Dago dan Darah Muda

1280 853 Ilham Miftahuddin

Dago selalu mengingatkan saya pada masa-masa sekolah. Hampir sepanjang masa remaja, saya banyak berinteraksi dengan Dago beserta masyarakatnya.

Salah satu folklor yang hidup di alam budaya masyarakat Dago ialah pantangan untuk mengucapkan diksi lada. Lada dalam bahasa Sunda memiliki makna untuk menggambarkan rasa pedas dalam indera pengecap. Maka, untuk menggambarkan rasa pedas, masyarakat Dago menggunakan diksi haneut atau sambal.

Banyak versi cerita yang menerangkan muasal penyensoran diksi lada dalam masyarakat Dago. Dari pelbagai variasai itu, semuanya menceritakan ketika warga Dago asli atau orang yang sedang berada di Dago mengucapkan diksi tersebut, baik secara sengaja maupun tidak, akan didatangi oleh sesosok siluman yang mendiami daerah Dago Pakar. Konon, siluman itu punya dendam kesumat pada seorang bernama Lada. Sehingga, ia bersumpah akan menghukum siapa pun yang mengucapkan nama celaka itu.

Makanan pedas dan hangat memang cocok untuk suasana alam Dago yang sejuk dan dingin. Setidaknya bisa membuat tubuh lebih hangat. Selain makanan, tentu saja banyak cara untuk membuat tubuh tetap terasa hangat sekalipun dalam cuaca yang dingin. Salah satunya adalah berkumpul dan saling berinteraksi. Apalagi, berguyub untuk berbagi cerita, gagasan, dan kegembiraan. Seperti yang diupayakan oleh buruan.co dan toco.buruan.co bekerjasama dengan kafe 327 Kopi lewat program bertajuk MACA #3.

Minggu (8/4/2018) siang, program MACA telah memasuki edisi yang ketiga. Diselenggarakan di kafe 372 Kopi, Jalan Pakar Kulon No. 112, Bandung. Berbeda dengan sebelumnya, edisi kali ini menyelenggarakan dua jenis lokalatih antara lain menulis novel dan membuat stiker dengan media hardboard cut. Lokalatih menulis novel dipandu oleh penulis novel, Dwicipta yang baru saja menerbitkan novelnya berjudul Darah Muda (Literasipress, 2018). Sementara itu, lokalatih membuat stiker dipandu oleh Putut Pramudiko.

Kedua lokalatih ini diselenggarakan secara serempak, mulai dari pukul 13.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Workshop menulis novel diselenggarakan di ruang perpustakaan 372 Kopi dan diikuti oleh empat belas peserta yang didominasi oleh mahasiswa. Salah satu peserta, Muhammad Rafqi Sadikin (18) menuturkan alasannya mengikuti kegiatan ini. “Aku suka kesulitan mengeksekusi, padahal sudah bikin kerangka tulisan (novel),” paparnya. Selain itu, Rafqi juga ingin lebih banyak mengetahui proses kreatif Dwicipta dalam menulis novel.

Dalam lokalatih, Dwicipta menekankan proses latihan menulis dan sebanyak-banyak membaca karya sastra. Ia juga mendorong peserta agar banyak membaca karya-karya sastra asing yang juga banyak memberi pengaruh terhadap pengarang Indonesia. Selain memberikan arahan dan motivasi agar getol menulis, Dwicipta juga memberikan kesempatan kepada setiap peserta untuk membacakan karya-karya peserta secara bergantian untuk kemudian dievaluasi.

Sementara itu, lokalatih membuat stiker dengan media hardboard cut dilaksanakan di area taman hutan 372 Kopi. Lokalatih ini diikuti oleh lima belas peserta. Selain menggeluti pembuatan stiker dengan media hardboard cut, Putut juga merupakan seniman yang berfokus pada pembuatan komik dan poster. Ia mengaku telah menekuni pembuatan stiker seperti itu dari tahun 2011.

“Yang menarik dalam pembuatan stiker ini adalah prosesnya,” tutur Putut. Stiker dengan hardboard cut membutuhkan ketelatenan dalam pembuatannya. Pembuat stiker ini harus mencukil gambar atau tulisan sendiri pada papan yang menjadi media untuk mencetak stikernya. Untuk itu, “teknik seperti ini punya cita rasa yang tinggi,” tambah Putut sambil terkekeh. Ia juga menjelaskan tinta yang digunakan sama dengan tinta untuk mesin cetak offset atau yang biasa disebut tinta toka (Cemani Toka).

Selain itu, MACA #3 juga menyelenggarakan diskusi novel Darah Muda karya Dwicipta yang dibahas oleh Tono Viono, pameran poster oleh kolektif seni Boredoom, dan penampilan musik dari Garhana dan Swasembada Meong.

Setelah lokalatih usai, giliran diskusi novel Darah Muda yang digelar di ruang perpustakaan kafe 372 Kopi. Tono Viono membuka diskusi dengan menjelaskan adanya kemiripan antara tokoh aku dengan pengalaman hidup pengarang, sehingga ia menyimpulkan bahwa Darah Muda dapat disebut sebagai novel autobiografi si pengarang. Tono juga menerangkan bahwa novel ini menyinggung tentang kekuasaan dan resistensi terhadap kekuasaan. Selain itu, ia juga menerangkan tiga fase yang ditempuh oleh tokoh di dalam penceritaan novel, antara lain Golden Age, Adolesence, dan Maturity.

Dalam diskusi, Dwicipta sebagai pengarang novel Darah Muda juga diberi kesempatan tampil untuk menceritakan proses kreatifnya. Ia menolak Darah Muda sebagai novel autobiografinya, sekalipun ia tak memungkiri jika ia banyak diilhami oleh realitas nyata, baik yang dialaminya secara langsung maupun tak langsung. Menurut Dwicipta, novel yang diselesaikannya dalam waktu delapan tahun ini berisikan keresehannya terhadap realitas pendidikan di Indonesia. Melalui karya fiksinya, ia hendak melawan realitas pendidikan yang seringkali menghambat potensi peserta didik di sekolah.

Baca juga:
Ragam Tafsir Bukan Perawan Maria
Keluarga Owig di Ruang Sosiopetal

Sepanjang kegiatan MACA #3, pengunjung juga dapat menikmati pameran 55 karya poster dari 26 seniman yang dihimpun oleh kolektif seni Boredoom. Boredoom lahir untuk memberikan ruang alternatif bagi seniman yang ingin menampilkan atau memamerkan hasil karyanya. Boredoom sendiri telah melakukan aktivitas memamerkan karya seni, khususnya poster, sejak tahun 2013. Boredoom memilih ruang-ruang publik sebagai tempat memamerkan karya seni agar lebih dekat dan mudah diakses oleh masyarakat.

Kemudian, MACA #3 ditutup oleh sajian musik dari Garhana dan Swasambada Meong. Garhana adalah grup musik duo, Gege (gitar/vokal) dan Hana (vokal) asal Bandung dan mengusung tema musik folk. Ini merupakan kali pertama saya menyaksikan Garhana di atas panggung. Mulanya, saya mengira Hana akan membacakan puisi sebagai pembuka penampilan sebab melihat buku catatan kecil di tangan kirinya. Rupanya saya keliru, tapi tak kecewa dengan musik yang disajikan oleh Garhana.

Selain membawakan beberapa lagu ciptaan mereka, Garhana juga memainkan lagu “La Vie en Rose” karya Editf Piaf. Lagu yang aslinya dinyanyikan dalam bahasa Perancis itu dinyanyikan dalam bahasa Inggris. Mengingatkan kita pada musisi jaz dari New Orleans, Louis Armstrong yang juga memopulerkan lagu tersebut dalam bahasa Inggris.

Penampilan dari Swasembada Meong menjadi penutup MACA #3. Khusus pada penampilan ini, agaknya penonton lebih bisa menikmati rasa humor daripada kualitas musiknya. Barangkali, itu juga yang hendak ditawarkan oleh penyanyi solo ini: menutup kegiatan MACA #3 dengan kegembiraan.[]

error: