,
setiap jiwa tetap pada jasadnya masing-masing,
tak ada yang berubah dan salah tempat.
Dunia terasa dingin dan tawar
dalam detik hari-hariku.
Kadang aku ingin menjelma laut
siapa tahu puisi yang kucinta
bangkit dari gelombang darah.
Para mistikus menasehatiku
agar memanggil kekuatan Tuhan
untuk membangkitkan arwah
para penyair yang telah mati,
tapi aku tak lagi bisa mendengar
puisi tentang alam, pahlawan,
atau tentang cinta sentimental.
Puisi yang kucinta
akan menyatukan jiwaku
dengan bayangan dunia ini.
Mungkin ia akan lahir dari asap kata-kata
yang menyihir mata
dari meditasi batu-batu di dasar waktu
dari orang-orang kaya yang malas
atau para bandit yang setia
berhitung dengan takdir.
Puisi yang kucinta telah pergi.
Hidup tanpanya adalah kutukan.
Aku pernah mendengar
puisi yang kucinta
tengah mengembara ke dalam buku-buku
untuk memeras makna
dari huruf-hurufnya yang sekarat.
Aku juga pernah dengar
puisi yang kucinta tengah ziarah
ke makam para moyang
untuk menggali kebijaksanaan
dari tengkorak-tengkorak yang telah
menjadi batu.
Seorang pengelana miskin bilang
puisi yang kucinta
sedang terlibat perang saudara
di negeri-negeri jauh
untuk membunuh para pahlawan dan pengkhianatnya,
menyucikan darah mereka
dengan nyanyian-nyanyian panjang
dan menguburkan mayat mereka
ke dalam keheningan bahasa.
Pada masa damai
puisi yang kucinta naik ke gunung
untuk melucuti rasa bersalahnya
di atas ketinggian. Sesekali ia turun
dan hidup wajar di perkampungan.
Pada malam yang ditentukan
puisi yang kucinta menghadiri rapat rahasia
para penguasa dunia ini
untuk menentukan pusat-pusat kemakmuaran
lengkap dengan cincin kemiskinannya.
Demikianlah puisi yang kucinta
kadang menggelayut di akar kata para penyair,
lebur menjadi batuan dan fosil,
menjadi gelandangan yang liar,
dan meledak di ujung percintaan,
sesekali menyusup ke inti doa atau kutukan
untuk mencuri dengar rencana Tuhan.
Namun dari sekian wajah takdir
yang disandangnya
puisi yang kucinta selalu mengunjungi
bangsa-bangsa yang ditinggalkan sejarah,
mengawini bahasa-bahasa, cerita-cerita,
dan mimpi-mimpi mereka,
memberi jiwa bagi setiap peristiwa dan benda.
Puisi yang kucinta menegakkan bangsa-bangsa
di atas gagasan-gagasan mereka
dan lebur menjadi kitab waktu.
2010-2011[]
Obrolan ngalor-ngidul bersama Felix K. Nesi Pemenang Sayembara Novel DKJ 2018
Novelmu kurang lebih bicara tentang apa?
Banyak hal. Dan karena banyak tokoh juga, masing-masing tokoh berusaha saya ceritakan dunianya. Saya singgung tentang satu tokoh dan saya ceritakan dia bergerak di bidang apa. Misalnya dia pastor. Tiap hari dia begini, begini, dan begini, sedangkan di dalam gereja seperti apa—dia kaya dan senang main perempuan; terus keterlibatan gereja dalam kehidupan masyarakat. Banyak hal saya ceritakan di situ.
Kamu kuliah Psikologi. Pengaruhnya terhadap penokohan novelmu?
Itu sangat membantu. Memang tidak banyak, tapi paling tidak saya tahu kira-kira kalau orang ini alur pikirannya seperti ini, apa yang terjadi dengan dirinya; kenapa dia seperti itu; apa yang kira-kira terjadi di masa lalu sehingga memungkinkan dia berpikir seperti itu. Saya banyak terpengaruh Psikoanalisa.
Kamu bilang, draft novelmu adalah draft novel lama yang dibongkar ulang. Tahun 2016 sudah dikirimkan ke DKJ.
Ya, dulu novel ini ditulis selama tiga bulan—Juli, Agustus, September—untuk dikirimkan ke DKJ. Masuk 20 besar, kalah, kemudian dirombak lagi. Dulu judulnya Duhai Hujan. Judulnya keren, kan?
Duhai Hujan itu inti ceritanya adalah hujan. Saya rasa terlalu melodramatis: terlalu banyak orang lihat ke luar jendela dan memandang hujan. Jadi saya hilangkan semua unsur hujan yang klise itu hingga akhirnya judul pun berubah. Hujan bukan lagi menjadi sesuatu yang penting. Sekarang judulnya Orang-orang Oetimu.
Apakah ada pengaruh dari Orang-orang Bloomington?
Belum tahu. Saya belum baca novel itu. Hahaha.
Buku apa yang berpengaruh terhadap novelmu selama proses mengedit kembali Duhai Hujan?
Kalau bisa saya sebut mungkin Prajurit Schweik karya Jaroslav Hasek, karya-karya Voltaire, Kurt Vonnegut, dan Perburuan-nya Pramoedya. Ketika saya menulis draft novel ini saya ditemani buku tipis itu. Saya suka cara berceritanya Pram di novel itu. Saya harus berterimakasih kepada Pram.
Sejauh ini mana yang lebih memuaskan: menulis cerpen, puisi, atau novel?
Saya merasa gagal menjadi penyair. Jadi saya merasa lebih hidup kalau saya tulis cerpen, tulis cerita-lah. Terkadang saya merasa tidak bisa menulis puisi dan terkadang saya tidak mengerti juga apa yang saya tulis. Dan itu kadang membingungkan saya sendiri.
Berarti dalam menulis prosa kamu bertindak sebaliknya: menulis apa yang kamu pahami dan kamu kuasai, ya?
Iya. Cerpen saya itu hanya dimuat di Tempo dan memang saat menulis cerpen itu, saya tidak mempunyai pretensi untuk dimuat. Saya punya 10 atau 15 cerita pendek yang sebelumnya mau diterbitkan salah satu penerbit di Surabaya, namun sayangnya tidak jadi. Itu cerita-cerita yang saya tulis dan bikin saya sangat puas walaupun kalau cerita-cerita itu dikirim ke media, media akan tolak. Tetapi saya sangat puas secara pribadi.
Kalau tidak salah, seperti Mario F. Lawi, puisi-puisimu juga berkelindan antara tradisi sekitar dan khazanah biblikal, cuma dengan suasana dan gaya ungkap yang lebih santai dan lentur. Sejauh mana khazanah biblikal berpengaruh terhadap karyamu?
Ya, puisi-puisi saya jauh berbeda dengan Mario. Tapi di daerah NTT, kami mendengar cerita-cerita kitab suci itu sejak masih kecil.
Dalam puisi-puisimu selalu ada tokoh.
Ya, kadang saya tulis tetangga-tetangga saya. Keributan tetangga-tetangga saya. Jadi kalau orang kampung yang baca puisi saya, mereka justru mengerti karena mereka tahu tetangga ini-tetangga itu habis kelahi.
Dalam puisi-puisimu juga terasa ada upaya memasukkan humor.
Itu buat main-main saja, sebenarnya, buat mengolok-olok.
Soal upaya mengolok-olok itu dalam prosa juga ada?
Banyak sekali. Nanti baca sendiri. Saya mengolok-olok gereja, tentara, dan sepertinya semua hal. Tapi tidak tahu, ya, berhasil atau tidak. Saya hanya berusaha yang melakukan olok-olok itu tokoh, bukan saya. Tapi ada juga, terkadang, tokoh-tokoh yang bertugas untuk membela.
Sebagai bocoran, persoalan apa yang tampak dalam karya-karyamu?
Banyak. Saya kan cerewet. Menyinggung ke sana, menyinggung ke sini. Tapi satu yang penting, hal-hal yang luput dari perhatian banyak media, itu yang saya ceritakan. Contohnya, truk-truk tentara Indonesia yang banyak menabrak orang. Saking banyaknya, kasus itu dianggap biasa sampai sekarang.
Tentara ngebut, yang disalahkan masyarakat justru adalah warga sipil: para pengendara atau pejalan kaki yang bisa saja diserempet mati. Masyarakat di sana seolah mengamini bahwa negara ini sedang genting, tentara-tentara sedang sibuk, ada tugas negara, jadi tentara tidak bisa disalahkan.
Itu latarnya Peristiwa Timor-Timur, ya?
Ya, itu terjadi saat kekacauan di Timtim berlangsung. Tentara-tentara ini kan di Kupang, sedangkan kerusuhan terjadi di Dili. Jadi, bahkan hampir tiap minggu, dengan mobil Unimog buatan Jerman yang besar-besar itu, para tentara ngebut sepanjang entah berapa ratus kilometer. Mereka jadi raja jalanan.
Dan semua orang di sekitar tahu: kalau kamu lihat truk-truk itu sebaiknya masuk got. Berhenti, matikan mesin, ke pinggir jauh. Karena kalau ditabrak korban disalahkan bukan hanya oleh tentara tapi juga oleh masyarakat sekitar.
Masyarakat seolah bilang: kasih mereka semua jalan, negara sedang perang. Padahal mereka perang di Dili, tapi lari kencang dari Kupang. Bikin mati banyak orang di jalanan—jalan yang justru dibikin dari pajak masyarakat. Pengamat perang dan arsitek perang luput memperhatikan itu.
Harapan atau target setelah memenangkan Sayembara Novel DKJ.
Harapan saya umum saja, lebih kepada soal buku di NTT. Kalau negara bisa buat bensin satu harga: harga bensin di Jawa, di NTT, di Maluku, dan di Papua sama, kenapa buku tidak bisa? Saya berharap kepada pemerintah, kalau bisa masalah itu diupayakan penyelesaiannya. Tapi kalau pemerintah lagi-lagi tidak bisa diharapkan, sepertinya kita yang harus berusaha. Saya tidak tahu caranya seperti apa…
Omong-omong, harga novelmu nanti kira-kira berapa?
Gak tahu, ya. Itu urusan penerbit.
Misalnya harga bukumu di Kupang 30 ribu dan di Jawa 80 ribu.
Boleh itu, senang saya.
***
Dewan Juri Sayembara Novel DKJ (A.S. Laksana, Martin Suryajaya, dan Nukila Amal) menyatakan dari 271 naskah yang diterima panitia, hanya 245 naskah yang dinilai—26 naskah lainnya tidak lolos seleksi administrasi. Dan Orang-orang Oetimu yang keluar sebagai pemenang pertama. Berkisah tentang Suku Dawan di Nusa Tenggara Timur.
“Naskah ini memiliki perbendaharaan kata yang kaya, diperkaya oleh khazanah bahasa Tetun, serta didasari dari penggalian khazanah tradisi Timor Leste dan cerita rakyat serta sejarah lokal NTT. Pembaca diajak menelusuri latar belakang tiap tokohnya yang sebetulnya merupakan elaborasi dari adegan pada bab pertama sebelum akhirnya novel ditutup dengan kembali ke adegan tersebut.
“Penokohan digarap dengan matang, riwayat hidup tiap tokoh dibeberkan secara memadai dan melebar menyentuh berbagai peristiwa sejarah di Indonesia yang menimpa mereka, berikut efeknya pada kehidupan para tokoh—baik secara individual maupun komunal. Selera humornya baik, cenderung subtil, kritik sosial disampaikan secara natural sebagai bagian dari kebutuhan pengisahan. Penulisnya mampu menggambarkan budaya, suasana kehidupan, karakter orang timur dengan sangat kental dan akurat: sebuah contoh fiksi etnografis yang digarap dengan baik.” Demikian penilaian Dewan Juri terhadap novel perdana Felix K. Nesi tersebut.
Felix boleh saja berhenti berharap, bahkan sangat boleh membenci semua hal. Namun, seperti halnya Anda, saya percaya, pembaca novel di Indonesia justru tak pernah kehilangan harapan menanti kemunculan karya-karya bermutu. Dan karena itu, rasa-rasanya tak bakal punya alasan untuk membenci Orang-orang Oetimu.[]
*bagian pertama dari wawancara ini bisa disimak di sini: Felix K. Nesi: “Saya sudah berhenti…”
Obrolan ngalor-ngidul bersama Felix K. Nesi Pemenang Sayembara Novel DKJ 2018
Selasa malam (4/12/18), beberapa saat sebelum memasuki Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, tempat diumumkannya Sayembara Novel DKJ 2018, saya ngobrol ngalor-ngidul dengan Felix K. Nesi, salah seorang nominator.
Obrolan kami terbilang hangat mengingat: (1) sejak 2013 kami sonder ketemu; (2) seperti teman-teman Felix yang lain, saya haqul yaqin penulis asal Timor, NTT tersebut, akan memenangi sayembara itu.
Alasan nomor dua membuat saya tak putus-putus menggodanya.
“Felix, coba kamu jalan dengan badan dibikin tegap dan kepala sedikit didongakkan. Percaya sama saya, itu sikap wajar buat seorang pemenang.”
Felix cuma ketawa dan menganggap omongan saya gurau belaka.
“Tak apa-apa, Felix. Kalaupun nanti kamu memang tidak jadi juara, dan itu tidak mungkin, paling tidak kamu sudah bersikap laiknya seorang juara.” Saya kerap punya cara untuk membuat orang lain tertawa, walaupun—dalam banyak kesempatan—cara-cara demikian lebih sering dianggap menyebalkan.
Obrolan menjelang memasuki Teater Kecil itulah yang kemudian saya jadikan pembuka manakala keesokan harinya, dalam suasana penuh keriangan di Studio Hanafi, Depok, saya bertanya lebih intens kepada Felix mengenai banyak hal.
Obrolan saya bersama Felix terbagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama, khusus membahas remah-remah seputar kebudayaan, problem masyarakat (biar mirip politikus), dan suka-duka Felix sebagai saudagar buku. Sementara, bagian kedua membahas Orang-orang Oetimu, draft novel yang membuat penulis berumur 30 tahun tersebut mengantongi uang 20 juta rupiah kala itu.
Felix, bagaimana perasaanmu saat memasuki Teater Kecil?
Saya senang karena sebelumnya biasa melihat Teater Kecil di video-video. Teater Kecil itu bagus sekali. Teaternya orang-orang Jawa. Itu pertama kalinya saya memasuki Teater Kecil…
Dan langsung menang Sayembara Novel DKJ 2018.
Hahaha. Saya masuk Teater Kecil itu senang-senang sebal. Orang Jakarta punya fasilitas bagus sementara orang-orang di daerah ya, gimana ya… Mewah sekali Teater Kecil itu. Kursi, lampu-lampu… Kalau kita lihat ke atas itu akustiknya sudah tertata. Bagus sekali. Saya lihat itu bukan hanya senang tapi sekaligus sebal: Kalian punya barang sebagus ini di kota sementara kami yang di daerah kalau mau buat acara bingung cari gedung. Dapat pinjaman gedung, aula, dindingnya kaca semua. Suaranya terpantul tujuh kali. Bong bong bong bong bong bong bong…
Dengan fasilitas semacam itu, menurutmu, “kebudayaan orang kota” itu seperti apa?
Saya tidak tahu tentang itu.
Atau, dengan fasilitas semacam itu, harapanmu, karya yang dihasilkan seharusnya seperti apa?
Saya tidak berani berharap. Bukan tidak berani. Saya sudah berhenti berharap. Hahaha.
Dilihat dari pandangan sekilas lalu saja, apakah dengan fasilitas semacam Teater Kecil sudah ada karya berkualitas yang dihasilkan orang-orang kota?
Saya tidak bisa berkomentar soal itu.
