Fb. In. Tw.

Menjelaskan Hubungan (Saya Dan Laila)

Saya memiliki sebuah kesenangan. Kesenangan yang dimulai sejak sekolah dasar. Yang menahan saya untuk keluar rumah. Atau melupakan hal-hal buruk yang sedang terjadi. Memaksa saya untuk selalu menyelesaikan dalam satu rentetetan waktu. Membaca. Membaca prosa tepatnya.

Membaca prosa; cerpen atau novel atau roman. Selalu menghibur saya dengan cara lain. Saya selalu dihadap-hadapkan dengan tokoh-tokoh, seolah-olah saya merupakan bagian dari mereka. Berempati atau bahkan tak menyukainya. Saya menikmati situasi itu. Hubungan yang dijalin melewati batas-batas realitas. Sebagai sebuah cerita.

Seperti ikatan lama ketika membaca cerpen Laila dan Lelaki Penghitung Gerimis karya Wida Waridah.

Pada cerpen-cerpen Wida saya bertamu. Memulai percakapan dengan tokoh-tokohnya. Menyusun cara bagaimana cara menentukan pilihan. Berlarian di antara dunia dan khayal. Jatuh cinta berulangkali. Membayangkan hal-hal yang akan terjadi. Membuka kemungkinan pembacaan terhadap sesuatu.

Bagi saya, membaca prosa adalah cara saya mengenal diri saya sendiri. Prosa adalah cermin yang menentukan bagaimana cara saya memandang sesuatu. Maka ada banyak sudut pandang yang didapatkan ketika saya membaca dan menyelesaikannya.

Laila dan Lelaki Penghitung Gerimis merupakan kumpulan cerpen Wida yang pertama. Cerpen-cerpen yang ditulis dalam kurun waktu sepuluh tahun Wida berkarya. Ada beberapa perbedaan gaya dari satu cerpen dengan cerpen lainnnya. Tapi toh itu tak jadi soal. Sebuah karya pada akhirnya akan menampakan gayanya sendiri.

Cara cerpen-cerpen Wida memengaruhi pembaca mungkin biasa. Tapi cara cerpen-cerpen itu menghadirkan dirinya sendiri adalah hal yang mengasyikan. Tidak ada superioritas antara teks dengan sesuatu yang ingin disampaikannya. Bahasanya terang, tidak bertele-tele, langsung menghujam pada tujuan.

Begitu juga pengaluran. Tidak ada alur keriting, atau zig-zag atau bertumpuk-tumpuk. Cerita dibangun dengan perlahan, beringsut pasti. Mengalir begitu saja. Beberapa pembaca mungkin akan menganggap ketinggalan zaman. Tapi apalah arti sebuah zaman jika manusia gagal hidup bahagia di dalamnya.

Jadi, jika anda ingin memiliki kesenangan segeralah membaca. Membaca prosa. Ngabuburit dengan tokoh-tokoh dan ceritanya di dalamnya. Tentu tidak serta merta akan terhibur dengan cerpen seluruhnya. Tapi setidaknya anda akan menyadari bahwa membaca dan puasa sama-sama bertujuan. Mengasah kesabaran.[]

Post tags:

Redaktur buruan.co. Buku puisi terbarunya berjudul Menghadaplah Kepadaku (2020)

You don't have permission to register