Racun Sapuah
Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
Asap pembakaran sampah; itulah yang pertama kali terlintas di benak Piyya dan Sapuah ketika melihat asap yang membumbung tinggi. Piyya dan Sapuah berjalan kaki sepulang dari tempat kerja menuju rumah sewa mereka. Beberapa langkah mendekati gerbang, asap terlihat semakin tebal. Di sana orang-orang berkumpul. Berjalan semakin dekat, Piyya dan Sapuah menyadari kalau itu bukan asap pembakaran sampah melainkan asap kebakaran yang keluar dari rumah sewa.
Piyya terkejut sampai menjatuhkan tas tangan yang dikepitnya. Sementara Sapuah berlari menuju kerumunan. Kerumunan melebarkan diri, memberi jalan bagi Sapuah. Lalu Sapuah jatuh lemas. Orang-orang mengangkatnya ke tepi. Ibu-ibu mengerubunginya, mengipasinya, buru-buru membuka tutup botol minyak kayu putih lalu mendekatkan botol itu ke lubang hidung Sapuah. Sementara para lelaki bergerak cepat, hilir-mudik membawa ember berisi air, masuk ke rumah sewa itu melalui pintunya yang telah didobrak.
Beberapa saat kemudian terdengar suara, “Api sudah padam.”
Piyya sibuk memijati tangan dan kaki Sapuah. Perlahan-lahan Sapuah mulai sadar. Keringat mengalir di pelipisnya. Piyya membantu Sapuah duduk tegak lalu menyodorkan kepadanya segelas air.
Kebakaran itu disebabkan obat nyamuk bakar yang merembet ke kasur. Sapuah ingat sudah menyingkirkan obat nyamuk bakar itu ke sudut tembok di balik pintu. Tapi ia tak ingat apakah api obat nyamuk itu sudah benar-benar padam atau masih menyala. Ada gaun panjang biru laut yang digantungkan di balik pintu. Ujung gaun itu melayang tertiup angin yang berhembus dari jendela yang tak ditutup rapat. Api obat nyamuk membakar ujung gaun itu. Lalu api menyebar dari sana, merembet ke kasur. Beruntung tak banyak barang-barang yang terbakar karena tetangga samping kanan dan kiri rumah begitu sigap menyadari kebakaran itu dan segera bahu-membahu memadamkan api.
Dalam dugaan Sapuah, gaun biru laut itu telah terbakar habis. Bayangan gaun yang tinggal menjadi abu membuatnya hampir pingsan kembali. Ia membutuhkan waktu begitu lama untuk mengumpulkan uang dari gajinya yang pas-pasan selama bekerja sebagai guru sekolah demi membeli gaun itu yang akan ia berikan sebagai hadiah buat ibunya.
Ternyata dugaan Sapuah salah. Ia justru mendapati daster biru yang semalam dikenakannya yang terbakar. Sementara gaun biru laut masih tersimpan rapi dalam kertas bungkusan di lemari. Jauh dari api. Tadi malam ia memang sempat mengeluarkan gaun itu, menyetrika bagian yang kusut, menggantungnya sebentar, lantas memasukkannya kembali ke lemari. Ingatannya salah merekam daster biru sebagai gaun biru. Sapuah bernapas lega. Piyya bergumam sambil menepuk bahu Sapuah. Syukurlah baik-baik saja, katanya.
Memang keadaan terbilang baik usai kebakaran. Setidaknya tak sampai membuat mereka mengalami kerugian besar. Tetapi ada satu hal yang kemudian menjadi gangguan. Kebakaran itu menghasilkan bekas menghitam tebal yang tercetak di tembok di belakang pintu kamar. Bekas hitam itu tak bisa hilang meski Piyya sudah menyikat tembok itu dengan air sabun. Dalam pandangan Sapuah, bekas menghitam di tembok itu entah mengapa menjelma sosok mengerikan yang mengganggu tidurnya setiap malam. Ia kerap terbangun di tengah malam. Ia berkata ada lelaki bertudung hitam bertubuh sangat tinggi berdiri di tembok itu, menghadap ke arah kasur, dan menatapnya selama ia tidur. Menatapnya terus menerus sampai membuatnya ketakutan.
Hingga persahabatan mereka putus, Piyya dan Sapuah tak memiliki kesepakatan tentang apa sebenarnya penyebab kebakaran itu. Apakah benar obat nyamuk itu memang ada di sana, apakah kebakaran itu disebabkan obat nyamuk. Sapuah sering mengoreksi sendiri keyakinan yang semula dilontarkannya. Di lain waktu ia berkata sangat yakin tak menyalakan obat nyamuk sama sekali di malam sebelum kebakaran. Satu-satunya alasan mengapa kebakaran itu terjadi ialah karena rumah itu berhantu. Rumah itu memiliki penghuni selain mereka. Piyya tak mendebatnya kembali. Kamar mereka terpisah. Pintu kamar Sapuah selalu tertutup setiap malam. Sementara Piyya tidur di ruangan yang langsung terhubung dengan ruangan tempat mereka biasa bersantai menonton televisi. Dua ruangan itu hanya dipisahkan oleh gorden yang sekaligus menjadi kelambu. Dia tahu Sapuah suka menyalakan obat nyamuk, tapi dia tak tahu apakah pada malam sebelum kebakaran itu Sapuah menyalakannya atau tidak.
Betapapun sering membingungkannya pernyataan Sapuah, nama Sapuahlah yang pertama kali terlintas di benak Piyya ketika dia akhirnya memutuskan bercerai dengan suaminya. Dia merindukan Sapuah. Dia merindukan kalimat-kalimat Sapuah yang kerap melantur ke sana ke mari. Dia merindukan kalimat-kalimat beracunnya. Kalimat-kalimat penyerahannya.
“Menyerah…, lebih baik mati saja…, mengorbankan diri demi orang jahat…, biar aku mati karena cinta…, tak layak hidup…, aku ini manusia yang tak berharga…, tak berguna…” Sederet kalimat-kalimat beracun Sapuah begitu saja terangkat ke permukaan ketika Piyya memandangi tangkai-tangkai yang dibebani buah mangga terjulur melewati tembok yang membatasi sekolah Teta, putrinya, dengan sebuah permukiman. Beberapa buahnya berjatuhan di jalan kecil yang memisahkan sekolah dengan permukiman itu. Pastilah buah-buah itu berjatuhan dari pohon mangga yang pernah Sapuah percayai sebagai tempat bernaungnya “penunggu rumah”. Penunggu yang menyebabkan rumah sewa mereka kebakaran. Rumah yang mereka tinggali selama menjalani hari-hari sebagai guru sekolah dasar. Pekerjaan yang terpaksa mereka lakoni beberapa bulan setelah lulus kuliah sembari berharap suatu saat memperoleh pekerjaan lain dengan gaji lebih tinggi.
Kini Piyya sadari kalimat-kalimat Sapuah yang sejak dulu dianggapnya beracun ternyata tak ada apa-apanya bila dibandingkan perlakuan yang selama ini dia terima dari suaminya. Suaminya beracun. Jauh lebih beracun ketimbang keluhan-keluhan Sapuah. Setidaknya Sapuah tak mendiamkannya berlarut-larut. Sapuah mengucapkan apa saja yang terlintas di pikirannya, yang merisaukannya, yang menakutkannya. Termasuk pikiran liar tentang cetakan hitam bekas kebakaran di tembok yang selalu ia sangka dapat berubah menjadi sosok lelaki bertudung hitam yang berdiri mengamatinya selama ia tidur. Atau tentang hantu penunggu pohon mangga yang turun ke rumah itu dan menyalakan kebakaran.
Waktu itu apa saja yang diucapkan Sapuah betul-betul mengganggu Piyya. Mulut Sapuah tak bisa diam. Selalu ada waktu baginya untuk berputus asa dan menyebar keputusasaannya ke seluruh bagian rumah. Dari hal besar sampai hal kecil. Ketika itu Piyya mengusulkan untuk mengganti wajan mereka yang sudah menumpuk kerak gosongnya sebab Piyya khawatir kalau kerak gosong itu akan mencemari makanan yang dimasak. Piyya mengatakan itu semua dari dapur sambil membacakan salah satu artikel dari majalah resep yang baru dibelinya. Dikutip dari majalah itu, kerak yang menempel di wajan bila tercampur makanan yang telanjur disantap akan menimbulkan sel-sel kanker dalam tubuh.
Piyya menunggu tanggapan Sapuah.
“Biar saja. Biar saja sel-sel kanker itu membunuh kita. Mati jauh lebih baik ketimbang terus hidup.” Kalimat-kalimat Sapuah meluncur dengan halusnya dari dalam kamar.
Piyya hendak melempar sutil penggorengan yang dipegangnya ke arah pintu kamar itu. Sapuah sudah berhari-hari meratap dan tidak juga keluar untuk membantunya di dapur. Tapi apa lagi yang bisa diperbuat perempuan malang sepertinya untuk menghadapi keputusasaan sahabat perempuannya? Kalimat-kalimat penyemangat tak akan mampu menjadi penawar ampuh bagi segala kedukaan yang dipikul dengan sengaja oleh Sapuah.
Dahulu Sapuah tak seperti ini. Dahulu, sebelum ayahnya terserang stroke, sebelum ibunya nyaris menjual satu-satunya rumah mereka untuk menyambung biaya hidup. Mereka bukan keluarga yang amat kaya, tapi cukup sering menyelenggarakan pesta. Mengundang makan-makan kerabat mereka. Merayakan setiap pencapaian dengan menyediakan makanan yang berlimpah.
Piyya sebagai sahabat perempuan Sapuah yang sudah menjalin pertemanan sejak masih sama-sama duduk di bangku sekolah menengah pertama, melihat dari dekat betapa bahagianya keluarga itu. Kehidupan yang sempurna. Tentu serangan stroke pada sang ayah, sebagai satu-satunya tumpuan hidup, telah menghempaskan Sapuah dan ibunya ke titik terendah. Mereka tak terbiasa diperintah. Tak terbiasa untuk memperoleh uang dengan kerja keras sendiri. Beban itu terasa semakin berat sebab itu terjadi satu tahun menjelang masa kuliah Sapuah selesai. Di waktu ia masih berjibaku dengan kesibukan penelitian di lapangan dan penyusunan skripsi.
Semuanya bila Piyya ingat lagi sekarang, tak ada apa-apanya racun yang pernah disebarkan Sapuah dengan racun yang diberikan suaminya sendiri. Lelaki itu kerap menghilang dan mendiamkan Piyya selama berhari-hari hingga berbulan-bulan. Lelaki itu tak pernah mau diajak bicara setiap kali masalah mendera rumah tangga mereka. Ia menyakiti Piyya lewat sikap diamnya. Ia akan membiarkan Piyya berkubang dalam rasa bersalah yang menyiksa. Hanya keyakinan tentang tak ada lagi lelaki lain yang semenarik dan sehebat dia yang membuat Piyya selalu bisa memungut kepingan-kepingan lalu berusaha menyatukan kembali rumah tangganya.
Siang itu sebelum menjemput Teta di sekolah, Piyya mendatangi rumah sewa yang dahulu dia tempati bersama Sapuah. Suaminyalah yang memilih mendaftarkan Teta di sekolah itu, yang ternyata bersebelahan dengan permukiman rumah sewa__tempat dia tinggal dulu bersama Sapuah__dan pohon mangga berpenghuni. Semuanya serentak mengingatkannya dengan Sapuah. Dalam proses perceraian dengan sang suami, Piyya yang lebih banyak mengurus keperluan sekolah Teta. Waktu yang dimilikinya selama berurusan dengan sekolah Teta digunakannya untuk menyempatkan diri mendatangi kembali rumah masa lalu itu.
Piyya mesti menempuh jalan memutar. Sebenarnya dia bisa tinggal menyeberang jalan kecil kalau tak ada tembok tinggi yang memisahkan sekolah Teta dengan permukiman itu. Tetapi tak masalah baginya. Dia bisa berjalan-jalan sebentar sembari menunggu jadwal sekolah Teta selesai. Sepanjang jalan Piyya menyepak-nyepak buah mangga yang berjatuhan. Buah mangga berukuran kecil yang belum matang.
Dia tiba di rumah sewa itu dengan perasaan tercengang. Kini ada kebun kecil yang terhampar di depan teras. Di bawah kerindangan pohon mangga, sumur kecil dan kamar mandi luar yang terbengkalai masih ada di sana. Kamar mandi itu kini dijadikan tempat penyimpanan potongan kayu dan barang-barang rongsokan. Kesan kumuh masih terlihat, kecuali mengalami sedikit pengurangan dengan adanya sepetak kebun yang ditanami tumbuhan-tumbuhan hias. Pandangan sedikit dimanjakan bila mata terarah melewati sumur ke kebun kecil itu.
Piyya bertanya-tanya siapakah yang menghuni rumah itu sekarang? Dia cukup puas hanya memandanginya dari gerbang yang terbuka. Permukiman ini cukup sepi. Kecil kemungkinan ada mata yang memandangnya dengan curiga, bertanya-tanya mengapa dia berjalan sendirian ke permukiman ini. Piyya juga mengira rumah di hadapannya sedang ditinggal penghuninya. Mungkin mereka sedang pergi berbelanja ke pasar. Sulit menebak siapakah yang kini tinggal di sana; seorang anak muda sepertinya dulu atau pasangan yang sudah menikah. Piyya cuma bisa mengira-ngira berdasarkan apa yang ada di kebun kecil yang tampak terawat itu.
Cukup berpuas diri mengenang masa lalu bersama Sapuah hanya dengan berdiri di muka gerbang rumah itu, Piyya mulai beranjak dari sana untuk kembali ke sekolah Teta. Tetapi langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara air mengucur dari arah sumur. Seorang lelaki paruh baya berjalan keluar dari pintu belakang sambil membawa ember besar menuju sumur itu. Ia duduk di atas tumpuan kayu dan mulai membilas sesuatu dari ember itu.
Seember darah yang ada di hadapan si lelaki paruh baya. Benar. Piyya tak mungkin salah lihat. Matahari mulai tinggi. Sinar matahari cukup menerangi tampungan darah itu. Lelaki itu mencuci potongan kain dalam seember darah, membilasnya dengan air sumur, lalu mengambil lagi potongan-potongan kain dari ember berisi darah. Ia tampak sangat sibuk dengan pencucian kain dalam darah itu. Terlihat aliran darah menggenangi lantai sumur.
Piyya cepat-cepat beranjak dari sana. Seketika kepalanya terasa pusing dan ingin muntah. Darah itu mengingatkannya dengan acara peringatan kepergian ayah Sapuah.
Tujuh hari setelah kematian ayah Sapuah, Piyya mendapati pemandangan yang aneh di rumah Sapuah. Sore hari ketika orang-orang menyiapkan pengajian yang akan digelar malam nanti, Piyya melihat ibu Sapuah duduk di kursi dekat jendela yang terbuka. Wajahnya sangat muram. Telapak tangannya yang kurus menopang sebelah wajahnya. Posisi duduknya yang miring membuat tubuhnya tampak ringkih dan seolah dapat begitu saja jatuh dari kursi. Tatapannya kosong. Matanya tampak bengkak dan memerah. Sesekali airmata menuruni pipinya yang kemudian cepat-cepat diusapnya kembali. Bibirnya terkatup rapat. Ia tak menghiraukan orang-orang yang lalu lalang di rumahnya yang besar. Orang-orang sibuk menggelar karpet, hidangan kecil, dan botol air minum kemasan yang disusun di atasnya. Tamu-tamu pengajian akan berdatangan selepas waktu isya.
Sekelompok anak bermain di teras tepat di hadapan jendela itu. Mereka anak-anak dari beberapa kerabat yang datang membantu persiapan pengajian malam. Seorang anak duduk di atas tikar, lalu teman-temannya yang lain menggeret tikar itu mengelilingi teras. Si anak yang berada di atas tikar tertawa-tawa hingga terjungkal. Teman-temannya ikut tertawa-tawa juga. Semakin kencang tikar itu ditarik, semakin keras suara tawa mereka. Si anak yang berada di atas tikar terjungkal berkali-kali. Tetapi tiba-tiba saja tawanya terhenti ketika ia menoleh ke jendela dan berhadapan dengan sepasang mata.
Piyya melihat semuanya. Ibu Sapuah memelototkan matanya, ekspresi menyeringai ia tujukan kepada anak-anak itu. Dalam pandangan Piyya, wajah ibu Sapuah waktu itu sangat mengerikan. Matanya yang sembab dan merah yang sebelum itu menyiratkan kesedihan berubah secara drastis hanya dengan ekspresi menyeringai dan memelototkan mata. Entah apa yang dikatakan oleh ibu Sapuah sehingga anak-anak itu pun berhenti bermain dan membubarkan diri. Piyya hanya dapat menebak kata-kata yang diucapkan ibu Sapuah lewat gerak bibir yang komat-kamit itu dari jarak jauh. Betapa aneh baginya melihat seseorang yang tengah dilanda duka tiba-tiba menyerang anak kecil dengan ekspresi kemarahan yang mengerikan. Betapa ganjil rasanya perubahan itu.
Duka akibat meninggalnya ayah Sapuah masih menyisakan bayangan gelap di perayaan kelulusan sehingga Piyya bertindak sebagai seorang sahabat yang sedapat mungkin memberikan penghiburan bagi Sapuah. Mereka memutuskan merayakan kelulusan itu di pantai. Masih dalam balutan kebaya, sehabis seremoni, mereka berboncengan ke pantai yang jaraknya sekitar tiga puluh menit dari kampus. Menikmati sinar matahari yang perlahan-lahan turun, duduk di undakan berbatu-batu. Piyya tak ingin menyinggung kematian. Tetapi Sapuah mengenang ayahnya dan membicarakan ibunya. Ia sangat takut kalau ibunya juga meninggalkannya secara tiba-tiba. Itulah kali terakhir Piyya melihat senyuman Sapuah yang terasa tulus, tiba dari lubuk hati yang terdalam. Meski ia mengungkapkan perasaan yang sedih, tapi ia menyunggingkan senyum. Barangkali hari itu bisa disebut hari terakhir Piyya mengenal Sapuah sebagai sosok yang dia kenal saat pertama kali berjumpa; hangat dan terbuka. Sesudah itu yang ada hanya keputusasaan, keluhan, perasaan selalu menjadi korban, yang teraniaya, dan menyebarkan racun. Racun Sapuah. Apa yang setiap hari dikeluhkan Sapuah menjadi racun yang turut menggerogoti diri Piyya.
“Kau tidak sadar kalau ibumu memanfaatkanmu. Kau jadi seperti ini karena dia.” Suatu hari kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Piyya. Entah apa yang mendorongnya. Mengalami hari yang buruk di tempat kerja, ditambah pertengkaran dengan kekasih, lalu ketika pulang harus menampung ungkapan Sapuah yang menyatakan ia ingin mati, lekas mati. Ungkapan “ingin mati” yang sudah tak terhitung seringnya dikatakan Sapuah. Begitu saja kata-kata itu meluncur, dan Piyya baru menyadari kesalahannya pada esok hari ketika suasana rumah sewa itu menjadi dingin, tak ada lagi percakapan, saling mendiamkan diri, hening yang benar-benar hening. Dia merasa mungkin seperti inilah “rumah berpenghuni” yang dikatakan Sapuah. Tak ada keberadaan manusia. Kini tergantikan oleh hantu.
“Tahu apa kau tentang ibuku? Mengapa kau berucap seperti itu?” Kali ini nada bicara Sapuah terdengar memiliki minat. Sekaligus terdengar waspada. Barangkali ia agak terkejut dengan pernyataan Piyya yang berani.
“Beruntung gaun biru laut itu selamat dari kebakaran. Kalau tidak, ibumu akan jadi gila. Dan kau pun akan bertambah gila.”
Tak ada tanggapan. Piyya memandangi pintu kamar Sapuah yang tertutup. Jantungnya berdetak keras. Kali ini dia tak peduli. Dia memuntahkan semuanya. Sepertinya lebih mudah berbicara kasar dalam kondisi ketika tak saling melihat satu sama lain.
“Minta ibumu cari uang sendiri! Katakan padanya kau sudah tidak tahan diperas olehnya. Kalau dia masih ingin hidup berkecukupan seperti dulu, kenapa bukan dia yang kerja keras? Kenapa dia yang memintamu menanggung semuanya? Membayar hutang piutang keluargamu? Termasuk gaun mahal dan bodoh itu, yang dia bilang ingin diterima di hari ulang tahunnya. Dengan alasan berbakti, blaaa.. blaaa.. blaaaa.. Tak mungkin dia tidak tahu gaji guru sekolah dasar. Katakan kalau mungkin dia masih ingin hidup serba berkecukupan, katakan padanya, mungkin dia bisa mulai dari sekarang mencari laki-laki kaya.”
Tak ada tanggapan dari dalam kamar. Piyya memejamkan matanya. Detak jantungnya semakin keras. Dia menghembuskan napas dalam-dalam. Matanya terasa panas dan airmatanya pun mengalir.
“Kau tidak tahu apapun, Piyya. Kau tidak tahu. Kau tidak mengerti,” suara Sapuah terdengar lirih. Meski begitu lirih, tak terdengar isak tangis di sana, melainkan sebuah kerelaan.
Dalam keragu-raguan, Piyya menempuh kembali jalan memutar menuju permukiman rumah sewa. Masih ada waktu satu jam sebelum bel pulang sekolah Teta berbunyi. Dia masih teringat dengan ember berisi darah yang dilihatnya tiga hari lalu. Tak mungkin pemandangan memualkan itu menjadi alasannya untuk kembali ke sana, apalagi demi menenangkan diri dengan berjalan-jalan sebentar ke tempat itu lagi. Dia hanya tak tahu harus berbuat apa untuk mengisi kekosongan waktu. Dia tak pernah keberatan dengan penungguan. Tetapi hari itu dia merasa benar-benar kalut. Dia mengingat pesan yang dia peroleh dari suaminya tadi malam. Dia telah memblokir semua kontak yang berhubungan dengan suaminya, kecuali surelnya. Dia menerima surat elektronik itu, membacanya dalam perasaan tak karuan. Kalimat dari surel yang begitu dia ingat: “Kau tidak bisa menyalahkanku, Piyya. Aku memang laki-laki yang seperti ini. Aku tidak bisa membahagiakanmu. Aku tak punya kemampuan untuk itu.”
Tak ada kata-kata permintaan maaf dari lelaki itu. Tak ada sebaris pun kalimat yang menyiratkan rasa bersalah. Seolah sikapnya yang gemar melarikan diri dari setiap masalah yang berlangsung selama berbulan-bulan tak teringat sama sekali olehnya.
Piyya tiba di depan gerbang rumah sewa itu. Dia melihat kain-kain yang tiga hari lalu terendam dalam ember berisi darah tergantung di tiang jemuran. Kali ini lelaki paruh baya itu tidak sendiri. Di teras dia sedang meladeni ibu-ibu yang bertanya padanya. Terdengar ungkapan kekhawatiran dari ibu-ibu yang kemudian ditutup dengan ungkapan syukur setelah lelaki paruh baya itu menjelaskan semuanya. Dari percakapan mereka, Piyya menangkap kalau istri dari lelaki paruh baya itu baru saja tiba dari rumah bersalin. Keadaan sang istri perlahan pulih. Kain-kain berlumuran darah itu adalah kain-kain bekas persalinan yang dibawa pulang olehnya dan sudah dicuci bersih, tapi masih belum sempat diangkat dari tiang jemuran. Terungkap dari percakapan itu bahwa bayi mereka meninggal, cuma bertahan satu hari. Mereka sedang mencoba mengikhlaskan semuanya.
Dari dalam rumah, seorang perempuan berjalan menunduk sambil memegangi perutnya. Ibu-ibu itu dengan sigap memegangi tangannya dan menuntun perempuan itu untuk duduk di kursi. Perempuan itu mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan mereka. Ia berucap ia merasa agak baikan.
Waktu terasa amat sekejap bagi Piyya ketika dia melihat wajah perempuan itu saat ibu-ibu menyibakkan rambut panjang si perempuan. Piyya terkesiap. Dia tak bisa berkata-kata. Dia mengenali perempuan itu. Dalam balutan gaun biru laut, di situlah Sapuah duduk menerima limpahan perhatian yang terus menerus datang padanya. Sapuah dalam balutan gaun biru laut tampak begitu cantik dan ringkih sekaligus.
Piyya bergegas melangkahkan kaki dari sana. Langkahnya dipercepat. Napasnya memburu. Dia seakan mendengar bel pulang sekolah Teta berbunyi lebih awal dari waktu yang seharusnya. Bel dengan bunyi melengking. Teramat melengking. Memekakkan telinga. Bunyi yang mengiringi setiap detak jantungnya.

