“Membaca Selalu Lebih Berarti Daripada Menulis”

820 820 Adam Sudewo

Wawancara oleh Carmen Boullosa* bersama Roberto Bolaño (Dipublikasikan pertama kali di Bomb, Brooklyn, Winter 2002)
dialihbahasakan oleh Adam Sudewo  

Carmen Boullosa
Di Amerika Latin, terdapat dua tradisi kesusastraan yang oleh kebanyakan pembaca, keduanya dianggap sebagai antitesis, yang berlawanan—atau sejujurnya, justru bermusuhan: yang fantastis—Adolfo Bioy Casares, yang terbaik setelah Cortázar, dan yang realis—Vargas Llosa, Teresa de la Parra. Tradisi kesusastraan tersebut seakan memberitahu kita bahwa bagian selatan Amerika Latin adalah rumah bagi yang fantastis, sedangkan bagian utara adalah pusat realisme. Bagiku, kau menuai nilai dari keduanya: novel dan narasimu adalah sebuah penemuan—yang fantastis—dan sangat tajam, sebuah refleksi kritis dari realitas—yang realis. Dan jika merujuk pada gambaran ini, faktanya kau memang hidup di dua sudut geografis Amerika Latin, Chili dan Meksiko. Kau tumbuh di dua tempat tersebut. Apa kau keberatan dengan gambaran ini, atau justru malah menjadi sesuatu yang menarik bagimu? Sejujurnya, hal tersebut membuatku sumringah ketika memikirkannya, tapi di sisi lain juga membuatku tidak puas: Yang terbaik, para penulis terbaik (termasuk Bioy Casares dan antitesisnya, Vargas Llosa) selalu menggali sesuatu dari dua tradisi tersebut. Namun dari sudut Amerika Utara-Berbahasa-Inggris, ada sebuah tendensi untuk mengelompokkan sastra Amerika Latin menjadi tradisi tunggal. 

Roberto Bolaño
Aku pikir, para penulis realis berasal dari selatan (maksudku, dari negara-negara di Kerucut Selatan), dan penulis fantastis berasal dari bagian tengah dan utara Amerika Latin, jika kau memperhatikan kompartementalisasi ini, yang seharusnya tak perlu kau lakukan, dalam keadaan apa pun, dianggap serius. Sastra Amerika Latin abad duapuluh telah mengikuti dorongan peniruan dan penolakan, dan mungkin akan terus berlanjut sampai abad duapuluh satu. Seperti halnya, manusia meniru dan menolak sesuatu yang besar, bukan yang kecil dan nyaris tak terlihat. Kita memiliki sangat sedikit penulis yang mengembangkan tradisi fantastis dalam arti tertentu—atau mungkin tidak ada sama sekali, sebab antara lain, ekonomi yang berkembang tak memungkinkan sebuah sub-genre berkembang. Hal seperti itu hanya memungkinkan bagi karya sastra hebat. ‘Karya yang lebih rendah’, dalam lanskap monoton dan apokaliptik ini, merupakan kemewahan yang tak terjangkau. Tentu saja—bukan berarti kesusastraan kita dipenuhi dengan karya-karya hebat, bahkan sebaliknya.

Pada mulanya, penulis mengimpikan dirinya memenuhi harapan macam ini, tapi kemudian realitas yang sama, yang telah mendorong tekad mereka— pada akhirnya menjegal karya final mereka. Aku pikir, hanya ada dua negara dengan tradisi sastra otentik yang kadang berhasil lolos dari nasib buruk tersebut— Argentina dan Meksiko. Terkait tulisan-tulisanku, aku tak tahu apakah mereka masuk ke dalam yang fantastis atau yang realis. Mereka adalah yang realis, pikirku. Namun, aku ingin menjadi penulis fantastis seperti Philip K. Dick, meskipun pada akhirnya, ketika aku semakin tua, Dick nampak semakin realis bagiku. Sejujurnya, dan kupikir kau akan sependapat denganku, pertanyaannya adalah bukan soal perbedaan fantastis atau realis melainkan cara keduanya dalam menggunakan bahasa dan membangun stuktur, juga cara bagaimana mereka melihat sesuatu. Aku tak tahu bahwa kau sangat menyukai Teresa de Parra. Banyak orang membicarakannya ketika aku di Venezuela. Dan tentu saja, aku belum pernah membaca karya-karyanya. 

Carmen Boullosa
Teresa de la Parra adalah salah satu perempuan penulis terbaik, atau  bahkan penulis terbaik, dan kau akan menyepakati itu ketika membacanya. Jawabanmu sepenuhnya mendukung gagasan bahwa terdapat arus listrik yang mengalir secara serampangan di kesusastraan Amerika Latin. Aku tak akan mengatakan arus itu cukup lemah, sebab secara tiba-tiba ia memercikkan api yang menyala dari satu ujung benua ke ujung lainnya, meski pun hanya sesekali. Tapi, kita tak sepenuhnya percaya pada kanon sastra. Semuanya jelas abriter, tentu saja. Ketika aku berpikir tentang bagian selatan (Kerucut Selatan dan Argentina), aku berpikir tentang Cortázar, cerita-cerita (igauan) Silvina Ocampo, Bioy Casares, dan Borges (ketika kau dihadapkan dengan para penulis ini, yang terbaik dan yang terburuk tidak begitu berarti: Tidak ada nomor satu, sebab mereka adalah penulis yang sama pentingnya), dan aku memikirkan novel pendek nan buram karya María Luisa Bombal, House of Mist (yang lebih dikenal justru karena ia membunuh mantan kekasihnya). Aku akan menempatkan Vargas Llosa dan yang terbaik de la Parra untuk bagian Utara. 

Tapi kemudian segalanya menjadi rumit, sebab ketika kau merapat lebih jauh ke Utara, kau akan menemukan Juan Ruflo, dan  Elena Garo dengan A Solid Home (1958) dan Recollections of Things to Come (1963). Semuanya jelas abriter: Tak ada realisme tanpa fantasi, dan sebaliknya. Dalam cerpen dan novelmu, juga puisimu, pembaca dapat mendeteksi adanya upaya ‘balas dendam’ (serta kehormatan yang mesti dibayar tuntas) yang merupakan bagian penting dalam struktur bangunan naratifmu. Aku tak bermaksud mengatakan bahwa karyamu ditulis dalam kode tertentu, tapi kunci narrative chemistry mungkin terletak pada bagaimana caramu memadukan kebencian dan cinta dalam peristiwa yang kau ceritakan. Sesungguhnya, bagaimana cara kerja seorang Roberto Bolaño dalam hal tersebut? 

Roberto Bolaño
Aku tak percaya dengan adanya upaya balas dendam dalam tulisanku dibanding dalam halaman-halaman buku penulis lain. Aku akan menanggung resiko yang berlebihan (yang mungkin telah kulakukan dalam beberapa waktu), bahwa ketika aku menulis satu-satunya hal yang menarik bagiku adalah tulisan itu sendiri; yaitu bentuk, ritme, dan juga plot. Aku menertawakan beberapa sikap yang melekat pada diri sebagian orang, pada segala aktivitas dan hal-hal penting dalam arti tertentu. Hanya karena kau dihadapkan dengan omong kosong macam itu, oleh egoisme yang mendarah daging, kau tak punya pilihan lain selain menertawakannya. Semua kesusastraan, dalam arti tertentu, bersifat politis. 

Maksudku, pertama, ia merupakan relfeksi dari politik. Kedua, ia juga bagian dari agenda politis. Pada poin pertama, ia menyinggung realitas—pada mimpi indah maupun buruk realitas itu sendiri—yang mana dalam dua kasus tersebut tak hanya berakhir dengan kematian dan penghancuran kesusastraan, melainkan juga kematian dan penghancuran waktu. Dan yang terakhir mengacu pada serpihan-serpihan yang bertahan, yang tetap gigih, untuk tetap menggunakan akal sehat. Meskipun, tentu saja kita tahu bahwa dalam skala manusia, kegigihan adalah ilusi dan akal sehat hanyalah pagar rapuh yang membatasi kita agar tidak terpelosok dalam jurang. 

Tapi hiraukan yang baru saja kukatakan. Aku kira, alasan seseorang menulis adalah karena sensitivitas, itu saja. Dan mengapa kau menulis? Kau tak perlu menjawabnya—Aku yakin jawabanmu lebih tepat dan meyakinkan daripada jawaban yang kuucapkan. 

Carmen Boullosa
Baiklah, aku tak akan menjawabnya, dan itu bukan karena jawabanku lebih meyakinkan. Tapi akan kukatakan, jika ada alasan mengapa aku tidak menulis, itu terjadi di luar sensitivitas. Bagiku, menulis berarti membenamkan diri dalam medan perang, mengiris perut, bersaing dengan sisa-sisa mayat, kemudian menjaga medan perang agar tetap utuh, tetap hidup. Dan bagiku, apa yang kau sebut upaya ‘balas dendam’ tampaknya jauh lebih ganas dalam tulisanmu dibanding banyak penulis Amerika Latin lainnya.

Di mata pembaca, seringaimu lebih dari sakadar isyarat; jauh lebih mengikis—semacam kerja penghancuran secara perlahan. Di buku-buku yang kau tulis, esensi bekerja dengan cara klasik: sebuah dongeng, sebuah fiksi yang menyeret pembaca masuk ke dalam cerita dan di saat bersamaan membuat mereka menjadi kaki-tangan dalam membongkar peristiwa di latar yang kau ceritakan dengan penuh keteguhan sebagai novelis. 

Tapi mari biarkan hal itu sejenak. Tak ada seorang pun yang telah membaca karyamu meragukan tekadmu dalam menulis. Ini menjadi hal pertama yang mampu menarik pembaca. Siapa pun yang ingin menemukan sesuatu selain tulisan dalam sebuah buku—semisal, rasa memiliki, atau keinginan menjadi bagian dari sebuah klub atau komunitas tertentu—tidak akan menemukan kepuasan macam itu dalam novel dan cerita yang kau tulis. Dan ketika aku membaca karya-karyamu, aku tak melihat adanya masa lalu, kau menceritakan kembali periode saat ini di seluruh pojok dunia. Hanya sedikit penulis yang berhasil melibatkan pembaca sebaik yang kau lakukan bersamaan dengan pandangan konkret yang tak berdaya, sebuah kalimat statis di tangan pengarang realis. Jika kau termasuk dalam tradisi seperti itu, lantas tradisi sastra macam apa kau menyebutnya? Di mana letak pohon tradisi sastramu, dan ke arah mana ranting-rantingnya akan tumbuh? 

Roberto Bolaño
Sebenarnya, aku tidak terlalu percaya pada dunia tulis-menulis. Dimulai dari diriku sendiri. Menjadi seorang penulis adalah hal yang menyenangkan—tidak, ‘menyenangkan’ bukan kata yang tepat—menulis adalah aktivitas yang menghimpun momen-momen menyenangkan, tapi aku tahu hal-hal lain yang bahkan lebih menyenangkan, sebagaimana sastra selalu menghiburku. Merampok bank, misalnya. Atau mensutradarai film. Atau menjadi seorang gigolo. Atau menjadi anak kecil lagi dan bermain sepakbola di tim yang  apokalips. Sayangnya, kelak anak kecil tumbuh dewasa, perampok bank terbunuh, sutradara jatuh miskin, gigolo sakit-sakitan dan sebab itu tak ada pilihan buatku selain untuk menulis. 

Bagiku, kata writing adalah kebalikan dari kata waiting. Alih-alih menunggu, aku memilih untuk menulis. Yah, mungkin aku salah—mungkin saja writing adalah bentuk lain dari waiting, keduanya seakan berupaya untuk menunda sesuatu. Aku ingin berpikir sebaliknya, tapi seperti yang kukatakan, aku mungkin salah. Terkait pikiranku tentang kanon sastra, entahlah, itu terlihat seperti pikiran orang lain, aku hampir saja malu untuk memberitahumu tentang ini, dan semuanya sangatlah jelas: Francisco de Aldana, Jorge Manrique, Cervantes, para penulis sejarah Hindia, Sor Juana Inés de la Cruz, Fray Servando Teresa de Mier, Pedro Henríquez Ureña, Rubén Darío, Alfonso Reyes, Borges hanya beberapa nama penulis yang menulis dalam bahasa Spanyol.

Tentu saja, aku ingin menentukan sejarah dan tradisi kesusastraan yang sangat singkat, yang hanya terdiri dari dua atau tiga penulis (dan mungkin hanya dari sebuah buku). Tradisi kesusastraan yang memikat rentan terhadap amnesia, namun di sisi lain aku terlalu sederhana mengenai karyaku dan juga pada hal lainnya. Aku telah membaca banyak buku (dan banyak pula buku yang membuatku bahagia) untuk menikmati pikiran konyol macam itu.  

Carmen Boullosa
Bukankah terdengar ceroboh ketika kau menyebut beberapa penulis pendahulumu yang hanya menulis dalam bahasa Spanyol? Apakah kau termasuk dalam tradisi sastra Hispanic, dalam arus yang terpisah dari bahasa lain? Jika sebagian besar sastra Amerika Latin (terutama prosa) terlibat dialog dengan tradisi kesusastraan lainnya, maka hal itu benar adanya menurut apa yang sudah kau lakukan. 

