Dunia Sang “Penangkar Bekisar”
Kumpulan puisi Penangkar Bekisar (Nuansa Cendekia, 2015) merupakan buku ketiga karya Kiki Sulistyo. Penyair kelahiran Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978 ini sedang ‘menjahit ingatan’ dari dunianya dalam buku kumpulan puisi terbarunya kali ini.
Kebetulan, Penangkar Bekisar diterbitkan oleh penerbit tempat saya bekerja. Saat proses penerbitan buku, saya berniat untuk mengajaknya ngobrol via email atau fasilitas pesan Facebook mengenai buku terbarunya tersebut. Niat itu muncul karena Kiki tinggal jauh di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) sana.
Namun, saya mengurungkan niat itu setelah mendapat informasi dari Adinda Luthvianti, bahwa Kiki akan datang ke Bandung pada bulan April. Kedatangan Kiki adalah untuk melakukan peluncuran buku dalam rangkaian pameran Biografi Visual Oksigen Jawa karya Hanafi di Galeri Soemardja Institut Teknologi Bandung (ITB).
Lantas saya pun memutuskan untuk menunggu Kiki di Bandung. Supaya bisa melakukan wawancara secara langsung terhadap penyair yang telah meluncurkan dua kumpulan puisi sebelumnya, yaitu Hikayat Lintah (Akar Hujan Pers & Amper Media, 2014) dan Rencana Berciuman (Penerbit Halindo, 2015).
Pertemuan saya dengan Kiki pun akhirnya terwujud. Kami berjumpa di Galeri Soemardja ITB pada saat konferensi pers pameran Biografi Visual Oksigen Jawa pada Rabu siang (15/4). Kiki sendiri baru tiba di Bandung pada pagi harinya.
Sebelumnya, Kiki melakukan perjalanan cukup panjang. Dua hari satu malam ia habiskan di atas bis untuk perjalanan Lombok-Jogja. Transit semalam di Jogja, barulah melanjutkan perjalanan ke Bandung.
Selepas konferensi pers, saya ‘menculiknya’ ke tempat agak sunyi di sekitar kampus ITB. ‘Penculikan’ itu saya lakukan supaya bisa ngobrol lebih santai dan intens mengenai proses di balik penerbitan Penangkar Bekisar, dan tentu saja proses kreatif Kiki dalam menulis puisi.
Kami berbincang di sebuah bangku bata berpelur semen, di bawah pohon beringin yang rindang, tak jauh dari Galeri Soemardja. Dalam kesempatan itu, hadir pula Zulkifli Songyanan (penyair dan reporter buruan.co) bersama kami.
Kiki begitu antusias ketika saya ajak ngobrol mengenai penerbitan bukunya yang didukung oleh Hanafi dan Adinda Lutfvianti itu. “Proses penerbitan buku ini dimulai sejak akhir tahun 2014, antara November-Desember. Sebelum itu, komunikasi dengan Ibu Dinda (Adinda Luthvianti, red.) via email dan inbox Facebook.
Ibu Dinda dan Mas Hanafi melihat bahwa puisi “Penangkar Bekisar” mewakili ruh puisi saya. Dari situlah kemudian Mas Hanafi memilih untuk melukisnya, kemudian menjadi judul buku kumpulan puisi saya ini,” tutur Kiki.
Kiki menyajikan tema yang beragam dalam bukunya ini. Tidak seperti dua buku sebelumnya, dimana ia fokus menyajikan folklore (pada Hikayat Lintah) atau cinta (pada Rencana Berciuman). Salah satu ciri khas dari puisi-puisi Kiki adalah musikalitasnya yang sangat terjaga. Ia seolah tak mau kehilangan bunyi dalam setiap puisinya. “Bagi saya tanpa bunyi, puisi tidak terlalu berarti,” tegasnya.
Bagi Kiki, menulis puisi adalah ‘kerja ingatan, menjahit ingatan’. “Ingatan. Menulis puisi adalah kerja ingatan, menjahit ingatan. Dari serpihan-serpihan ingatan itulah saya menyusun menjadi puisi,” terangnya.
Berbicara mengenai ingatan, saya pun mengajak Kiki jauh ke masa lalunya, coba mengungkap bagaimana ia sampai memasuki dan memilih dunia puisi. “Wah, ada dua jawaban itu. Pertama tidak bisa dijelaskan. Kedua, bisa dijelaskan.
Kalau jawabannya bisa dijelaskan, ini terkait dengan kehidupan sehari-hari. Saya lahir di Ampenan. Waktu kecil tidak ada televisi. Saya sering menemukan majalah atau koran bekas. Dari situ saya terbiasa melakukan apresiasi teks.
Sejak kecil saya senang membangun dunia sendiri, kemudian mengekspresikannya. Kadang ada teman-teman masa kecil yang lihat ketika saya begitu, kemudian saya disebut gila. Pengalaman itu bisa jadi menjadi perjalanan saya menulis puisi. Kemudian puisi bisa menjadi cara menampilkan dunia saya,” jelas Kiki.
Yang menarik dari Kiki dalam hal puisi adalah ia mempelajari puisi secara otodidak. Ia pun menceritakan secara ringkas bagaimana ia mendalami puisi. “Saya tidak pernah dididik siapa pun. Di Lombok, seperti tahu sendiri, siapa penyair di sana? Tapi, semenjak saya ‘bertemu’ puisi saya mendisiplinkan diri. Satu hari, satu puisi. Pokoknya setiap hari saya harus menulis puisi minimal satu,” pungkas Kiki.
Obrolan kami sampai di situ. Karena Kiki keburu ditelepon Hanafi, ia ditunggu oleh teman-teman Pers Mahasiswa dari beberapa universitas di pelataran Galeri Soemardja untuk berbincang mengenai proses kreatifnya (juga). Semoga catatan yang dikemas dari obrolan singkat bersama sang Penangkar Bekisar ini bermanfaat bagi teman-teman Pembaca.[]

