Fb. In. Tw.

Puisi-Puisi Khayyarah Nabila Faiza

EPISODE YANG DIPENUHI DENGAN HUJAN

Tidak kubayangkan bagaimana jika sepanjang hidup ini
Berjalan seperti tol. Tiga kali aku bertanya pada otakku
Tapi kebanyakan wanita menggunakan hati selalu

Aku melempar batu dari atas tebing
Batu direbut air danau yang meluap
Hujan sepanjang hari jatuh
Tak terbayang sesedih apa sekarang

Awan, kalau aku bisa memeluknya sambil berkata
“Jangan bersedih lihat manusia, ia diam di rumah tidak bisa berbuat
Banyak maksiat” Aku senang menari di tengah air yang sedang
Berlomba lari siapakah yang akan mencapai garis finisnya

Akankah setelah air bah ini selesai
Pelangi terbentang di langit
Ditemani bintang?

SMP Plus Ulul Ilmi, 2022

 

LUKA YANG MEMBEKAS

Terik sinar matahari panas
Mengubah warna area dindingku
Semua orang berkumpul
Membawa buku berisi tajwid-tajwid
Ocehan setiap orang dibarengi tangisan meleleh
Ia ditutupi kain, semua orang berbondong untuk melihatnya
Terakhir kali

Liang tanah tergali
Kini aku tidak bisa memandanginya lagi
Cokelat tanah ditaburi bunga, begitu indah
Menangis, mengenang
Tubuhku melambai, layu dengan kesedihan

SMP Plus Ulul Ilmi, 2022

 

RINTIK YANG TEDUH

Gorden berenda menghalangi embun
Hujan kini mereda
Tuhan mengubah seluruh mimiknya
Tapi masih tidak ada satupun awan bahagia
Masih murung jutek parasnya
Hatiku terbelah, darah berceceran bagai terkunyah kanibal
Harimau menyerigai di tengah gelap hutan
Melihat pinus dari sisi lain, tampak ialah yang memimpin

Memandanginya tidak ada perubahan sekalipun
Menutup mata, banyaknya air melimpah
Aku bersedih dan kembali menunggunya

SMP Plus Ulul Ilmi, 2022

 

JEJAK YANG MENGUMPAN

Abu yang kasar menutupi kesedihan jalanan
Kantong sampah menyebar, topi koboi
Jas cokelat, kaca pembesar ilmuwan mulai merincinya
Tirai emas murung, patung berjajar menghiasi kediaman ratu
Karpet merah dikembangkan, kini tidak ada yang berkutik
Bercak hitam di lantai membekas bagai luka di hati
Semua tapak kaki terdiam, sepatu pejabat mulai mengambil alih
Mengumpan dengan bidik cermat
anak panah melontar dengan tepat.

SMP Plus Ulul Ilmi, 2022

 

JANTUNG YANG BERDEGUP

Bunyinya dari dalam
Semua organku tergesa-gesa
Napas tidak beraturan seperti gelombang air terhempas
Menatapnya dengan indah, bola mata biru tampak
Seperti samudera pasifik. Sungai amazon mengering
Tapi perasaanku tidak akan kering

Detik demi detik helai bunga sudah berada di tanganku
Wangi yang indah dua mata yang saling bersatu.

SMP Plus Ulul Ilmi, 2022

Lahir di Medan, 15 Agustus 2009. Saat ini kelas 8 SMP. Hobi menonton dan mendengarkan musik. Belajar menulis di Kelas Menulis Kreatif SMP plus Ulul Ilmi.

You don't have permission to register