Roberto Bolaño
Aku menyebut penulis yang menulis dalam bahasa Spanyol untuk membatasi kanon. Tak perlu dikatakan, aku bukanlah monster nasionalis yang hanya membaca apa yang telah dihasilkan negaranya. Aku tertarik dengan kesusastraan Perancis dan Pascal—yang dapat meramalkan kematiannya, dan dalam perjuangannya melawan kesepian, bagiku tampak lebih mengagumkan saat ini dibanding sebelumnya. Atau kenaifan utopis Fourier. Dan semua prosa, yang ditulis anonim, dan ditulis beberapa penulis tradisi lama yang sopan (sebagian merupakan Mannerist dan sebagian lagi ahli anatomi) yang entah bagaimana menuju gua tak berujung Marquis de Sade. 

Aku juga tertarik dengan kesusastraan Amerika tahun 1880-an, terutama Mark Twain dan Melville, juga puisi-puisi Emily Dickinson dan Whitman. Sebagai seorang remaja, aku pernah melewati fase di mana aku hanya membaca Poe. Pada dasarnya, aku sangat tertarik pada kesusastraan Barat, dan aku cukup akrab dengan karya-karya mereka. 

Carmen Boullosa
Kau pernah melewati fase hanya dengan membaca Poe? Aku pikir Poe menulari generasi kita layaknya virus—dia adalah idola kita semua, dan aku dapat melihat dengan mudah bahwa kau juga tertular virus itu. Namun, aku membayangkanmu sebagai seorang penyair, dan aku ingin beralih pada narasi yang kau tuliskan. 

Apakah sebelum menulis cerita kau memilih plot, atau apakah plot yang kemudian mengikuti ceritamu? Bagaimana caramu memilih plot—atau bagaimana cara plot memilihmu? Dan jika keduanya kurang tepat, lalu apa yang sebenarnya terjadi? Seseorang yang mengajari Pinochet marxisme, krtikus sastra Chili (Sebastián Urrutia Lacroix, seorang pendeta dan anggota Opus Dei), atau tabib yang mempraktikkan mesmerisme, atau penyair muda yang dikenal sebagai Savage Detectives—semua karaktermu memiliki keterkaitan dengan sejarah. Mengapa demikian? 

Roberto Bolaño
Ya, plot adalah hal yang aneh. Setidaknya aku percaya, meskipun terdapat beberapa pengecualian, bahwa pada saat tertentu sebuah cerita akan memilih penulisnya dan ia tak akan membiarkan penulis berada dalam perasaan damai. Untungnya, hal itu tidak menjadi begitu penting mengingat bentuk dan struktur selalu menjadi milik penulis sendiri, dan—sebab, tanpa bentuk dan struktur, tak akan pernah ada buku, atau setidaknya dalam beberapa kasus itulah yang terjadi. 

Sekarang, katakanlah cerita dan plot muncul secara kebetulan, bahwa mereka berada di ranah kemungkinan, yaitu sesuatu yang goyah, ketidakberaturan, atau ke ranah yang bergerak mendekati kekacauan (bahkan hampir apokaliptik). Bentuk, di sisi lain, adalah pilihan yang dibuat melalui kecerdasan, kelicikan, dan keheningan, semua itu digunakan Ulysses dalam pertempurannya melawan kematian. Bentuk mencari kecerdasan; sedangkan cerita mencari jurang. Atau seperti metafora di pedesaan Chili (yang buruk, seperti yang akan kau dengar): Bukan berarti aku tak menyukai tebing jurang, tapi aku lebih suka melihatnya dari jembatan. 

Carmen Boullosa
Perempuan penulis terus-menerus terganggu dengan pertanyaan ini, tapi aku tak bisa menahan diri untuk tidak menanyakannya padamu—jika hanya karena terus-menerus dipertanyakan, aku menganggapnya sebagai semacam ritual yang tak terhindarkan sekaligus tak menyenangkan: Berapa banyak muatan materi otobiografi dalam karya-karya yang kau tulis? Sejauh mana potret diri itu dituliskan? 

Roberto Bolaño
Potret diri? Tak begitu banyak. Potret diri membutuhkan egoisme tertentu, ketersediaan untuk melihat diri sendiri secara berulang, sebuah ketertarikan yang nyata pada dirimu saat ini dan dirimu di masa lalu. Kesusastraan penuh dengan otobiografi, sebagian ditulis sangat baik, tapi potret diri cenderung kebalikannya, termasuk potret diri dalam puisi, yang pada mulanya tampak menjadi genre yang cocok untuk potret diri ketimbang prosa. 

Apakah karya-karyaku termasuk otobiografi? Dalam arti tertentu, bagaimana tidak? Setiap karya, termasuk epik, dalam beberapa hal memuat otobiografi. Dalam Iliad kita akan mempertimbangkan dua aliansi dari sebuah kota, tetapi di sisi lain kita juga mempertimbangkan nasib Achilles, Priam, dan Hector. Dan tokoh-tokoh ini, suara-suara individu ini, mencerminkan suara kesendirian dari pengarangnya. 

Carmen Boullosa
Ketika menjadi penyair muda dan tinggal di kota yang sama (Kota Meksiko tahun tujuh puluhan), kau adalah pemimpin dari sekelompok penyair muda yang menyebut diri mereka sebagai Infrarealis, dan mereka telah menjadi mitos dalam The Savage Detectives. Ceritakan sedikit tentang arti puisi bagi kaum Infrarealis, tentang Kota Meksiko sebagai kota Infrarealis. 

Roberto Bolano
Infrarealis adalah sejenis Dada a la Meksiko. Di sana terdapat banyak orang, bukan hanya penyair, tapi juga pelukis, terutama pengangguran dan parasit, yang menggap diri mereka Infrarealis. Faktanya, Infrarealis hanya memiliki dua anggota, aku dan Mario Santiago. Kami berdua pergi ke Eropa pada tahun 1977. Suatu malam, di Rosellón, Perancis, di stasiun kereta api Port-Vendres (dekat Perpignan), setelah berpetualang dan mengalami beberapa kesialan, kami memutuskan bahwa pergerakan Infrarealis telah berakhir. 

Carmen Boullosa
Mungkin, bagimu Infrarealis telah berakhir, tapi bagi kita, ingatan itu akan tetap hidup. Kalian berdua adalah teror bagi dunia kesusastraan. Saat itu, aku adalah bagian dari kerumunan yang serius—duniaku begitu terputus-putus dan tak berbentuk sehingga aku membutuhkan sesuatu yang aman untuk digenggam. Aku menyukai sifat seremonial pembacaan puisi, peristiwa-peristiwa absurd penuh ritual yang semuanya hampir aku ikuti, dan kau datang sebagai pengganggu pertemuan-pertemuan itu. 

Sebelum pembacaan puisi pertamaku di toko buku Ghandi tahun 1974, aku berdoa pada Tuhan—bukan berarti aku benar-benar percaya pada Tuhan, tetapi aku membutuhkan sesuatu untuk digenggam, dan kemudian memohon: Tolong, jangan biarkan Infrarealis datang. Aku tak memiliki keberanian membacakan puisiku di tempat umum, tetapi kecemasan yang muncul dari rasa maluku tak sebanding dengan kepanikan yang kurasakan saat berpikir aku pasti akan dicemooh: Saat membaca puisi itu, Infrarealis mungkin akan berteriak padaku dan menyebutku sebagai idiot. Dan kau berada di sana seolah untuk meyakinkan dunia kesusastraan bahwa kita tak boleh terlalu serius atas sesuatu yang tak begitu serius—dan dengan puisi (bertentangan dengan pepatah Chili yang kau katakan), yang tepat adalah segera melemparkan dirimu sendiri ke jurang. 

Tapi biarkan percakapan kita kembali pada Bolaño dan karya-karyanya. Kau memfokuskan diri pada narasi cerita—aku tak bisa membayangkan ada seseorang yang menyebut novelmu sebagai novel liris—namun faktanya, kau juga penyair, seorang penyair aktif. Lalu bagaimana caramu menyesuaikan keduanya? 

Roberto Bolaño
Nicanor Parra mengatakan bahwa novel terbaik ditulis dalam metrum. Dan Harold Bloom mengatakan bahwa puisi terbaik abad duapuluh ditulis dalam bentuk prosa. Aku sepakat dengan keduanya. Tapi di sisi lain, sulit untuk mengatakan bahwa diriku adalah seorang penyair aktif. Dalam pemahamanku, seorang penyair aktif adalah seseorang yang terus-menerus menulis puisi. Aku mengirim puisi terbaru yang kutulis padamu dan khawatir itu menjadi puisi yang buruk, meskipun tentu saja dengan sedikit pertimbangan dan kebaikan, kau mengatakan hal lain. Entahlah. Ada sesuatu tentang puisi. Apa pun masalahnya, yang berarti dari puisi adalah ketika kita tetap membacanya. Bukankah membaca puisi lebih berarti daripada menuliskannya? Karena faktanya, membaca selalu lebih berarti daripada menulis.  

*Carmen Boullosa, penyair asal Mexico.

Adam Sudewo

Bergiat di Tjirebon Book Club

All stories by:Adam Sudewo