Nul

820 462 Dadang Ari Murtono

Nul berhenti mengonsumsi dobel L setelah sepuluh tahun menjadi pengguna setia. Bukan hal yang mudah, namun pada akhirnya, atas dorongan pacarnya, ia berhasil melewatkan dua hari dengan bersih. Intinya sederhana: menjauhkan pil-pil itu dari jangkauannya dan mengabaikan pemakluman yang tak perlu semacam: tidak mungkin langsung berhenti. Untuk memulainya, harus mengurangi dosisnya terlebih dahulu, maka biarkan aku memakainya tiga butir hari ini. Toh, sebelumnya, aku menghabiskan tiga belas butir per hari. Ia terkejut mendapati tubuhnya tidak kesakitan seperti yang ia duga atau seperti yang dikatakan teman-temannya: Kepalamu seperti  pecah dan kau tidak bisa melakukan apa-apa.

Pada hari pertama, pacarnya mengirim buah-buahan; sekilo anggur merah, tiga butir alpukat besar, sebutir semangka, dan dua sisir pisang ulin. “Buah akan membantu membersihkan zat-zat berbahaya yang tersisa dalam darahmu,” kata pacarnya, seorang mahasiswi akademi kebidanan. Nul memakan semuanya seraya mengingat wajah pacarnya yang halus dan bercahaya dan pernah berjanji akan menikah dengan Nul begitu perempuan itu diwisuda dan Nul sudah benar-benar bersih dari pengaruh dobel L.

Malam harinya, Nul tidak bisa tidur. Dan itu bukan sesuatu yang pantas dicemaskan, pikir Nul. Sepanjang menjadi pengguna aktif dobel L, ia tidak pernah mudah tidur. Kerongkongannya kering menuntut diguyur kopi panas. Bicaranya cadel. Ada lingkaran hitam di bawah kelopak matanya. Tangannya tremor. Semua adalah efek wajar dari obat seharga seribu rupiah per butir tersebut. Biasanya, ia baru bisa memejamkan mata menjelang dini hari. Sesekali, ia terlelap bersamaan dengan suara adzan subuh dari mushola dekat rumahnya. Tidak bisa tidur adalah sesuatu yang biasa baginya. Namun kali itu, hingga matahari terbit, matanya masih segar dan ia berguling-guling di kasurnya. Ia mulai cemas.

Ia masih berusaha tidur ketika matahari naik. Ia resah dan mulai yakin ada sesuatu yang salah. Ia mengira dengan menenggak segelas susu, kantuk akan segera mendatanginya. Maka ia pergi ke dapur. Orang tuanya telah pergi ke sawah merawat tomat yang baru sebulan ditanam dan ia melihat sepiring nasi goreng di atas meja makan. Ia tidak tertarik menyentuhnya. Setelah membuat segelas susu kental manis dan menghabiskannya dalam dua kali teguk, ia balik ke kamarnya.

Nul masih tidak bisa tidur sewaktu matahari terbenam. Ia telah memakan nasi goreng sarapannya pada jam sepuluh pagi, menyantap pecel ketika ibunya pulang jam dua siang, dan makan bakso menjelang magrib. Wajahnya pucat dan pandangannya sayu. Tubuhnya lemas. Ibunya mengira ia sakit dan menyuruhnya pergi ke dokter. Nul buru-buru menolak. Ia takut dokter akan mengerti bahwa ia seorang pengguna dan melaporkannya ke polisi.

Sebagai pecandu, ia memiliki banyak kawan yang pernah diringkus polisi. Menghabiskan beberapa tahun dalam ruang pengap penjara. Ia mendengar cerita bagaimana proses interogasi berlangsung. Arif dikepruk menggunakan mesin ketik, jempol kaki Jun amblas di ujung catutan paku, sementara Bleki direndam dalam bak mandi seharmal hingga kulitnya mengisut. Siksaan bagi para pesakitan itu tidak lantas berakhir setelah proses interogasi.

Di dalam penjara, ancaman lain menanti dan kadang lebih mengerikan. Ancaman itu berasal dari narapidana yang lain, dan orang-orang yang namanya mereka sebutkan selama proses interogasi yang pastinya akan segera menyusul diringkus. Saidi keluar dari penjara dengan kaki pincang lantaran hajaran dari bandar obat yang namanya ia sebut sewaktu interogasi. Saidi bersumpah tak mau berhubungan dengan orang-orang semacam itu lagi di sisa hidupnya. Namun ucapan Saidi hanyalah omong kosong belaka. Sebulan setelah keluar penjara, ia kembali bisa ditemukan di warung tepi kampung, di mana narkoba murah diperjualbelikan. “Aku tak bakal tertangkap kali ini,” katanya dengan lidah menekuk-nekuk.

Memikirkan hal itu, Nul tambah cemas. Matanya tambah sayu, namun kantuk kian menjauhinya. Ia menelepon pacarnya yang menyuruhnya menghitung domba imajiner. “Kau akan tertidur sebelum domba ke seratus.” Nul sebetulnya mengharapkan pacarnya datang dan mengajaknya jalan-jalan, berciuman di tempat yang sepi dan memberinya sedikit kocokan. Namun pacar Nul mengatakan bahwa ia sedang banyak tugas dan berjanji akan datang esok harinya.

Nul berpikir untuk keluar dan nongkrong bersama teman-temannya. Namun buru-buru ia batalkan niatan itu. Bertemu teman-temannya adalah ide buruk yang bisa membuyarkan usahanya selama dua hari terakhir ini. Mereka semua pecandu. Mustahil menolak bila mereka memberinya beberapa butir pil terkutuk itu.

Domba imajiner pertama yang muncul adalah domba berbulu gimbal, domba kedua domba berbulu pendek yang sepertinya baru dicukur habis-habisan, domba ketiga lebih gemuk dari dua domba sebelumnya, dan domba keempat melompat tanpa semangat. Pada domba ke-53, yang kupingnya berkurap, Nul mulai menguap. Pada domba ke-62, yang sebesar gajah dan tampak aneh dengan bulu ungu, tiba-tiba seekor macan yang sepertinya tercipta dari udara melompat dan menerkam domba tersebut. Nul tersentak. Ia berteriak tanpa sadar. Tepat pada saat itulah, si macan melepas domba yang mengembik kesakitan lalu menoleh ke arah Nul.

Seekor macan dengan kumis berjumlah delapan, berkaki lima dengan kuku-kuku berkilat laksana permata, dan bertaring sepanjang setengah meter. Bulu-bulunya berkilau tertimpa cahaya yang entah dari mana datangnya. Si macan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Kilauannya menyebar ke mana-mana. Si macan menggeram, dan Nul merasakan lindu akibat getaran geraman itu.

Si macan mendekati Nul. Nul merasa bulu kuduknya rontok, alih-alih berdiri. Macan itu menatapnya dengan mata yang besar dan menyala dan menyilaukan seperti matahari pagi. Nul berusaha bangkit dari kasurnya yang terasa dingin, namun tubuhnya sekaku tiang beton bertulang. Macan itu mendekati Nul, menggeram sekali lagi sebelum tiga detik selanjutnya, melompat dan menerkam Nul, lantas mencabik-cabik tubuh ringkih itu. Nul bahkan tak sempat berteriak.***

Dadang Ari Murtono

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

All stories by:Dadang Ari Murtono
Leave a Reply

Dadang Ari Murtono

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

All stories by:Dadang Ari Murtono
error: