Puisi-Puisi Aprillia Ramadhina
Balada Sebelah Kaus Kaki
Di jemuran
Kaus kaki tak pernah sepasang
Selalu hilang sebelah
Apakah ada pencuri?
Atau ia sengaja pergi
Berjalan sendiri
mencari sebelah kaki
untuk diselimuti
memburu sebelah sepatu
yang lebih baru
2020
Angin Berputar di Atas Waktuku
Di bawah atap
berhias bekas rembesan air hujan
Angin berputar di atas waktuku
Mengacaukan segala
Senin dan Selasa, sama
Sabtu dan Minggu, saru
Tanggal tua tetap tua
Tanggal muda, menua
Kerja dan main di satu tempat
Dikerjain dan dimainin di satu tempat
Pukul berapa sekarang
Mengapa hari sudah gelap?
Bukankah memang selalu gelap?
2020
Spasi dan Margin
Kau, adalah teks-teks besar dalam banyak buku. Menuliskan tubuhku. Menyajikan keindahanku. Hingga orang-orang mengagumimu, sebagai penciptaku.
Susah payah aku kerahkan pikiran. Tetap akan dibilang mendewakan perasaan. Meski hadirku berlipat ganda, hanya akan bermuara menjadi jeda. Berakhir sebagai spasi dan margin yang tak terbaca.
Suaraku tertindih kata-katamu. Kau berikan aku nama remang, bias-bias cahaya, kadang bayang-bayang. Tapi, tak akan kubiarkan takdirku samar atau terangku pudar.
Semakin keras kaubungkam, semakin kuat kumelawan.
2020
Sofa Tua
Sofa itu berusia sama dengan dirinya
Lebih dari tiga puluh tahun bersemayam
Berkali-kali ganti kulit
dan tambah busa sedikit
Biar tetap nyaman diduduki
Tapi kini kulitnya retak-retak
Busanya kempis
Bikin sakit-sakit
Namun belum ada biaya
untuk pergantian
Terpaksa diungsikan
ke tukang loak langganan
Mungkin seperti itu juga usianya
yang sama rentanya
sebaiknya digadaikan
Setelah sofa tua diangkut
Rumahnya, tak pernah terasa selapang itu
2020

