Menggali Tema Cinta dalam Cerpen

820 820 Dadan N Ramdan

Pengalaman terbesar dan mendasar dalam hidup manusia adalah cinta. Manusia sudah mengenal  cinta sejak ia dilahirkan ke dunia—bahkan mungkin jauh sebelum takdirnya dilahirkan. Cinta memang bukan hanya soal pengalaman, bukan soal dicintai dan mencintai. Cinta mengandung banyak pemaknaan. Pemaknaan atas pengalaman itu seringkali diabadikan dalam bentuk teks sastra, baik itu prosa maupun puisi. Itulah sebabnya penggalian makna cinta dalam sastra seakan tidak pernah berhenti dalam membangun kehidupan dan peradabannya.

Meskipun pengalaman cinta merupakan obsesi kebanyakan remaja, baiknya sebagai pengarang tidak memandang remeh tema cinta dalam cerita pendek. Pengalaman pengarang menentukan kedalaman penggalian tema cinta dalam karyanya. William Blake (1757-1827), seorang pelukis, penyair, dan pengarang Inggris pernah menasehatkan kepada pengarang muda agar tidak menggarap tema cinta, sebabnya tema cinta adalah tema yang tidak mudah dan paling dalam1.

Berbicara tentang tema cinta dalam cerpen, pada bulan Maret lalu, HU Pikiran Rakyat memuat cerpen-cerpen bertemakan cinta. Bisa jadi karena efek latah Valentine di bulan Februari sehingga berlanjut ke bulan-bulan berikutnya. Kabar baiknya tema cinta ini masih jadi tema favorit bagi pembaca. Namun di sisi lain—khususnya bagi pengarang—tema cinta bukan perkara mudah. Diperlukan usaha serius dari pengarang menggali tema cinta sehingga menampilkan karya yang berbeda, mengejutkan, unik, bahkan menyentuh kemanusiaan kita.

Minggu pertama Maret 2018 HU Pikiran Rakyat memuat Cerpen berjudul “Gadis Penyair” karya Iman Herdiana (4/3/2018). Cerpen ini adalah kisah cinta memilukan antara tokoh Aku dan Kau yang akhirnya harus berpisah, setelah sedikit-banyaknya berkompromi dengan persoalan kehidupan. Tokoh Kau yang tak lain adalah Chairil Anwar, meninggal dan meninggalkan janji pada kekasihnya, yaitu tokoh Aku. Hingga Aku baru sadar, jari yang lentik itu kini sudah keriput, bayangan wajahku di kaca tak lagi menarik seperti gadis aristokrat. Cuma tulang berbalut kulit, dan mungkin debu2.

Cerpen Karya Iman ini agaknya perlu mendapat apresiasi dari usahanya mengeksplorasi kedalaman tema cinta, yakni menggabungkan unsur puisi ke dalam cerpen. Usaha seperti yang dilakukan Iman dalam membangun cerita, adalah eksplorasi terhadap tema cinta dengan gaya yang berbeda dari cerpen kebanyakan. Pengarang memang memungut bait-bait dalam puisi-puisi penyair Chairil Anwar menjadi sebuah kisah cinta yang memilukan. Pencapaian estetika ini adalah eksplorasi luar biasa, karena dibutuhkan keuletan, ketelitian, dan ketepatan memilih puisi untuk disusun sebagai sebuah cerita. Meskipun cerita menjadi bentuk kolase, dan berisiko menjadikan cerpennya terkesan tempelan-tempelan puisi, namun mozaik ini tetap berhasil membangun cerita. Hal ini memperlihatkan kesungguhan pengarang dalam menghadirkan cerita.

Minggu ketiga Maret (18/3/2018), HU Pikirian Rakyat menampilkan cerpen berjudul “Apakah Cinta Sepasrah Itu?” karya Danang Cahya Firmansah. Dari judul yang digunakan kita bisa menerka bahwa cerpen ini bertemakan cinta.  Dalam memahami eksplorasi terhadap tema cinta pada cerpen ini, saya anjurkan anda memosisikan diri sebagai remaja yang sedang kasmaran atau jatuh cinta.

Cerpen “Apakah Cinta Sepasrah Itu” bercerita tentang hubungan segitiga antara tokoh Aku, Dyass, dan Made. Tokoh Aku dan Dyass sebagai tokoh utama dalam cerpen ini menjalin hubungan percintaan. Namun, hubungan itu tampaknya tidak sehat, karena ternyata Dyass sudah memiliki pasangan yaitu Made. Kisah cinta tokoh Aku yang merasa dirinya dikhianati dan diduakan, namun harus pasrah karena cintanya kepada Dyass begitu besar. Dengan memberikan yang terbaik untuk kekasihnya itu, tokoh Aku berharap Dyass bisa memilihnya. Namun, kepasrahan itu malah memperkuat hubungan antara ketiganya. Perasaan dan interaksi antartokoh inilah yang menjadi konflik utama yang dihadirkan pengarang.

Cerita yang ditawarkan Danang merupakan kisah cinta yang gurih-gurih gemes bagi kalangan remaja. Karena memang seperti diutarakan di atas, dunia remaja adalah titik awal obsesi pengalaman cinta. Bagi beberapa orang barangkali cerpen ini bisa dikonsumsi sebagai bacaan ringan. Terkadang kita tidak memerlukan hal-hal unik, menarik, mengejutkan, atau menyentuh sisi kemanusiaan. Baiknya, pengarang juga memerhatikan hal-hal mendasar dalam membangun sebuah cerita yang layak dikonsumsi pembaca. Misalnya, hal-hal penggunaan bahasa cerita dan bahasa ujaran tokoh. Dalam cerpen ini masih banyak ditemukan kekurangan dalam segi kebahasaan.

Aku sangat cemburu mengetahui perkara itu. Kejelasan itu berawal saat kubuka hape dia dan tanpa sengaja membuka pesan dari seseorang cowok di kontaknya. Kontak itu ia namai Honey. Kuperiksa nomornya dan ternyata bukan nomorku. Hampir saja hape itu kulemparkan ke muka Dyass.

Penggunaan kata yang tidak baku seperti, ‘cowok’ dan ‘hape’ seharusnya bisa dihindari dalam kalimat narasi. Penggunaan kata itu masih bisa digunakan sebatas pada ujaran tokoh itu pun dengan beberapa pertimbangan. Misalnya dikaitkan dengan perwatakan tokoh.

Pengarang juga mesti memerhatikan benar kalimat yang digunakan. Dalam hal ini logika bahasa dan efektivitas kalimat harus baik dan tidak menimbulkan ambigu. Logika bahasa yang tidak begitu baik, misalnya dalam kutipan berikut.

Bermula dari gesekan mata kami, kemudian aku memberanikan diri berkenalan. Lalu kami tukar kontak nomor hape. Saat bertemu, kami tak banyak ngobrol, namun mata kami lebih banyak berkata.

Misalnya penggunaan kalimat yang tidak efektif pada kalimat berikut, Saat bulan memasuki musim pancaroba tepatnya pada Oktober, aku mengalami flu berat. Sekiranya pengarang bisa mengeluarkan kemampuan berbahasa untuk menunjukkan waktu. Kalimat di atas membuat pembaca mesti berhenti dan memikirkan apa maksud kalimat di atas. Singkatnya, penggunaan kalimat yang tidak efektif seperti di atas justru menghambat kelancaran bahasa dan mengganggu kenikmatan membaca. Hal-hal mendasar pada cerpen karya Danang ini semestinya sudah selesai. Sehingga cerpennya bisa dinikmati sebagai karya sastra.

Dalam cerpen ini ada beberapa hal yang memang tidak biasa—setidaknya bagi budaya percintaan remaja kita. Misalnya perilaku tokoh Dyass yang menyatakan cinta kepada laki-laki, tokoh Aku. Hal itu juga diungkapkan melalui sudut penceritaan tokoh Aku dalam kutipan berikut.

