Asep Ardian berdiri di tenda Batagor Kajojo miliknya

Wawancara • Buruan.co

Menulis dari Gerobak Batagor:
Percakapan dengan Asep Ardian

Gulir

Di sela waktu menunggu pembeli dagangan batagornya, Asep Ardian menceritakan sesuatu yang pelan-pelan mengubah hidupnya. Novelnya, Oni Jouska, yang masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, tidak lahir dari ruang akademik atau dunia sastra yang mapan, melainkan dari kejenuhan, percakapan, dan kegelisahan yang terus menumpuk.

Pertama-tama, saya mau tanya soal latar belakang Kang Asep Ardian, gimana ceritanya dari jualan batagor bisa sampai menulis novel Oni Jouska?

Saya Asep Ardian, lahir di Bandung di daerah Sukahaji. Dari keluarga ibu atau ayah nggak ada yang sarjana. Aku pun dari SMP itu sampai mau lulus nggak ada kepikiran mau kuliah. Malahan pas udah lulus SMP, Bapak bilang, “Udah jangan sekolah aja.” Tapi aku bilang, “Aku pengen sekolah, Pak, dimana aja yang penting sekolah.”

Dulu Bapak mikirnya, saya tuh udah ditargetin jualan aja. Aku pengennya lulus sekolah, jadi disekolahin di yang paling murah di daerah Majalaya, LPPM RI Majalaya. Sekolah masuk SMK jurusan pemesinan, mesin industri.

Dari SMK sana juga belum kenal bacaan, cuma ada satu temenku namanya Joni, jadi dipanggilnya Oni—dan sekarang itu jadi nama novelku. Dia tuh sering nulis di blog. Aku baca, wah menarik nih tulisan-tulisannya.

Singkat cerita, aku jualan batagor sama Bapak Kadir. Dari Bapak Kadir inilah ada kejenuhan. Merasa nggak berguna hidup itu. Sering ngobrol sama guru ngaji, nanya-nanya soal kejenuhan ini.

“Ya sudah, kamu baca saja, Sep. Orang yang beruntung itu orang yang bisa memanfaatkan waktu.” Nah, dari sanalah mulai baca.

Asep Ardian semasa kecil bersama keluarganya
Asep Ardian semasa kecil bersama keluarganya di Bandung.

Buku apa yang dulu pertama kali dibaca?

Buku How To Win Friends and Influence People. Bukunya mengajarkan sesuatu dengan tidak mengajarkan, tapi menceritakan sejarah dari tokoh-tokoh yang lalu. Dari sana mulai juga baca buku-buku fiksi. Saya baca buku apa saja karena dulu banyak waktu luang.

Nah, dari banyak baca itu muncul lagi kejenuhan. Ini tuh baca buat apa? Dari sana jugalah muncul pikiran untuk mending nulis aja.

Banyak baca itu muncul kejenuhan. Ini tuh baca buat apa? Dari sana jugalah muncul pikiran untuk mending nulis aja.

— Asep Ardian

Apakah sempat menetap dan berkumpul di Depok?

Enggak, jadi via WhatsApp Group. Dari sanalah saya banyak dapat ilmu-ilmu soal literasi. Banyaklah mindset berubah jadi berani. Termasuk membuka cabang batagor. Alhamdulillah, sekarang batagor ada 4 cabangnya. Dari sana juga kepikiran untuk bikin novel.

Singkat cerita, saya cari-cari komunitas lagi. Dikenalin lah saya sama CSWC. Jadi saya itu memang belajar jadi pemulung, dari komunitas ke komunitas.

Apa yang pertama kali memunculkan ide cerita Oni Jouska? Apakah berangkat dari kegelisahan tertentu tentang manusia atau tentang kondisi lingkungan laut?

Utamanya mau curhat. Jadi ingin melepaskan keresahan, tapi merasa terlalu egois dulu tuh kalau pukulannya terlalu ke diri sendiri. Makanya keresahan itu tuh dituangin jadi remora-remora.

Kalau ide utamanya Oni Jouska itu kan tentang ekologi, itu berangkat dari keresahan di kampung halaman. Nenek itu asli Garut, di daerah pantai. Seiring berjalannya waktu, di sungai-sungai yang sebelumnya kita bisa berenang jadi nggak bisa, karena banyak sampah.

Setelah dipikir-pikir, ternyata jarang banget novel di Indonesia tuh yang ngebahas soal ekologi, soal laut. Dari sanalah saya coba bahas, tapi dari sudut pandang ikan.

Cover novel Oni Jouska karya Asep Ardian
Cover novel Oni Jouska: Perihal laut dan manusia di mata seekor ikan remora — masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.

Mengapa memilih ikan remora sebagai tokoh utama? Apakah ada makna simbolik tertentu?

Ya, ini salah satu kritik sosial di lingkungan, bahkan ke diri sendiri juga—kadang kita tuh ga mau bertumbuh. Banyak orang yang lebih memilih menempel pada orang lain, pada gelar, pada kekuasaan.

Makanya, buat mengingatkan diri sendiri, saya buatlah karakter Oni yang dia nggak mau kayak remora lain, lalu memilih untuk lebih baik kabur daripada menempel di ikan pari itu.

Jarang banget novel di Indonesia yang ngebahas soal ekologi, soal laut. Dari sanalah saya coba bahas, tapi dari sudut pandang ikan.

— Asep Ardian, tentang kelahiran Oni Jouska

Oni digambarkan sebagai remora yang cacat dan terasing dari komunitasnya. Apakah kondisi ini dimaksudkan sebagai metafora?

Itu jadi salah satu curhatan ya. Kadang kita itu suka membanding-bandingkan diri sama orang lain. Kenapa orang itu dilahirkan sama orang tua yang kaya sehingga dia bisa kuliah?

Nah, jadi salah satu penyemangat juga gitu karakter Oni. Bahwa apa pun kekurangannya, kita tuh masih bisa memperjuangkan sesuatu; harus menerima takdir lah.

Dalam novel ini ada konflik antara klan Denaya dan klan Dustha. Apakah konflik tersebut sebagai gambaran cara berbeda makhluk merespons ancaman?

Di semesta Oni itu aku nggak ngegambarin ada yang jahat, ada yang baik, gak hitam putih di sini. Si Denaya ingin melindungi lautan dengan caranya. Si Dusta ingin melindungi lautan, tapi dengan caranya juga. Jadi aku ngegambarin di sini hewan-hewan tuh enggak sejahat manusia.

Tokoh Salik tampak seperti figur guru atau mentor. Apakah memang dirancang demikian?

Salah satu alasannya karena saya mendalami sufistik juga, thoriqoh. Lambang dari thoriqoh itu lambang 3 ikan. Namanya Salik ini artinya ikatan antara guru sama murid. Nah, dalam sufisme juga gitu, seorang murid itu harus nurut sama mursyidnya.

Aku mengingatkan juga ke diri sendiri: semandiri-mandirinya kita di dunia, tetap harus ada pembatas atau pembimbing. Meskipun kita mampu untuk berjuang sendirian, tetap harus ada pegangan untuk mengarahkan.

Lukisan dengan nilai tasawuf karya Asep Ardian
Lukisan dengan nilai tasawuf karya Asep Ardian. Ajaran sufisme meresap melalui hubungan antara tokoh Oni dan mentornya, Salik.

Banyak bagian di novel ini yang terasa seperti perenungan filosofis. Apa rujukan atau buku landasan dalam menulis Oni Jouska?

Buku Fihi ma Fihi. Fihi ma Fihi itu kumpulan ceramah Jalaluddin Rumi dan mungkin jadi yang paling membekas. Kalau ditanya, buku apa pemantiknya, ya, buku itu banyak menyentil.

Semandiri-mandirinya kita di dunia, tetap harus ada pembatas atau pembimbing. Walaupun sudah menjelajah dan merasa hebat, kita harus tetap punya satu pegangan untuk mengarahkan.

— Asep Ardian, tentang sufisme dalam Oni Jouska

Apa pesan yang paling ingin ditekankan melalui perjalanan Oni?

Terus bergerak dan terus belajar. Oni ini tidak merasa pasrah dengan keadaan. Karena mengerikan jadi orang yang merasa cukup dan stagnan. Dan itu jadi salah satu alasan untuk terus membaca dan belajar—aku gak mau ketika tua jadi menyebalkan.

Tapi aku pengen nekenin: terus bergerak dan bertumbuh. Jangan pernah merasa cukup.

Terus bergerak dan terus belajar. Jangan pernah merasa cukup.

— Asep Ardian, pesan dari novel Oni Jouska

Bagikan
You don't have permission to register