Faust dan Panggung Gamang Piktorial

820 820 Jhon Heryanto

“Tuhan, aku serahkan hidupku padamu”. Begitulah Gretchen berujar sambil berdiri di tengah panggung dengan tangan dan kaki yang dirantai menghadap ke arah salib, digantung di belakang panggung. Di sisi ruang lain, tepatnya di bagian depan panggung, depan Gretchen, terlihat Faust sedang merangkak dengan pakaian compang-camping dipenuhi sampah plastik, sedang digembalakan oleh Mephistopheles. Leher yang diikat rantai layaknya anjing piaraan dan Sang Pengembala terlihat terbahak-bahak sambil membunyikan lonceng di tangan. Tinggallah sebuah cahaya yang memancar dari belakang salib, lantas gelap. Begitulah akhir dari pertunjukan “Faust: Sang Penyembah Setan” setelah berjalan selama 180 menit di GK. Sunan Ambu, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung (12/4/18).

Sebuah kondisi dari masyarakat yang bingung, antara mempertahankan yang lokal dengan arus modernisme yang kian pesat, sehingga terjadi berbagai benturan ideologi. Apa yang dilakukan oleh Gretchen dalam hidup dengan membunuh anak dan ibu sendiri, terjadi ketika menjalin hubungan dengan Faust. Gretchen yang diam di rumah dan rajin ke gereja juga tak berdaya ketika bertemu Faust. Begitupun apa yang dilakukan oleh Faust yang meratap, “Tuhan beri aku wahyu,” tapi tak berdaya ketika bertemu Mephistopheles meski bernegosiasi berkali-kali, sebab “Apa artinya magister dan dokter kalau pada akhirnya hidup menjadi cacing”.

Sebagaimana yang terlihat dalam adegan seorang sarjana yang lewat di antara kerumunan warga kota, Si Sarjana hanya membaca buku tapi ia tak tahu apa yang dialami masyarakat sekitarnya. Persis seperti suara nyamuk yang mengiringi langkah kaki dalam adegan tersebut.  Barangkali begitulah kebanyakan kaum intelektual yang lebih sibuk duduk di belakang meja menghafal rumus-rumus, ketimbang menyelesaikan persoalan yang berlangsung di sekitar mereka.

Pada akhirnya, Faust dan Grechent adalah dua pribadi yang penuh keragu-raguan, terombang-ambing zaman, teknologi, industri, dan pasar yang telah tumbuh lebih cepat sehingga tak lagi dapat dikenali, keresahan akan arti kehidupan. Sebagaimana yang Patuh (Sutradara) sebut dalam video pengantar pertunjukan yang ditayangkan di lobi.

“Saya melihat kehidupan sekarang ini, banyak orang yang hidup tidak lagi berdasarkan pada aturan yang telah ditetapkan dalam Injil, Jabur, Taurat maupun Al-quran. Tapi lebih bersandar pada aturan lain, tuhan yang lain-lain untuk pemenuhan hasrat”.

Sebuah tragedi dari seorang ilmuan bernama Faust yang mengadakan perjanjian dengan setan, gelehrtentgodie. Tragedi seorang perempuan bernama Gretchen yang dihukum mati karena membunuh anaknya sendiri yang baru dilahirkan, grechentagodie dan merupakan efek dari perjanjian kekasihnya dengan setan.

Migrasi teks “Faust”-nya Goethe dari yang dibaca menjadi “Faust”-nya Piktorial yang ditonton, tidak seutuhnya dapat terbahasakan. Pada beberapa adegan, panggung semata-mata tempat keluar masuknya aktor. Panggung seakan kehilangan kisahnya karena ditelan narasi yang dibawanya. Lalu lintas para pelakon pada setiap perpindahan adegan terlihat sangat indah, fasih, tertata, dengan musik yang tepat pula. Ketika adegan berlangsung, antara kata-kata, laku, dan musik yang dihadirkan saling berebut tempat dan berseberangan sehingga berdampak pada tak terwujudnya peristiwa dramatik dari sebuah kisah.

Meski untuk menghadirkan yang simbolik dan laku ekspresif, diperlukan pencarian dalam menyusun bahasa pemanggungan dari sutradara.  Namun sayangnya, benda-benda yang diusung Patuh Am. di panggung tidak mengarah kemana-mana. Begitupun dengan banyak aktor yang kehilangan daya hidupnya ketika menjadi pelakon, seperti pada adegan Mephistopheles di surga, warga dan walikota, adegan pembunuhan, adegan faust dan sarjana, dan lain sebagainya, seperti “buayan hidup dari teater yang hambar”. Kecuali adegan awal ketika Faust rindu. Ia tidak puas atas apa yang diterimanya. Lalu di atas kepalanya, muncul sebuah buku yang terbuka, adegan perjumpaan Faust dan Gretchen di taman, adegan pembunuhan bayi, dan adegan penutup.

Baca juga:
Dago dan Darah Muda
Ragam Tafsir Bukan Perawan Maria

Pertunjukan Faust: Sang Penyembah Setan dari Piktorial kali ini tampak kewalahan, belum matang jika dibandingkan dengan pertunjukan sebelumnya, Artistik Yang Tersesat dalam Drama Mimpi”.

Terlepas dari itu semua, pertunjukan “Faust”-nya Teater Piktorial telah memperlihatkan upaya pencarian yang tak henti dalam mencari bahasa panggung yang di dalamnya regenerasi terus tumbuh.[]

Jhon Heryanto

Jhon Heryanto

Aktor, Mahasiswa Seni Pertunjukan ISBI Bandung

All stories by:Jhon Heryanto

Leave a Reply

Jhon Heryanto

Jhon Heryanto

Aktor, Mahasiswa Seni Pertunjukan ISBI Bandung

All stories by:Jhon Heryanto
error: