Wilco dan Cerita-Cerita Cabul

820 820 Ricky P. Rikardi

Wilco menulis cerita-cerita cabul dari dalam kamar sempit berukuran 1 x 2 meter yang hanya mampu memuat sebuah kasur lipat, sebuah meja dan kursi kecil, dan kipas angin yang penuh debu, dan sebuah jendela yang menghadap ke arah timur, yang membantu menyelamatkan kamar itu dari bau apek yang bahkan bisa membunuh seekor kecoak. Kamar itu senantiasa berantakan, dengan tumpukan majalah dan komik bekas, baju-baju yang belum disetrika, sepatu buluk, kaus kaki, plastik bekas belanjaan, botol-botol minuman kosong, dan asbak yang penuh dengan puntung rokok, tapi Wilco menyukainya, dan menganggapnya sebagai surga.

Setiap malam, Wilco akan duduk di kursi kecilnya menghadap halaman buku catatannya yang masih kosong dan mulai menulis cerita-cerita cabul. Ia mulai menulis dari pukul 9 malam sampai pukul 12 sambil mendengarkan siaran radio yang memutarkan lagu-lagu pop tahun 80an. Wilco tidak mempunyai komputer atau laptop sehingga ia harus menulis cerita-cerita cabulnya dengan tangan. Itu bukan masalah besar buat Wilco. Ia merasa bisa menulis dengan cepat dengan tangannya dibandingkan saat mengetik. Esok pagi, sambil berak, Wilco akan membaca ulang cerita-cerita cabul yang semalam ditulisnya. Ia akan menambahkan beberapa kata yang dianggap kurang atau mencoret beberapa kalimat yang dianggap tidak perlu. Setelah itu ia mandi dan berangkat kerja dengan hati riang.

Wilco si pemuda kurus yang tidak tahan dengan mesin pendingin udara dan menderita salesma seumur hidupnya bekerja sebagai perawat kamar operasi sebuah rumah sakit negeri, di ruangan dengan mesin pendingin udara yang membuatnya harus bersin-bersin selama 8 jam. Ia pernah meminta kepada atasannya untuk memindahkannya ke tempat yang tidak berpendingin udara sehingga ia tidak perlu bersin-bersin dan Pak Jibeng, si bos, seorang lelaki gemuk dengan kumis yang mengingatkanmu kepada seekor lele, hanya berkata.

“Wilco, satu-satunya tempat yang tidak memakai AC di tempat ini cuma di toilet. Mau kau kutempatkan di toilet?”

Dan Wilco hanya bisa menggerutu dan berdoa semoga ia tidak mati karena bersin-bersin. Ia pernah mendengar seseorang yang bilang kalau manusia bisa mati karena kesepian dan kesedihan, tetapi ia belum pernah mendengar manusia yang mati karena bersin-bersin. Semoga ia tidak menjadi manusia pertama yang mati karena bersin-bersin.

Sepulang kerja Wilco akan mampir di sebuah rental komputer langganannya untuk mengetik ulang tulisannya dan mencetaknya. Si penjaga rental, seorang pemuda tampan berponi miring ala aktor-aktor drama Korea, selalu menyapanya dari balik layar komputer.

“Hai Wilco. Cerita apa yang kamu tulis hari ini?”
“Seorang detektif ulung perayu perempuan. Kamu mau membacanya?”
“Oh, tidak, Wilco. Terima kasih. Aku sudah tahu ke mana cerita itu berujung.” Jawabnya sambil terkekeh.

Bahkan, seorang penjaga rental komputer yang selalu membantu Wilco mencetak tulisan-tulisannya tidak sudi membaca cerita-cerita cabul miliknya.

Wilco akan membawa cerita-cerita cabul yang sudah dicetaknya dan memberikannya kepada Manda, satu-satunya perempuan di dunia ini yang masih sudi membaca cerita-cerita cabul milik Wilco. Tidak ada yang bisa diceritakan tentang Manda, selain nama lengkapnya adalah Nuraini Alamanda dan dia adalah seorang dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis anestesi yang selalu bernasib sial dan mereka sering bertemu di rumah sakit tempat Wilco bekerja.

“Hai, Manda. Aku punya sebuah cerita baru. Bacalah.”

Lalu Manda akan mengambil kertas yang diberikan oleh Wilco dan membacanya.

“Cerita macam apa ini? Bisa nggak sih kamu bikin cerita yang nggak mesum? Cobalah kamu tulis cerita-cerita sedih penyayat hati atau cerita-cerita romantis.”
“Menurutku cerita ini romantis. Kamu pernah membaca ceritaku yang berjudul Tante Rina dan Pemuda Penjual Galon? Menurutku itu adalah cerita sedih.”
“Di mana letak kesedihan dari cerita tentang seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya lalu bermain gila dengan tukang galon?”
“Ah, kamu nggak mengerti, Manda. Coba gunakan imajinasimu. Gunakan imajinasimu, Manda.”

Gunakan imajinasimu, Manda. Itu adalah kalimat favorit Wilco setiap kali Manda protes dan misuh-misuh setelah membaca cerita cabul miliknya.

“Berapa usiamu, Wilco?”
“Dua puluh delapan tahun ini.”

“Sebaiknya kamu berhenti menulis cerita-cerita cabul dan mulai mencari pacar. Nggak ada perempuan yang mau pacaran dengan laki-laki penulis cerita cabul.”

“Sialan, kau. Dan berapa usiamu, Manda?”
“Tiga puluh.”
“Kamu nggak menulis cerita-cerita cabul dan kamu tetap nggak punya pacar.”
“Kurang ajar, kau, Wilco!”

Kurang ajar, kau, Wilco adalah umpatan favorit Manda yang sering ia lemparkan kepada Wilco. Umpatan itu berasal dari suatu malam saat Wilco tiba-tiba meneleponnya.

“Halooo, Manda. Kamu sudah tidur? Aku punya sebuah cerita bagus. Kamu harus membacanya.”
“Kurang ajar, kau, Wilco. Kamu tahu sekarang jam berapa?”
“Hampir jam 12.”
“Kurang ajar, kau, Wilco. Aku butuh tidur!”

Begitulah.

Wilco si pemuda kurus yang menderita salesma seumur hidupnya terus menerus menulis cerita cabul dari kamar sempit yang selalu berantakan dan berbau apek. Tidak ada seorang pun yang membaca cerita-cerita cabul miliknya. Ia pernah mencoba mengirimkan naskah ceritanya ke beberapa penerbit tapi tidak ada satu pun yang bersedia menerbitkannya. Hanya Manda, satu-satunya orang di dunia ini yang masih sudi membaca cerita-cerita cabul milik Wilco, meskipun ia sendiri tidak pernah menyukainya dan menyarankan Wilco untuk berhenti menulis cerita-cerita cabul.

Namun, Wilco tidak pernah berhenti. Setiap malam, di kamar sempitnya, Wilco terus menulis cerita-cerita cabul. Sesekali ia akan meregangkan badan dan jari-jari tangannya yang terasa pegal, lalu lanjut menulis. Di lain kesempatan ia akan memukul meja dan tertawa-tawa sendiri saat merasa menemukan ide cerita yang menurutnya cemerlang. Setelah selesai ia akan meletakkan penanya begitu saja, merokok sebatang, lalu beranjak merapikan kasur sekenanya dan mematikan radio dan lampu kamar. Wilco mungkin akan tertidur dan bermimpi menjadi penulis cerita cabul yang dilupakan orang, atau bermimpi menjadi seorang pahlawan di salah satu cerita cabul miliknya, atau tidak bermimpi sama sekali.

Esok pagi ia akan bangun dan berangkat kerja dengan hati riang dan mengetik ulang cerita yang baru ditulisnya, dan mencetaknya, dan tidak ada seorang pun yang sudi membacanya, kecuali Manda. Manda si calon dokter anestesi yang selalu bernasib sial. Ia pernah kehilangan uang di lokernya sebanyak 3 kali, ia pernah dijambret dan ponselnya terlindas roda bajaj sampai hancur, tapi ia satu-satunya orang di dunia ini yang sudi membaca cerita-cerita cabul milik Wilco.

Sekali waktu Manda pernah bertanya kepada Wilco. Mereka sedang duduk bersama. Di depan mereka, operasi kraniotomi sudah berjalan lebih dari tiga jam. Mereka mungkin akan pulang larut hari itu.

“Wilco, kenapa kamu terus-terusan menulis cerita-cerita cabul?” Suaranya lirih, bersaing dengan bunyi konstan dari mesin suction dan layar monitor yang menampilkan gelombang jantung yang mirip gambar rumput anak TK.

Wilco tidak langsung menjawab pertanyaan Manda. Ia malah mengucek-ngucek hidungnya yang tertutup masker saat mendengar pertanyaan itu. Ia terlihat hendak bersin tapi ternyata tidak. Ia tampak berpikir keras untuk menjawabnya.

“Dunia ini nggak menawarkan apa-apa, Manda.” jawabnya setelah beberapa menit ia hanya diam, “kita lahir dan hidup tanpa tahu kenapa dan untuk apa? Aku tidak tahu apa yang aku lakukan besok, dan besoknya lagi, atau besoknya lagi. Aku nggak punya bayangan apa-apa tentang masa depan. Tapi aku tahu satu hal, menulis cerita-cerita cabul adalah satu-satunya hiburan buatku.”

Wilco terlihat puas dengan jawaban yang baru saja ia ucapkan. Ia kembali mengucek-ngucek hidungnya yang terasa gatal, dan kali ini, ia bersin sebanyak tiga kali berturut-turut. Manda menatap Wilco dengan risi. Di sudut mata Wilco, Manda melihat air mata mulai menggenang.

Ricky P. Rikardi

Ricky P. Rikardi

Sehari-hari bertugas sebagai perawat kamar operasi di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo. Novel pertamanya berjudul Waktunya Menutup Toko (Rotasi Books 2019).

All stories by:Ricky P. Rikardi
Ricky P. Rikardi

Ricky P. Rikardi

Sehari-hari bertugas sebagai perawat kamar operasi di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo. Novel pertamanya berjudul Waktunya Menutup Toko (Rotasi Books 2019).

All stories by:Ricky P. Rikardi