Pengalaman Terjebak Pandemi di Indonesia

820 820 Nais Ambarsari

Covid-19 belum juga tampak juntrungannya. Sejak ditetapkan sebagai pandemi per bulan Maret 2020, tatanan kehidupan banyak berubah. Masyarakat harus menyesuaikan diri dengan aturan-aturan baru, seperti wajib menggunakan masker, membersihkan tangan dengan sabun maupun handsanitizer, menjaga jarak minimal satu meter, tidak melakukan kontak fisik, dan lain-lain.

Selain kebiasaan hidup, kegiatan proses belajar mengajar pun berubah drastis karena harus dilangsungkan secara daring. Hal ini pun berdampak bagi mahasiswa asing yang masih berada di Indonesia, khususnya mereka yang mengikuti program Darmasiswa RI dari September 2019 sampai Juli 2020.

Sejak Maret, mereka harus mengikuti sistem pembelajaran jarak jauh dan harus tetap berada di kosan masing-masing. Selain itu, pandemi juga berdampak pada soal jadwal pulang ke negara asal. Beberapa orang tidak bisa pulang ke negaranya sesuai jadwal sebab negara tujuan mereka masih menutup pintu masuk sehingga mau tidak mau para mahasiswa asing ini harus rela terjebak di Indonesia.

Kali ini, saya mewawancarai tiga mahasiswa dari tiga negara berbeda, yakni Maram (Syria), Lili (Tiongkok), dan Maki (Jepang). Ketiganya merupakan mahasiswa Darmasiswa yang belajar di Balai Bahasa UPI dan jadwal mereka terdampak pandemi. Baik Maram, Lili, dan Maki sekarang sudah kembali ke negerinya masing-masing. Menyimak kesan mereka tentang Indonesia, juga perbandingan situasi pandemi di sini dan di sana, saya kira cukup menarik, paling tidak untuk saling menguatkan. Kita tidak bisa menyelesaikan urusan segawat ini sendirian.

Apa yang kamu rindukan dari Indonesia setelah pulang ke negaramu?

Maram: Saya rindu cuaca Bandung dan kegiatan bersama teman-teman darmasiswa serta teman-teman asal Indonesia. Saya juga rindu martabak dan surabi, khususnya saat cuaca sedang hujan.

Saya rindu pasar dan orang-orang yang berjualan di sana, mereka sangat ramah. Saya ingat, ketika pertama kali datang ke Indonesia dan harus belajar membeli barang di pasar, bahasa saya masih belum bagus, para penjual tertawa mendengar bahasa saya.

Saya juga rindu bermain badminton dengan teman-teman di UPI. Selain itu, saya rindu ketika semua mahasiswa internasional berkegiatan bersama di klub bahasa setiap hari Jumat. Saya pun rindu guru-guru di sana.

Salah satu tempat yang paling saya rindukan adalah Lembang karena saya sangat suka udaranya.

Lili: Saya rindu dua makanan Indonesia, yaitu surabi dan tahu isi, karena kedua makanan ini tidak ada di negara saya. Selama kuliah di sana, saya sudah banyak berteman dengan mahasiswa dari luar negeri dan orang asli Indonesia. Bagi saya, semua siswa internasional orangnya baik sekali. Meskipun mempunyai budaya yang berbeda, kami bisa saling menghormati dan memahami budaya negara lain.

Teman asal Indonesia sering membantu saya dalam kehidupan sehari-hari. Saya pernah ketinggalan HP di Grab, mereka temani saya ke kantor Grab dan akhirnya saya dapati kembali HP saya. Mereka sering mengajak saya makan dan memperkenalkan budaya Indonesia. Saya telah belajar banyak tentang Indonesia dari mereka. Guru-guru di Balai Bahasa UPI semuanya sangat sabar dan ramah. Mereka sabar mengajarkan pengetahuannya kepada kami, dan tidak pernah marah.

Hubungan kami seperti teman, jadi saya tidak pernah merasa takut di depan mereka. Selain itu, dosen di UPI semuanya sangat lucu, suka bercanda. Saya merasa sangat senang ketika ketemu dosen di kelas. Saya bisa dapat pengetahuannya secara santai, tidak begitu banyak stres.

Maki: Hal-hal yang saya rindukan itu, pertama, adalah orang-orangnya karena ketika saya di Indonesia saya selalu disapa di mana saja: Selamat pagi, ke mana, dan dari mana?

Kepribadian mereka sangat ramah. Di Jepang, orang-orang tidak mungkin menyapa orang yang belum kenal. Jadi setelah pulang, saya sangat rindu berinteraksi dengan orang Indonesia.

Kedua, saya rindu alam dan buah-buahannya. Ketika saya masih di Indonesia, setiap hari saya makan buah banyak, contohnya mangga, jeruk, papaya, dan lain-lain. Sementara di Jepang, jarang ada mangga dan harganya terlalu mahal.

Lalu ketiga, pemandangan alam Indonesia. Jika dibandingkan dengan alam di Jepang, alam Indonesia itu megah sekali. Oleh karena itu, saya sangat merindukan alam dan buah-buahan Indonesia.

Bagaimana pengalaman kamu selama pandemi covid-19 di Indonesia?

Maram: Pertama lockdown di Indonesia, saya merasa buruk karena tidak ada pembelajaran langsung di kelas. Lalu semua orang panik karena virus corona. Awalnya saya merasa bosan tetapi saya dan teman kost menemukan beberapa aktivitas yang bisa dilakukan seperti main UNO atau bermain games dari HP. Beberapa dari kami juga suka jalan kaki keluar rumah.

Ketika visa saya habis, saya panik karena sudah tidak punya uang dan takut tidak bisa pulang ke negara saya. Saya juga tidak bisa tinggal di Indonesia lebih lama karena saya sangat takut. Namun, Alhamdulillah pemerintah Indonesia membantu saya menyelesaikan masalah visa jika negara saya masih tutup pintu.

Lili: Selama pandemi, saya merasa sangat sedih karena tidak bisa pergi ke kampus lalu tidak bisa bertemu teman-teman, tidak bisa berbahasa Indonesia secara tatap muka. Setelah semua teman-teman Darmasiswa pulang ke negara masing-masing, saya masih tidak bisa pulang sehingga setiap hari merasa sangat kesepian. Saya juga merindukan negara saya sendiri, rindu keluarga, dan sangat ingin pulang. Untunglah terkadang saya diajak teman orang asli Indonesia untuk makan bersama.

Maki: Ketika saya ada di Indonesia saat kondisi corona, saya mengalami hal yang menyedihkan di Alun-alun Bandung. Yaitu, setelah saya masuk lapangan, ada yang bilang “Corona!” kepada saya.

Saya sangat sedih, lalu langsung naik angkot pulang ke rumah sembunyi seharian. Kadang-kadang saya dibilang “China” dan ditanya “Kapan pulang ke negaramu?” Akhirnya memang saya terbiasa dengan kejadian seperti itu, tetapi pada awalnya saya merasa sedih.

Apa perbedaan pandemi covid-19 di Indonesia dengan negaramu?

Maram: Di sini tidak banyak kasus seperti di Indonesia mungkin karena populasi di Indonesia lebih banyak daripada di Syria. Minggu lalu, jumlah kasus Covid di Syria berjumlah 3.400. Jika di Indonesia orang-orang selalu menggunakan masker, di sini tidak. Pemerintah tidak mewajibkan masyarakat untuk selalu menggunakan masker. Tapi, jika Anda ingin menggunakannya, boleh. Jika tidak mau juga tidak apa-apa.

Di Indonesia, semua mall, warung-warung, dan sekolah tutup. Namun, di sini hanya tutup pada tiga bulan pertama dan hanya beberapa jam yaitu dari jam 6 malam sampai jam 6 pagi. Orang boleh bekerja pada pagi hari tetapi ketika tiba malam hari hal itu dilarang.

Sekolah dan universitas hanya tutup lima bulan saja, sekarang sudah mulai sekolah dan kuliah lagi. Mungkin karena di Syria internetnya tidak bagus dan kadang-kadang listrik mati, jadi tidak bisa sekolah daring dari rumah.

Lili: Pemerintah Indonesia telah mengambil tindakan untuk mencegah pandemi, tetapi masyarakat tidak begitu menerima aktivitasnya dibatasi di rumah saja. Mereka tetap makan ke luar, bermain dengan teman seperti nongkrong dan tidak pakai masker. Dengan demikian, penyebaran virus korona di Indonesia semakin parah. Saya pikir kerjasama antara pemerintah dan masyarakat masih kurang.

Di Indonesia, masyarakatnya susah dikendalikan, mereka tidak begitu mau mematuhi peraturan dari pemerintah. Tapi di Tiongkok, keadaan sebaliknya. Semua orang bekerjasama dengan pemerintah untuk memerangi pandemi.

Maki: Perbedaannya, ketika naik kendaraan apa pun, sekarang dilarang berbicara di dalam kendaraan. Saya sudah pernah dengar pengumuman tersebut di mana-mana. Lalu kalau ada yang tidak menaati aturan seperti itu, orangnya akan dimarahi. Saking disiplinnya, sampai-sampai dia dikeluarkan dari pesawat sebelum berangkat.

Sekarang, untuk restoran, pemerintah menyuruh tutup pada jam 10 malam. Kalau menaati kebijakan itu, nanti restorannya bisa menerima uang sekitar 30 juta dari pemerintah. Akan tetapi, kalau tidak menaati juga boleh, tetapi tidak bisa menerima uang dari pemerintah. Pilihan itu membuat atasan restoran ragu-ragu: mereka membanding-bandingkan cara mana yang lebih gampang mendatangkan uang—buka toko sampai jam 00.00 untuk dapat uang konsumen atau tutup lebih awal agar dapat uang pemerintah?

***

Mari berharap pandemi ini segera berakhir dan kita semua dilimpahi kesehatan. Jika tidak ada kebutuhan mendesak, jangan pergi ke mana-mana dulu. Kita berdiam diri di rumah bukan semata karena takut, namun juga karena peduli orang lain.

Nais Ambarsari

Nais Ambarsari

Pengajar BIPA di Universitas Katolik Parahyangan dan Balai Bahasa UPI . Pernah mengajar di Thailand Selatan.

All stories by:Nais Ambarsari
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.