Puisi-Puisi Yohan Fikri

820 820 Yohan Fikri

Anomali

aku bangun pagi-pagi,
malas mandi dan cuci muka
tapi tergesa membuka jendela
hanya untuk menilik
apakah langit masih luas
dan berwarna biru? masihkah
matanya lapang menampung
burung-burung terbang?

— kegalauan tak perlu segila itu,
sepertinya

aku gontai berjalan ke meja makan
terduduk lesu,
lalu mempertanyakan selai kacang:
masihkah ia serasi bila ditaruh
pada selembar roti panggang?

melihat seliter susu & sereal, lalu ragu
apakah susu & sereal tak pernah menyesal
setelah saling kenal?

— kehilangan tak harus setragis ini,
sepertinya

aku berjalan ke luar rumah, bolos kuliah
dan pergi ke taman kota, lalu duduk
di salah satu kursi & memeriksa,
apakah nama kita yang kukerat di tubuhnya
membuat pohon-pohon tabebuya
sepanjang musim, terus berbunga di sana?

— tapi kesedihan telah terhunjam
dalam dalam.

2021

 

Percakapan
— Adilah Pratiwi

“apa yang ada di balik rimbun pohon mangga itu?”
tanyamu suatu ketika dengan telunjuk menuding
ke arah pohon mangga di halaman rumahmu.

mungkin angin membisikkan kata
pada setiap helai daunnya:
“kulit kita akan senantiasa bersintuhan”

mungkin lebah kecil yang mengecupkan bibir
pada putik bunga berkarang berkata:
“kau semakin cantik, sayang”

atau barangkali, seekor burung gereja
yang menisik bulu kecokelatan & berloncatan
dari dahan ke dahan, kicaunya sesekali menggoda:
“aku mencintai segenap luka yang kau derita.”

aku tahu, kau hanya mau mengusir suntuk
yang membatu pada percakapan kita di beranda.
tetapi bertanyalah! bertanyalah perihal apa saja:
dari hal-hal kecil sampai perkara-perkara mustahil.

sebab aku ingin ada & bergembira jadi jawaban
atas segala tanda tanya yang kau miliki
— begitulah, begitulah aku ingin menjadi ujung
dari panjang perjalanan yang selalu teka-teki.

2021

 

Semester Akhir

malam-malamku didirikan
oleh kantuk sialan
setebal kertas hvs satu rim

pundak boyok, peyok
dicekoki encok

semangat tinggal sepenggal paragraf pudar
di selembar halaman yang keluar terbata-bata
dari printer yang hampir habis tinta

nasib sering susah
diajak konsultasi

terlalu banyak hari-hari
yang harus direvisi.

2021

 

Malam Pertama

setelah orang-orang mulai pulang satu-persatu,
sepasang pengantin baru gegas menutup pintu,
mengunci kamar dari segala jenis hingar-bingar.

sebelum sunyi melenguh oleh gaduh bahasa tubuh,
telah mereka lucuti bedak rias kepura-puraan
yang seharian mereka kenakan.

telah mereka tanggalkan segala gaun kebohongan
dan kenangan yang mungkin masih dikenakan badan
hingga yang tersisa tinggallah ketelanjangan.

“sebab malam ini, malam pertama,” ujarnya
“maka sebelum bercinta, pastikan jangan sampai
ada dusta yang masih tersangkur di tubuh kita.”

dan kemudian, malam  ber   -ge     – lin     -jang
di antara lirih rintih dan derit ranjang.

2021

 

Parafrasa Orang-Orang di Kedai Kopi

ada yang tampak gelisah duduk sendiri
dan sesekali melongok jarum pada arloji.
di sudut, seorang lelaki berkerut dahi
sorot matanya kotor oleh pancar layar monitor
jari-jarinya seperti berlari menjauhi tenggat.

di meja lain, beberapa perempuan berambut ombre
menjalankan ritus tingwe: melinting-linting
cacat stigma masyarakat, membasahi papir dengan ludah,
membakar nyinyir komentar-komentar

perempuan berhijab
— yang mungkin merasa lebih salihah
duduk di sebelah

selebihnya, hanya orang-orang berteriak nyaring,
menyumpal earphone di kedua lubang kuping,
memukul layar gawai yang miring dengan buku ibu jari
— kanan-kiri, rampak bergerak memantik syaraf motorik
dan kupahami sebagai ujaran menggelitik

“ngobrol gak ngobrol, yang penting chicken dinner!”

ada yang berusaha menjaga kontemplasi
dihimpit riuh-rendah ruang ini.

kopi di atas meja dan sebuah buku
terbuka, bagai mengangkang dua paha
—mungkin ia sedang bergerilya
menyelusuri lipatan-lipatan metafora.

2021

Yohan Fikri

Yohan Fikri

Lahir di Ponorogo, November 1998. Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang. Bergiat di Komunitas Sastra Langit Malam.

All stories by:Yohan Fikri
Yohan Fikri

Yohan Fikri

Lahir di Ponorogo, November 1998. Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang. Bergiat di Komunitas Sastra Langit Malam.

All stories by:Yohan Fikri