Minanto: Pemenang Sayembara Novel DKJ 2019, Bekerja dalam Sepi

820 820 Zulkifli Songyanan

Sayembara Novel DKJ 2019 diumumkan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, pada Rabu malam (04/12/19). Manuskrip berjudul Aib dan Nasib dinyatakan dewan juri yang terdiri atas Linda Christanty, Nukila Amal, dan Zen Hae, sebagai juara pertama, menyisihkan 216 naskah yang masuk seleksi panitia.

Saat membacakan pertanggungjawaban juri, Zen Hae menyebut manuskrip Aib dan Nasib merupakan “Naskah yang punya gairah eksperimen: mawas bentuk, dengan fragmen-fragmen yang ketat, berlapis-lapis dan susul menyusul. Fragmen-fragmen eposidik yang ringkas satu-dua halaman itu tampak disiplin dan konsisten. Penyusunan fragmen yang ketat membuat novel ini terasa padat, dengan akhir menggantung yang penuh kejutan hampir di tiap fragmen. Tokoh utama cukup banyak, namun karakterisasi setiap tokohnya bulat dan distingtif, saling menimpakan sebab dan akibat yang kait mengait dalam aib dan nasib mereka.

Minanto, penulis Aib dan Nasib, boleh dibilang merupakan nama baru dalam perbicangan sastra Indonesia. Meski demikian, sosok asal Indramayu ini sudah punya pengalaman menulis dan menerbitkan novel sebelum memenangi Sayembara Novel DKJ.

Berikut petikan wawancara singkat dengan Minanto, sesaat setelah acara pengumuman sayembara tuntas digelar.

Selamat Atas Kemenangan Naskah novel Aib dan Nasib pada Sayembara Novel DKJ 2019. Novel ini bercerita soal apa?

Novel ini bercerita tentang kehidupan orang-orang Tegalurung, sebuah desa di pesisir pantai utara Jawa Barat. Dalam novel ini saya ingin menempatkan orang-orang marginal seperti orang-orang yang tidak dianggap sama keluarganya, tidak dianggap oleh masyarakat, terus seorang gadis yang hamil di luar nikah, dan tentang banyak lagi. Kehidupan orang-orang itu saling bertemu ketika ada pemilihan bupati dan anggota legislatif, di mana ada salah satu warga desa Tegalurung mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.

Ide menulis novel ini datang dari mana?

Saya mengambil jarak paling dekat dengan hidup saya. Artinya, tokoh-tokoh yang saya ciptakan di dalam novel itu diambil dari karakter orang-orang yang saya kenal, dari orang-orang di dekat saya. Saya meramunya dengan elemen-elemen fiksi yang ada. Sebagai contoh, ketika saya bercerita tentang seorang gadis yang hamil di luar nikah, di mana realitas itu ada dan dekat, saya mengolahnya seolah-olah dia adalah korban dari struktur hirarki laki-laki dan perempuan (patriarki), sekaligus korban dari pandangan masyarakat yang miring terhadapnya.

Berapa lama nulis novel ini?

Bisa dibilang sebentar, yang lama itu adalah bagaimana meramu cerita yang sudah ada, yang saya pikirkan dari awal sampai akhir, kemudian saya ramu ulang menjadi satu bentuk yang ringkas dan padat tanpa membeberkan banyak hal. Karena novel saya ini memiliki banyak sekali karakter, saya harus berpikir bagaimana setiap karakter mendapatkan porsi dan narasi yang adil. Saya tidak bisa menonjolkan hanya salah satu karakter.

Bagaimana proses kreatif dan pengalaman kamu menulis?

Saya mulai serius menulis pada tahun 2015, bersamaan dengan pengerjaan skripsi saya. Di tahun itu pula saya menulis novel pertama dan dua tahun kemudian diterbitkan secara independen. Setahun setelahnya, saya menerbitkan novel kedua secara independen lagi. Novel ketiga kemudian lahir, dan novel yang mendapat penghargaan sayembara ini novel adalah novel keempat.

Tiga novel sebelumnya diterbitkan oleh penerbit mana dan apa saja judulnya?

Novel pertama saya berjudul Semang, diterbitkan tahun 2017 oleh penerbit Diandra Creative. Novel kedua saya lumayan panjang judulnya, yaitu Dulatip Ingin Membenturkan Kepalanya Ke Tembok Setiap Kali Ia Diberitahui Kabar Tentang Orang Tua, diterbitkan tahun 2018 oleh Indie Book Corner (IBC). Novel ketiga masih saya simpan di laptop, belum saya apa-apakan. Dan novel yang keempat ini saya kirimkan ke sini (Sayembara Novel DKJ) karena saya merasa novel ini adalah perwujudan kesabaran saya dalam menulis, dimana sebelum-sebelumnya saya merasa tergesa-gesa mengerjakan suatu karya.

Dalam menulis apakah ikut komunitas?

Tidak. Saya sendiri. Baca sendiri. Nulis sendiri. Suatu proses yang sepi sebetulnya, tapi selain sepi juga memberi ruang bagi saya buat leluasa berpikir.

Siapa penulis atau karya yang menginspirasi?

Yang membikin saya terpicu mulai menulis adalah James Baldwin. Dia adalah penulis Amerika, kulit hitam, yang bicara soal ketidakadilan ras, gender, homo seksualitas, dan sebagainya. Karena membaca karya-karyanya, yang sekaligus menjadi bahan buat skripsi, saya terinspirasi buat menuliskan cerita melalui versi saya sendiri.

Pernah kuliah di mana dan bekerja di mana?

Kuliah di Unpad (Universitas Padjadjaran, red.) Jurusan Sastra Inggris lulus tahun 2015. Saya sekarang ngajar.

Terima kasih. Selamat sekali lagi.

Sama-sama.

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.