Mitos Bergandengan Tangan dan Sebuah Ciuman

820 820 Polanco S. Achri

Di negerimu, ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa mereka yang bergandengan tangan akan mengalami kelumpuhan dan yang berciuman mesti menerima sebuah kematian. Masyarakat hanya diizinkan para penguasa bergandengan dengan perantara, tongkat dengan ukuran tertentu. Masyarakat pun diminta untuk memakai topeng di jalan dan di tempat umum dengan serangkaian alasan agar terhindar dari kematian. Oleh karenanya, negerimu terasa begitu sepi, ditambah larangan agar tak keluar negeri. Akan tetapi, buku-buku masihlah dapat melintasi batasan geografi. Ah! ya, para penguasa di negerimu juga memakai topeng dan menjauhi bergandeng tangan.

Dari buku-buku, kau yang masih remaja, yang masih belasan berusia, jadi memiliki gambaran tentang dunia; meski di suatu buku kau dapati seorang berkata: Dunia lebih fiksi daripada fiksi itu sendiri. Dan dari buku-buku pula, kau jadi mengetahui, seorang ibu biasanya akan mengecup kening anaknya sebelum tidur; tapi kau yang hidup dan besar di panti asuhan tidaklah mengenal hal yang demikian, ditambah kenyataan di negerimu—yang membatasi bergandengan tangan dan ciuman. Akan tetapi, selama masih ada buku-buku, ucapmu, kau masih bisa merasa sedikit bahagia.

Adapun, kini, kau sedang duduk sendiri di tepi kali, sebuah kali yang jarang sekali dijaga para serdadu berbaju kelabu. Di tepi kali itu, kau pun memandangi dua tanganmu; dua tangan yang, menurut buku yang kau baca, buku tipis berwarna jingga, menunjukkan nasib daripada pemiliknya. Akan tetapi, sudah cukup lama kau pandangi sepasang tangan itu, dan tak juga bisa mengetahui tentang nasibmu sendiri. Sayang sekali tak terbaca, ucapmu lirih seraya memandang langit, memandang arah bagi harapan dan sejenisnya.

Saat memandang langit, kau teringat kejadian beberapa hari lalu . . . .

Sepulang dari perpustakaan, kau dapati teman sekolahmu, yang satu kelasnya hanya berisi lima orang, tiba-tiba menyentuh tanganmu—dengan tangannya! Seketika, tubuhmu kaku, tak bisa bergerak, buku-buku pun jatuh ke tanah. Dalam pikiranmu, dalam benakmu yang remaja berusia belasan itu, saat itu, hanya ada satu hal: pulang dan membasuh tangan, dengan air khusus yang dijual oleh para penguasa di negerimu. Akan tetapi, kau masihlah terpaku; dan gadis itu pun malah berkata:

Ciumlah aku!

Mendengar hal itu, kau kian terpaku, kian terdiam dan membisu. Tanpa kau duga, dan juga kau sangka-sangka, gadis itu pun segera mencium tepat di bibirmu! Namun, tak terjadi apa-apa. Karenanya, gadis itu pun berkata:

Seharusnya bibir dengan bibir; bukan topang dengan topeng! Menyebalkan  . . .

Gadis itu hendak melepas topengmu; tapi belum sempat dilakukan ada serdadu yang datang. Gadis itu pun lari, dan seorang serdadu mengejarnya. Seorang serdadu membawamu pulang setelah mengajukan beberapa tanya yang kau jawab sekenanya saja. Sesampainya di panti, di pondok yang tua dan kusam, yang berwarna abu dan muram, pengasuh-penjaga itu segera saja memintamu berendam dengan air khusus tadi, hingga kulit tangan dan kaki jadi mengerut.

Angin berembus, dan kau tersadar dari lamunanmu!

Sebuah batu pipih kau lemparkan, dan lima pantulan kau dapatkan. Dengan perlahan, sambil membawa buku Hamlet dan Macbeth, kau pun berjalan pulang dan membayangkan andai kata ciuman itu benar-benar terjadi.

Andai diriku cukup berani dan bisa mengulanginya lagi, ucapmu pelan, maka tentu diriku ingin sekali menciumnya, meski hanya sekali, meski sesudahnya diriku akan mati, meski diriku akan masuk ke dalam kegelapan abadi seorang diri.

Akan tetapi, setelah kejadian itu, kau tak pernah bertemu dengannya lagi. Hanya saja di tiap senja, ada seekor burung gereja yang hinggap di dekat jendela kamar pondokanmu dan baru pergi setelah kau membacakan sepotong puisi atau sebuah kisah pendek.

Ciuman akan mengatakan segalanya, ucapmu lirih di senja ini. Akan disampaikannya apa-apa yang sulit disampaikan oleh kata-kata.

Kau sama sekali tak membenci dunia, sama sekali tak membenci negerimu, sama sekali tak membenci pondok kusammu, sama sekali tak membenci seorang atau sepasang yang membuangmu, sama sekali tak membenci apa-apa bahkan dirimu sendiri. Kau hanya ingin sekali memeluk gadis itu dan menciumnya. Betapa manusia tidak bisa memeluk dan juga mencium dirinya sendiri.

(2020—2021)

Polanco S. Achri

Polanco S. Achri

Lahir dan tinggal di kota Yogyakarta. Lulusan jurusan sastra yang kini menjadi pengajar di sebuah sekolah menengah kejuruan di Sleman. Menulis prosa-fiksi dan drama.

All stories by:Polanco S. Achri
Polanco S. Achri

Polanco S. Achri

Lahir dan tinggal di kota Yogyakarta. Lulusan jurusan sastra yang kini menjadi pengajar di sebuah sekolah menengah kejuruan di Sleman. Menulis prosa-fiksi dan drama.

All stories by:Polanco S. Achri