Nevermind 27

820 820 Kiki Sulistyo

Kurtiyah melangkah seperti kucing gempal di bawah sorot lampu dan kilat kamera. Tubuhnya melenggang setiap kali kakinya diayunkan. Wajahnya dingin, bibirnya tebal, matanya besar lurus menatap ke depan seakan-akan muak dengan semua yang ada di sekitarnya; panggung, penonton, cahaya, suara-suara. Dia sudah jadi model selama satu dekade, dan ini adalah panggung terakhirnya.

Sewaktu keluar dari hotel tempat peragaan busana, dia melihat seseorang yang dikenalnya di antara kerumunan. Ada raung gitar di kedalaman dadanya ketika sosok itu tertangkap olehnya. Para juru foto terheran-heran, mereka butuh waktu beberapa detik sebelum menyadari bahwa itu situasi yang menguntungkan.

Kurtiyah berdiri di dekat mobilnya dengan busana rancangan Nova Selic dan kacamata hitam produksi Dave Grola, sementara cahaya kamera menyambar-nyambar seperti kilat. Di balik kacamatanya, Kurtiyah tak berkedip menatap sosok itu. Sopirnya sampai keluar dan berkata setengah berteriak agar dia segera naik.

“Sebentar,” katanya sambil membuka kacamata. Para juru foto makin girang, bahkan sekarang orang-orang yang lewat ikut mendekat. Kurtiyah memang bintang. Bintang mahal yang bisa disejajarkan dengan lubang hitam atau binatang langka. Maka hampir setiap orang terkejut ketika sekonyong-konyong Kurtiyah berteriak memanggil nama seseorang. Namun karena hampir setiap orang langsung menoleh, tak ada satu pun yang tahu siapa sebenarnya yang dipanggil.

Semua orang yang mendengar teriakan itu merasa dirinya dipanggil. Mereka berbondong-bondong menghampiri Kurtiyah bagaikan rombongan orang yang hendak berangkat ibadah. Kurtiyah jadi kerepotan, dia berusaha mencari-cari sosok yang tadi dilihatnya, tapi sosok itu sudah lenyap. Dia putuskan untuk masuk ke mobil dan meminta sopir berangkat. Tapi sopir itu juga sudah tidak ada. Dia menengok ke luar lewat jendela untuk mencari si sopir. Kerumunan orang makin luas dan dia tidak melihat tanda-tanda adanya si sopir. “Ah, sial. Ke mana dia,” serunya sambil membungkuk ke depan untuk melihat adakah kunci mobil masih tergantung di tempatnya.

Ternyata ada. Dia segera pindah ke kursi depan.

Mobil bergerak. Orang-orang mengikuti, sebagian menghadang. Sulit baginya keluar dari kerumunan kecuali mau mengambil risiko dengan menabrak sebagian mereka. Dan risiko itulah yang diambilnya. Dia tekan gas hingga orang-orang di sekitarnya terpental. Beberapa orang terjengkang di aspal, beberapa yang lain tersangkut di sela-sela batang palma.

Kurtiyah tidak berhenti. Polisi pasti akan datang ke rumahnya, memeriksa insiden mengemudi secara ugal-ugalan itu. Namun dia tidak begitu peduli, pikirannya masih tersangkut pada sosok yang tadi dilihatnya, sosok yang pernah dikenalnya.

Dia melihat sosok itu pada tahun pertamanya bermukim di Seattle. Waktu itu salju turun dengan brutal. Angin menderu-deru di tengah hamparan salju yang dilihatnya dari jendela kamar. Batang-batang pohon membeku seperti tiang-tiang kota yang sudah ditinggalkan. Sesekali melintas hewan-hewan pengerat, mencari keberuntungan di tengah musim yang kejam.

Dari kejauhan sosok itu berjalan tertatih-tatih. Dia mengenakan flanel kumal, jin yang sobek di bagian lutut dan sepatu kasual. Pakaian yang mustahil di saat cuaca sedingin itu. Sosok itu berjalan sampai depan jendela. Dari dekat dapat terlihat sosok itu terikat di palang kayu, kedua tangannya membentang, rambutnya pirang acak-acakan. Dia tampaknya telah menyeret palang itu selama dua puluh tujuh tahun. Roman mukanya penuh derita. Dia mendekat ke jendela, uap napasnya menempel di kaca. Sosok itu meraung-raung sebelum tiba-tiba meleleh seperti es krim. Saat Kurtiyah keluar, dia melihat ada lingkaran di tempat sosok itu tadi berdiri; hitam, seolah ada sesuatu yang pernah terbakar di sana. Saat itu, suatu aroma asing pelan-pelan menguar, “Hmm, smells like teen spirit,” gumam Kurtiyah seakan tidak benar-benar sadar akan kata-katanya sendiri.

Akhir-akhir ini aroma itu tidak pernah lagi diciumnya. Padahal sebelumnya, setiap kali aroma itu tercium, dia merasa bebas dan dipenuhi energi pemberontakan. Dengan energi itu dia bisa menapaki karir yang membawanya ke puncak piramida dunia busana. Dia adalah super model dengan peringkat tertinggi dari segala aspek yang menjadi ukuran bagi seorang model.

Sekarang tampaknya dia kembali membutuhkan aroma itu. Orang-orang yang ditabraknya mungkin ada yang cedera berat, bahkan mungkin mati. Namun ketika dia mencoba mengendus-endus, aroma itu tidak tercium, yang tercium malah bau tajam setumpuk uang. “Shit!” makinya sambil terus berusaha.

Kurtiyah tidak memperhatikan betapa sepinya jalanan. Dia sudah memasuki bulevar utama yang biasanya tak pernah sepi dari kendaraan. Mesin-mesin bergerak dua puluh empat jam di jalanan, kerja dan pesta terjadi bergiliran, kadang bersilangan, kadang berbenturan. Tapi malam itu tak ada kendaraan yang terlihat. Hanya mobil Kurtiyah yang melesat sendirian seperti peluru. Bangunan yang terang benderang segera padam lampunya ketika mobil Kurtiyah melewatinya.

Kurtiyah masih terus mengendus-endus ketika ponselnya berdering. “Halo. Iya, tidak perlu menunggu, aku pulang terlambat,” katanya.

Dari seberang suaminya bertanya, “Apakah menurutmu sebaiknya kita kubur saja di ruang bawah tanah?”

“Apa? Apa yang dikubur?”

“Ah, aku kira kamu sudah tahu. Tadi ada bocah membawa seorang laki-laki yang terluka. Bocah itu bilang kamu yang menabrak laki-laki itu. Dia bisa menyebut nomor mobilmu, dia bahkan punya nomor ponselmu. Jadi aku percaya ceritanya. Sekarang laki-laki itu tampaknya sudah mati.”

“Ah, baiklah. Biarkan dia di sana sebentar. Aku akan segera sampai.”

“Kamu nyetir sendiri?”

“Iya.”

“Ke mana sopirmu?”

“Aku tidak tahu. Nanti saja kuceritakan semuanya.”

“Baiklah. Sampai ketemu. Oh ya, nama bocah itu Kurt Cobain. Kamu kenal?”

Ponsel dimatikan. Saat itu Kurtiyah baru menyadari jalanan yang ajaib sepinya. Dia tidak bisa lagi menandai arah. Dia melihat peta digital tapi keterangan di peta itu tidak sama dengan yang dilihatnya.

Sesampai di sebuah jembatan –dia tidak tahu jembatan apa itu- Kurtiyah melihat tiga orang berkumpul mengelilingi api. Dia merasa harus bertanya. Dia tidak mau tersesat sepanjang malam. Dia tepikan mobil di belakang orang-orang itu. Sorot lampu mobil menerangi sekitar.

“Permisi. Saya hendak ke kawasan Nevermind, apakah saya berada di jalan yang benar?”

Salah seorang dari mereka berkata, “Anda bisa ke mana-mana melalui jalan ini.”

“Ah iya, tapi saya merasa sedikit hilang arah. Bisakah saya diberi petunjuk ke arah mana saya harus berjalan?”

Orang yang lain berkata. “Tidak ada jalan lain. Anda sudah berada di jalan yang benar. Lurus saja. Nanti anda akan melihat tandanya.” “Betul, betul,” kata yang lainnya lagi. Satu orang yang belum bicara tiba-tiba berdiri dan menghampiri Kurtiyah. Kurtiyah bergerak mundur. Orang itu menyodorkan sebuah kotak tipis segi empat. “Saya punya kompas, pakailah,” katanya. Ketika Kurtiyah menatap wajah orang itu, tiba-tiba dia merasa aneh. Kepalanya seperti hendak mengangguk-angguk sendiri.

Kurtiyah menerima kotak itu lalu setengah berlari masuk ke mobil dan kembali melaju. Terdengar raung gitar di belakangnya. Memang tak ada jalan lain. Jalan ini lurus, tanpa simpang dan tak kelihatan ujungnya. Sambil menyetir Kurtiyah memperhatikan kotak kecil pemberian orang tadi. Di permukaan kotak ada potret bayi montok sedang berenang mengejar selembar uang yang melayang bagai kupu-kupu.

Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Itu suaminya. “Halo, halo. Aku tersesat. Bisakah kau bantu aku mencari arah?” Suaminya hanya tertawa-tawa. Suaranya tak begitu jelas, namun samar-samar Kurtiyah bisa mendengar orang-orang menyanyikan lagu ulang tahun. Kurtiyah melihat jam digital di mobil, sudah lewat tengah malam. Dia baru ingat, hari ini usianya tepat dua puluh tujuh tahun.

Blencong, 2 Desember 2020

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 16 Januari 1978. Buku puisinya, Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari? menerima penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2017. Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).

All stories by:Kiki Sulistyo
Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 16 Januari 1978. Buku puisinya, Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari? menerima penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2017. Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).

All stories by:Kiki Sulistyo