Setelah memesan minum, kami ngobrol. Kegugupanku makin meruyak bangkit seperti kali pertama aku mengajaknya bertemu di kedai ini. Saat aku hendak mengutarakan isi hatiku, tiba-tiba lidahku kelu dan kaku. Kata-kata macet di tenggorokan. Dada sesak.

Dyass malah memegang tanganku yang bergerak-gerak karena salah tingkah. Ya. ketika tanganku di atas meja, dia segera meremas lembut sambil berkata. “Maukah kau jadi pasanganku?” Aku tercekat kaget. Hatiku berdebar-debar hebat, antara bahagia, malu, dan benci menyeruak di rongga dada.

Sebagaimana kita rasakan atau pernah merasakan, penyataan cinta merupakan perkara yang kerap kali dijadikan kewajiban laki-laki. Akan terasa aneh apabila ada perempuan yang menyatakan cinta. Ketakbiasaan ini barangkali merupakan salah satu usaha penggalian tema cinta oleh pengarang, dengan mencoba memberikan semacam ketegangan kepada pembaca. Semacam ketabuan dikalangan remaja yang sedang jatuh cinta.

Upaya penggalian lain adalah gagasan atau konsep cinta segitiga. Dalam cerpen ini, Dyass sebagai perempuan yang menyatakan cinta terlebih dahulu kepada tokoh Aku, sudah memiliki hubungan dengan Made. Dyass menjalankan hubungan dengan dua laki-laki. Uniknya, nyaris tak ada ketegangan antartokoh dalam cerpen ini. Semua tokoh dengan pasrah menjalankan hubungan itu dengan baik, seolah tidak ada emosi maskulinitas dalam hubungan mereka. Gagasan ini memang bisa jadi perkara yang tidak biasa.

Dari dua cerpen pada minggu ganjil (pertama dan ketiga) Maret 2018. Kita bisa melihat bahwa upaya menggali dan mengeksplorasi tema cinta adalah kerja sastra yang mudah-mudah susah. Persoalan cinta memang begitu besar dan luas sehingga mudah terlihat dan tampak begitu mudah untuk dipahami. Namun kenyataannya bagi pengarang, tema cinta harus mendapatkan perlakuan khusus agar karya yang dihasilkan menjadi menarik, unik, dan tidak menyek-menyek. Hingga karya yang ditulis dapat indah dan mampu menyentuh nilai kemanusiaan.

Baca juga:
Membaca Cerpen Kolase
Membaca Cerpen Inspiratif

Pada akhirnya, untuk bisa lolos dari meja redaksi, pengarang harus menemukan gagasan menarik soal tema cinta ini. Kemampuan mengolah bahasa dalam membuat cerpen tentunya menjadi salah satu hal mendasar yang wajib dimiliki pengarang. Sebab mengarang bukanlah perkara membuat cerita semata; menghidupkan cerita sampai memberikan kesan bagi pembaca saja. membuat cerpen merupakan kerja seni yang utuh dan total.

Cerpen “Gadis Penyair” secara gaya memberikan kesegaran membaca dan menikmati tema cinta. Sementara cerpen “Apakah Cinta Sepasrah itu” saya kira belum bisa move on dari gaya keremajaannya meskipun ada upaya mengeksplorasi tema cinta. Saya kira kedua pengarang memang berupaya mengeksplorasi. Namun, anda bisa menentukan cerpen mana yang berhasil menggali setiap sudut pemaknaan cinta.[]

  1. Disarikan dari “Catatan Kecil tentang Menulis Cerpen” Pustaka Pelajar. Jakob Sumardjo hal.115
  2. Baca ulasannya di sini. http://www.buruan.co/membaca-cerpen-kolase/.

 

Dadan N Ramdan

Dadan N Ramdan

Penulis. Staf SDI Al-Azhar 30 Bandung.

All stories by:Dadan N Ramdan
error: