Puisi-Puisi Faris Al Faisal

820 820 Faris Al Faisal

Mendirikan Kamp-Kamp

Lupakan tentang rumah.
Tentang zat yang memanjakan lambung:
–roti, selai, madu kurma–
dan kasur busa yang melenakan.
Seorang ayah berkata kepada dua anaknya
(lelaki-perempuan) dan istrinya,
sambil mendirikan kamp-kamp pengungsian.
Jangan kau tanyakan di mana letak keadilan
Perang membuat miring neraca.
Si zalim terus main-main dengan roket-roketnya
membuat ketakutan bagai mainan.
Bagai tukang tenung,
mengirim buntalan duka.
Kemiskinan, kelaparan, kematian:
pesta burung nasar,
mayat yang menggali kuburnya di gurun.
Tuhan beri sejengkal tanah kemerdekaan
pada anak-anakku.
Itulah surga, masa depannya.

Indramayu, 2021

 

Gramofon

Hari-hari gramofon, hari-hari fonograf
setelah pesawat menjatuhkan bom
dan memproduksi massal rasa sakit.
Tangis kehilangan sunyi langit malam.
Seorang anak mencari suara ibunya
di Gaza, seperti selamanya.
Senyap menyapanya,
dua kaki menjawab dengan gemetar.
Ia tak tahu, seorang serdadu berdiri tak jauh.
Mengusap lubang pengintai,
begitu jitu.
Letusan baru saja,
satu menit asing,
dunia tak berpihak!

Indramayu, 2021

 

Somnambulis

Pengalaman:
yang mencemaskan, yang menakutkan,
yang membekas, berlewatan dalam tidurmu.
Garis orbit yang melenceng
dan bintang jatuh di pelukan.
Ke atas dunia, potongan waktu
dari menatapmu meninggalkan kata.
Sajak-sajak yang disisipkan pada malam,
lintasan-lintasan ingatan, rel
dan kereta mimpi yang kau cintai
seperti keriuhan hujan.
Jangan khawatirkan!
Seberkas cahaya putih dari langit
menggulung teks yang sesungguhnya.
Setelah terjaga, seperti sejuk pagi.

Indramayu, 2021

 

Cermin

Wajah, garis kerut, daging kendur:
cermin hidup dan bayangan
pengembaraan panjang
dari hati mengais-ngais.
Menghayati permukaan kaca
kulihat bahasa
berkata kepada diri sendiri:
tentang hari-hari,
temuan lain, dan juga kau.
Kenyataan dunia,
bintang-bintang berputar,
redup di antara bulan.
Inilah yang benar,
bahwa selama ini aku teperdaya
oleh semu dunia.

Indramayu, 2021

Faris Al Faisal

Faris Al Faisal

Lahir di Indramayu. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Puisi-puisinya telah terbit di berbagai surat kabar Indonesia dan Malaysia. Buku puisi keduanya, Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian (Rumah Pustaka, 2018).

All stories by:Faris Al Faisal
Faris Al Faisal

Faris Al Faisal

Lahir di Indramayu. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Puisi-puisinya telah terbit di berbagai surat kabar Indonesia dan Malaysia. Buku puisi keduanya, Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian (Rumah Pustaka, 2018).

All stories by:Faris Al Faisal