Hotel-hotel Tumbuh, Sejarah Runtuh
Catatan Adew Habsta*
Welcome to the Hotel California
Such a lovely place
Such a lovely face
Plenty of room at the Hotel California
Anytime of year, you can find it here
(The Eagles, Hotel California, 1977)
Kamu akan menginap di mana? Di sini saja ya, pasti senang, pasti betah
Hotel-hotel bertumbuhan di tempat saya tinggal. Seru juga sepertinya. Asyik bawaannya. Pasti akan ada peluang dan kesempatan bagi kami untuk bekerja di sana. Itupun, kalau ada kecocokan.
Daerah saya bolehlah kiranya menjadi favorit sebagai tujuan wisata, apapun jenis wisata itu. Dengan udara yang sejuk, deras air segar nan jernih, serta faktor lain yang mendorong orang-orang untuk hadir dan bercengkrama di sini. Terlebih untuk hunian, pasti dibuat kerasan, karena alam mendukung.
Ya, ini bagian dari kisah perjalanan sebuah kota, yang semenjak dulu, memang seperti itu maksud pendiriannya. Segalanya diarahkan pada upaya kesenangan, bersenang-senang, mencari hal-hal yang menyenangkan jiwa dan raga.
Hotel-hotel bermekaran di kawasan paling strategis, katakanlah begitu. Betapa pantas dan indahnya tempat ini, pilihan sang pemilih sekaligus pemilik, memang tak salah. Tidakkah Anda lihat, hotel itu berdiri dekat dengan terminal, sebagai lokasi hilir mudiknya kendaraan, dan lalu lalangnya orang-orang dari satu tempat ke tempat lain.
Bukankah tempat yang dibangun itu pun berdekatan dengan pusat pendidikan, kawah candradimuka bagi calon guru-guru, sebuah kawasan kampus, yang mendatangkan dan didatangi anak bangsa dari segala penjuru tanah air, dan akhirnya turut warnai kawasan tempat saya bermukim.
Selain itu, inilah jalur perlintasan menuju lokasi liburan paling ideal, ke arah Lembang, Subang, dengan bertebaran pula segala obyek wisata, yang siap memanjakan segala indera.
Oh ya, hampir saya lupa, bukankah di kawasan perguruan tinggi terdapat gedung warisan kolonial, heritage, buah karya arstitek Schumacher, pada masaya merupakan milik seorang saudagar keturunan Italia, Baretty. Dan kini menjadi kantor sekaligus penanda kedigdayaan sebuah kampus perjuangan.
Namun sayang seribu sayang, kemegahan gedung heritage itu agak sedikit tersaingi, bahkan melebihi kegagahannya, oleh beberapa hotel yang gagah berdiri di seberang dan sekitar lokasi gedung bernama Isola itu. Kendati memang, bangunan rektorat universitas kenamaan di kota ini pun, awalnya adalah sebuah penginapan.
Maksud saya, apakah memang tidak ada regulasi yang mengatur pembangunan ruang, yang jelas-jelas berdekatan dengan bangunan cagar budaya, sebut saja demikian. Apa tidak menjadi ironis dan kebablasan, sebuah bangunan swasta tiba-tiba, berdiri berhadap-hadapan dengan bangunan lambang kewibaan kota? Lalu kita malah terseret pandangan untuk memuliakan gedung milik si tuan fulan.
Ah, rasanya diri ini tidak ikhlas. Lalu kita memuja dan merasa takjub akan kehebatan sebuah bangunan, termasuk hotel yang tak ada kaitannya dengan perkembangan keluhuran sebuah budaya. Tak bermaksud menjelekkan posisi sentral hotel dalam mendukung pariwisata di kota yang hendak bergegas pergi menuju kejuaraan paling juara, akan tetapi rasa-rasanya kita kurang menghargai bangunan yang telah menjadi penanda penting bagi sebuah kota. Gedung itu adalah ikon, sekaligus juga ciri peradaban dan kemajuan sebuah bangsa, yang telah melampaui fase sejarah yang berliku-liku.
Entahlah, pokoknya saya merasa bangga dengan bangunan bekas penjajah itu, dan memang harus seperti itu, sebab itu yang terwariskan dan sebagai genarasi pelanjut wajib kiranya menjaganya. Pada sisi lain, apa urusannya, saya harus membanggakan gedung-gedung megah milik segelintir orang, yang tak memberi kontribusi sedikitpun bagi kemajuan masyarakat sekitar.
Lalu apa kepentingan saya harus meninggikan bangunan-bangunan yang sudah tinggi menjulang itu, toh bagi saya tidak akan menjadi apa-apa, selain menjadi tulisan ini. Dengan bahasa kasar, saya akan berkata: buat apa saya membangga-banggakan hotel itu atau mall itu atau kantor megah itu. Toh itu hanyalah kebanggan semu, dan tak jadi efek yang baik bagi saya. Entah bagi Anda, sang pemilik sah beserta handai taulan.
Apa yang mesti saya ceritakan kepada anak cucu, tentang nasib sebuah kota, yang tinggalan-tinggalan bersejarahnya telah runtuh, dan kalaupun ada, menjadi sesuatu yang lemah dan diperkecil sosok keberadaannya.
Ini semua bukan dengan pandangan iri, bukan itu, tetapi melihat hotel-hotel yang berlesatan menuju angkasa, memang sedikit banyak memantik kami, untuk mulai mengerti tentang realitas sosial yang terjadi, dan dampak apa yang terasa, nantinya.
Sudah menjadi pemandangan rutin, di kawasan tempat saya tinggal, bila di akhir pekan libur panjang, akan alami kemacetan kendaraan yang cukup menuntut kesabaran tiada tara. Dari segala penjuru kota menyerbu sasaran wisata, tak terkecuali tempat penginapan yang layak dan menyenangkan, mestilah terpenuhi dengan baik.
Apakah ini membawa kebaikan bagi warga sekitar bangunan yang perkasa itu? Atau kita semua hanya bisa gigit jari, mengelus dada, menyaksikan pertandingan yang tak berimbang? Siapa yang sesungguhnya akan raih kemenangan?
Maka, hotel-hotel akan terus berlahiran. Seperti bayi. Seperti nafsu kita. Seperti rasa haus yang takterlunaskan. Seperti keinginan pemilik modal dan pengusaha bonafide itu, untuk selalu raup keuntungan sebesar-besarnya.
Berharap rumah saya, tempat kami menetap dan beraktivitas, tidak tergusur oleh niat segelintir manusia yang punya modal dan kuasa. Daripada gundah, lebih baik saya lampirkan puisi ini: …Kita disini ngungun berdiri/membangun abad ini/adakah sorga datang kemari… (Goenawan Mohamad, Tahun Pun Turun Membuka Sayapnya, 1964).[] Ledeng, Desember 2014
*Penulis, Penyair dan Vokalis Utama band Ukeba (Ukulele Bandung)
Sumber foto: Opet

