Mengupas Novel 24 Jam Bersama Gaspar

820 820 Ilham Miftahuddin

Novel detektif, 24 Jam Bersama Gaspar (Buku Mojok, 2017) ditulis dengan cara yang lain. Daripada menghadirkan cerita yang menegangkan, novel ini lebih banyak menyuguhkan humor. Begitu yang dipaparkan Anwar Holid saat diskusi mengupas novel karya Sabda Armandio tersebut dalam acara MACA edisi #4, Jumat (27/4/18), di Kafe 372 Kopi Dago Pakar, Bandung.

Deska Mahardika sebagai moderator diskusi, mendampingi Anwar Holid sebagai pembahas serta penulis novel 24 Jam Bersama Gaspar, Sabda Armandio. Anwar Holid memaparkan tentang pengalamannya membaca novel 24 Jam Bersama Gaspar, sedangkan Sabda Armandio lebih fokus pada proses penulisan novel tersebut.

Anwar Holid memulai pembahasan dengan mengorek latar waktu 24 jam pada novel yang diharapkannya dapat memberikan ketegangan bagi pembaca. Ia memberikan analogi dengan waktu 90 menit dalam final laga sepakbola yang selalu menghadirkan ketegangan dan euforia dengan klimaks yang luar biasa. Sementara itu, baginya 24 Jam Bersama Gaspar sama sekali tak menimbulkan ketegangan bagi pembaca.

Anwar Holid juga mengafirmasi pernyataan Dewan Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016 yang menyebut novel ini “mengandung kesadaran sekaligus kritik atas konvensi cerita detektif.” Minimnya cerita yang menegangkan dengan lebih banyak menghadirkan celoteh-celoteh yang lucu, bagi Anwar Holid sebagai bentuk dari penjungkirbalikan konvensi cerita detektif.

Novel 24 Jam Bersama Gaspar bercerita tentang peristiwa kejahatan sekelompok orang yang akan merampok toko emas. Cerita novel ini juga diselingi dengan interogasi polisi terhadap saksi dan para pelaku kejahatan. Menurut Anwar Holid, bukannya menimbulkan ketegangan, adegan interogasi itu malah memunculkan humor dengan jawaban-jawaban yang lucu dari para saksi.

Sementara itu, Sabda Armandio bercerita tentang proses kreatifnya dalam menulis novel 24 Jam Bersama Gaspar. Ia mengaku bahwa novelnya mengadaptasi struktur cerita The Savage Detectives (1998) dan By Night in Chile (2000) karya Roberto Bolaño (1953-2003).

Sabda Armandio juga tak sepakat bila novelnya disebut sebagai cerita detektif yang tak konvensional. Ia berpendapat bahwa 24 Jam Bersama Gaspar hanya dituturkan dengan gaya yang lain, tapi bukan berarti ia menyalahi konvensi cerita detektif. “Bahkan, aku nggak kepikiran untuk bikin cerita detektif, sebenarnya,” seloroh penulis yang menggemari Julio Cortazar (1914-1984) ini. “Namun, memang novel ini memunculkan motif untuk memecahkan sebuah persoalan, terlepas hal itu dapat dipecahkan atau tidak,” lanjutnya.

Dalam menulis novel, Sabda Armandio lebih mengedepankan gaya di atas substansi. Ia berharap bagaimana pengalaman pembaca dalam menghadapi teks, bukan untuk memberikan pesan moral yang terkesan menggurui pembaca. Dalam hal cerita detektif, Sabda Armandio memaparkan bahwa ia memang tak ingin menghadirkan ketegangan di dalam novelnya. Sebaliknya, ia memang ingin mengeksplorasi komedi di dalam cerita detektif.

Diskusi semakin seru ketika memasuki sesi tanya jawab. Salah satu peserta diskusi, R. Abdul Azis, bertanya tentang perbedaan naskah novel 24 Jam Bersama Gaspar yang diajukan pada Sayembara Novel DKJ 2016 dengan yang diterbitkan oleh Buku Mojok.

Sabda Armandio mengakui termasuk penulis yang senang mengedit dan menyunting naskah novelnya secara berulang-ulang. Sekalipun terdapat pengubahan, Sabda Armandio mengaku tak begitu berpengaruh terhadap inti cerita. Ia juga tak menganggap novelnya yang menjadi salah satu pemenang Sayembara Novel DKJ 2016 sebagai hal yang luar biasa. Sebab, ia tak begitu memikirkan soal menang atau kalah.

Baca juga:
Rukiah: Perempuan yang Menulis Sejarah
Faust dan Panggung Gamang Piktoral

Diskusi berlangsung selama satu jam. Sebelum ditutup, Deska Mahardika bertanya tentang buku yang digemari oleh Anwar Holid dan Sabda Armandio. Anwar Holid mengaku sedang menggemari The Life Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo dan Suara dari Marjin (Rosda, 2017) karya Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah. Sementara Sabda Armandio menggemari Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (Balai Pustaka, 1978) karya Idrus.

Setelah diskusi mengupas novel 24 Jam Bersama Gaspar, acara MACA edisi #4 dilanjutkan dengan pertunjukan musik dari PoomPoom Soundsystem. PoomPoom Soundsystem yang beranggotakan Dave Syauta dan Dhika Willy ini menampilkan musik free dub dengan nuansa reggae. Sembari memutar vinyl playback musik reggae lawas, juga disisipi echo dan delay yang berhasil membuat pengunjung ikut berjoget. Penampilan duo free dub ini menjadi penutup MACA edisi #4, Jumat (27/4/18), kemarin.[]

Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.