Pesta Puisi 3 Kota di Bandung

702 336 Zulkifli Songyanan

Awal Februari tahun ini seakan membawa berkah tersendiri bagi puisi. Ya, di tengah bisingnya berita politik serta derasnya hujan melanda sejumlah kota di Indonesia—yang tak jarang membuat orang sedikit malas ke mana-mana—puisi, nyatanya masih sanggup mempertemukan orang-orang untuk kemudian membuat mereka bahagia.

Kesan demikianlah yang saya tangkap manakala menyaksikan acara “Pesta Puisi 3 Kota” di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Bandung (1/2/2015).

Sebagaimana namanya, acara yang diprakarsai Komunitas Kretek bekerja sama dengan sejumlah komunitas lainnya ini digelar beruntun di tiga kota berbeda: Bandung, Jogjakarta, Denpasar.

Di Bandung, penyair Semi Ikra Anggara, Faisal Syahreza, Ratna M. Rohiman, Deddy Koral, Ratna Ayu Budhiarti, bintang tamu Saut Situmorang, dan Kyai Matdon tampil membacakan puisi masing-masing. Selain mereka, musikus lokal Adew Habtsa serta Mukti-mukti featuring Sisca Guzheng Harp turut tampil memeriahkan acara.

Pembacaan puisi memang bukan hal baru di Kota Bandung. Nyaris setiap bulan, Majelis Sastra Bandung (MSB)—menyebut satu komunitas—rutin menyelenggarakan diskusi sastra yang di dalamnya selalu ada pembacaan puisi. Namun, kegiatan “Pesta Puisi 3 Kota” benar-benar memberi nuansa berbeda.

Acara berlangsung di sisi kiri GIM, tidak di ruang utama sebagaimana biasanya. Hal demikian, setidaknya bagi saya pribadi, secara tidak langsung membuat penonton lebih fleksibel—sekaligus lebih hangat dan akrab—dalam menikmati setiap momentum acara.

Dekorasi panggung—karya artistik kawan-kawan STSI alias ISBI—menunjukkan bahwa acara ini digarap dan disiapkan dengan serius.

Para pengisi acara—baik dari kalangan penyair maupun musikus—terlihat tampil penuh totalitas dan khusyuk. Sungguh menghibur.

Bahkan di luar dugaan penyelenggara, penonton yang hadir membludak—meminjam ungkapan Semi Ikra Anggara—seperti antrian penumpang kereta ekonomi zaman dahulu kala.

Bandung yang ditunjuk sebagai kota pertama “Pesta Puisi 3 Kota” terbilang sukses menyelenggarakan acara. Penonton dan panitia sama-sama puas. Respons di media sosial pun terlihat positif.

Hal di atas menunjukkan bahwa puisi—yang selama ini dianggap semata sebagai arus pinggiran dalam kehidupan manusia—manakala ditampilkan ke publik lewat kemasan menghibur dan profesional, terhindar dari kesan nonsense dan jemu.

Besar harapan, acara menggembirakan semacam “Pesta Puisi 3 Kota” dapat lebih banyak lagi diselenggarakan. Hal demikian penting mengingat ruang-ruang pergaulan dunia kesusastraan—lebih umum pagelaran produk kesenian di kota-kota urban—akhir-akhir ini cenderung stagnan dan membosankan.

Selamat. Semoga gelaran “Pesta Puisi 3 Kota” di kota-kota berikutnya tak kalah sukses dan menyenangkan.[]

Sumber foto: Twitter/@pesta_puisi

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan

Leave a Reply

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
error: