Fb. In. Tw.
Ulasan Cerpen Iin

Akhir Sebuah Cerpen

Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.

 

Bagi seorang pembaca, salah satu yang ditunggu dari sebuah cerpen adalah akhir ceritanya. Ini memungkinkan karena cerpen, dengan ruang yang terbatas, seringkali menjadikan kejutan di akhir cerita sebagai salah satu “barang jualannya”. Tentu tidak semua cerpen memiliki kejutan di akhir cerita dan dijadikan sebagai barang jualan.

Cerpen berjudul “Racun Sapuah” karya Iin Farliani mungkin masuk dalam kategori ini. Meskipun pukulan di akhir cerita bukan magnet utamanya.

Racun Sapuah bercerita tentang hubungan dua anak manusia bernama Sapuah dan Piyya. Persahabatan yang love and hate. Premis ini yang kemudian berkembang sebagai layar besar cerpen ini. Hubungan kedua tokoh pun digambarkan dengan cukup detail. Ada lebih dari dua peristiwa yang dipakai untuk menunjukan hubungan keduanya. Misalnya saat mereka membicarakan wajan.

Ketika itu Piyya mengusulkan untuk mengganti wajan mereka yang sudah menumpuk kerak gosongnya sebab Piyya khawatir kalau kerak gosong itu akan mencemari makanan yang dimasak.

…        

Piyya menunggu tanggapan Sapuah.

           

“Biar saja. Biar saja sel-sel kanker itu membunuh kita. Mati jauh lebih baik ketimbang terus hidup.” Kalimat-kalimat Sapuah meluncur dengan halusnya dari dalam kamar.

            Piyya hendak melempar sutil penggorengan yang dipegangnya ke arah pintu kamar itu.

Atau saat mereka membicarakan ibu Sapuah. Piyya yang mengganggap Sapuah akan berhenti mengeluh jika tidak dibebani oleh ibunya.

“Kau tidak sadar kalau ibumu memanfaatkanmu. Kau jadi seperti ini karena dia.”

“Tahu apa kau tentang ibuku? Mengapa kau berucap seperti itu?” Kali ini nada bicara Sapuah terdengar memiliki minat. Sekaligus terdengar waspada. Barangkali ia agak terkejut dengan pernyataan Piyya yang berani.

“Beruntung gaun biru laut itu selamat dari kebakaran. Kalau tidak, ibumu akan jadi gila. Dan kau pun akan bertambah gila.”

Tak ada tanggapan. Piyya memandangi pintu kamar Sapuah yang tertutup. Jantungnya berdetak keras. Kali ini dia tak peduli. Dia memuntahkan semuanya. Sepertinya lebih mudah berbicara kasar dalam kondisi ketika tak saling melihat satu sama lain.

Pada cerpen ini, hubungan Sapuah dan Piyya sepenuhnya dipandang dari kacamata Piyya. Meskipun memakai sudut pandang orang ketiga, tapi sebenarnya pencerita lebih condong terlihat memakai perspektif orang kedua (Piyya). Ini juga yang memungkinkan cerita terus berada dalam jalur meski cerita sempat beralih menceritakan kehidupan pribadi Piyya yang bercerai dan mempunyai anak.

Daya tarik utama cerpen “Racun Sapuah” adalah tarik ulur hubungan dua sahabat -yang berbeda tapi terus terikat satu sama lain. Yang tak terlupakan. Yang menyebar seperti racun. Terutama mungkin dari sisi Piyya. Sampai Piyya punya anak dan bercerai pun, ia masih mengingat hubungannya dengan Sapuah.

Betapapun sering membingungkannya pernyataan Sapuah, nama Sapuahlah yang pertama kali terlintas di benak Piyya ketika dia akhirnya memutuskan bercerai dengan suaminya. Dia merindukan Sapuah. Dia merindukan kalimat-kalimat Sapuah yang kerap melantur ke sana ke mari. Dia merindukan kalimat-kalimat beracunnya. Kalimat-kalimat penyerahannya.

Hal lain yang juga mencuat dari cerpen “Racun Sapuah” tentu saja soal pengaluran. Alurnya maju mundur, ingatan dan peristiwa ditampilkan bergantian. Ingatan dipakai untuk menguatkan karakter Sapuah yang menjadi “racun” bagi Piyya, peristiwa (terkini) digunakan agar ingatan itu tetap relevan dengan masa kini.

Kini Piyya sadari kalimat-kalimat Sapuah yang sejak dulu dianggapnya beracun ternyata tak ada apa-apanya bila dibandingkan perlakuan yang selama ini dia terima dari suaminya. Suaminya beracun. Jauh lebih beracun ketimbang keluhan-keluhan Sapuah. Setidaknya Sapuah tak mendiamkannya berlarut-larut. Sapuah mengucapkan apa saja yang terlintas di pikirannya, yang merisaukannya, yang menakutkannya.

Kembali pada soal kejutan di akhir cerita.

Cerpen “Racun Sapuah” mungkin masuk pada tipe cerpen yang ingin memberi kejutan di akhir cerita, meski sayang, pukulannya terlalu lemah.

Peristiwa bolak-balik Piyya menengok rumah sewanya dulu, yang kemudian diakhiri dengan melihat Sapuah keluar dari rumah sewa itu, terlalu renggang untuk membangun sebuah kejutan. Bangunan peristiwanya terlalu kendor. Sebab sedari awal cerpen ini memang dibangun bukan untuk akhir yang mengejutkan, tapi berfokus pada hubungan dua sahabat yang kini putus hubungan.

Selain itu, cerita yang sedikit bercabang, cukup mengganggu jika cerpen ingin memberi pukulan telak di akhir cerita. Apalagi percabangan itu terlalu mencelat dari layar besar penceritaan. Terutama pada bagian ketika Piyya mengingat prilaku aneh ibunya Sapuah pada tujuh hari kematian ayah Sapuah. Bercerita panjang lebar, menyita tiga paragraf panjang hanya untuk memperlihatkan perangai ibunya Sapuah, jelas sebuah pemborosan.

Redaktur buruan.co. Buku puisi terbarunya berjudul Menghadaplah Kepadaku (2020)

Post a Comment

You don't have permission to register