Kita bicara soal buku saja. Jangkauan buku, akses kepada buku, akses kepada pengetahuan. Di kota banyak buku-buku bagus. Buku-buku bagus dan murah. Tapi nanti kalau buku-buku itu dikirim ke luar Jawa, harganya jadi mahal. Orang-orang di sana sudah miskin, disuruh beli buku-buku mahal. Ya kami lebih pilih beli makanan, toh.
Oke, soal ketimpangan antara kota dan daerah.
Sementara ini alangkah baik kalau mereka, orang-orang kota, tidak memaksakan penyeragaman. Mereka membuat satu sistem yang menguji kami di daerah dengan satu standar yang sama. Jelas tidak bisa sama, toh.
Kamu sangat sebal dengan pandangan semacam itu?
Iya, kami yang di daerah akhirnya hanya dilihat dengan…
Tadi malam saja saya tegur orang-orang ketika tepuk tangan karena saya sudah terbiasa, ketika hadir di suatu tempat, dan saya dari kampung, dari daerah yang jauh, kena tipu-tipu juga. “Kamu dari mana?” “Dari Timor” “Waaaaaah.”
Jadi, orang-orang kota itu seolah bilang: “Ini orang kampungnya sudah datang dan duduk di antara kita orang beradab ini. Tapi walaupun dia belum beradab seperti kita, kita perlu memberinya tepuk tangan dan apresiasi.”
Kadang pandangan semacam itu terlalu negatif. Tapi itulah yang saya pikirkan. “Anak ini telah berusaha di tengah kekurangannya di daerah Timor.” Itu kan menjijikan sekali. Kadang menyakitkan juga. “Waaaah kamu dari Timor yaaaa.”
Kalau boleh tahu, katakanlah “kebencian” terhadap Jakarta atau terhadap “pandangan orang-orang kota” semacam itu sudah tertanam sejak kapan?
Sebenarnya, bukan kebencian terhadap Jakarta saja, sih. Saya benci terhadap semua hal. Hahahaha. Cuma memang, dikotomi antara pusat-daerah itu sangat terasa sesudah saya besar di daerah, bersekolah di Jawa—di pusat—lalu saya kembali lagi ke daerah. Itu kelihatan sekali perbedaan-perbedaannya.
Kita ini dijajah mulai dari pikiran. Contoh sederhana, anak-anak kita yang kecil-kecil itu, anak SD yang pegang HP, bikin vlog. “Hai gua mau ke sana nih.” Bayangkan ini anak-anak di daerah ingin menjadi seperti anak Jakarta. Sekecil itu, bayangkan.
Artinya, dengan banyak media: televisi, majalah, dan segala macam, orang-orang di daerah dipaksa untuk menjadi sama dengan orang-orang di pusat. Hal-hal semacam itu yang kadang sangat menyedihkan. Seolah anak-anak di daerah malu dengan budayanya sendiri, malu dengan apa yang mereka punya karena mereka sudah terpengaruh dengan standar orang-orang Jakarta.
Sebenarnya, kalau misalnya—di mana-mana ada positif dan negatifnya, ya—dua-duanya diangkat, itu jadi beragam. Punyamu bagus, punya ini bagus, kita jadi punya sesuatu yang bagus dan banyak. Seperti kita punya apel, kita punya pisang, dan dua-duanya sama-sama enak. Ayo, kamu pilih mau makan yang mana?
Tapi kondisi yang ada sekarang seolah berusaha membenamkan yang satu dan meninggikan yang lain.
Secara tidak langsung, dalam novelmu ada upaya mengangkat kebagusan yang lain itu?
Dalam novel ini saya hanya bercerita. Masing-masing tokoh menceritakan apa yang menurut dia benar.
Soal kemenangan kemarin, apakah itu boleh dibilang semacam pukulan buat orang-orang kota?
Buat AC Milan. Hahaha. Saya tidak tahu. Saya tidak berspekulasi sampai ke sana.
Ada tidak keinginan menyuarakan kehendakmu sendiri mengingat, misal, saat orang-orang dari Jawa datang ke tempatmu, yang dilihat tak lebih dari sekadar eksotisme belaka—seperti halnya tak sedikit orang Barat saat dulu datang ke Nusantara. Dalam pandanganku, paling tidak dilihat dari konten-konten Instagram atau film seperti Marlina, eskotisme semacam itulah yang umumnya dianggap sebagai kenyataan daerah NTT.
Ada, sebenarnya, itu banyak saya garap di novel saya.
Dengan kata lain, ada keinginan secara terbuka untuk mengemukakan persoalan sosial di daerahmu sebagai perlawanan terhadap “pandangan-pandangan penuh eksotisme” yang melingkupinya?
Sebetulnya saya menulis novel hanya untuk menulis saja. Tapi mungkin hal-hal semacam itu, menyuarakan sesuatu, sudah tersimpan lama dalam diri saya sehingga dengan sendirinya apa-apa yang keluar larinya ke situ. Tapi itu pun sebenarnya tidak direncanakan juga. Hanya saja, mungkin, hal-hal semacam itu sudah saya simpan sejak kecil.
Dan kalau omong-omong soal eksotisme, Timor itu bagi kami biasa saja. Mungkin karena sudah terbiasa di situ. Sabana juga kering kerontang.
Oh iya, problem masyarakat NTT sendiri bagaimana?
Di NTT itu sangat banyak masalah. Sekarang lagi ramai masalah Human Trafficking. Saya pikir banyak sekali masalah di provinsi itu. Seolah saat kami membicarakan satu persoalan yang belum selesai, ada persoalan baru yang menutupi persoalan lama itu. Kacau sekali.
Ya, berita soal Human Trafficking di NTT sempat kubaca, ada beberapa NGO di sana yang fokus ke masalah itu.
Sekarang banyak LSM soal itu. Ada IRGSC [Institute Resource Governance and Social Change], JPIT [Jaringan Perempuan Indonesia Timur], dan lain-lain.
Selain di sastra, kamu juga bergiat juga di lembaga-lembaga itu?
Iya, kalau ada diskusi-diskusi pasti datang. Sebenarnya saya di sana lebih banyak bergiat di komunitas-komunitas semacam itu. Di Dusun Flobamora, kecuali ada kegiatan penting, pasti saya datang. Hanya saya lebih sering datang ke teman-teman pekerja sosial.
Dan itu berpengaruh terhadap karyamu?
Ya, karena saya pikir itu penting sekali. Masalah-masalah sosial kami ini perlu diceritakan. Perlu ada yang tahu, ada yang dengar. Jadi saya hanya cerita saja.
Selain bergaul dengan pekerja sosial, apa lagi kegiatan yang rutin kamu lakukan di sana?
Saya dan teman-teman bikin komunitas. Leko namanya. Berbeda dengan Flobamora—tempat kami belajar baca-tulis baca-tulis, jadi penulis—Leko itu lebih ke komunitas literasi. Ajak orang untuk membaca yang banyak, kesadaran untuk menghindari hoaks, jadi kampanye-kampanyenya seperti itu.
Kami juga bikin perpustakaan-perpustakaan jalanan. Jadi tiap akhir minggu ke taman, bawa buku-buku, duduk di situ, nongkrong, ajak orang membaca, nanti ada yang datang.
Kegiatan-kegiatan semacam itu sebetulnya saya lakukan sejak di Malang, bersama seorang kawan pejuang literasi yang militan: Ragil Cahaya Maulana.
Oh iya kamu juga pemilik toko buku Fanu Books. Sudah berapa lama jualan buku?
Sudah setahun, sejak lulus kuliah.
Senang?
Senang. Dan banyak bangkrutnya karena saya jual ke teman-teman juga, jadi gak bisa terlalu banyak berharap. Dan karena saya jual buku-buku yang saya suka, jadi saya puas-puas saja kalau orang-orang yang saya tawari bilang “wah bukunya bagus.”
Kalau orang senang, kadang saya gak pikirkan lagi orang itu bayar atau tidak.
bersambung ke Bag. 2